Showing posts with label inggrid sonya. Show all posts
Showing posts with label inggrid sonya. Show all posts

July 04, 2020

[Book Review] Wedding With Converse - Inggrid Sonya

Judul: Wedding With Converse
Penulis: Inggrid Sonya
Genre: Romance
Rilis: Maret, 2017 (Cetakan pertama); Juni, 2019 (Cetakan kedua)
Tebal: 413 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786230001239
Harga: IDR. 90.000
Rate: ★★★½


B l u r b :

Raskal dan Joana, dua orang siswa SMA yang kini sedang dijerat putus asa akan kenyataan hidup. Mereka bersahabat dari kecil, namun persahabatan itu harus putus karena terjadinya sebuah peristiwa; Joana hamil dan Raskal terjebak lingkup narkoba. Cita-cita, harapan, dan juga angan-angan musnah sudah untuk keduanya. Raskal, yang adalah laki-laki yang bertanggung jawab atas kehamilan Joana, terpaksa harus menikahi gadis itu. Namun, sekali lagi ditegaskan, walau Raskal adalah sahabat kecilnya, kini Joana menganggap Raskal hanya sebagai laki-laki brengsek yang harus mempertanggungjawabkan semuanya. Raskal pikir, pernikahan adalah ujian terberatnya. Tapi, saat waktu terus bergulir dan dia menyadari orang-orang yang dicintainya mulai pergi meninggalkannya, Raskal baru mengerti kalau dirinya memang tidak bisa tertolong lagi.

*

Pertama kali baca blurb-nya, jujur aku langsung tertarik. Memang ini bukanlah cerita mengenai kehamilan remaja di luar nikah yang pertama kali aku baca, tapi mungkin karena aku udah pernah dibuat termehek-mehek dengan Tujuh Hari untuk Keshia yang juga karya dari Inggrid Sonya, aku merasa tertarik.

Dari segi cerita, yang membuat aku tertarik adalah Joana yang hamil di luar nikah, secara yang menghamilinya adalah sahabat Joana sendiri, Raskal. Mereka bersahabat sejak kecil, pernah mandi seember gitu deh. Jadi bener-bener udah tahu tentang kebaikan dan keburukan masing-masing. Tapi yang namanya hati memang punya segudang rahasia, Joana dan Raskal sebetulnya saling menyukai walau keliahatannya mereka hanya sekadar sahabat. Waktu SMP, Joana adalah cewek yang tomboi, jadi memang nggak ada yang berpikir jika Joana sebetulnya memiliki perasaan pada Raskal. Bagi Joana, itu adalah hal yang terlalu sulit untuk digapai. Sementara Raskal, cowok itu menyukai Joana sudah sejak lama, namun dia memilih untuk bertahan sebagai sahabat Joana. Sejak masuk SMA, dunia mereka berubah. Joana menjelma menjadi seorang gadis yang cantik dan feminin, sedangkan Raskal mulai bergaul dengan teman-teman yang berpotensi menyeretnya ke hal-hal yang negatif. Joana suka clubbing, Raskal terjerumus dalam balapan liar dan narkoba. Hubungan mereka merenggang.

Sampai pada malam pergantian tahun. Di mana Joana tengah clubbing bersama teman-temannya, di situ juga ada Reon, cowok yang sedang gencar-gencarnya mengejar Joana. Raskal yang ketika itu tengah balapan liar, menyempatkan diri untuk menelepon Joana. Tak disangka yang menerima teleponnya adalah Reon. Hal itu membuat Raskal naik pitam dan langsung menyusul Joana ke kelab. Sempat terjadi pertengkaran kecil antara Joana dan Raskal, yang berujung pada mabuknya Raskal. Joana mengantar Raskal pulang. Kemudian, terjadilah hal itu....

Akhirnya Joana hamil.

Kehamilan Joana membuat kehidupan dua sahabat ini berubah. Raskal mau tak mau harus bertanggung jawab dan Joana mau tak mau harus berhenti sementara dari sekolahnya. Tak hanya persahabatan mereka yang rusak, namun juga masa depan mereka.

