Showing posts with label novel remaja. Show all posts
Showing posts with label novel remaja. Show all posts

December 31, 2019

[Book Review] Troublemaker Couple - Pretty Angelia

Judul: Troublemaker Couple
Penulis: Pretty Angelia
Genre: Teenlit, Novel Remaja
Rilis: 25 November, 2019
Tebal: 260 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020632391
Harga: IDR. 73.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Lara dan Mahe panik!

Dua musuh bebuyutan sejak hari pertama di SMA itu kelabakan menerima kabar bahwa ayah Lara dan ibu Mahe berencana menikah. Mana mungkin Lara dan Mahe rela tinggal satu rumah.

Mau tak mau, mereka bersatu untuk menyusun rencana. Lara dan Mahe memutuskan untuk pura-pura  berpacaran. Mereka berharap, sandiwara akan membatalkan pernikahan dua orang tua itu.

Namun, jangan-jangan bukannya pernikahan yang batal, justru Lara dan Mahe yang jatuh cinta betulan.

*

Sebetulnya buku ini langsung kelar dalam sekali baca. Jumlah halamannya sebenernya lumayan, tapi nggak tahu kenapa berasa dikit, hehe.... Mungkin karena ceritanya yang menarik dan gaya menulisnya yang enak banget dinikmati kali ya?

Antara penasaran dan nggak penasaran, buku ini bikin aku ngerasain keduanya. Penasaran karena strategi apa yang akan disusun oleh Lara dan Mahe untuk membatalkan pernikahan kedua orangtua mereka, nggak penasaran karena udah tahu kalau ujung-ujungnya Lara dan Mahe bakalan saling jatuh cinta. Ceritanya simpel, mengalir gitu aja. Nggak ada twist atau sesuatu yang bikin aku berpikir keras, jadinya ya cuma menikmati aja.

Novel remaja selalu nggak pernah jauh-jauh dari dilema keluarga. Nah, apa yang dialami Lara dan Mahe ini sebenernya klise kok. Udah sering dan hampir selalu diangkat dalam setiap novel remaja. Menjadi korban broken home serta orangtua yang egois. Orangtua yang lebih memikirkan diri sendiri ketimbang ananknya, terutama bokapnya Lara nih, bikin geregetan banget.

Nyaris nggak ada interaksi manis yang terjadi antara Lara dan Mahe, mereka berdua kan kayak Tom & Jerry, musuh berat, nggak pernah bisa akur. Lucu aja sih ngebayangin dua orang yang udah jadi musuh bebuyutan harus pura-pura pacaran, pasti konyol banget kan.

Untuk jalan ceritanya sendiri aku cukup menikmatinya, cuma pas bagian ending-nya, aku rada-rada gimana gitu. Entahlah, buat aku rasanya kurang natural, seakan semuanya terjadi begitu mudahnya. Oh ya, aku suka sama kovernya. Judulnya juga catchy. Awalnya—pas belum baca blurb-nya—aku ngebayangin ada pasangan yang bikin trouble di mana-mana, eh ternyata yang trouble mereka sendiri toh.

Yah, mungkin ini adalah buku terakhir yang aku baca di tahun 2019. Niatnya sih mau nambah satu lagi—semoga kesampaian ya. Masalahnya aku pas lagi repot-repotnya, kena serangan acara Natal dan tahun baru. Agak sedih sih karena target baca tahun ini nggak terpenuhi. FYI tahun ini adalah tahun yang paling berat buat aku :( Tapi syukurlah, semua bisa terlewati dengan baik. *Lah, kok malah curcol gini sih?*

Sampai jumpa tahun depan....

Q u o t e s :

"Berhenti jadi anak manja. Nggak semua yang kamu mau, bakalan kamu dapatkan di dunia ini." [Papa Mahe] - h. 11
"Kalau lo pendem terus apa yang ada di hati lo, lama-lama lo bisa jadi Petasan Meledak!" [Mahe] - h. 104


December 14, 2019

[Book Review] April Fool - Cepi R. Dini

Judul: April Fool
Penulis: Cepi R. Dini
Genre: Teenlit (15+)
Rilis: November, 2019
Tebal: 268 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Penerbit Inari
ISBN: 9786026682536
Harga: IDR. 89.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Pas April Mop, gue berniat ngerjain temen kecil gue, Ervika. Gue menulis surat cinta dan meminta Gavin, sahabat gue buat ngasih pernyataan cinta gue ke Ervika. Entah gimana, surat itu malah sampai ke anak baru yang bernama Savika.

Cewek itu dengan malu-malu malah nyamperin gue dan bilang kalau dia mau jadi pacar gue.

GAVIN! BRENGSEK LO! TERUS GUE SEKARANG HARUS GIMANA?!

*

Kampret! Seriusan aku geregetan banget sama Abrar!!! Pengin nampol tapi ganteng, jadinya nggak jadi deh, hehe....

April Fool ini menceritakan mengenai Abrar yang 'terjepit' gara-gara ulah dua sahabatnya. Maksud hati pengin ngerjain Ervika, sahabatnya sejak kecil, tapi malahan dia yang dikerjain balik. Berawal dari surat yang sengaja dibikin nyasar oleh Ervika dan Gavin, Abrar akhirnya pacaran sama Savika. Hubungan mereka mungkin bakal baik-baik aja kalau aja Salma, sepupu Savika yang merupakan cewek tercakep di sekolah, tidak merecokinya. Secara Salma itu cinta pertama Abrar, cewek yang udah dikerjar oleh Abrar selama satu setengah tahun. Kesel kan ya, udah mulai bisa move on, gebetan malah ngedeket?!

Sebuah novel remaja yang ringan, tapi bikin geregetan setengah mampus. Gara-gara apalagi kalau bukan karena sikapnya Abrar. Sumpah, sebagai cowok dia itu naif banget. Pacarnya siapa, yang diprioritaskan siapa.... Duh, kalau tuh anak di depanku, udah aku bejek-bejek! 

Oh ya, tulisan dan tata bahasanya yang rapi bikin aku betah baca. Sempat geletakin beberapa kali gegara sibuk, tapi sekali ada waktu luang, langsung aku abisin. Aku nyaman banget dengan tulisannya. Kosa katanya nggak muluk-muluk, tapi ngalir. Dari segi ceritanya sendiri aku cukup menikmatinya. Tentang sebuah kesalahpahaman yang malah diteruskan, akhirnya malah merembet ke mana-mana—termasuk urusan hati, wkwkwkwk. Kehidupan para tokohnya juga nggak berlebihan, layaknya remaja pada umumnya, nggak aneh-aneh juga nggak terlalu drama. Untuk karakternya terbilang cukup kuat. Abrar, Gavin, Savika, Ervika, Salma, Irdham, bahkan si Om alias papanya Salma yang ngejengkelin dan sama sekali nggak bijaksana. Intinya penokohan dalam buku ini digarap dengan baik. Cuma aku agak eneg aja sama beberapa kalimat yang terkesan repetitif. Misalnya seperti cowok terpopuler, cewek tercantik, atau apalah.

Cewek cupu+kutu buku VS Cowok ganteng+populer emang rada-rada klise ya. Namun plot serta eksekusinya dikerjakan dengan bagus, jadi bisa dibilang minim sekali plothole-nya.

