Showing posts with label teenlit. Show all posts
Showing posts with label teenlit. Show all posts

January 20, 2020

[Book Review] Memoar Marla - Safira Hapsari

Judul: Memoar Marla
Penulis: Safira Hapsari
Genre: Literature (17+)
Rilis: 11 November, 2019
Tebal: 400 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786230009334
Harga: IDR 90.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Marla Wijaya bunuh diri di acara Prom Night!

Lima tahun setelah kejadian tersebut, sepucuk surat teror tanpa nama mampir di kotak pos Claudia. Bersamaan dengan itu, undangan di grup WhatsApp SMA untuk menghadiri peringatan lima tahun kematian Marla muncul.
Claudia dipaksa kembali mengenang memorinya bersama Marla yang sudah lama dia tutup rapat.
Marla bukan teman dekatnya di sekolah, tetapi sehari sebelum kematian gadis itu, Claudia mengabaikannya.

Rasa bersalah kembali menghantuinya. Dibantu kedua sahabatnya, Kenzo dan Alva, Claudia berusaha mengungkap siapa sosok yang telah menerornya selama ini sebelum hari peringatan itu tiba. Berbagai nama dari masa SMA mereka muncul sebagai tersangka, dan fakta-fakta yang muncul membuatnya mulai mempertanyakan apa surat-surat itu benar-benar dikirim oleh perempuan yang sudah mati, atau...
Apa semua ini memang salahnya?

*

Dapat surat dari orang yang udah mati? Wow, nggak kebayang deh gimana rasanya. Pastinya serem banget.

Jadi seperti yang udah dijabarkan di blurb-nya, buku ini menceritakan seorang gadis bernama Claudia yang diteror oleh surat yang dikirimkan oleh Marla, teman semasa SMA-nya dulu yang sudah meninggal. Hal ini yang menarik perhatianku untuk membaca buku ini. Meski aku dari awal sebenarnya juga tahu kalau pelakunya bukan hantu, tapi 100% manusia. Aku penasaran bagaimana penulis mengeksekusi plot semacam ini.

Pada dasarnya pencarian si pelaku berhasil bikin aku penasaran, menebak-nebak siapa yang mengirimkan surat kepada Claudia. Penulis menyuguhkan beberapa kandidat yang sekiranya berpotensi menjadi pelaku teror. Cukup menarik, bukan? Twist yang disuguhkan di akhir cerita juga lumayan, meski bagi aku terkesan terlalu 'sinetron'. Entahlah, aku kurang suka eksekusi akhirnya di mana Claudia diculik oleh pelaku, disekap, dan hendak dibunuh.

Karakter Marla yang sudah meninggal direprentasikan melalui buku hariannya. Sebenarnya Claudia dan Marla itu nggak bisa dibilang teman. Namun kepribadian Marla yang terlampau 'kesepian' menganggap Claudia adalah sahabatnya, padahal Claudia dan Marla hampir-hampir nggak pernah berinteraksi. Ini tuh semacam persahabatan yang bertepuk sebelah tangan.

Nggak cuma menyuguhkan cerita detektif-detektifan aja, buku ini juga menyuguhkan sebuah kisah cinta segitiga antara Claudia, Alva, dan Kenzo. Claudia pikir—dan yang dia kehendaki, mereka bertiga akan bersahabat selamanya. Claudia tidak mau menyakiti atau kehilangan salah satunya, maka yang selama ini dia lakukan adalah menepis benih-benih cinta yang dirasakannya kepada salah seorang sahabatnya.

Memoar Marla ini adalah cerita perpaduan dari detektif-detektifan dengan cinta segitiga. Cara penulis meramunya bisa dibilang sudah rapi, gaya penulisannya pun enak untuk dinikmati. Setting tempatnya membuat kita sejenak keluar dari kepadatan Jakarta dan membayangkan hidup di sebuah pedesaan yang masih hijau dan berudara segar. Damai aja gitu rasanya. Penulis juga bisa membangun karakter para tokoh utamanya. Mulai dari Marla, Claudia, Alva, Kenzo, bahkan Jessica. Mereka memiliki karakter yang nyata dan konsekuen dari awal hingga akhir cerita.

Q u o t e s :

"Apa yang terjadi pada Marla adalah tragedi, sebuah pelajaran untuk kita semua. Tapi nggak lantas kita menyalahkan diri terus-terusan karena itu. Kita masih hidup, kita masih terus berjalan maju." [Kenzo] - h. 68
"Kita nggak bisa selamanya selalu bertiga. Tapi bukan berarti persahabatan kita akan hancur karena kamu mengakui perasaan kamu yang sebenarnya." [Alva] - h. 207 
Ini alasan aku benci bertengkar dengan sahabat-sahabatku, karena rasanya sangat menyiksa dan membuatku merana. [Claudia] - h. 211 
Persahabatan kami mungkin tidak akan lagi sama, tetapi aku senang setidaknya mereka berdua selalu ada untukku. [Claudia] - h. 233 

December 31, 2019

[Book Review] Troublemaker Couple - Pretty Angelia

Judul: Troublemaker Couple
Penulis: Pretty Angelia
Genre: Teenlit, Novel Remaja
Rilis: 25 November, 2019
Tebal: 260 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020632391
Harga: IDR. 73.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Lara dan Mahe panik!

Dua musuh bebuyutan sejak hari pertama di SMA itu kelabakan menerima kabar bahwa ayah Lara dan ibu Mahe berencana menikah. Mana mungkin Lara dan Mahe rela tinggal satu rumah.

Mau tak mau, mereka bersatu untuk menyusun rencana. Lara dan Mahe memutuskan untuk pura-pura  berpacaran. Mereka berharap, sandiwara akan membatalkan pernikahan dua orang tua itu.

Namun, jangan-jangan bukannya pernikahan yang batal, justru Lara dan Mahe yang jatuh cinta betulan.

*

Sebetulnya buku ini langsung kelar dalam sekali baca. Jumlah halamannya sebenernya lumayan, tapi nggak tahu kenapa berasa dikit, hehe.... Mungkin karena ceritanya yang menarik dan gaya menulisnya yang enak banget dinikmati kali ya?

Antara penasaran dan nggak penasaran, buku ini bikin aku ngerasain keduanya. Penasaran karena strategi apa yang akan disusun oleh Lara dan Mahe untuk membatalkan pernikahan kedua orangtua mereka, nggak penasaran karena udah tahu kalau ujung-ujungnya Lara dan Mahe bakalan saling jatuh cinta. Ceritanya simpel, mengalir gitu aja. Nggak ada twist atau sesuatu yang bikin aku berpikir keras, jadinya ya cuma menikmati aja.

Novel remaja selalu nggak pernah jauh-jauh dari dilema keluarga. Nah, apa yang dialami Lara dan Mahe ini sebenernya klise kok. Udah sering dan hampir selalu diangkat dalam setiap novel remaja. Menjadi korban broken home serta orangtua yang egois. Orangtua yang lebih memikirkan diri sendiri ketimbang ananknya, terutama bokapnya Lara nih, bikin geregetan banget.

Nyaris nggak ada interaksi manis yang terjadi antara Lara dan Mahe, mereka berdua kan kayak Tom & Jerry, musuh berat, nggak pernah bisa akur. Lucu aja sih ngebayangin dua orang yang udah jadi musuh bebuyutan harus pura-pura pacaran, pasti konyol banget kan.