Menurutku, cara Raskal menghadapi masalahnya patut untuk diacungi jempol. Raskal berusaha melakukan apa yang dia bisa sebaik mungkin, mulai dari membersihkan rumah, menyiapkan makan, menabung untuk biaya persalinan Joana, bahkan bekerja sampingan. Semua itu membuatnya perlahan-lahan, tanpa sadar meninggalkan teman-teman segengnya. Sayangnya semua yang Raskal lakukan tidak juga mendapat sambutan hangat dari Joana yang sangat-sangat membencinya. Menjadi seorang Raskal, rasanya berat banget, ya? Tak sampai di situ, Raskal juga kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya.

Di saat Raskal terpuruk, jatuh sejatuh-jatuhnya, Joana mulai kembali hangat. Cewek itu berusaha untuk membuka hati dan memaafkan Raskal. Tak hanya itu, sahabat-sahabat mereka, Gavin, Reza, Shinta, dan Naomi juga turut berada di samping Raskal.

Raskal, Gavin, dan Reza memiliki latar belakang yang kurang baik dengan keluarganya, membentuk mereka menjadi pribadi yang cenderung buruk. Namun perjuangan Raskal, Gavin, serta Reza adalah hal yang paling aku apresiasi. Mereka memiliki hidup yang berantakan, namun mereka berusaha untuk lepas dan terus berjuang untuk sebuah masa depan yang cerah. Perjuangan mereka nggak kaleng-kaleng. Bagiku, karakter mereka cukup memberi contoh yang baik untuk kita semua. Persahabatan mereka juga saling menguatkan. Di saat salah seorang terjatuh, yang lain akan berusaha sebisa mungkin untuk menopang.

Dari segi penulisan, semuanya disusun dengan sangat baik. Para karakternya juga mendapat porsi yang seimbang. Hanya saja aku kurang sreg di beberapa eksekusinya, seperti pada bagian Gavin yang dijadikan umpan. Entah kenapa buat aku rasanya terlalu 'mentah', I can't feel something strong here. Untuk lika-liku perjalanan Joana dan Raskal, aku cukup suka meski nggak suka-suka banget. Pastinya bikin penasaran apakah pernikahan mereka akan bertahan atau nggak. Awalnya berasa greget, lama-lama aku agak ngerasa datar meski tetap happy ending. Pergolakan emosi mereka kurang begitu ngena di aku pas akhir cerita.

Jika ditarik sebuah garis besar, buku ini mengisahkan tentang para remaja yang berusaha keras untuk menghadapi masalah mereka dengan berjuang ke arah yang positif. Semua itu dikemas dalam sebuah kisah yang cukup kompleks. Selalu ada masa depan yang cerah meski saat ini kita terjerumus dalam jurang yang kelam.

Oh ya, di sini juga ada side story tentang Gavin dan Shinta. Di mana kucing dan tikus saling menyukai satu sama lain.

*

Q u o t e s :

Sebuah pertemanan. Dari sanalah perasaan hangat itu tercipta. Sebuah persahabatan yang baru saja dimulai. - h. 44
Segala hal yang sering kali diabaikan pada akhirnya akan terasa begitu berharga ketika kita kehilangannya. - h. 56
"Kita sama-sama terus ya kayak sepatu." [Raskal] - h. 61
Untuk itu, selama Joana masih bersikap seperti layaknya batu karang, selama itu pula dia menjadi air laut. Yang selalu datang meski tidak diundang dan yang selalu hadir untuk perlahan-lahan melunakkan. - h. 76
"Suatu saat nanti, entah kapan itu, gue yakin ada masanya kita bakal bahagia. Yang bisa kita lakukan sekarang cuma berusaha buat buktiin bahwa bahagia itu bener-bener ada." [Raskal] - h. 198
Karena tidak melulu soal air mata atau segelintir luka yang kadang membuat dadanya sesak dan sakit kepala, kehilangan juga memberinya pelajaran akan waktu yang tidak bisa diulang. - h. 248
"Nenek gue bilang, mau sebobrok apa pun kondisi kita, jangan pernah lupa bersyukur dengan apa yang kita punya. Walaupun itu sedikit." [Reza] - h. 251
"Gue ini gila, Dim. Jadi, gue punya kecenderungan nggak peduliin masalah bisa atau nggak bisa. Yang penting gue coba." [Raskal] - h. 287
"Untuk menggapai sesuatu yang diinginkan, emang harus butuh pengorbanan, kan?" [Joana] - h. 291