Q u o t e s :

Namun seperti kata pepatah, tidak ada kebohongan yang bisa ditutupi. Suatu saat pasti akan terungkap. - h. 41
"Cinta memang masalah hati, tapi menjalin hubungan perlu logika." [Ervika] - h. 114
Membenci orang itu buang-buang energi asal tahu saja. - h. 250

September 30, 2019

[Book Review] Be My Sweet Darling - Queen Soraya

Judul: Be My Sweet Darling
Penulis: Queen Soraya
Genre: Teenlit
Rilis: Juni, 2009
Tebal: 242 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9789792245899
Harga: IDR. -
Rate: ★★☆☆☆


B l u r b :

Hal yang terjadi dalam hidup Marsha:
1. Ega, sang pacar, selingkuh. (Cih, Ega emang cowok paling bejat di dunia!)
2. Raya, sahabat karib Marsha, yang jadi selingkuhan Ega (Raya pengkhianat! Kenapa gue mesti punya sahabat sekejam ini?)
3. Ada cowok nyebelin di sekolah. Namanya Bima (Manusia paling nyebelin yang pantas dikasih julukan "idiot".).
4. Mama butuh uang. Terpaksa lantai atas rumah harus dikosin (Sejak Papa meninggal, keuangan jadi sulit. Gue harus berbesar hati menerima keputusan Mama.)
5. Ada anak kos baru (Hm... semoga dia membawa kebaikan di rumah ini. Yang paling penting sih, uang kosnya bisa digunain Mama buat bayar utang ke Ibu Rosa.).
6. Nama anak kos itu Bima (APA?!!! COWOK BRENGSEK ITU?!!! DAN SESUAI PERJANJIAN KONTRAK, GUE MESTI NYUCIIN BAJU SI IDIOT ITU???!!! O MY GOD!!!!)

*

Wah, baca novel ini aku jadi keinget pas masih sekolah dulu. Di mana novel-novel teenlit masih simpel dan beralur cepat. Halamannya nggak banyak, terus yang dibahas juga seputaran hate to love antara cewek biasa dengan cowok ganteng. Hehe.... Kesannya klasik banget ya?

Be My Sweet Darling ini menceritakan mengenai Marsha yang diselingkuhin sama pacarnya, Ega. Parahnya Ega ini selingkuhnya sama Raya, sahabat Marsha sendiri. Udah gitu kondisi keuangan yang amburadul membuat ibunya Marsha menjadikan lantai dua rumah mereka sebagai kos-kosan. Apesnya lagi, yang ngekos itu si Bima, cowok pindahan dari Surabaya yang ngeselin abis! Dari sini bisa ditebak dong, ke mana arah hubungan mereka.

Sewaktu kelarin novel ini, aku ngerasa adanya perbedaan yang sangat jauh dengan novel-novel teenlit terbitan sekarang. Kalau dulu kesannya simpel banget, sekarang lebih kompleks. Tema serta topiknya pun lebih beragam. Seneng juga sih dengan perubahan ini, tandanya kan penulis zaman sekarang wawasannya lebih luas, ide-idenya segar yang bikin nggak terasa monoton. Cuma yah, kadang-kadang itu loh, aku kurang sreg sama cinta-cintaannya yang berlebihan.

Oke, balik ke novel ini....
Berhubung ceritanya sangat-sangat sederhana, feel-nya pun nggak dapat di aku. Mungkin juga udah bukan umurnya lagi kali ya aku baca yang seperti ini, haha! Tapi aku tetap bisa menikmati kok. Oh ya, ada beberapa plothole juga sih, cuma karena alurnya cepat dan tahu lah, dunia remaja kadang agak-agak nggak masuk akal, jadinya nggak begitu kelihatan.

Bahasa yang digunakan juga masih belum sevariatif sekarang. Maklum, tahun-tahun segitu hp paling banter Blackberry, akses internet juga masih seret. Pokoknya sensasi baca novel ini tuh kayak balik ke masa lalu.


September 16, 2019

[Book Review] A Sky Full of Stars - Nara Lahmusi

Judul: A Sky Full of Stars
Penulis: Nara Lahmusi
Genre: Teenlit (15+)
Rilis: 9 September, 2019
Tebal: 244 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020632100, 9786020632117 (Digital)
Harga: IDR. 73.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Meski hanya anak seorang cleaning service, Raya Angkasa punya cita-cita setinggi langit: kuliah di Kedokteran UI. Untuk itu, ia harus lihai membagi waktu sebagai guru privat bagi murid-murid tajir di sekolahnya demi menambah uang tabungan. Sejauh ini sih nggak ada masalah.

Namun, masa remaja Raya mendadak rumit ketika harus mengajar kakak-beradik dari keluarga Mahashakti. Dirga Romano Mahashakti, si biang kerok yang menyebalkan dan Dika Romino Mahashakti yang sakit-sakitan membuatnya kelimpungan. Bukan hanya kontrak mengajar yang ketat, ia juga terpaksa terlibat dalam masalah keluarga kedua cowok itu.

Seolah urusan pelajaran sekolah belum cukup membebani, pertaruhan, perasaan, dan cinta terpendam membelit ketiganya dengan benang kusut yang sulit diurai. Sanggupkah Dirga terus mengalah demi adiknya? Tegakah Raya menolak Dika saat harapan dan masa depan cowok itu disandarkan di bahunya?

“Cause you’re a sky, cause you’re a sky full of stars…”

*

Buku ini kovernya cakep bangettttt! Ya, itu adalah salah satu alasanku tertarik sama buku ini. Hehe.

ASFoS menceritakan mengenai Raya yang punya mimpi setinggi langit, tapi sayangnya keadaan ekonomi nggak mendukung. Sementara itu ada Dirga yang tajir, tapi ogah-ogahan untuk sekolah. Mereka benar-benar bertolak belakang. Kedekatan mereka dimulai pada saat Raya menjadi guru les untuk Dika—adik Dirga. Dan serunya lagi, ada cinta segitiga di sini.

Ini pertama kalinya aku baca tulisan Nara Lahmusi, aku belum sempat baca buku pertamanya yang berjudul Things About Him. Kapan tahun itu pernah mau baca, tapi belum kesampaian. Nggak banyak sih yang mau aku ulas tentang buku ini. Yang pasti aku suka gaya nulisnya, gampang dicerna dan nggak butuh waktu lama buat adaptasi.

Sementara dari ceritanya sendiri, jujur aku cukup terhibur. Cuma memang ada beberapa hal yang mengganjal buatku, misalnya nilai-nilai Dirga. Okelah dia belajar sangat keras, tapi menurutku kemungkinan dari siswa yang selalu dapat nilai nol, terus tiba-tiba aja menjadi 100, itu kok kurang realistis ya? Apalagi dalam kasusnya Dirga, dia itu sama sekali nggak pernah memperhatikan pelajaran sejak kelas X. Hal ini agak susah aku terima. Tapi ini menurutku lho, bagi orang lain bisa saja berbeda.

Perjuangan Raya di sinu juga patut diapresiasi. Walau ekonkminya minus, tapi semangatnya nggak pupus. Dia tetep berjuang meraih impiannya.

Di akhir cerita aku sempat berasa nyesek, pas kelulusan ituloh. Hiks.... *puk puk Dirga*

Q u o t e s :

"Kata bapak gue, konon, ketika harapan manusia sudah lenyap, cuma doa yang tetap membuat manusia bertahan." [Raya] - h. 177

September 14, 2019

[Book Review] Vio Don't Mess Up - Shania Kurniawan

Judul: Vio Don't Mess Up
Penulis: Shania Kurniawan
Genre: Teenlit (13+)
Rilis: 29 April, 2019
Tebal: 256 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020627830
Harga: IDR. 77.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Vio sepertinya menyandang gelar siswi paling bermasalah sepanjang sejarah SMA Mayapada. Dia sering bolos, suka cari masalah dengan cowok-cowok bajingan di lingkungan sekolah, dan sudah nunggak gorengan dua semester. Cewek biang kerok yang dihindari oleh teman-temannya karena mereka takut dia bakal menularkan virus berandalannya.

Tapi, saat kakaknya hendak dipanggil, Vio menyerah. Cello nggak boleh sampai tahu tentang kelakuannya! Karena itu, Vio setuju untuk ikut program belajar dengan Jo untuk memperbaiki semua nilainya. Kalau dalam semester kedua ini Vio nggak mendapatkan nilai merah sama sekali, Cello nggak akan dipanggil.

Terpaksa belajar dengan cowok kaku itu, Vio cuma bisa menahan emosi. Bisa nggak ya, sekali ini saja, dia nggak mengacaukan semuanya?