Untuk jalan ceritanya sendiri aku cukup menikmatinya, cuma pas bagian ending-nya, aku rada-rada gimana gitu. Entahlah, buat aku rasanya kurang natural, seakan semuanya terjadi begitu mudahnya. Oh ya, aku suka sama kovernya. Judulnya juga catchy. Awalnya—pas belum baca blurb-nya—aku ngebayangin ada pasangan yang bikin trouble di mana-mana, eh ternyata yang trouble mereka sendiri toh.

Yah, mungkin ini adalah buku terakhir yang aku baca di tahun 2019. Niatnya sih mau nambah satu lagi—semoga kesampaian ya. Masalahnya aku pas lagi repot-repotnya, kena serangan acara Natal dan tahun baru. Agak sedih sih karena target baca tahun ini nggak terpenuhi. FYI tahun ini adalah tahun yang paling berat buat aku :( Tapi syukurlah, semua bisa terlewati dengan baik. *Lah, kok malah curcol gini sih?*

Sampai jumpa tahun depan....

Q u o t e s :

"Berhenti jadi anak manja. Nggak semua yang kamu mau, bakalan kamu dapatkan di dunia ini." [Papa Mahe] - h. 11
"Kalau lo pendem terus apa yang ada di hati lo, lama-lama lo bisa jadi Petasan Meledak!" [Mahe] - h. 104


December 14, 2019

[Book Review] April Fool - Cepi R. Dini

Judul: April Fool
Penulis: Cepi R. Dini
Genre: Teenlit (15+)
Rilis: November, 2019
Tebal: 268 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Penerbit Inari
ISBN: 9786026682536
Harga: IDR. 89.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Pas April Mop, gue berniat ngerjain temen kecil gue, Ervika. Gue menulis surat cinta dan meminta Gavin, sahabat gue buat ngasih pernyataan cinta gue ke Ervika. Entah gimana, surat itu malah sampai ke anak baru yang bernama Savika.

Cewek itu dengan malu-malu malah nyamperin gue dan bilang kalau dia mau jadi pacar gue.

GAVIN! BRENGSEK LO! TERUS GUE SEKARANG HARUS GIMANA?!

*

Kampret! Seriusan aku geregetan banget sama Abrar!!! Pengin nampol tapi ganteng, jadinya nggak jadi deh, hehe....

April Fool ini menceritakan mengenai Abrar yang 'terjepit' gara-gara ulah dua sahabatnya. Maksud hati pengin ngerjain Ervika, sahabatnya sejak kecil, tapi malahan dia yang dikerjain balik. Berawal dari surat yang sengaja dibikin nyasar oleh Ervika dan Gavin, Abrar akhirnya pacaran sama Savika. Hubungan mereka mungkin bakal baik-baik aja kalau aja Salma, sepupu Savika yang merupakan cewek tercakep di sekolah, tidak merecokinya. Secara Salma itu cinta pertama Abrar, cewek yang udah dikerjar oleh Abrar selama satu setengah tahun. Kesel kan ya, udah mulai bisa move on, gebetan malah ngedeket?!

Sebuah novel remaja yang ringan, tapi bikin geregetan setengah mampus. Gara-gara apalagi kalau bukan karena sikapnya Abrar. Sumpah, sebagai cowok dia itu naif banget. Pacarnya siapa, yang diprioritaskan siapa.... Duh, kalau tuh anak di depanku, udah aku bejek-bejek! 

Oh ya, tulisan dan tata bahasanya yang rapi bikin aku betah baca. Sempat geletakin beberapa kali gegara sibuk, tapi sekali ada waktu luang, langsung aku abisin. Aku nyaman banget dengan tulisannya. Kosa katanya nggak muluk-muluk, tapi ngalir. Dari segi ceritanya sendiri aku cukup menikmatinya. Tentang sebuah kesalahpahaman yang malah diteruskan, akhirnya malah merembet ke mana-mana—termasuk urusan hati, wkwkwkwk. Kehidupan para tokohnya juga nggak berlebihan, layaknya remaja pada umumnya, nggak aneh-aneh juga nggak terlalu drama. Untuk karakternya terbilang cukup kuat. Abrar, Gavin, Savika, Ervika, Salma, Irdham, bahkan si Om alias papanya Salma yang ngejengkelin dan sama sekali nggak bijaksana. Intinya penokohan dalam buku ini digarap dengan baik. Cuma aku agak eneg aja sama beberapa kalimat yang terkesan repetitif. Misalnya seperti cowok terpopuler, cewek tercantik, atau apalah.

Cewek cupu+kutu buku VS Cowok ganteng+populer emang rada-rada klise ya. Namun plot serta eksekusinya dikerjakan dengan bagus, jadi bisa dibilang minim sekali plothole-nya.

Q u o t e s :

Namun seperti kata pepatah, tidak ada kebohongan yang bisa ditutupi. Suatu saat pasti akan terungkap. - h. 41
"Cinta memang masalah hati, tapi menjalin hubungan perlu logika." [Ervika] - h. 114
Membenci orang itu buang-buang energi asal tahu saja. - h. 250

September 30, 2019

[Book Review] Be My Sweet Darling - Queen Soraya

Judul: Be My Sweet Darling
Penulis: Queen Soraya
Genre: Teenlit
Rilis: Juni, 2009
Tebal: 242 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9789792245899
Harga: IDR. -
Rate: ★★☆☆☆


B l u r b :

Hal yang terjadi dalam hidup Marsha:
1. Ega, sang pacar, selingkuh. (Cih, Ega emang cowok paling bejat di dunia!)
2. Raya, sahabat karib Marsha, yang jadi selingkuhan Ega (Raya pengkhianat! Kenapa gue mesti punya sahabat sekejam ini?)
3. Ada cowok nyebelin di sekolah. Namanya Bima (Manusia paling nyebelin yang pantas dikasih julukan "idiot".).
4. Mama butuh uang. Terpaksa lantai atas rumah harus dikosin (Sejak Papa meninggal, keuangan jadi sulit. Gue harus berbesar hati menerima keputusan Mama.)
5. Ada anak kos baru (Hm... semoga dia membawa kebaikan di rumah ini. Yang paling penting sih, uang kosnya bisa digunain Mama buat bayar utang ke Ibu Rosa.).
6. Nama anak kos itu Bima (APA?!!! COWOK BRENGSEK ITU?!!! DAN SESUAI PERJANJIAN KONTRAK, GUE MESTI NYUCIIN BAJU SI IDIOT ITU???!!! O MY GOD!!!!)

*

Wah, baca novel ini aku jadi keinget pas masih sekolah dulu. Di mana novel-novel teenlit masih simpel dan beralur cepat. Halamannya nggak banyak, terus yang dibahas juga seputaran hate to love antara cewek biasa dengan cowok ganteng. Hehe.... Kesannya klasik banget ya?

Be My Sweet Darling ini menceritakan mengenai Marsha yang diselingkuhin sama pacarnya, Ega. Parahnya Ega ini selingkuhnya sama Raya, sahabat Marsha sendiri. Udah gitu kondisi keuangan yang amburadul membuat ibunya Marsha menjadikan lantai dua rumah mereka sebagai kos-kosan. Apesnya lagi, yang ngekos itu si Bima, cowok pindahan dari Surabaya yang ngeselin abis! Dari sini bisa ditebak dong, ke mana arah hubungan mereka.

Sewaktu kelarin novel ini, aku ngerasa adanya perbedaan yang sangat jauh dengan novel-novel teenlit terbitan sekarang. Kalau dulu kesannya simpel banget, sekarang lebih kompleks. Tema serta topiknya pun lebih beragam. Seneng juga sih dengan perubahan ini, tandanya kan penulis zaman sekarang wawasannya lebih luas, ide-idenya segar yang bikin nggak terasa monoton. Cuma yah, kadang-kadang itu loh, aku kurang sreg sama cinta-cintaannya yang berlebihan.