April 01, 2019

[Book Review] Tujuh Hari untuk Keshia - Inggrid Sonya

Judul: Tujuh Hari untuk Keshia
Penulis: Inggrid Sonya
Genre: Teenlit
Halaman: 448 halaman
Tahun: Februari, 2019
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020489728
Harga: IDR. 94.800 (P. Jawa)
Rate: ★★★★½


B l u r b :

Sejak mantan pacarnya tahu-tahu saja kembali dan membawa seseorang anak perempuan bernama Keshia yang katanya adalah anaknya, Sadewa tahu bila hidupnya akan menjadi kacau.

Lalu, benar saja, Sadewa tidak pernah akur dengan Keshia. Jika di rumah, keduanya selalu saja bertengkar. Entah itu meributkan tagihan listrik, cicilan yang ditunggak berbulan-bulan, utang beras di warung, dapur berantakan, atau bahkan cuma karena remote tv yang hilang. Masalah sekecil apa pun sepertinya selalu dijadikan momok untuk keduanya adu mulut dan membuat rumah menjadi zona perang seketika.

Keduanya tidak pernah memedulikan satu sama lain. Sadewa tidak pernah peduli dengan kehidupan Keshia, baik di rumah ataupun di sekolahnya. Sadewa tidak peduli dengan kelakuan putri tomboinya itu yang selalu saja berpura-pura kuat dan menganggap bisa mengatasi segalanya sendirian. Sementara Keshia, sama halnya dengan Sadewa, dia tidak pernah peduli dengan kelakuan ayahnya yang masih saja bersikap layaknya ABG itu.

Bagi Sadewa, Keshia itu pengganggu ulung atau makhluk paling cerewet sedunia. Sedangkan bagi Keshia, Sadewa itu hanya seorang laki-laki 36 tahun yang hanya tahu bersenang-senang saja. Yang hanya tahu ngeband, mabuk-mabukan, atau main perempuan.

Sampai suatu ketika sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Sebuah kecelakaan yang membuat Sadewa mati-matian ingin memenuhi seluruh keinginan Keshia dan membuat Keshia ingin tetap bersama ayahnya sekalipun dia sangat membenci laki-laki itu. Sebuah kecelakaan yang memberikan keduanya pemahaman bila mungkin hanya kehilangan yang membuat mereka bisa berjalan beriringan tanpa lagi ada kebencian.

Kisah ini tentang waktu. Tentang kesempatan. Tentang kehilangan.

K a r a k t e r :

Keshia → Cewek 16 tahun yang bak Wonder Woman, kuat banget menghadapi hidup di usianya yang masih belia. Hobi memasak dan bikin kue.

River → Cowok yang diam-diam menyukai Keshia dan hanya memantaunya dari jauh. Keluarganya yang begitu bobrok membuat River kabur. Dia ini adalah arranger dan gitaris Seventy Six.

Sadewa → Ayah kandung Keshia. Vokalis Seventy Six yang kehidupannya morat-marit.

Diana → Mama kandung Keshia yang tidak pernah memedulikannya, menganggap adanya Keshia adalah sebuah kesalahan.

Citra → Sahabat Keshia.


Sudah banyak beredar mengenai ke-ngenes-an buku ini, mungkin itulah yang jadi daya tarikku buat beli. Dan setelah baca dan kelar, aku ngerasa nggak rugi buang duit hampir cepek buat adopsi buku ini.

Kayak yang udah ditulis di blurb-nya, buku ini menceritakan mengenai Keshia, anak usia 16 tahun dengan serenceng penderitaannya. Baru aja omanya meninggal, mamanya ngejual rumah dan menikah lagi, udah gitu si Keshia ditelantarin gitu aja di sebuah tempat asing alias rumah ayah kandungnya, Sadewa.

Tapi berhubung Keshia kuat, dia tetap tegak dalam menjalani hari-hari beratnya. Di sekolah dia di-bully sama Alena, si anak pemilik yayasan, di rumah dia harus berhadapan dengan Sadewa yang ngeselin banget. Belum lagi dia harus cari duit buat mencukupi kebutuhannya sendiri. Bagi anak seusianya, hidup macam itu bukan lagi berat namanya, tapi keterlaluan beratnya.