*

Setelah belakangan baca buku yang suram-suram, semalam akhirnya aku mutusin buat baca teenlit, buat refreshing. Hehe. Nggak perlu waktu lama buat menuntaskan buku ini. Ceritanya sederhana, gaya menulisnya ngalir, dan gampang dinikmati. 

Apa jadinya cewek bandel ketemu dengan cowok rajin?
Well, kedengarannya biasa aja ya, tapi Vio yang bandel serta Jo yang ngomongnya pakai bahasa baku bikin cerita ini menarik. Vio punya masa lalu, begitu juga dengan Jo. Masa lalu itulah yang membuat mereka berubah jadi seperti itu.

Seperti kebanyakan, family issue masih jadi latar belakang tingkah 'ajaib' mereka. Hubungan Vio dan Jo berjalan biasa-biasa aja, selayaknya teman dekat. Lagian mereka memang nggak jadian atau semacamnya. Tapi aku yakin ada benih-benih bunga matahari yang tumbuh di hati mereka. Nggak ada adegan-adegan romantis ala-ala FTV remaja kok. Vio dan Jo hanyalah dua remaja yang sama-sama memiliki masalah dalam keluarganya, sebuah masa lalu pahit yang membuat mereka berubah seperti itu. Percaya nggak percaya, apa yang terjadi dalam keluarga itu berpengaruh besar terhadap anak.

Sisi yang aku suka dari buku ini adalah Vio yang berusaha keras untuk memperbaiki nilai-nilainya, meski dia tersiksa banget. Ya iyalah, cewek yang kerjaannya skip kelas buat nongkrong di kantin, bahkan sampai utang gorengan selama enam bulan, harus belajar bersama cowok berkacamata tebal yang ngomongnya baku banget. Awalnya Vio bosan setengah mati, cuma lama-kelamaan dia penasaran dengan Jo.

Konflik yang diangkat sederhana sekali. Cuma karena gaya menulisnya enak banget buat dibaca, semuanya berasa mengalir begitu aja. Aku menikmati banget kisah Vio dan Jo, walau sampai akhir aku masih bertanya-tanya ke mana hubungan Vio dan Jo akan berlabuh. Akan ada sesuatu di antara mereka ataukah Jo hanya menganggap Vio sebagai adiknya? Oh ya, aku juga penasaran banget sama Rio. Tuh anak ngeselin, tapi bikin gemes.


*

Q u o t e s :

Dan memikirkan soal matematika tampaknya lebih nikmat daripada memikirkan kenangan buruk yang semestinya nggak dia ingat. [Jo] - h. 29
"Kamu harus ingat kalau tidak selamanya kamu boleh dikalahkan masa lalu, dan ada saatnya kamu harus melawannya demi masa depanmu." [Jo] - h. 198

June 25, 2019

[Book Review] Fallega - Dana Fazaira

Judul: Fallega
Penulis: Dana Fazaira
Genre: Novel Remaja (17+)
Bahasa: Indonesia
Tebal: 336 halaman
Rilis: 29 Oktober 2018
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020618326
Harga: IDR. 85.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Fallega Dinata kembali ke Jakarta!

Setelah diasingkan karena dianggap mencoreng nama baik keluarga, cewek itu kembali sebagai mahasiswi tomboi yang disegani para mahasiswa. Semua orang yang mengenalnya tidak percaya dengan penampilan Fal yang berubah 180 derajat. Mereka tambah gempar karena Fal mengaku hilang ingatan.

Apa iya Fal hilang ingatan karena insiden beberapa tahun lalu? Sayangnya, itu hanya rumor yang cewek itu ciptakan sendiri. Mana mungkin dia amnesia setelah dihunjam dengan pengkhianatan dan rasa sakit hati yang begitu mendalam? Fal kembali untuk membuat perhitungan dengan mereka yang sudah membuat hidupnya hancur. Rumor itu Fal sebar agar dia bisa menjalankan rencana balas dendam yang sudah dia siapkan matang-matang.

Dalam menjalankan rencana itu, Fal bertemu dengan Rani dan Awi, dua sosok polos yang mengajarkannya berbagai kebaikan. Dia juga mesti berhadapan dengan Aji—cinta masa lalu—yang sudah mengkhianatinya.

Setelah rencana dijalankan dengan begitu rapi, haruskah dia mundur setelah tahu bahwa masih ada ketulusan dan rasa penyesalan dari orang-orang itu? Lantas, bagaimana jika sesungguhnya Fal masih mengharapkan cinta tulus dari Aji?



*

FAKK! BUKU MACAM APA INIII?
SUMPAH DARI AWAL SAMPAI AKHIR SERIUS MULU BAWAANNYA!!!!

*tarik napas*

Oke, mari kita bahas buku yang baru aja aku kelarin cuma dalam semalam ini. Tadinya aku cuma iseng baca buku ini. Pas scroll-scroll di GD aku ketemu buku yang kovernya pink, cakep deh, auto pencet download. Kalo ditanya apa sebelumnya aku tahu buku ini, aku jawab tahu. Karena beberapa teman bookstagram emang udah pernah bikin ulasan mengenai buku ini—dan jujur ketika itu aku berencana beli. Tapi ayolah, berhubung wishlist banyak, jadi yah ... u know lah.

Dari blurb-nya siapa pun mengira kalo isinya pasti seputaran balas dendam. Emang iya! Tapi tak sesederhana itu, Ferguso! Intinya memang balas dendam, tapi apa iya semua itu bisa berjalan lancar kalo hati nurani masih hidup?

Fal kembali ke Jakarta memang untuk membuat perhitungan dengan orang-orang yang dulu pernah menyakiti dan menghancurkannya. Orang-orang yang menyakitinya itu bukan orang asing loh, melainkan sahabat dan pacarnya sendiri. Dari halaman pertama, aku berusaha untuk memosisikan diri sebagai Fal, sosok lembut yang saking tersakitinya, berubah menjadi sekeras batu karang. Tak hanya itu, Fal yang dulunya feminin berputar haluan menjadi tomboi. Semua rencana balas dendam yang Fal susun berjalan dengan sebagaimana mestinya. Namun di akhir, perasaan lega tak kunjung datang. Malahan Fal merasa bersalah.

Alur cerita dan konfliknya padat, nggak santai banget sumpah.  Seperti novel YA pada umumnya, pacar, sahabat, dan keluarga sudah menjadi komposisi wajib. Namun rencana balas dendam yang Fal susun dengan sangat rapi bikin buku ini punya citarasa tersendiri. Plot twist-nya cukup oke karena aku sempat ber-oh-oh ria waktu baca. Cuma tokohnya yang lumayan banyak bikin aku agak kesulitan untuk mendalaminya, soalnya masing-masing tokohnya hampir serupa—terutama mengenai sifat, sementara fisiknya nggak dijelasin secara gamblang.

Kisah Fal, Aji, dan kawan-kawan di sini memberi kita pelajaran untuk nggak menyimpan dendam, lalu bagaimana caranya memaafkan. Terus, ada baiknya tenangin emosi dulu sebelum mengambil keputusan, biar nggak salah paham. Karena di sini kesalahpahaman antara Fal dan Aji menjadi salah satu pemicu yang bikin dendam di hati Fal membara. Percayalah, dendam nggak akan membuat kamu puas!

Penulisan serta diksinya cukup masuk di aku. Waktu baca jujur aku nggak terlalu merhatiin tulisan, dll gegara terlalu fokus sama ceritanya. Meski aku sempat nemu typo dan salah nama. Tapi oke kok, masih termaafkan.

Dan endingnya...?
Kampret gilak!
Di awal-awal aku terhanyut dengan dendamnya Fal, eh ujung-ujungnya aku dibikin mewek.

Kalo diibaratkan drakor, ini tuh kayak Moon Lovers yang di awal aja konfliknya udah terbangun. Terus selama jalan cerita sampai akhir, ada aja yang terjadi sampai berasa susah napas.