Oke, balik ke novel ini....
Berhubung ceritanya sangat-sangat sederhana, feel-nya pun nggak dapat di aku. Mungkin juga udah bukan umurnya lagi kali ya aku baca yang seperti ini, haha! Tapi aku tetap bisa menikmati kok. Oh ya, ada beberapa plothole juga sih, cuma karena alurnya cepat dan tahu lah, dunia remaja kadang agak-agak nggak masuk akal, jadinya nggak begitu kelihatan.

Bahasa yang digunakan juga masih belum sevariatif sekarang. Maklum, tahun-tahun segitu hp paling banter Blackberry, akses internet juga masih seret. Pokoknya sensasi baca novel ini tuh kayak balik ke masa lalu.


September 16, 2019

[Book Review] A Sky Full of Stars - Nara Lahmusi

Judul: A Sky Full of Stars
Penulis: Nara Lahmusi
Genre: Teenlit (15+)
Rilis: 9 September, 2019
Tebal: 244 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020632100, 9786020632117 (Digital)
Harga: IDR. 73.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Meski hanya anak seorang cleaning service, Raya Angkasa punya cita-cita setinggi langit: kuliah di Kedokteran UI. Untuk itu, ia harus lihai membagi waktu sebagai guru privat bagi murid-murid tajir di sekolahnya demi menambah uang tabungan. Sejauh ini sih nggak ada masalah.

Namun, masa remaja Raya mendadak rumit ketika harus mengajar kakak-beradik dari keluarga Mahashakti. Dirga Romano Mahashakti, si biang kerok yang menyebalkan dan Dika Romino Mahashakti yang sakit-sakitan membuatnya kelimpungan. Bukan hanya kontrak mengajar yang ketat, ia juga terpaksa terlibat dalam masalah keluarga kedua cowok itu.

Seolah urusan pelajaran sekolah belum cukup membebani, pertaruhan, perasaan, dan cinta terpendam membelit ketiganya dengan benang kusut yang sulit diurai. Sanggupkah Dirga terus mengalah demi adiknya? Tegakah Raya menolak Dika saat harapan dan masa depan cowok itu disandarkan di bahunya?

“Cause you’re a sky, cause you’re a sky full of stars…”

*

Buku ini kovernya cakep bangettttt! Ya, itu adalah salah satu alasanku tertarik sama buku ini. Hehe.

ASFoS menceritakan mengenai Raya yang punya mimpi setinggi langit, tapi sayangnya keadaan ekonomi nggak mendukung. Sementara itu ada Dirga yang tajir, tapi ogah-ogahan untuk sekolah. Mereka benar-benar bertolak belakang. Kedekatan mereka dimulai pada saat Raya menjadi guru les untuk Dika—adik Dirga. Dan serunya lagi, ada cinta segitiga di sini.

Ini pertama kalinya aku baca tulisan Nara Lahmusi, aku belum sempat baca buku pertamanya yang berjudul Things About Him. Kapan tahun itu pernah mau baca, tapi belum kesampaian. Nggak banyak sih yang mau aku ulas tentang buku ini. Yang pasti aku suka gaya nulisnya, gampang dicerna dan nggak butuh waktu lama buat adaptasi.

Sementara dari ceritanya sendiri, jujur aku cukup terhibur. Cuma memang ada beberapa hal yang mengganjal buatku, misalnya nilai-nilai Dirga. Okelah dia belajar sangat keras, tapi menurutku kemungkinan dari siswa yang selalu dapat nilai nol, terus tiba-tiba aja menjadi 100, itu kok kurang realistis ya? Apalagi dalam kasusnya Dirga, dia itu sama sekali nggak pernah memperhatikan pelajaran sejak kelas X. Hal ini agak susah aku terima. Tapi ini menurutku lho, bagi orang lain bisa saja berbeda.

Perjuangan Raya di sinu juga patut diapresiasi. Walau ekonkminya minus, tapi semangatnya nggak pupus. Dia tetep berjuang meraih impiannya.

Di akhir cerita aku sempat berasa nyesek, pas kelulusan ituloh. Hiks.... *puk puk Dirga*

Q u o t e s :

"Kata bapak gue, konon, ketika harapan manusia sudah lenyap, cuma doa yang tetap membuat manusia bertahan." [Raya] - h. 177

September 14, 2019

[Book Review] Vio Don't Mess Up - Shania Kurniawan

Judul: Vio Don't Mess Up
Penulis: Shania Kurniawan
Genre: Teenlit (13+)
Rilis: 29 April, 2019
Tebal: 256 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020627830
Harga: IDR. 77.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Vio sepertinya menyandang gelar siswi paling bermasalah sepanjang sejarah SMA Mayapada. Dia sering bolos, suka cari masalah dengan cowok-cowok bajingan di lingkungan sekolah, dan sudah nunggak gorengan dua semester. Cewek biang kerok yang dihindari oleh teman-temannya karena mereka takut dia bakal menularkan virus berandalannya.

Tapi, saat kakaknya hendak dipanggil, Vio menyerah. Cello nggak boleh sampai tahu tentang kelakuannya! Karena itu, Vio setuju untuk ikut program belajar dengan Jo untuk memperbaiki semua nilainya. Kalau dalam semester kedua ini Vio nggak mendapatkan nilai merah sama sekali, Cello nggak akan dipanggil.

Terpaksa belajar dengan cowok kaku itu, Vio cuma bisa menahan emosi. Bisa nggak ya, sekali ini saja, dia nggak mengacaukan semuanya?

*

Setelah belakangan baca buku yang suram-suram, semalam akhirnya aku mutusin buat baca teenlit, buat refreshing. Hehe. Nggak perlu waktu lama buat menuntaskan buku ini. Ceritanya sederhana, gaya menulisnya ngalir, dan gampang dinikmati. 

Apa jadinya cewek bandel ketemu dengan cowok rajin?
Well, kedengarannya biasa aja ya, tapi Vio yang bandel serta Jo yang ngomongnya pakai bahasa baku bikin cerita ini menarik. Vio punya masa lalu, begitu juga dengan Jo. Masa lalu itulah yang membuat mereka berubah jadi seperti itu.

Seperti kebanyakan, family issue masih jadi latar belakang tingkah 'ajaib' mereka. Hubungan Vio dan Jo berjalan biasa-biasa aja, selayaknya teman dekat. Lagian mereka memang nggak jadian atau semacamnya. Tapi aku yakin ada benih-benih bunga matahari yang tumbuh di hati mereka. Nggak ada adegan-adegan romantis ala-ala FTV remaja kok. Vio dan Jo hanyalah dua remaja yang sama-sama memiliki masalah dalam keluarganya, sebuah masa lalu pahit yang membuat mereka berubah seperti itu. Percaya nggak percaya, apa yang terjadi dalam keluarga itu berpengaruh besar terhadap anak.

Sisi yang aku suka dari buku ini adalah Vio yang berusaha keras untuk memperbaiki nilai-nilainya, meski dia tersiksa banget. Ya iyalah, cewek yang kerjaannya skip kelas buat nongkrong di kantin, bahkan sampai utang gorengan selama enam bulan, harus belajar bersama cowok berkacamata tebal yang ngomongnya baku banget. Awalnya Vio bosan setengah mati, cuma lama-kelamaan dia penasaran dengan Jo.