Di sisi lain ada River, cowok yang lebih tua dua tahun darinya. Bersekolah di sekolah lain tapi diam-diam selalu memperhatikan Keshia. River ini sahabatan dekat sama kakak kelasnya Keshia, so dia bisa tahu update apa aja tentang Keshia. Keluarga River bobrok banget, bikin dia kabur dari rumah. River ini juga merupakan gitaris andalannya Seventy Six, band-nya Sadewa. Terus bisa dibilang, River ini juga 'anak' bagi Sadewa.

Keshia dengan kehidupannya, River dengan kehidupannya.
Mereka nyaris nggak bersentuhan sih, seperti memiliki cerita masing-masing. Akan tetapi dalam buku ini lebih menitikberatkan cerita Keshia dan Sadewa. Tinggal di tempat orang asing tentu aja nggak nyaman, belum lagi sifat Sadewa yang ngeselin banget. Keshia dan Sadewa bisa dibilang nggak pernah akur, cara manggilnya aja elo-gue. Tapi seiring berjalannya waktu mereka saling peduli meski caranya dengan sinis atau sindir-sindiran.

Buku ini terasa cukup dekat di aku, jadi feelnya ngena banget.
Mungkin pendekatan batin antara Keshia dan Sadewa terasa terlalu cepat, karena bagiku nggak mungkin dua orang yang sama sekali nggak pernah ketemu selama 16 tahun bisa dengan mudah tinggal bersama, terlebih mereka itu sebenarnya nggak nyaman satu dengan yang lain. 

Yang bikin aku mewek sampai nangis kejer di sini adalah perasaan Keshia mengenai jalan hidupnya, lalu mengenai Sadewa yang mati-matian berusaha jadi ayah yang 'layak' untuk Keshia, juga mengenai River yang diperlakukan seperti itu sama ayah kandungnya. Lebih-lebih di akhir cerita apa yang dilakukan Sadewa itu menohok banget, bikin ngilu hati sumpah. Coba deh kalian baca, pasti berasa ngilu. 

Sedikit banyak buku ini mengingatkanku pada banyak hal: orangtua, penyesalan, kesempatan, dan maaf. Kalau kalian cari cerita romance yang unyu-unyu, JANGAN baca buku ini, nggak bakalan ketemu kisah unyu-unyunya. Cocok dibaca buat penikmat buku dengan cerita yang stabby.

Selain mengandung cerita yang penuh makna, buku ini didukung dengan cara bercerita yang luwes, tulisan rapi, juga diksi yang jleb. Pas aja gitu antara show dan tell-nya. Twist yang ditawarkan juga bikin aku sempat speechless, ada unsur fantasinya dikit gitu.

Dua kata buat buku ini: JAHAT dan KEREN!
Duh, pokoknya buku ini benar-benar jahadddddd! Percaya deh, nyeseknya udah berasa di awal, terus kamu bakalan dibuat ketawa dikit, cengar-cengir, terus dibikin nangis sampe mata bengkak!

Oh ya, percayalah, takdir kadang memang sekejam itu!



Q u o t e s :

Puncak dari segala rasa sakit yang benar-benar sakit justru saat kita tidak bisa merasakan apa pun. Lumpuh. - h. 10

Mengandalkan diri sendiri adalah satu-satunya caranya untuk bertahan hidup. - h. 47

"Lo nggak akan bisa cari orang yang nggak mau ditemuin. Percuma." [Keshia] - h. 118

"Ya, awalnya gue berasa mirip Wonder Woman sih, tapi kalau dilaluin setiap hari kan capek juga...." [Keshia] - h. 204

Doa itu mungkin didengar Tuhan. Tapi, doa itu tidak menyembuhkan sakit di dada Saegal. Tidak menutup satu pun luka dalam dadanya. Sama sekali. - h. 317

"Lo terlalu keras sama diri lo sendiri! Itu yang buat semuanya jadi susah!" [Citra] - h. 358

Luka Keshia bukannya tidak akan sembuh, melainkan jiwanyalah yang tidak kembali. - h.431

March 12, 2019

[Book Review] Nagra & Aru - Inggrid Sonya & Jenny Thalia

Judul: Nagra & Aru
Penulis: Inggrid Sonya & Jenny Thalia
Genre: Novel Remaja (15+)
Halaman: 360 halaman
Tahun: 2019
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020620961, 9786020620978 (Digital)
Harga: IDR. 92.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

"Gue jadi saksi pertama Aru nembak Nagra. Temen gue itu emang cewek nggak tahu malu. Udah ditolak Nagra, masih maju terus."
Fera, teman pertama Aru di SMA Grafika.