Weits, bukan berarti buku ini nggak ada kelemahannya. Adegan yang sepotong-potong alias perpindahan yang cepat membuat aku nggak nyaman. Itu juga yang bikin aku baru bisa memahami satu per satu karakter tokohnya waktu pas udah sampai pertengahan.

Kesimpulannya buku ini punya alur cerita dan konflik yang menarik. Padat alias nggak santai yang dengan mudah bikin kamu terhanyut. Aku rekomen buku ini buat kalian yang suka baca cerita-cerita nyesek dan keraddd.

Q u o t e s :

"Tapi manusia selalu punya kesempatan kedua. Nggak ada istilah terlambat untuk berubah." [Eyang Wibbi] - h. 22
"Lo yang main pedang dan lo yang luka karenanya." [Fal] - h. 221
"Manusia perlu waktu untuk berubah, termasuk gue.... [Aji] - h. 221
"Dan yang diperlukan manusia untuk berubah itu waktu." [Rani] -h. 223
Beginilah ego kalau sudah membakar habis hati—beginilah kalau membenci seseorang. Yang sakit bukan orang yang dibenci, melainkan diri kita sendiri. - h. 223

April 03, 2019

[Book Review] Treat You Better - Hana Nabilah

Judul: Treat You Better
Penulis: Hana Nabilah
Genre: Novel Remaja (15+)
Halaman: 288 halaman
Tahun: Juni, 2018
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020461212
Harga: IDR. 56.800
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Andrea adalah ketua komdis yang disegani semua angkatan di bawahnya. Ekspresi serta tatapannya membuat para mahasiswa baru tidak ingin bersitatap dengannya. Menurut Andrea, merekas emua harus belajar disiplin, dimulai pada hari pertama ospek. Tapi entah kenapa dia malah memberikan kelonggaran kepada si genius Angkasa. Kesalahan yang membuat panitia lain mencibirnya, bahkan membuat dirinya tak lagi dihargai oleh para adik tingkat. Seakan-akan itu saja belum cukup, ia dikhianati oleh sang pacar yang tidak benar-benar mencintainya.

Angkasa adalah si mahasiswa baru pembenci organisasi yang membuat kesalahan fatal di hari pertama ospek jurusan. Pertama, dia tidak membawa perlengkapan. Kedua, dia tidak menyelesaikan tugas hukumannya. Ketiga, dia menjadi tahu latar belakang komdis yang telah membelanya, dan gara-gara itu, Andrea dipermalukan oleh teman-teman seangkatannya. Sejak itu, ia dikungkung rasa bersalah, terlebih setelah berkali-kali ia memergoki kakak tingkatnya itu menangis.

Mereka dua orang yang bertolak belakang. Tetapi, adakah hal lain yang bisa membuat dua orang dengan karakter seperti kutub berlawanan bisa menyatu, selain cinta?

♥

Oke, langsung aja ya.... Dua hal yang menarik aku untuk baca buku ini adalah kover dan judulnya. Kovernya cantik, sementara judulnya mengingatkan aku sama lagunya Shawn Mendes.

Dari blurb-nya udah jelas banget, baik itu isi cerita maupun karakternya. So, dari situ aku udah bisa mengira-ngira jalan ceritanya gimana. Yup, seputar dunia kampus yang lebih menitikberatkan pada ospek dan organisasi. Hm, ini agak-agak beda loh dengan tema yang biasa diusung dalam cerita teenlit. Cukup menarik bagiku.

Kalau bicara sisi romance-nya, terus terang aku nggak ada feel di situ. Ya mau gimana lagi, si Angkasa kakunya kayak kanebo kering, sementara Andrea sewajarnya cewek lah. Interaksi mereka hanya sebatas kampus, entah itu tugas kampus, berbagi soal UTS, atau kegiatan organisasi kampus. Memang sih diselingi dengan cerita mengenai keluarga Andrea yang broken home, tapi ini nggak begitu pengaruh ke karakter. Di mataku sikap dan emosi Andrea kurang menunjukkan kalau dia korban broken home.

Untuk penulisannya aku lumayan suka. Okelah buat dibaca, nggak bertele-tele dan nggak bikin pusing. Benar-benar simpel seperti ceritanya. Yah, gimanapun ini cerita yang sederhana, tapi konsisten dengan topik yang diangkat. Bagiku buku ini cukup untuk mengisi waktu luang dan mengenang masa-masa ospek.

Q u o t e s :

Orang-orang harus belajar untuk tidak mengutarakan pendapat sebelum memahami situasi secara keseluruhan. Mereka hanya melihat segelintir hidupnya, lalu sekonyong-konyong mengeluarkan opini seakan-akan mengenalnya luar dalam. [Andrea] - h. 31
"Orang percaya dengan apa yang mereka mau percaya." [Angkasa] - h. 129
"Perceraian itu sebuah keputusan besar yang saya yakin nggak dilakukan kalau nggak terpaksa." [Angkasa] - h. 206

March 12, 2019

[Book Review] Nagra & Aru - Inggrid Sonya & Jenny Thalia

Judul: Nagra & Aru
Penulis: Inggrid Sonya & Jenny Thalia
Genre: Novel Remaja (15+)
Halaman: 360 halaman
Tahun: 2019
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020620961, 9786020620978 (Digital)
Harga: IDR. 92.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

"Gue jadi saksi pertama Aru nembak Nagra. Temen gue itu emang cewek nggak tahu malu. Udah ditolak Nagra, masih maju terus."
Fera, teman pertama Aru di SMA Grafika.

"Ngeliat Nagra kayak lagi alergi tiap ada Aru tuh hal biasa. Sampai Nagra akhirnya kebal tiap kali Aru ngegombalin dia!"
Leon, salah satu Gerombolan Boros yang suka kongkow bareng Nagra.

Aru seneng banget bisa sekelas dengan Nagra, cowok jangkung yang mencuri hatinya sejak MOS. Serangan gencar Aru ke Nagra sudah dengan berbagai cara: drama Korea, Webtoon, dan rayuan alay. Sayangnya, Nagra tetap cuek. Cowok itu hanya menganggap Aru teman sekelas, bahkan kadang merasa terganggu dengan kehadiran cewek boncel itu.

Tapi, biasanya kan dua kutub yang bertolak belakang bakal tarik-menarik. Nagra dan Aru mungkin nggak ya kayak begitu?

K a r a k t e r :

Aru → Cewek selebor yang naksir berat sama Nagra. Demen banget baca Webtoon dan nonton drakor. Kerjaannya ngecengin Nagra di mana pun, entah di kelas, di lapangan futsal, pokoknya di mana aja deh.

Nagra → Cowok yang kata Aru kenakalannya masih dalam batas wajar ini udah kebal sama sikap Aru yang selalu ngecengin dia. Ada alasan kenapa dia sama sekali nggak pacaran juga, padahal cewek yang dimodusin banyak.

Igo → Pentolan SMA Grafika. Berandal yang sebenarnya cuma terjebak dalam dunia hitam karena frustrasi—keluarganya nggak pernah peduli. Bersahabat baik dengan Nagra meski sempat musuhan.

Wulan → Cinta pertama Nagra yang ngilang selama dua tahun sebelum akhirnya muncul kembali di SMA Grafika.


♥♥♥

Yah, seperti gelarnya, buku ini memang bener-bener receh. Dari segi cerita sebetulnya juga simpel. Dimulai dari Aru yang nguber-nguber Nagra, terus Nagra yang ngerasa udah memiliki Wulan menyuruhnya untuk berhenti. Di saat Aru patah hati, muncul Igo, cowok berandal yang rupanya memiliki luka tersendiri. Aru dan Igo awalnya cuma dekat buat simulasi Aru dalam mendekati Nagra, tapi setelah ditolak, mereka malah saling bersandar. Nagra yang melihat itu cuek-cuek aja, dia udah punya Wulan, kan? Tapi perasannya nggak bisa bohong, bahkan Wulan pun tahu kalau setiap kali Nagra ngomongin Aru, Nagra kelihatan seneng banget.