Konflik yang diangkat sederhana sekali. Cuma karena gaya menulisnya enak banget buat dibaca, semuanya berasa mengalir begitu aja. Aku menikmati banget kisah Vio dan Jo, walau sampai akhir aku masih bertanya-tanya ke mana hubungan Vio dan Jo akan berlabuh. Akan ada sesuatu di antara mereka ataukah Jo hanya menganggap Vio sebagai adiknya? Oh ya, aku juga penasaran banget sama Rio. Tuh anak ngeselin, tapi bikin gemes.


*

Q u o t e s :

Dan memikirkan soal matematika tampaknya lebih nikmat daripada memikirkan kenangan buruk yang semestinya nggak dia ingat. [Jo] - h. 29
"Kamu harus ingat kalau tidak selamanya kamu boleh dikalahkan masa lalu, dan ada saatnya kamu harus melawannya demi masa depanmu." [Jo] - h. 198

August 31, 2019

[Book Review] Penyap - Sayyidatul Imamah (Versi ARC)

Judul: Penyap
Penulis: Sayyidatul Imamah
Genre: Teenlit
Perkiraan rilis: Oktober, 2019
Tebal: 319 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Storial Publishing
ISBN: -
Harga: IDR. -
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Bagi Leo Sebastian, hidup adalah lorong-lorong gelap berliku. Di dalamnya, ia tersaruk-saruk sendirian. Leo keliru. Di dalam kegelapan itu, ia bertemu Anasera. Gadis itu mengisi kekosongan yang selama ini menguasai Leo.

Bagi Anasera, hari esok adalah sebuah dinding tebal. Ia tidak bisa melihat apa pun di balik tembok itu. Namun, berkat Leo, Anasera mulai berani mengirimkan mimpi-mimpinya ke masa depan.

Sejak pertemuan mereka di rel kereta api saat itu, pelan-pelan cahaya mulai terkuak. Leo tersenyum dengan keyakinan bahwa hidup tidaklah sekosong itu dan bersama Leo, Anasera merasa hidupnya berharga. Namun, ketika mereka pikir semuanya akan baik-baik saja, sesuatu terjadi.

*

Pertama, aku ngerasa beruntung banget karena terpilih menjadi salah satu dari 20 bookstagram yang berkesempatan membaca dan mengulas novel ini versi ARC. Bangga banget loh bisa baca duluan sebelum bukunya resmi terbit, hehe.... Bulan lalu aku baca novel dengan tema yang sejenis dengan ini, judulnya Represi, di mana tokoh utamanya juga memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Tapi jika dipandang dari sudut pandang emosional, Penyap ini jauh lebih emosional.

Dari blurb-nya saja kita sudah bisa merasakan kalau aura buku ini dark. Kelam. Kenyataannya, memang begitu adanya. Seringnya novel teenlit mengusung tema percintaan remaja dan sejenisnya, berbeda dengan Penyap, novel ini mengusung tema mengenai mental illness—plus penderita leukimia limfosit akut. Leo yang seorang penderita mental illness bertemu dengan Anna yang menderita leukimia limfosit akut. Mulanya mereka merasa hidup mereka percuma, jadi bunuh diri adalah pilihan yang tepat untuk mengakhiri segalanya. Pertemuan Leo dan Anna di rel kereta menjadi awal mula kedekatan mereka. Yah, meski mereka itu sebenarnya satu sekolah, mereka berdua tidak pernah bertegur sapa. Leo terkenal sebagai murid bandel yang berada di ambang drop out, sementara Anna jarang masuk sekolah karena fokus dengan penyembuhan penyakitnya.

Dari tidak pernah, kini menjadi terbiasa.
Hubungan Leo dan Anna menjadi dekat. Leo merasa baru kali ini ada seseorang yang benar-benar 'memandangnya', tak peduli seperti apa keadaannya. Pun juga dengan Anna yang mendapatkan kembali semangatnya untuk melawan penyakitnya. Sederhananya, mereka berdua menemukan sebuah alasan untuk hidup. Jadi jangan bayangkan kalau buku ini berisi cerita tentang sepasang kekasih yang salah satunya berada di ambang maut, sementara yang satunya lagi selalu berada di sisinya, menikmati waktu bersama selagi mereka bisa. No! Big no! Novel ini lebih menyorot mengenai mental illness serta perjuangan untuk melawannya.

Ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama bergantian, Anna dan Leo, aku bisa dengan jelas memahami seperti apa jalan pikiran mereka, juga apa yang mereka rasakan. Terutama dengan Leo. Aku merasa related dengan Leo. Well, for some reason that I cannot tell, I'd ever try to kill my own self. Jadi aku tahu betul gimana sulitnya keluar dari kungkungan pikiran jelek. Aku juga tahu gimana rasanya merasa sendiri, seperti tak terlihat. Ada, tapi tidak ada. Jujur setiap kali baca POV-nya Leo, perutku mules. Family issue, mental issue. Ew, untuk anak remaja semua itu bukan hal sepele. Sedangkan untuk Anna, aku berusaha memahami posisinya yang terhimpit di antara ingin menyerah dan terus berjuang. Hanya saja feel-ku buat Anna tidak sedalam yang aku rasakan untuk Leo. Kebetulan belakangan ini aku berkutat dengan seorang pejuang kanker. Tahu nggak, sangat susah untuk membangkitkan semangat kalau kondisi sudah diambang kematian. Daripada Anna, aku lebih bisa merasakan emosi Nora, kakak perempuan Anna. Meski jarang muncul, tapi melalui beberapa selipan diary-nya sudah sangat jelas menunjukkan perasaannya. Nora punya keinginan, punya impian, sayangnya semua itu harus dia korbankan demi kesembuhan Anna. Padahal sejujurnya dia pun tidak tahu apakah Anna akan sembuh. Singkatnya, Nora sudah mengorbankan semua mimpinya untuk sesuatu yang belum pasti.



Gaya bahasa yang digunakan sangat-sangat enak untuk dibaca. Mengalir, walau terkesan agak kaku karena memakai bahasa baku, bukan lo-gue dan bahasa gaul lainnya. Diksi yang digunakan untuk narasinya juga jleb banget, nggak bertele-tele atau mbulet. Aku juga suka kutipan-kutipan yang diselipkan hampir di sepanjang cerita. Pergulatan batin para tokohnya tersampaikan dengan sangat baik, sampai-sampai membuat aku terhanyut. Karakter para tokoh utamanya juga terbagun dengan cukup kuat. Itu semua terbukti dengan sifat, latar belakang, serta cara tokoh tersebut menghadapi masalahnya. 

Karena ini novel teenlit, rasanya nggak afdol kalau nggak bahas soal percintaan. Ya, kan?
Tbh, aku sama sekali nggak ada feel dengan hubungan Leo dan Anna. Di mataku keduanya lebih cocok jadi sahabat/teman baik ketimbang dua orang yang saling jatuh cinta. Leo dan Anna sama-sama memiliki apa yang sahabat butuhkan, saling menerima dan saling mendukung. So, I can say I dislike their insta-love. Kesannya malah agak maksa.

Secara emosi buku ini memang emosional banget. Tapi di samping itu, aku menemukan beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya. Misalnya, profesi kedua orangtua Anna. Di situ diceritakan kalau mereka menjual rumah lama mereka yang besar dan pindah ke rumah yang kecil demi membiayai pengobatan Anna. Memang hal ini nggak terlalu penting sih, cuma entah kenapa terasa mengganjal—yah, mungkin aku aja yang terlalu ingin tahu. Lalu yang nggak kalah penting, bahkan menurutku sangat penting, adalah penyakit Leo. Dia menderita penyakit mental yang—menurutku—bersumber dari latar belakang keluarganya, tapi ayolah, aku butuh hal ini lebih digali lagi. Terus, aku juga masih kurang begitu ngeh kenapa dia dan Ryan jadi musuhan kayak gitu. Kilas balik-kilas balik yang diselipkan di situ belum sepenuhnya menjawab pertanyaanku.