"Ngeliat Nagra kayak lagi alergi tiap ada Aru tuh hal biasa. Sampai Nagra akhirnya kebal tiap kali Aru ngegombalin dia!"
Leon, salah satu Gerombolan Boros yang suka kongkow bareng Nagra.

Aru seneng banget bisa sekelas dengan Nagra, cowok jangkung yang mencuri hatinya sejak MOS. Serangan gencar Aru ke Nagra sudah dengan berbagai cara: drama Korea, Webtoon, dan rayuan alay. Sayangnya, Nagra tetap cuek. Cowok itu hanya menganggap Aru teman sekelas, bahkan kadang merasa terganggu dengan kehadiran cewek boncel itu.

Tapi, biasanya kan dua kutub yang bertolak belakang bakal tarik-menarik. Nagra dan Aru mungkin nggak ya kayak begitu?

K a r a k t e r :

Aru → Cewek selebor yang naksir berat sama Nagra. Demen banget baca Webtoon dan nonton drakor. Kerjaannya ngecengin Nagra di mana pun, entah di kelas, di lapangan futsal, pokoknya di mana aja deh.

Nagra → Cowok yang kata Aru kenakalannya masih dalam batas wajar ini udah kebal sama sikap Aru yang selalu ngecengin dia. Ada alasan kenapa dia sama sekali nggak pacaran juga, padahal cewek yang dimodusin banyak.

Igo → Pentolan SMA Grafika. Berandal yang sebenarnya cuma terjebak dalam dunia hitam karena frustrasi—keluarganya nggak pernah peduli. Bersahabat baik dengan Nagra meski sempat musuhan.

Wulan → Cinta pertama Nagra yang ngilang selama dua tahun sebelum akhirnya muncul kembali di SMA Grafika.


♥♥♥

Yah, seperti gelarnya, buku ini memang bener-bener receh. Dari segi cerita sebetulnya juga simpel. Dimulai dari Aru yang nguber-nguber Nagra, terus Nagra yang ngerasa udah memiliki Wulan menyuruhnya untuk berhenti. Di saat Aru patah hati, muncul Igo, cowok berandal yang rupanya memiliki luka tersendiri. Aru dan Igo awalnya cuma dekat buat simulasi Aru dalam mendekati Nagra, tapi setelah ditolak, mereka malah saling bersandar. Nagra yang melihat itu cuek-cuek aja, dia udah punya Wulan, kan? Tapi perasannya nggak bisa bohong, bahkan Wulan pun tahu kalau setiap kali Nagra ngomongin Aru, Nagra kelihatan seneng banget.

Plot semacam ini udah biasa ditemui di novel-novel teenlit, tapi yang buat novel ini berbeda adalah recehnya itu lho! Sumpah receh banget, dari obrolan sampai guyonannya super receh. Jadi memang kelebihan buku ini terletak di recehnya, bikin yang baca nggak ngantuk.

Gaya bahasa yang dipakai, sekali lagi, receh banget. Kalimat-kalimatnnya nggak puitis-puitis gitu, tapi ngena. Nggak perlu puitis kan, buat bikin baper?

Masa-masa SMA mereka dikemas dengan receh dan seru sih, unsur-unsurnya pas. Ada manisnya, asemnya, pedihnya.... Bagiku semua itu pas di buku ini. Tapi sayangnya waktu mereka udah lulus, kuliah, kemudian kerja, aku kurang menikmati part itu. Padahal masih receh juga. Entahlah, aku ngerasa ada sesuatu yang nggak pas gitu aja sih. Untungnya ada sisi menyenangkannya, yaitu ketika mereka behasil meraih impian masing-masing. Siapa yang nyangka sih waktu SMA-nya mereka gitu, tapi bener-bener gigih sama impiannya. Salut gue.

Overall buku ini nyenengin untuk dibaca, bisa ngakak, nyengir, dan kadang-kadang baper.