Plot semacam ini udah biasa ditemui di novel-novel teenlit, tapi yang buat novel ini berbeda adalah recehnya itu lho! Sumpah receh banget, dari obrolan sampai guyonannya super receh. Jadi memang kelebihan buku ini terletak di recehnya, bikin yang baca nggak ngantuk.

Gaya bahasa yang dipakai, sekali lagi, receh banget. Kalimat-kalimatnnya nggak puitis-puitis gitu, tapi ngena. Nggak perlu puitis kan, buat bikin baper?

Masa-masa SMA mereka dikemas dengan receh dan seru sih, unsur-unsurnya pas. Ada manisnya, asemnya, pedihnya.... Bagiku semua itu pas di buku ini. Tapi sayangnya waktu mereka udah lulus, kuliah, kemudian kerja, aku kurang menikmati part itu. Padahal masih receh juga. Entahlah, aku ngerasa ada sesuatu yang nggak pas gitu aja sih. Untungnya ada sisi menyenangkannya, yaitu ketika mereka behasil meraih impian masing-masing. Siapa yang nyangka sih waktu SMA-nya mereka gitu, tapi bener-bener gigih sama impiannya. Salut gue.

Overall buku ini nyenengin untuk dibaca, bisa ngakak, nyengir, dan kadang-kadang baper.

Lalu, ngomong-ngomong soal karakter favorit, aku kepelet sama Igo. Hm, bukan hal baru lagi buat aku kepincut sama second lead male, haha.... Bukannya aku nggak suka Nagra sih, tapi bagiku Igo lebih memberikan kesan aja di aku.

Am I recomending this book?
Hell, YES! Kali aja ada yang mau mengenang masa putih abu-abu, ciye....



Q u o t e s :

"Dia berhak melihat dunia sebelum berlabuh ke dunia dia sebenarnya." [Aru] - h. 27
Gue bisa bercanda soal apa pun, kecuali agama. Gue udah kebanyakan dosa. Masa iya gue mau nambah dosa-dosa nggak penting dengan mengentengkan Tuhan gue sendiri? [Nagra] - h. 46
"Gue emang nakal, Neng. Tapi gue nggak pernah nakalin cewek. Jangan kayak kebanyakan, Ra, terlalu sering berprasangka sampai hidup dengan prasangka itu sendiri." [Igo] - h. 70
"Tiap orang emang punya pilihan. Lo mungkin milih mau hidup lebih lama, tapi orang lain mau mati lebih cepet." [Igo] - h. 88
Selama ini aku berpikir aku menyukai Nagra bagaimanapun kondisinya. Aku selalu melarang diriku sendiri untuk galau dan baper berkepanjangan. Tapi kadang-kadang... aku merasa kalau semua ini melelahkan. [Aru] - h. 89-90
"Berhenti, Ru. Nggak ada rasa suka yang cuma nyiksa diri sendiri." [Nagra] - h. 106
"Kalo mau ngadepin psikopat, ya harus jadi psikopat jugalah." [Nagra] - h. 111
"Disakitin kok terbiasa sih, Go? Gimana caranya biar kita terbiasa?" [Aru] - h. 124
"Ya, jangan cari cara supaya terbiasa disakiti, Ra. Kita cuma perlu cari cara buat tetap bertahan sesering apa pun kita disakitin. Manusia sering kali cari hal-hal besar buat mengubah dunia, buat mengubah diri sendiri. Tapi sebenernya kita cuma butuh hal-hal kecil buat bertahan di dunia ini." [Igo] - h. 124
"Gue lebih milih denger pemikiran absurd lo dibanding denger ketawa lo yang terpaksa." [Igo} - h. 125
"Bersandar aja, Ra. Bersandar itu nggak harus nunggu lo lemah dan nggak harus nunggu gue kuat. Siapa tahu dengan bersandar kita jadi sama-sama kuat." [Igo] - h. 125
Gue diem. Bukan karena nggak ada kata yang harus disampaikan lagi, tapi lebih karena kecewa dengan apa yang baru aja gue dengar. [Nagra] - h. 150
Buat apa aku menyukai seseorang yang dengan tegas menyuruhku berhenti menyukainya? [Aru] - h. 158
"Rasa kasihan itu termasuk emosi, Go!. Emang kenapa kalau gue kasihan sama lo? Kasihan itu bukan berarti meremehkan, tapi peduli! Emang dosa dikasihani orang?" [Aru] - h. 205
Ngeliat Aru yang udah sesantai ini waktu ngomong sama gue, membuat gue yakin kalo udah nggak ada lagi gue di hidupnya. [Nagra] - h. 234
"Gue seneng kerja jantung lo udah seirama dengan jantung gue." [Igo} - h. 253
"Kenapa kita nggak pernah ketemu di satu jalan yang sama ya, Ru?" [Nagra] - h. 298
Kata orang, kalau ada mantan yang masih bisa berteman, hanya ada dua kemungkinan; mereka masih saling mencintai atau mereka selama ini tidak pernah benar-benar saling mencintai. [Aru] - h. 310
Yah, ketika seseorang pergi, hal-hal kecil pun selalu berhasil mengingatkan kita pada orang tersebut. [Nagra] - h. 314
Mungkin benar, aku suka dia habis-habisan sampai babak belur, kemudian berusaha sembuh, tapi lebam itu masih ada. Dan tidak akan bisa sembuh karena perasaan itu bahkan setelah dihancurkan berkai-kali—masih tetap ada. [Aru] - h. 320

February 28, 2019

[Book Review] Kamu Patah Hati Terbaikku - Aila Radit

Judul: Kamu Patah Hati Terbaikku
Penulis: Aila Radit
Halaman: 232 halaman
Genre: Teenlit
Tahun: 2018
Penerbit: Lumiere Publishing
ISBN: 9786025169953
Harga: IDR. 64.500
Rate: ★★½


B l u r b :

Dinda menyayangi Risky dan pemuda itu tahu. Selama berpacaran, tidak ada pertengkaran di antara mereka.

"Kamu tahu bahwa aku sebenarnya menghkianati hubungan kita?"

Tepat di peringatan satu tahun hubungan mereka, Risky mengatakan ada gadis lain yang ia sayangi. Bahkan, mereka sudah jadian!

Rina, sahabat Dinda sendiri yang menjadi 'Perebut Cowok Orang'.

"Lho... lho... lho... kenapa? Kalau kamu benar suka suka dengan Risky, aku rela membaginya untukmu. Kita kan sudah lama berteman."

Ajaibnya, Dinda tidak marah dan malah mencetuskan sebuah ide gila. Apa sebenarnya niat Dinda? Lalu bagaimana hubungan Dinda-Risky-Rina?

K a r a k t e r :

Dinda → Digambarkan sebagai cewek yang baik hatinya kebangetan—plus bego kebangetan. Saking cintanya sama Risky, dia rela berbagi sama Rina, sahabatnya sendiri.

Risky → Cowok galau yang rakus. Nggak puas dengan Dinda, dia juga ngembat Rina. Ujung-ujungnya kerepotan sendiri pas udah punya pacar dua.

Rina → Katanya sih sahabatnya Dinda, tapi pas ditembak sama Risky, dia nggak bisa nolak. Berkebalikan dengan Dinda yang tulus, Rina ini evil banget.

Zami → Ketua OSIS yang sukanya marah-marah. Niatnya cuma mendisiplinkan, biar semua tepat waktu. Tapi tetap aja pembawaannya yang temperamen bikin para anggota OSIS kesal.

Farel → Kakak Dinda.