Endingnya?
Tenang, nggak ada scene tangis-tangisan ala drakor Endless Love kok. Semua terjadi begitu wajar. Menyedihkan, tapi nggak drama.

Kalau ditanya apakah aku menikmati buku ini, jawabannya adalah ya, aku sangat menikmatinya. Terlepas dari poin-poin yang mengganjal buat aku tadi—serta beberapa tanda petik yang kurang dan huruf yang agak ngaco, buku ini menawarkan sebuah cerita kehidupan yang penuh makna. Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Terutama bagi kalian yang selalu merasa sendirian dan tidak berarti, percayalah kalau kalian tidak sendirian. Jangan pernah menganggap diri sendiri aneh, karena setiap manusia memiliki keanehan masing-masing yang disebut unik. Mungkin kalian tidak menderita penyakit mental seperti Leo atau leukimia seperti Anna, tapi perjuangan mereka cukup memotivasi. Believe me, this book is worth to read!

Oh ya, mungkin kalian penasaran dengan kata penyap.
penyap/pe·nyap/ kl a lenyap; hilang
Lalu, apa yang hilang?
Kalian akan mengerti sendiri setelah menyelami cerita dalam buku ini.


Q u o t e s :

"Untuk apa menempuh perjalanan panjang kalau aku sudah yakin dengan tujuanku?" [Leo] - h. 14
Keluargaku selalu seperti ini. Mereka menyayangiku. Aku menyanyangi mereka. Namun, kami tidak bahagia. [Anna] - h. 21 
"Dunia tidak selalu membiarkan kita melawan." [Leo] - h. 31
 Aku selalu berusaha, aku berusaha untuk bertahan. Namun, tidak pernah ada yang memberiku alasan kenapa aku harus bertahan. [Leo] - h. 32 
Mati itu mudah, hidup yang susah. - h. 44
Bertahanlah kalau kamu ingin petualangan besar karena hidup lebih banyak petualangan megabesar yang tidak bisa kamu sangka-sangka. Salah satunya, mencintai dirimu sendiri. Itu adalah petualangan termegah yang bisa dialami siapa pun. [Anna as Mayfly] - h. 83 
"Tapi, berbohong tidak pada tempatnya itu berbahaya." [Leo] - h. 113
Selalu ada sesuatu yang tidak bisa dihentikan oleh manusia, seperti menghentikan hujan turun, menghentikan matahari bersinar, menghentikan bumi berputar, dan menghentikan seseorang untuk tidak pergi. - h. 157
"Seseorang yang berada di tempat terang dalam waktu lama tidak akan terbiasa ketika berpindah ke tempat yang lebih gelap. Dia melihat dengan cara yang berbeda karena tempatnya yang dahulu jauh lebih terang daripada tempatnya yang sekarang. Tapi, berlian tetap berlian meski berada dalam lumpur terkotor sekalipun." [Anna] - h. 173-174 
Seburuk apa pun seseorang, dia tetap bisa bahagia asalkan bersama orang yang tepat. [Leo] - h. 180
"Orang-orang yang melakukan bunuh diri seringkali tidak memikirkan orang-orang yang mencintai mereka." [Pak Ramdan] - h. 195
"Setiap masalah selalu punya solusi, dan solusi itu tidak selamanya berarti menyingkirkan masalah, tetapi terkadang juga menerima masalah yang mendatangi kita." [Pak Ramdan] - h. 195
"Saat kata-kata dikatakan terlalu sering, maknanya akan hilang." [Leo] - h. 216
"Luka yang terlihat tidak selalu yang paling sakit." [Leo] - h. 266
"Tapi hidup adalah hidup. Kita melanjutkan, dan hidup yang menentukan." [Anna] - h. 315

August 12, 2019

[Book Review] Dark Love - Ken Terate

Judul: Dark Love
Penulis: Ken Terate
Genre: Teenlit
Bahasa: Indonesia
Tebal: 248 halaman
Rilis: 6 September, 2012
Penerbit: GPU
ISBN: 9789792287516
Harga: IDR -
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Usiaku 17 tahun, hampir 18. Kelas 12. Hampir lulus. Dan aku hamil...

Kirana yang cerdas, cantik, dan ceria melihat semua impiannya luruh di depan mata. Hari-harinya mulai dipenuhi rahasia dan kecemasan. Ia nggak mungkin mampu melahirkan dan merawat bayi. Ia juga nggak mungkin mampu menghadapi celaan dari orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, guru-gurunya, terutama kekecewaan orangtuanya. Saat ini Kirana berada di ambang jurang keputusasaan. Hidup seolah tidak menawarkan solusi apa pun padanya.

Bagaimana dengan cowok yang menghamilinya? Oh, cowok itu harus tetap sekolah. Dia nggak boleh terlibat. Dia cowok paling tampan dan paling cerdas di sekolah. Masa depannya begitu gilang gemilang. Kirana tidak ingin merusaknya. Siapakah dia? Kirana takkan pernah mau mengakuinya.

*

Masih related sama Dua Garis Biru, novel ini juga mengusung tema kehamilan remaja di luar nikah. Bedanya, tokoh dalam novel ini sama-sama murid cerdas, andalan, kebanggaan sekolah—plus, novel ini udah terbit duluan ya.

Mengambil setting tahun 2009, aku bisa dengan baik merasakan situasinya saat itu. Mungkin karena tahun segitu aku juga SMA kelas 12. Waktu itu yang namanya sex education memang belum seterbuka sekarang. Pendidikan resmi cuma didapat dari pelajaran biologi bab reproduksi, sedangkan yang nggak resmi didapat dari nonton video bokep ato majalah porno. Tahun segitu akses internet masih tergolong seret, orang streaming YouTube di warnet aja nggak boleh—bisa bikin lag komputer lain soalnya.

Sedari awal baca aku udah dibikin penasaran setengah mampus sama si "My Prince" alias bapak biologis dari anak yang dikandung Kirana. Mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu Kirana, aku diajak bergalau-galau ria. Bingung, takut, malu. Rasanya campur aduk jadi satu. Sempat sebel juga sih kenapa dia nggak mau mengungkapkan siapa bapaknya. Alasannya sih mereka berdua sama-sama murid populer, dia nggak mau membuat semuanya tambah rumit, toh mereka melakukan 'itu' berdua, tanpa ada unsur paksaan. Padahal "My Prince" siap bertanggung jawab dan nggak meninggalkan Kirana. Speechless juga sih, anak usia segitu bisa mikir kek gini, bukannya saling menuntut dan lepas tanggung jawab.

Karakter favoritku adalah Bu Welas. Pemikirannya luas, nggak terpaku pada sebuah peraturan. Dipandang dari mana pun, hamil di luar nikah memang nggak ada bener-benernya. Tapi berhubung mau UN, harusnya dari pihak sekolah ada usaha untuk menyelamatkan masa depan anak didiknya. Cuma ini pandangan subyektif sih, orang lain mungkin nggak sependapat dengan Bu Welas. Yah, meski akhirnya Kirana dan "My Prince" tetap bisa ikut UN dengan cara lain.