Lalu, ngomong-ngomong soal karakter favorit, aku kepelet sama Igo. Hm, bukan hal baru lagi buat aku kepincut sama second lead male, haha.... Bukannya aku nggak suka Nagra sih, tapi bagiku Igo lebih memberikan kesan aja di aku.

Am I recomending this book?
Hell, YES! Kali aja ada yang mau mengenang masa putih abu-abu, ciye....



Q u o t e s :

"Dia berhak melihat dunia sebelum berlabuh ke dunia dia sebenarnya." [Aru] - h. 27
Gue bisa bercanda soal apa pun, kecuali agama. Gue udah kebanyakan dosa. Masa iya gue mau nambah dosa-dosa nggak penting dengan mengentengkan Tuhan gue sendiri? [Nagra] - h. 46
"Gue emang nakal, Neng. Tapi gue nggak pernah nakalin cewek. Jangan kayak kebanyakan, Ra, terlalu sering berprasangka sampai hidup dengan prasangka itu sendiri." [Igo] - h. 70
"Tiap orang emang punya pilihan. Lo mungkin milih mau hidup lebih lama, tapi orang lain mau mati lebih cepet." [Igo] - h. 88
Selama ini aku berpikir aku menyukai Nagra bagaimanapun kondisinya. Aku selalu melarang diriku sendiri untuk galau dan baper berkepanjangan. Tapi kadang-kadang... aku merasa kalau semua ini melelahkan. [Aru] - h. 89-90
"Berhenti, Ru. Nggak ada rasa suka yang cuma nyiksa diri sendiri." [Nagra] - h. 106
"Kalo mau ngadepin psikopat, ya harus jadi psikopat jugalah." [Nagra] - h. 111
"Disakitin kok terbiasa sih, Go? Gimana caranya biar kita terbiasa?" [Aru] - h. 124
"Ya, jangan cari cara supaya terbiasa disakiti, Ra. Kita cuma perlu cari cara buat tetap bertahan sesering apa pun kita disakitin. Manusia sering kali cari hal-hal besar buat mengubah dunia, buat mengubah diri sendiri. Tapi sebenernya kita cuma butuh hal-hal kecil buat bertahan di dunia ini." [Igo] - h. 124
"Gue lebih milih denger pemikiran absurd lo dibanding denger ketawa lo yang terpaksa." [Igo} - h. 125
"Bersandar aja, Ra. Bersandar itu nggak harus nunggu lo lemah dan nggak harus nunggu gue kuat. Siapa tahu dengan bersandar kita jadi sama-sama kuat." [Igo] - h. 125
Gue diem. Bukan karena nggak ada kata yang harus disampaikan lagi, tapi lebih karena kecewa dengan apa yang baru aja gue dengar. [Nagra] - h. 150
Buat apa aku menyukai seseorang yang dengan tegas menyuruhku berhenti menyukainya? [Aru] - h. 158
"Rasa kasihan itu termasuk emosi, Go!. Emang kenapa kalau gue kasihan sama lo? Kasihan itu bukan berarti meremehkan, tapi peduli! Emang dosa dikasihani orang?" [Aru] - h. 205
Ngeliat Aru yang udah sesantai ini waktu ngomong sama gue, membuat gue yakin kalo udah nggak ada lagi gue di hidupnya. [Nagra] - h. 234
"Gue seneng kerja jantung lo udah seirama dengan jantung gue." [Igo} - h. 253
"Kenapa kita nggak pernah ketemu di satu jalan yang sama ya, Ru?" [Nagra] - h. 298
Kata orang, kalau ada mantan yang masih bisa berteman, hanya ada dua kemungkinan; mereka masih saling mencintai atau mereka selama ini tidak pernah benar-benar saling mencintai. [Aru] - h. 310
Yah, ketika seseorang pergi, hal-hal kecil pun selalu berhasil mengingatkan kita pada orang tersebut. [Nagra] - h. 314
Mungkin benar, aku suka dia habis-habisan sampai babak belur, kemudian berusaha sembuh, tapi lebam itu masih ada. Dan tidak akan bisa sembuh karena perasaan itu bahkan setelah dihancurkan berkai-kali—masih tetap ada. [Aru] - h. 320