S t o r y l i n e :

Jadi buku ini menceritakan Dinda yang dimadu sama pacarnya, Risky. Parahnya madu Risky itu adalah sahabatnya sendiri, Rina.
Karena saking cintanya sama Risky, Dinda nggak mau diputusin. Dia rela berbagi Risky dengan Rina. Rina yang nggak enak sama Dinda oke-oke aja, toh dia juga sayang sama Risky kan. Akhirnya dibuatlah beberapa perjanjian, misalnya jadwal kencan. Dinda kebagian hari Senin, Kamis, dan Minggu. Sementara Rina pada hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Sisanya, hari Sabtu mereka threesome alias kencan bertiga.

Mulanya hubungan poligami ala anak SMA itu berjalan lancar, akan tetapi lama-lama ricuh juga. Risky selalu cemburu kalau Dinda bareng teman band-nya, Aditya. Rina yang tahu akan hal itu ikut-ikutan tersulut api cemburunya. Dia merasa selalu jadi yang kedua setelah Dinda. Siapa sih yang rela jadi nomor dua. Iya, kan?

Puncak kekacauan hubungan mereka terjadi saat Dinda manggung bersama band-nya. Itu tepatnya hari Sabtu, hari yang harusnya jatah mereka bertiga jalan bareng. Berhubung Dinda manggung, jadilah Risky dan Rina berduaan menonton. Tiba-tiba Farel datang dan menghadiahi bogem mentah untuk Risky. Rina salah paham, menganggap semua itu akal-akalan Dinda. Sejak kejadian itu, dua sahabat ini pun putus hubungan.

Hubungan mereka bertiga terlanjur kacau balau.
Dinda dilarang ketemu dengan Risky.
Rina membenci Dinda karena sejak kejadian malam itu Risky tidak mau berhubungan lagi dengannya.
Sementara Risky galau sendiri.

Siapa suru sok-sokan punya dua cewek, coba?!

Di saat Dinda tengah patah hati sepatah-patahnya, muncul Zami. Mulanya hubungan mereka cuma sebatas ketua OSIS dan sekretaris aja. Tapi karena sifat Zami yang temperamental, Dinda jadi kerepotan. Bermula dari bertukar pesan sederhana, mereka akhirnya dekat. Zami sering menawarkan untuk mengantar Dinda les atau latihan band.
Zami tahu, di hati Dinda masih ada Risky. Meski begitu dia berani untuk mempertaruhkan perasaannya untuk sebuah hubungan tanpa kepastian dengan Dinda.

Sedangkan Risky, dia merasa ada yang kurang tanpa Dinda di sisinya. Itu membuat Rina marah hingga mereka berdua bertengkar. Mereka sempat putus dan Risky ingin kembali pada Dinda. Di saat inilah Dinda seperti disadarkan, dia tidak mau lagi sakit hati.

❣❣❣❣❣


Ini adalah buku ter-WTF yang aku baca sejauh tahun 2019. Konflik yang diangkat memang berbeda dengan novel remaja pada umumnya. Semacam poligami ala-ala anak SMA gitulah. Tapi jujur aku nggak begitu suka—ini subjektif sih, setiap orang bisa aja berbeda.
Sementara dari segi penulisan aku lumayan suka, terutama dengan narasi-narasinya. Penggambarannya pas banget gitu. Sayangnya percakapannya terasa kaku buat aku, perpindahan scene-nya juga nggak smooth. Karakter para tokohnya dan alur ceritanya konsisten.

Jujur pas baca ini, aku berasa kek nonton FTV. Udah ceritanya nganu, beberapa scene juga berasa lebay. Menurutku karakter yang waras di sini cuma Zami. Lainnya nggak banget buat aku. Menurutku Dinda terlalu bego, Risky sok-sokan, dan Rina egois. Padahal kalau aku jadi Dinda ataupun Rina, aku ogah banget lah dimadu. Tahu Risky selingkuh aja udah pasti aku kebiri.

Risky ngerasa hubungannya dengan Dinda terlalu mulus, jadi boring. Makanya dia nyari sesuatu yang seru. Dan itu dia temukan dalam diri Rina yang sifatnya berkebalikan dengan Dinda. Tapi apa pun alasan yang dimiliki Risky, selingkuh itu tetap aja salah—dan nggak termaafkan.

Pelajaran yang aku ambil sih, cinta sama orang itu wajar, asal jangan sampe jadi bucin. Lagian kalau orang bener-bener cinta, nggak mungkin selingkuh. Pokoknya jangan pernah mencintai terlalu dalam, kamu bakalan kecewa. Lebih baik cintai diri sendiri dulu, baru cintai orang lain. Intinya jangan bego.

Q u o t e s :

"Cinta nggak diukur dari berapa lama hubungan itu terjalin, melainkan berapa lama perasaan itu mengendap di sanubari." [Dinda] - h. 5
Kesedihan lebih baik daripada kesunyian. Setidaknya menandakan perasaan masih ada. - h. 16
"Tapi kamu harus tahu, yang lebih buruk dari patah hati adalah mencintai tanpa memiliki." [Zami] - h. 143
"Aku sadar bahwa ada seseorang di masa lalu kamu masih menguasai hatimu, sedangkan aku hanya mampu menyayangimu dengan ikhlas." [Zami] - h. 143
"Jangan lama-lama, hati juga punya kedaluwarsa jika terlalu lama digantung." [Zami] - h. 143

October 16, 2018

[Book Review] Rooftop Buddies - Honey Dee

Judul: Rooftop Buddies
Penulis: Honey Dee
Halaman: 264 halaman
Genre: Novel Remaja (17+)
Tahun: Agustus, 2018
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020388199, 9786020395111 (Digital)
Harga: IDR 63.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½




"Hal terburuk sebagai penderita kanker adalah bagaimana orang-orang yang kamu cintai melihat proses kematianmu secara perlahan-lahan." [Rie] - h. 20

B l u r b :

Buat Rie, mengidap kanker itu kutukan. Daripada
berjuang menahan sakitnya proses pengobatan, dia
mempertimbangkan pilihan lain. Karena toh kalau
akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu lama?

Saat memutuskan untuk melompat dari atap gedung
apartemen, tiba-tiba ada cowok ganteng berseru dan
menghentikan langkah Rie di tepian. Rie mengira
cowok itu, Bree, ingin berlagak pahlawan dengan
menghalangi niatnya, tapi ternyata dia punya niat yang
sama dengan Rie di atap itu.

Mereka pun sepakat untuk melakukannya
bersama-sama. Jika masuk ke dunia kematian berdua,
mungkin semua jadi terasa lebih baik. Tetapi, sebelum
itu, mereka setuju membantu menyelesaikan "utang"
satu sama lain, melihat kegelapan hidup
masing-masing... Namun, saat Rie mulai
mempertanyakan keinginannya untuk mati, Bree malah
kehilangan satu-satunya harapan hidup.


S t o r y l i n e :

Putus asa dengan kanker yang diidapnya, Rie memutuskan untuk bunuh diri. Menurutnya, jika ujung-ujungnya mati, kenapa harus menundanya? Rie naik ke atap apartemen yang ditinggalinya, berniat bunuh diri. Namun tiba-tiba ada cowok ganteng yang mencegahnya. Mulanya Rie mengira cowok itu berniat menyelamatkannya, siapa sangka rupanya cowok ganteng bernama Bree itu juga memiliki niat yang sama dengannya: bunuh diri!

Setelah mengobrol singkat, mereka sama-sama menuliskan list yang ingin dilakukan sebelum mereka mati. Rie dan Bree akhirnya 'bertualang' untuk mewujudkan keinginan mereka, dimulai dengan milik Rie. Semua berjalan lancar, hampir tak ada masalah berarti. Rie cukup terbuka mengenai dirinya dan masalahnya, berbeda dengan Bree yang cenderung tertutup. Sampai suatu malam mereka terlibat kecelakaan. Saat mereka dijadikan saksi di kantor polisi, Rie yang kelelahan serta shock hebat mengalami mimisan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Di rumah sakit tempat Rie dirawat, rupanya adik Rie satu-satunya, Jojo, juga dirawat di sana karena infeksi saluran pernapasan. Sayang, nyawanya tak tertolong.