Oh ya, meski cerita ini fokusnya pada kehamilan Kirana, unsur persahabatan masih melekat erat. Aku awal-awal nggak suka sama sifatnya Maria, tapi lama-lama aku nyadar kalo dia itu cuma remaja yang ingin mimpinya direstui kedua orangtuanya. Poin bagus juga sih buat orangtua yang seringnya memaksakan kehendak sama anak. Come on, anak itu bukan objek yang bisa dengan leluasa diatur-atur atau digunakan orangtua demi gengsi atau mendapat pujian.

Aura buku ini dark, tapi menyimpan sejuta pelajaran bagus untuk remaja. Terutama sex education. Seks memang masih tabu untuk dibahas terang-terangan, tapi semakin kita menyembunyikan, anak akan semakin penasaran. Terlebih akses internet zaman sekarang yang gampang banget. Seks itu penting dikenalkan pada anak, bukan untuk dilakukan, tapi agar anak itu tahu risiko yang ditanggung.

Ingat, love is not sex! Ada banyak cara mengekspresikan kasih sayang/cinta. Misalnya dengan kasih cokelat atau melakukan kegiatan positif bersama, misalnya belajar bareng, nonton bareng. Cowok yang mencintai kamu nggak bakal menyuruh kamu, apalagi memaksa kamu untuk melakukan seks. Sebaliknya, cowok itu bakal ngejaga kamu. Buat jaga-jaga kalo ada setan lewat, jangan pacaran di tempat sepi, juga buat batasan-batasan interaksi (sentuhan tubuh) biar nggak kebablasan.

Q u o t e s :

"Pendidikan adalah untuk semua orang. Siapa pun dia. Laki-laki dan perempuan. Miskin dan kaya. Hamil atau tidak. Bila Bapak tidak memberikan hak itu untuk Kirana, Bapak melanggar hukum. Melanggar amanat undang-undang." [Bu Welas] - h. 204
"Lucu ya, di abad dua puluh satu, keperawanan tetap penting. Dan mereka tak mau tahu penyebab kehilangannya." [Bu Welas] - h. 229
Love is not sex.

August 05, 2019

[Book Review] Dua Garis Biru - Lucia Priandarini

Judul: Dua Garis Biru
Penulis: Lucia Priandarini
Genre: Teenlit (17+)
Bahasa: Indonesia
Tebal: 216 halaman
Rilis: 11 Juli, 2019
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020631868, 9786020631875 (Digital)
Harga: IDR. 59.000 Paperback (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Dara, gadis pintar kesayangan guru, dan Bima, murid santai yang cenderung masa bodoh, menyadari bahwa mereka bukan pasangan sempurna. Tetapi perbedaan justru membuat keduanya bahagia menciptakan dunia mereka sendiri. Dunia tidak sempurna tempat mereka bisa saling mentertawakan kebodohan dan menerbangkan mimpi. 

Namun suatu waktu, kenyamanan membuat mereka melanggar batas. Satu kesalahan dengan konsekuensi besar yang baru disadari kemudian. Kesalahan yang selamanya akan mengubah hidup mereka dan orang-orang yang mereka sayangi. 

Di usia 17, mereka harus memilih memperjuangkan masa depan atau kehidupan lain yang tiba-tiba hadir. Cinta sederhana saja ternyata tak cukup. Kenyataan dan harapan keluarga membuat Bima dan Dara semakin terdesak ke persimpangan, siap menjalani bersama atau melangkah pergi ke dua arah berbeda.

*

Finally, aku baca bukunya duluan—karena emang belum sempat nonton filmnya. Habisnya filmnya heboh banget, aku kan jadi kepo, hehe.

Topik mengenai hamil di luar nikah memang seperti magnet yang gampang menarik perhatian. Jujur kalo dari segi ceritanya sendiri, aku nggak terlalu berkesan. Karena emang udah banyak sih buku yang mengangkat tema semacam ini. Cuma eksekusi cerita serta gaya menulisnya bikin aku acungin dua jempol buat buku ini. Well, simpel tapi menarik. Singkat, tapi padat dan jelas. Ringan, tapi nggak ngebosenin. Penulisannya keren punya pokoknya!

Isi bukunya sendiri tergolong ringan untuk masalah seberat ini. Malah kesannya jadi agak drama. Tapi di sisi lain pesan moralnya bagus banget. Klise sih. Intinya jangan berbuat kalo nggak siap dengan risikonya. Sekali berbuat bisa hamil. Lalu kalo udah terlanjur hamil, mau nggak mau, siap nggak siap, kehidupan pasti akan berubah. Dara dan Bima emang berusaha untuk bertanggung jawab, tapi tetap saja, mereka itu masih 17 tahun. Anak umur segitu mah masih hijau banget soal kehidupan, apalagi punya anak. 

Banyaklah yang bisa direnungkan dari akibat hamil di luar nikah, dan bagi aku ini pelajaran bagus buat para remaja jaman now ini biar nggak kebablasan. Misalnya Bima yang kelimpungan karena dia berasal keluarga B aja. Bima sayang Dara, tapi dia nggak siap jadi seorang bapak. Di satu sisi dia juga nggak mau buang anaknya. Sementara Dara sebagai siswa favorit harus rela dikeluarkan dari sekolah, hidupnya berubah 180°, belum lagi perasaan malu. Dan yang paling penting adalah perasaan bersalah yang menghantui Dara dan Bima. Mereka menyesal, mengecewakan orangtua, dll.

Endingnya?
Aku nggak kaget dengan ending yang seperti ini. Habis mau digimanain lagi? Sejauh aku baca buku dengan tema hamil di luar nikah, aku belum pernah puas dengan endingnya—termasuk buku ini. Padahal kalo ditanya aku pengin ending yang gimana, aku sendiri juga bingung. Haha. Emang susah sih bikin ending yang memuaskan plus masuk akal untuk tema semacam ini.

Oh ya, setelah baca buku ini terjawab sudah pertanyaanku mengenai judulnya 'Dua Garis Biru'. Ngakak aing, Bima gitu amat woy!

Q u o t e s :

Kebebasan juga adalah penjara. Setiap pilihan tidak bebas dari konsekuensi. - h. 25 
Tetapi berusaha tenang adalah sikap yang paling tidak menyenangkan. - h. 43

June 29, 2019

[Book Review] Falling Domino - Afy Zia

Judul: Falling Domino
Penulis: Afy Zia
Genre: Teenlit
Bahasa: Indonesia
Tebal: 256 halaman
Rilis: 29 April 2019
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020622248
Harga: IDR. 77.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Dirga benci banyak hal. Dia benci Bram karena telah merenggut mantan pacarnya. Dia benci Rafi karena selalu membuatnya terngiang akan masa lalu. Dia bahkan benci Papa karena tak pernah ada untuknya.

Namun, kecerobohan Dirga menantang Bram membuatnya harus berhadapan pada rentetan peristiwa yang tak pernah dia duga: bertemu cewek bawel bernama Alana, sekelas dengan Rafi yang selalu membuatnya naik pitam, serta bergabung dengan ekstrakulikuler paling beken di SMA Mulia Bangsa.

Seperti kejatuhan domino, satu peristiwa mengantarkan Dirga pada peristiwa baru lainnya. Masalahnya, apakah setiap kejatuhan domino itu akan menuntun Dirga pada peristiwa yang lebih baik daripada sebelumnya? Atau justru malah sebaliknya?

*

Nggak tahu kenapa, hati rasanya hangat ketika selesai baca buku ini. Teenlit emang nggak jauh-jauh dari yang namanya pacaran, persahabatan, dan keluarga. Buku ini menceritakan Dirga dan sekelumit kehidupannya yang awur-awuran.

