December 06, 2019

[Book Review] Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 - Cho Nam-joo

Judul: Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis: Cho Nam-joo
Genre: Novel Terjemahan (17+)
Rilis: 18 November, 2019 (Terjemahan GPU)
Tebal: 192 halaman
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020636191
Harga: IDR. 58.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★★½


B l u r b :

Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.

Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.

Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.

Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.

Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.

Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.

*



Tipis, tapi bacanya butuh konsentrasi yang cukup tinggi.
Menurutku novel ini mengacu pada sebuah paradigma, di mana perempuan adalah kaum yang dianggap tidak lebih penting daripada kaum laki-laki, alias nggak ada kesetaraan gender. Sebetulnya paradigma semacam ini sendiri sudah umum terjadi di negara-negara Asia Timur seperti Cina, Korea, dan Jepang. Namun di zaman sekarang, cara pikir yang seperti itu sudah cenderung ditinggalkan.

Ada beberapa hal mendasar yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, namun bukan berarti laki-laki jauh lebih hebat ketimbang perempuan. Kisah hidup Kim Ji-yeong ini menunjukkan seberapa keras pun perempuan berusaha, dia tidak akan 'dianggap' lebih baik daripada laki-laki. Kebanyakan para perempuan di sini berjuang dan berkorban demi kepentingan saudara laki-laki mereka.

Kim Ji-yeong, sejak lahir hingga dewasa, menikah dan punya anak tidak pernah mendapatkan perlakuan yang 'sesuai'. Tidak pernah memiliki kesempatan untuk bisa melakukan apa yang dia inginkan. Apa yang dilakukan selalu hanya karena 'dia harus melakukannya'. Miris ya? Seolah-olah Kim Ji-yeong ini tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Terlahir sebagai seorang perempuan seperti sebuah kutukan.

Hanya dengan membaca buku ini, aku sudah bisa merasakan seperti apa menjadi sosok Kim Ji-yeong. Semua usaha dan kerja kerasnya seakan sia-sia. Perempuan tidak pernah bisa lebih hebat daripada laki-laki. Padahal hidup sebagai perempuan itu berat loh, apalagi kalau sudah menikah dan punya anak. Mungkin bagi orang yang tidak mengalaminya, memandang sebuah pekerjaan rumah tangga itu sepele. Kenyataannya? Banyak loh yang nggak becus mengurusnya. Wajar kalau kehidupan serta pola pandang yang seperti ini membuat Kim Ji-yeong depresi.

Intinya buku ini bikin aku banyak-banyak bersyukur karena lahir di Indonesia, yang meski nggak ada Oppa-oppa tapi hidupku lebih seperti yang aku mau. Nggak ada kesenjangan gender, jadi aku bisa bebas melakukan apa yang aku mau. Bebas bermimpi dan meraihnya. Nggak ada keharusan harus mementingkan laki-laki, memandang laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Lagian kalau dipikir-pikir, laki-laki tanpa perempuan bisa apa? Wkwkwk.... Sama sih, perempuan tanpa laki-laki bisa apa? Initinya laki-laki dan perempuan diciptakan dengan keunikan masing-masing untuk saling menopang dan melengkapi. Jadi, nggak ada ceritanya laki-laki itu lebih hebat daripada perempuan atau perempuan lebih hebat daripada laki-laki.

*

Q u o t e s :

Masa itu adalah masa ketika anak laki-laki dianggap sebagai orang yang harus menjadi tulang punggung keluarga, dan anak laki-laki adalah inti dari kesuksesan dan kebahagiaan keluarga. Anak-anak perempuan pun dengan senang hati mendukung saudara laki-laki mereka. - h. 32-33
"Perusahaan akan merasa terbebani apabila seorang wanita terlalu pintar." - h. 95
"Pasangan kekasih pada masa-masa hendak berpisah pun bisa jatuh cinta dengan orang lain, bukan?" [Kim Ji-yeong] - h. 103
Karena sepercik api udah jatuh di atas debu kering. Masa-masa muda yang indah itu pun langsung terbakar habis. - h. 119
Dunia memang sudah banyak berubah, tetapi peraturan kecil, janji, dan kebiasaan di dalam dunia ini tidak banyak berubah. - h. 132
"Tapi alasan aku bekerja bukan karena kau memintaku bekerja. Aku bekerja karena aku suka bekerja. Aku menyukai pekerjaanku dan uang yang kudapatkan." [Kim Ji-yeong] - h. 137
Apabila kita tetap bekerja dan meninggalkan anak-anak di bawah pengawasan pengasuh anak, tidak berarti kita tidak menyayangi anak kita. Sama seperti apabila kita berhenti bekerja demi membesarkan anak, tidak berarti kita tidak memiliki semangat untuk bekerja. - h. 145
Karena apabila sesuatu sudah diberi harga, seseorang harus membayarnya. - h. 149
Sebaik apa pun orangnya, pekerja perempuan hanya akan menimbulkan banyak kesulitan apabila mereka tidak bisa mengurus masalah pengasuhan anak. - h. 175

No comments:

Post a Comment