Berangkat dari sini, Rie dipaksa untuk mempertimbangkan kembali keputusan bunuh dirinya. Dia memiliki orangtua yang sangat menyayanginya, juga Bree yang selalu ada untuknya. Ketika semangat Rie mulai kembali, berita tidak menyenangkan datang dari ibu kandung Bree. Dan kejadian setelahnya membuat Bree sangat-sangat terpukul. Karena merasa tak memiliki alasan hidup, Bree diam-diam nekat meninggalkan Rie untuk bunuh diri. Rie yang membaca surat serta kunci mobil yang ditinggalkan Bree langsung tanggap. Tanpa berpikir apa-apa, Rie mendatangi Rooftop. Benar saja, Bree sudah bersiap untuk bunuh diri.

Sempat berargumen, Rie akhirnya malah nyaris terjatuh dari rooftop. Kejadian itu membuat Bree sangat ketakutan. Bree sadar, dia tidak akan sanggup kehilangan Rie.

Setelah kejadian itu, mereka berdua sepakat untuk memulai semuanya dari awal. Mungkin tak semudah apa yang mereka bayangkan, namun apa yang terjadi setelahnya memberikan banyak pelajaran mengenai hidup dan orang-orang yang mereka sayangi.

Kenapa menolak melakukan hal gila kalau memang akan mati besok? - h. 95

K a r a k t e r :

Mirielle → Cewek 17 tahun yang dari kecil jadi korban bullying teman-teman sekolahnya, sampai akhirnya Rie pindah ke Jakarta dan memulai hidup baru. Sayangnya baru dua tahun menikmati chasing 'gadis Jakarta' kanker itu menghampirinya.

Brian → Cowok 23 tahun. Memiliki keluarga yang bermasalah membuat Bree tak tahan dan memilih bunuh diri sebagai jalan keluar.

"Beban kehidupan itu berat, Rie. Semakin bertambah berat kalau kamu nggak bisa melepaskan masa lalu yang seharusnya kamu tinggalkan. Mimpi buruk yang kualami tadi jauh lebih baik daripada hidup yang sebenarnya." [Bree] - h. 102

P e n u l i s a n :

Sudut pandang orang pertama dari sisi Rie cukup banyak memberiku pengetahuan tentang seperti apa rasanya mengidap kanker, hingga rasa putus asa yang tak bisa dihindari. Diksi yang digunakan pun nyaman untuk dibaca. Selipan-selipan humor ala anak muda yang sering kali mencairkan suasana, meski dalam beberapa kasus malah bikin badmood. Typo sepertinya aku nggak nemu selain ada ketikan nama Kiran yang berubah menjadi Karin pada - h. 54.




"Kamu nggak bisa melakukan apa pun kalau terus memikirkan pendapat orang lain. Kamu nggak bisa menyenangkan semua mata." [Bree] - h. 104
Orang bisa berpikiran apa saja sesuka mereka. Mama juga bilang kalau kita tidak bisa mengendalikan apa yang dipikirkan orang lain. Kita hanya perlu berbuat benar. [Rie] - h. 104

Jujur aku nggak nyangka kalau penulis novel ini juga adalah orang yang pernah berada di posisi Rie, dan pada poin ini aku salut banget. Cerita Rie dan Bree ini cukup menarik perhatianku sejak pertama kali terbit. Entahlah, aku ngerasa bisa menemukan sesuatu yang berbeda dalam novel ini. Ternyata memang benar, meski menurutku chemistry yang terbangun antara Rie dan Bree kurang kuat. Kisah kelam tentang Bree juga terkesan 'numpang lewat', padahal kalau digali lebih dalam lagi pasti akan lebih greget. Lagipula ini sebetulnya kisah dua orang kan, walau memang diceritakan melalui sudut pandang Rie saja.

Beberapa scene juga membuat aku nggak nyaman, contohnya:
→ Rie yang bisa langsung pulang, bahkan ngomel-ngomel tepat setelah menjalani kemoterapi. Benarkah bisa demikian? Aku kurang tahu soal ini, mungkin kalian yang tahu bisa sharing pengetahuan kalian ke aku.

→ Orangtua Rie yang 'kurang' berduka setelah kematian Jojo. Gimanapun juga, nggak ada orangtua yang baik-baik aja setelah kematian anaknya. Tapi di sini aku ngerasa kalau keberadaan Bree seakan menggantikan Jojo. Bukannya nggak masuk akal sih, tapi kalau kita melihat kenyataan, apakah bisa seperti itu?

→ Waktu Rie mimisan, yang katanya sampai menghabiskan dua kantong darah. Waduh, mimisannya kayak apa ini?! 

→ List milik Bree. Aku penasaran banget apa isinya, tapi sampe akhir nggak ditunjukin.
"Seharusnya, bukan masalah berapa lama kita hidup di dunia ini, tapi apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini." [Devon] - h. 250

Nggak banyak orang yang bisa bangkit dari keputusasaan. Dari cerita Rie dan Bree ini, banyak pesan moral yang bisa diambil. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, entah itu penyakit, masalah keluarga, pacar, bahkan pekerjaan. Namun bukan berarti masalah yang berat itu jadi alasan untuk kita ikut tenggelam dalam keputusasaan. Frustrasi dan putus asa itu wajar, kita manusia juga, kan? Hanya saja nggak perlu sampai berlarut-larut. Mengakhiri hidup bukanlah jalan keluar, karena hidup kita begitu berharga bagi orang lain. Banyak orang-orang yang terselamatkan dan berbahagia berkat kehadiran kita.

Novel ini juga menyadarkanku betapa seharusnya aku banyak-banyak bersyukur karena diberi tubuh yang sehat serta keluarga yang bahagia. Di luaran sana banyak yang lebih nggak beruntung daripada aku. Intinya, kehidupan yang kamu miliki itu berharga, seperti apa pun kondisi kamu. Sakit, miskin, atau bahkan cacat. Jika orang lain saja menghargai hidupmu, apa alasanmu nggak menghargai diri kamu sendiri?

"Keberanian terhebat adalah saat kamu memutuskan untuk tetap hidup dan menghadapi semua. Bertahanlah, selama masih bernapas harapan itu akan selalu ada. Harapan memang milik orang-orang hidup." [Catatan Penulis]

Live your life! Nggak usah peduli dengan omongan orang yang mengejek atau mengataimu 'kurang'. Nggak perlu sakit hati berlarut-larut dengan omongan yang bikin kuping panas. Hiduplah sebagaimana mestinya. Bahagialah dan jangan lupa bersyukur apa pun keadaanmu. Dan sebagai orang normal yang tak bermasalah, jadilah teman dan pendengar yang baik bagi orang-orang yang membutuhkanmu 😊

Lagi pula, sering kali masalah itu cuma butuh waktu untuk selesai sendiri. Yang perlu kita lakukan cuma bersabar dan bersikap tenang. [Catatan Penulis]

October 03, 2018

[Book Review] Let Go - Windhy Puspitadewi

Judul: Let Go (Versi Gramedia)
Penulis: Windhy Puspitadewi
Halaman: 364 halaman
Genre: Novel Remaja (15+)
Tahun: Mei, 2018
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020382388, 9786020381295 (Digital)
Harga: IDR 65.000
Rate: ★★★★☆



Nullus est liber tam malus ut non aliqua parte prosit....
[There is no book is not benefical in some respect]

B l u r b :

Sebuah hukuman memaksa Caraka untuk bekerja sama dengan tiga teman sekelasnya mengurus Veritas—mading sekolah berbasis blog. Hal itu bukan perkara gampang karena mereka memiliki sifat yang sangat berbeda.

Ada Nathan, cowok yang jago di semua mata pelajaran tapi selalu bersikap sinis. Ada Nadya, ketua kelas yang merasa bisa melakukan apa pun sendirian dan sangat mandiri. Juga ada Sarah, cewek pemalu yang tidak bisa menolak apa pun sampai-sampai suka dimanfaatkan teman-temannya. 