Emangnya Dirga cowok yang kayak gimana sih?
Hm, Dirga itu ngeselin banget, tapi juga bikin aku jatuh cinta sama karakternya. Dicap sebagai tukang tawuran, mantan narapidana, dan serenceng julukan negatif lain membuat cowok ini mati rasa. Terlebih lagi kedua orangtuanya sudah bercerai. Bisa bayangin gimana tertekannya dia, kan?

Dalam buku ini kita diajak untuk mendalami mengenai sudut pandang. Misalnya Dirga yang casingnya beneran buruk, rupanya menyimpan sakit hati yang amat sangat. Selain itu masih banyak lagi kok. Intinya kita nggak boleh nge-judge orang hanya melalui sudut pandang kita saja, karena sudut pandang orang lain belum tentu sama seperti kita. Sesekali, kita perlu memosisikan diri kita sebagai orang lain.

Lalu sekali lagi, di sini kita juga diajak untuk mengubah sebuah persepsi yang sudah berakar kuat di kepala kita, yaitu tentang prestasi dan impian. Nggak ada ceritanya prestasi akademik itu pasti akan lebih menjamin masa depan ketimbang non-akademik. Sumpah, kalau sampai sekarang ada yang masih berpikiran seperti itu, coba deh baca buku ini. Setiap orang punya mimpi, dan itu nggak melulu bisa dicapai dengan nilai-nilai akademik yang mumpuni.

Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, buku ini sangat mudah untuk dinikmati. Bahasanya yang nggak berat, serta percakapannya yang 'remaja' banget berasa gampang diserap. Plot serta twist-nya rapi, nggak bolong-bolong gitu. Premisnya sip pokoknya. Plus, kovernya itu Dirga banget.

Chemistry antar karakternya juga oke, terutama Alana dan Dirga. Mereka itu cute banget, aku sempat senyum-senyum sendiri. Haha *teringat masa muda* eaaaaa, kayak udah tuwir aja bleh!

Kalau ada yang nanya apa buku ini page turner, aku jawab ya. Apalagi waktu udah masuk ke dalam konflik dan twist-nya. You will know why its called Falling Domino.

Kesimpulannya buku ini punya sesuatu yang bikin hati hangat. Kelihatannya semua kayak kejadian sehari-hari, tapi berasa dalem banget.

Q u o t e s :

"Gue nggak suka disinggung tentang kebahagiaan. Bagi lo, kebahagiaan mungkin bisa jadi obat bagi segala kesedihan lo. Tapi bagi gue... kebahagiaan itu hal langka." [Dirga] - h. 61
"Jangan jadikan ketakutan lo sebagai alasan. Lo nggak bisa menyimpulkan semuanya pasti bakal terulang hanya karena luka masa lalu lo itu." [Faris] - h. 86
"Buat apa mempertahankan perasaan ya g lambat laun bakal membunuh diri lo sendiri?" [Dirga] - h. 112
"Sepahit apa pun masa lalu, itu akan tetep jadi bagian dari masa lalu." [Alana] - h. 175
Mereka memang tidak bisa memutar ulang masa lalu yang telah tertinggal jauh di belakang. Namun, selama mereka masih punya masa kini, semua hal yang mereka harapkan sudah lebih dari cukup. - h. 178

April 03, 2019

[Book Review] Treat You Better - Hana Nabilah

Judul: Treat You Better
Penulis: Hana Nabilah
Genre: Novel Remaja (15+)
Halaman: 288 halaman
Tahun: Juni, 2018
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020461212
Harga: IDR. 56.800
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Andrea adalah ketua komdis yang disegani semua angkatan di bawahnya. Ekspresi serta tatapannya membuat para mahasiswa baru tidak ingin bersitatap dengannya. Menurut Andrea, merekas emua harus belajar disiplin, dimulai pada hari pertama ospek. Tapi entah kenapa dia malah memberikan kelonggaran kepada si genius Angkasa. Kesalahan yang membuat panitia lain mencibirnya, bahkan membuat dirinya tak lagi dihargai oleh para adik tingkat. Seakan-akan itu saja belum cukup, ia dikhianati oleh sang pacar yang tidak benar-benar mencintainya.

Angkasa adalah si mahasiswa baru pembenci organisasi yang membuat kesalahan fatal di hari pertama ospek jurusan. Pertama, dia tidak membawa perlengkapan. Kedua, dia tidak menyelesaikan tugas hukumannya. Ketiga, dia menjadi tahu latar belakang komdis yang telah membelanya, dan gara-gara itu, Andrea dipermalukan oleh teman-teman seangkatannya. Sejak itu, ia dikungkung rasa bersalah, terlebih setelah berkali-kali ia memergoki kakak tingkatnya itu menangis.

Mereka dua orang yang bertolak belakang. Tetapi, adakah hal lain yang bisa membuat dua orang dengan karakter seperti kutub berlawanan bisa menyatu, selain cinta?


Oke, langsung aja ya.... Dua hal yang menarik aku untuk baca buku ini adalah kover dan judulnya. Kovernya cantik, sementara judulnya mengingatkan aku sama lagunya Shawn Mendes.

Dari blurb-nya udah jelas banget, baik itu isi cerita maupun karakternya. So, dari situ aku udah bisa mengira-ngira jalan ceritanya gimana. Yup, seputar dunia kampus yang lebih menitikberatkan pada ospek dan organisasi. Hm, ini agak-agak beda loh dengan tema yang biasa diusung dalam cerita teenlit. Cukup menarik bagiku.

Kalau bicara sisi romance-nya, terus terang aku nggak ada feel di situ. Ya mau gimana lagi, si Angkasa kakunya kayak kanebo kering, sementara Andrea sewajarnya cewek lah. Interaksi mereka hanya sebatas kampus, entah itu tugas kampus, berbagi soal UTS, atau kegiatan organisasi kampus. Memang sih diselingi dengan cerita mengenai keluarga Andrea yang broken home, tapi ini nggak begitu pengaruh ke karakter. Di mataku sikap dan emosi Andrea kurang menunjukkan kalau dia korban broken home.

Untuk penulisannya aku lumayan suka. Okelah buat dibaca, nggak bertele-tele dan nggak bikin pusing. Benar-benar simpel seperti ceritanya. Yah, gimanapun ini cerita yang sederhana, tapi konsisten dengan topik yang diangkat. Bagiku buku ini cukup untuk mengisi waktu luang dan mengenang masa-masa ospek.

Q u o t e s :

Orang-orang harus belajar untuk tidak mengutarakan pendapat sebelum memahami situasi secara keseluruhan. Mereka hanya melihat segelintir hidupnya, lalu sekonyong-konyong mengeluarkan opini seakan-akan mengenalnya luar dalam. [Andrea] - h. 31
"Orang percaya dengan apa yang mereka mau percaya." [Angkasa] - h. 129
"Perceraian itu sebuah keputusan besar yang saya yakin nggak dilakukan kalau nggak terpaksa." [Angkasa] - h. 206

April 01, 2019

[Book Review] Tujuh Hari untuk Keshia - Inggrid Sonya

Judul: Tujuh Hari untuk Keshia
Penulis: Inggrid Sonya
Genre: Teenlit
Halaman: 448 halaman
Tahun: Februari, 2019
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020489728
Harga: IDR. 94.800 (P. Jawa)
Rate: ★★★★½


B l u r b :

Sejak mantan pacarnya tahu-tahu saja kembali dan membawa seseorang anak perempuan bernama Keshia yang katanya adalah anaknya, Sadewa tahu bila hidupnya akan menjadi kacau.