Yang belum pernah Caraka sadari, pertemanannya dengan tiga orang itu akan mengubah hidupnya, serta mengajarinya banyak hal: cinta, persahabatan, keajaiban, juga melepaskan…

Manusia itu memang aneh, jika ada yang berbuat jahat mereka marah, tapi jika ada yang berbuat baik mereka curiga. [Raka] - h. 52

S t o r y l i n e :

Cerita dibuka oleh Raka yang menolong Nathan yang diadang oleh beberapa anak basket, alih-alih mengucapkan terima kasih dengan tulus, Nathan malah berkata, "Sampai kapan pun, kita cuma teman sekelas. Nggak kurang, nggak lebih." Hhh, maksudnya apa coba?!!

Akibat insiden itu Bu Ratna selaku wali kelas Raka menugaskannya untuk mengurus mading sekolah--Veritas--yang kini sudah berubah menjadi bentuk blog. Jelas Raka kesal, karena dalam Veritas ada Nathan, cowok paling pintar, sinis, dan bermulut tajam. Lalu ada Nadya yang terkenal galak, mandiri dan terkesan nggak membutuhkan bantuan. Terakhir ada Sarah yang lembek, cengeng, dan pemalu.

Bermula dari situ, akhirnya Raka mengenal lebih dekat Nathan, Nadya, dan Sarah. Nathan yang disangkanya acuh tak acuh dan selalu sinis rupanya memiliki alasan kenapa dia bersikap seperti itu, pun dengan Nadya yang melakukan semua sampai kualahan hanya karena ingin diakui. Berkat Raka, Sarah akhirnya memiliki keberanian untuk berkata 'tidak'.

Raka dan Nadya yang rupanya memiliki hobi sama--menonton film-film lawas serta menggemari musik klasik--menjadi dekat. Raka sadar kalau dia telah jatuh cinta dan tak butuh waktu lama untuknya mengungkapkannya pada Nadya, walau pada detik itu juga Nadya tidak mengatakan apa-apa untuk membalas pernyataan Raka. Sementara di sisi lain Raka tidak tega untuk menolak perasaan Sarah. Akhirnya, berkat bantuan Nathan, semua persoalan 'hati' Raka selesai.

Tak hanya itu, Raka rupanya juga membawa keajaiban untuk Nathan, walau keajaiban itu tidak bertahan selamanya. Hiks :(

"Orang yang nggak bisa menghargai dirinya sendiri, nggak akan pernah bisa menghargai orang lain." [Nathan] - h. 112

K a r a k t e r :

Caraka a.k.a Raka ↠ Tipe cowok yang cenderung berbicara melalui otot daripada otak. Baik sifat maupun cara ngomongnya gokil banget. Suka musik dan film klasik, juga pandai dalam pelajaran sejarah. Hobi main futsal dan bercita-cita menjadi sutradara.

Nathan ↠ Cowok paling pandai di kelas. Auranya dingin dan sinis. Tak ada yang tahu bila Nathan bersikap seperti itu demi menghindari sesuatu.

Nadya ↠ Tergolong cewek paling cantik di sekolahnya. Terpandai kedua setelah Nathan di kelas. Nadya ini terkenal galak dan serba bisa. Selain sebagai ketua kelas, dia juga aktif dalam kegiatan OSIS, ketua klub judo, dll. Cewek ini juga jago bela diri. Meski serba bisa, Nadya ini tidak mengetahui apa impiannya.

Sarah ↠ Cewek pemalu yang nggak bisa berkata 'nggak' walau dia tahu banyak yang memanfaatkannya. Diam-diam menyukai Raka karena cowok itu menolongnya berulang kali.

 "Mungkin aku nggak tahu apa-apa. Aku nggak tahu apa yang aku lakukan ini benar atau salah. Aku bahkan nggak tahu akan jadi apa nanti. Tapi... karena nggak tahu apa-apa itulah, esok hari jadi sesuatu yang layak ditunggu-tunggu, kan? Setelah itu, kita cukup lihat apa yang bakal terjadi." [Raka] - h. 128-129


P e n u l i s a n :

Typo masih ada. Juga ada beberapa nama yang ketukar-tukar. Yang harusnya Nadya jadi Sarah, yang harusnya Nathan jadi Raka.

Penulis juga bisa dikatakan berhasil membangun karakter, terutama Raka, Nathan, Nadya, dan Sarah. Setting tempat nggak terlalu menonjol karena hanya berlokasi di sekolah, rental DVD, rumah Nathan, dan rumah Raka.

Dialognya bisa dibilang fun. Bercanda mulu, apa-apa dibuat bercandaan, kalau orang Jawa bilang sih 'ngentahi'.


↠↠↠↠↠



"Impian itu kayak sayap. Dia membawamu ke berbagai tempat." [Nadya] - h. 137

Well, buku ini sampai ke tanganku dengan 'jalannya' sendiri. Yah, aku memang nggak berencana untuk beli buku ini sih. Jadi ceritanya aku order sebuah buku di salah satu web yang doyan ngasih diskon gede dan aku milih pembayaran COD. Waktu bukunya sampai, aku nggak langsung cek dan paketannya memang baru kubuka beberapa hari kemudian. Pas buka, aku kaget dong, karena yang datang bukan buku orderanku. Mau komplain kok malas ya, habisnya CS-nya lelet. Jadilah buku ini cuma nangkring di tumpukan tanpa tersentuh selama kuleb satu bulan. Baru akhir September lalu aku buka segelnya, pikirku sih buat nambah-nambah angka wrapup, wkwkwk.... Dan ternyata, setelah aku kelar baca, aku sama sekali nggak nyesel bukuku ketukar 😆

Nggak banyak buku yang bisa bikin aku terharu, apalagi teenlit, but this story is so beautiful. Memang dalam buku ini lebih menekankan peran Raka dalam kehidupan teman-temannya, terutama untuk Nathan, Nadya, dan Sarah. Sifat Raka yang doyan ikut campur, ngeyel, sekaligus apa adanya membawa perubahan pada hidup mereka. Nathan yang menemukan keajaiban, Nadya yang menemukan impiannya, dan Sarah yang menemukan keberaniannya.

"Kamu nggak akan bisa menyenangkan hati semua orang, Sar. Itu sebabnya kamu harus belajar bilang NGGAK." [Raka → Sarah] - h. 148

Selain konflik persahabatan, buku ini juga menyisipkan konflik keluarga. Seperti Raka yang belum bisa memaafkan almarhum ayahnya, juga Nathan yang kehilangan semangat sejak kematian ibunya.

Yah, intinya jangan buru-buru nge-judge orang hanya dari penampilannya, dekatlah dengan orang itu terlebih dulu maka kita baru benar-benar 'mengenalnya'. Contohnya si Raka, walau luarnya kelihatan nggak banget, ternyata pengetahuannya cukup luas, terutama yang berhubungan dengan sejarah, musik atau film klasik.

"Mencoba melindungi hati kamu dengan cara membenci seseorang yang kamu sayangi? Kamu udah menyiksa dirimu sendiri." [Nathan] - h. 224

Mungkin di akhir cerita kalian bakal nemuin kalau buku ini bagus dengan caranya sendiri. Banyak pesan dan pelajaran yang bisa diambil dari semua yang dilalui Raka, termasuk hal-hal sepele. Cerita yang gokil di awal, belum tentu nggak nyesek di akhir lho!


↠↠↠↠↠↠↠


Sepenggal surat Nathan untuk Raka....

P. S. : Jangan membenciku. Waktu terus berjalan.
..............................................................................
Nggak perlu terikat masa lalu. Sungguh, nggak apa-apa buatku kalau nanti kamu lupa sama aku. Biar aku saja yang mengingatmu, ini udah lebih dari cukup buatku.