Lalu, benar saja, Sadewa tidak pernah akur dengan Keshia. Jika di rumah, keduanya selalu saja bertengkar. Entah itu meributkan tagihan listrik, cicilan yang ditunggak berbulan-bulan, utang beras di warung, dapur berantakan, atau bahkan cuma karena remote tv yang hilang. Masalah sekecil apa pun sepertinya selalu dijadikan momok untuk keduanya adu mulut dan membuat rumah menjadi zona perang seketika.

Keduanya tidak pernah memedulikan satu sama lain. Sadewa tidak pernah peduli dengan kehidupan Keshia, baik di rumah ataupun di sekolahnya. Sadewa tidak peduli dengan kelakuan putri tomboinya itu yang selalu saja berpura-pura kuat dan menganggap bisa mengatasi segalanya sendirian. Sementara Keshia, sama halnya dengan Sadewa, dia tidak pernah peduli dengan kelakuan ayahnya yang masih saja bersikap layaknya ABG itu.

Bagi Sadewa, Keshia itu pengganggu ulung atau makhluk paling cerewet sedunia. Sedangkan bagi Keshia, Sadewa itu hanya seorang laki-laki 36 tahun yang hanya tahu bersenang-senang saja. Yang hanya tahu ngeband, mabuk-mabukan, atau main perempuan.

Sampai suatu ketika sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Sebuah kecelakaan yang membuat Sadewa mati-matian ingin memenuhi seluruh keinginan Keshia dan membuat Keshia ingin tetap bersama ayahnya sekalipun dia sangat membenci laki-laki itu. Sebuah kecelakaan yang memberikan keduanya pemahaman bila mungkin hanya kehilangan yang membuat mereka bisa berjalan beriringan tanpa lagi ada kebencian.

Kisah ini tentang waktu. Tentang kesempatan. Tentang kehilangan.

K a r a k t e r :

Keshia → Cewek 16 tahun yang bak Wonder Woman, kuat banget menghadapi hidup di usianya yang masih belia. Hobi memasak dan bikin kue.

River → Cowok yang diam-diam menyukai Keshia dan hanya memantaunya dari jauh. Keluarganya yang begitu bobrok membuat River kabur. Dia ini adalah arranger dan gitaris Seventy Six.

Sadewa → Ayah kandung Keshia. Vokalis Seventy Six yang kehidupannya morat-marit.

Diana → Mama kandung Keshia yang tidak pernah memedulikannya, menganggap adanya Keshia adalah sebuah kesalahan.

Citra → Sahabat Keshia.


Sudah banyak beredar mengenai ke-ngenes-an buku ini, mungkin itulah yang jadi daya tarikku buat beli. Dan setelah baca dan kelar, aku ngerasa nggak rugi buang duit hampir cepek buat adopsi buku ini.

Kayak yang udah ditulis di blurb-nya, buku ini menceritakan mengenai Keshia, anak usia 16 tahun dengan serenceng penderitaannya. Baru aja omanya meninggal, mamanya ngejual rumah dan menikah lagi, udah gitu si Keshia ditelantarin gitu aja di sebuah tempat asing alias rumah ayah kandungnya, Sadewa.

Tapi berhubung Keshia kuat, dia tetap tegak dalam menjalani hari-hari beratnya. Di sekolah dia di-bully sama Alena, si anak pemilik yayasan, di rumah dia harus berhadapan dengan Sadewa yang ngeselin banget. Belum lagi dia harus cari duit buat mencukupi kebutuhannya sendiri. Bagi anak seusianya, hidup macam itu bukan lagi berat namanya, tapi keterlaluan beratnya.

Di sisi lain ada River, cowok yang lebih tua dua tahun darinya. Bersekolah di sekolah lain tapi diam-diam selalu memperhatikan Keshia. River ini sahabatan dekat sama kakak kelasnya Keshia, so dia bisa tahu update apa aja tentang Keshia. Keluarga River bobrok banget, bikin dia kabur dari rumah. River ini juga merupakan gitaris andalannya Seventy Six, band-nya Sadewa. Terus bisa dibilang, River ini juga 'anak' bagi Sadewa.

Keshia dengan kehidupannya, River dengan kehidupannya.
Mereka nyaris nggak bersentuhan sih, seperti memiliki cerita masing-masing. Akan tetapi dalam buku ini lebih menitikberatkan cerita Keshia dan Sadewa. Tinggal di tempat orang asing tentu aja nggak nyaman, belum lagi sifat Sadewa yang ngeselin banget. Keshia dan Sadewa bisa dibilang nggak pernah akur, cara manggilnya aja elo-gue. Tapi seiring berjalannya waktu mereka saling peduli meski caranya dengan sinis atau sindir-sindiran.

Buku ini terasa cukup dekat di aku, jadi feelnya ngena banget.
Mungkin pendekatan batin antara Keshia dan Sadewa terasa terlalu cepat, karena bagiku nggak mungkin dua orang yang sama sekali nggak pernah ketemu selama 16 tahun bisa dengan mudah tinggal bersama, terlebih mereka itu sebenarnya nggak nyaman satu dengan yang lain. 

Yang bikin aku mewek sampai nangis kejer di sini adalah perasaan Keshia mengenai jalan hidupnya, lalu mengenai Sadewa yang mati-matian berusaha jadi ayah yang 'layak' untuk Keshia, juga mengenai River yang diperlakukan seperti itu sama ayah kandungnya. Lebih-lebih di akhir cerita apa yang dilakukan Sadewa itu menohok banget, bikin ngilu hati sumpah. Coba deh kalian baca, pasti berasa ngilu. 

Sedikit banyak buku ini mengingatkanku pada banyak hal: orangtua, penyesalan, kesempatan, dan maaf. Kalau kalian cari cerita romance yang unyu-unyu, JANGAN baca buku ini, nggak bakalan ketemu kisah unyu-unyunya. Cocok dibaca buat penikmat buku dengan cerita yang stabby.

Selain mengandung cerita yang penuh makna, buku ini didukung dengan cara bercerita yang luwes, tulisan rapi, juga diksi yang jleb. Pas aja gitu antara show dan tell-nya. Twist yang ditawarkan juga bikin aku sempat speechless, ada unsur fantasinya dikit gitu.

Dua kata buat buku ini: JAHAT dan KEREN!
Duh, pokoknya buku ini benar-benar jahadddddd! Percaya deh, nyeseknya udah berasa di awal, terus kamu bakalan dibuat ketawa dikit, cengar-cengir, terus dibikin nangis sampe mata bengkak!

Oh ya, percayalah, takdir kadang memang sekejam itu!



Q u o t e s :

Puncak dari segala rasa sakit yang benar-benar sakit justru saat kita tidak bisa merasakan apa pun. Lumpuh. - h. 10

Mengandalkan diri sendiri adalah satu-satunya caranya untuk bertahan hidup. - h. 47

"Lo nggak akan bisa cari orang yang nggak mau ditemuin. Percuma." [Keshia] - h. 118

"Ya, awalnya gue berasa mirip Wonder Woman sih, tapi kalau dilaluin setiap hari kan capek juga...." [Keshia] - h. 204

Doa itu mungkin didengar Tuhan. Tapi, doa itu tidak menyembuhkan sakit di dada Saegal. Tidak menutup satu pun luka dalam dadanya. Sama sekali. - h. 317

"Lo terlalu keras sama diri lo sendiri! Itu yang buat semuanya jadi susah!" [Citra] - h. 358

Luka Keshia bukannya tidak akan sembuh, melainkan jiwanyalah yang tidak kembali. - h.431