Showing posts with label gramedia. Show all posts
Showing posts with label gramedia. Show all posts

January 04, 2020

[Book Review] Dia - Nonier

Judul: Dia
Penulis: Nonier
Genre: Young Adult
Rilis: 9 Desember, 2019
Tebal: 280 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020635446
Harga: IDR 75.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Denia sudah naksir Janu bertahun-tahun lamanya, tapi di depan Janu, Denia berusaha bersikap senormal mungkin. Sayangnya, Janu yang masih terhitung kerabat itu menganggap Denia sebagai adik. Maka saat mengetahui Janu akan bertunangan dengan Sasa, jantung Denia serasa mau copot.

Dalam perjalanan menuju Jakarta, Denia bertemu Saka, si cowok nyebelin, judes, nggak peka, walaupun sebenarnya ganteng kalau mau senyum. Dan kebetulan banget, sepupu Saka yang jadi fotografer di acara pertunangan Janu-Sasa. Kekecewaan Denia terbaca jelas lewat foto-foto yang tertangkap kamera fotografer.

Sejak itu, ada saja tingkah semesta yang bikin Denia harus berurusan dengan Saka. Sampai suatu saat, Saka menawarkan ide gila untuk menjadikan Denia pacarnya. Katanya sih supaya Denia bisa ngelupain Janu. Tapi tiba-tiba Janu bertindak aneh dan overprotektif pada Denia.

Lalu, Denia harus bagaimana? Melakoni ide gila Saka, atau jujur pada perasaannya sendiri?

*

"Halo, semuanya. Kepada Pak Iskandar dan Bu Hesti, nama saya Saka dan saya jatuh cinta pada Denia. Mohon izin untuk jadian. Terima kasih."

Seriusan aku senyum-senyum sendiri baca itu. Receh sih, tapi gokil. Hehe.... Dari awal, aku udah klik sama Saka ketimbang Janu. Yah, Saka itu tipeku banget—dinginnya ngalah-ngalahin freezer dua pintu.

Jujur aku baru tahu kalau buku ini adalah terbitan ulang, jadi sebelum diterbitkan oleh GPU, udah terlebih dahulu diterbitkan sama Gagas Media. Aku belum baca versi Gagas, tapi kata teman-teman yang udah baca, katanya beda di bagian ending. Entahlah, yang pasti aku menikmati kisah Denia, Janu, dan Saka. Gaya bahasanya agak unik. Gimana ya, setengah baku gitu. Campuran antara baku dan bukan, jadi pas dibacanya nggak berasa kaku-kaku amat. Bagi aku yang orang Jawa Timur, rasanya 'dekat' banget.

Seringnya novel YA mengusung sebuah kisah yang bikin pembaca baper, tapi novel ini nggak. Malahan condong ke argumen. Pendalaman tokohnya lebih kentara melalui keseharian mereka masing-masing, jadi nggak kayak baca biodata orang. Ini yang bikin aku masuk banget sama ceritanya. Padahal tokohnya lumayan banyak, tapi aku nggak kesulitan untuk mengenali dan mengingatnya satu per satu.

Cinta antar saudara memang agak-agak gimana gitu ya. Tapi Denia dan Janu ini nggak sedarah, mereka saudara jauh. Sempat ada twist menjelang akhir cerita, cuma aku udah yakin kok ujung-ujungnya Denia sama siapa. Oh ya, meski aku suka sama Saka, aku lebih suka sama si Hantu Ubi. Seriusan deh, aku gemes banget ngebayangin punya adik model kayak Galih.

Kovernya eye catching. Warna pink gitu loh, hehe....

Kalau ditanya apa yang aku inginkan dari novel ini, aku pengin kisah masa lalunya Saka lebih digali. Ya emang sih, semua ini mengenai Denia. Cuma masa lalu Saka bikin orang penasaran setengah mampus. Saking menyakitkannya, malah bikin tambah penasaran. 

Satu hal yang sangat realistis di sini, yaitu move on dari orang yang dicintai itu nggak gampang. Butuh usaha keras dan waktu—juga air mata. Jadi aku sangat bisa terima kalau Denia dan Saka kesannya kucing-kucingan melulu. Percayalah, move on itu dari orang yang dicintai itu sama sulitnya dengan move on dari mi instan! 

Betewe, Adit di halaman 56 itu siapa sih?

Q u o t e s :

"Jadi orang kok suka membuat diri sendiri menderita." [Saka] - h. 102
"Sudah tahu percuma menunggu, masih aja diterusin. Milik orang nggak usah dipenginin." [Saka] - h. 118
"Jangan terlalu naif, menunggu yang nggak akan datang." [Saka] - h. 119
Tidak peduli apa yang dikatakan Saka tentang dia dan Janu, Denia akan tetap menikmati apa yang bisa dia nikmati. Kebersamaan yang tinggal menunggu waktu untuk berakhir. - h. 121
Menyerahlah, Denia. Mungkin hatimu akan pecah berkeping-keping, remuk tak berbentuk. Tapi apa kamu tidak tahu bahwa hati itu ajaib? Dia bisa pulih kembali, seperti semula. Mungkin akan meninggalkan bekas luka, tapi itu lebih baik daripada mati rasa. - h. 126-127
Hancurkanlah hatimu sekarang, Denia, agar kamu bisa bangkit lagi. Hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan. Patahkanlah hatimu, leburlah kenanganmu. Habiskanlah air matamu, menderitalah untuk hari ini saja. Besok, kamu bangkit dengan kepala tengadah dan mata bercahaya. Dunia tidak berhenti berputar hanya karena kamu putus cinta. - h. 127
Semua berasal dari rasa sesal. Segalanya mungkin saja berbeda bila Saka mengungkapkan apa yang ada di hati. Setidaknya tidak ada yang tertinggal dan mengakar di sana hingga membuatnya mati rasa. - h. 134-135
"Melakukan hal yang sia-sia hanya akan menyakitimu." [Saka] - h.  156
Rasa penasaran itu seoerti gatal, yang belum puas kalau belum digaruk. - h. 171 
"Kenapa menghancurkan sesuatu yang begitu indah untuk masa lalu yang nggak akan kembali?" [Denia] - h. 266 

December 31, 2019

[Book Review] Troublemaker Couple - Pretty Angelia

Judul: Troublemaker Couple
Penulis: Pretty Angelia
Genre: Teenlit, Novel Remaja
Rilis: 25 November, 2019
Tebal: 260 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020632391
Harga: IDR. 73.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Lara dan Mahe panik!

Dua musuh bebuyutan sejak hari pertama di SMA itu kelabakan menerima kabar bahwa ayah Lara dan ibu Mahe berencana menikah. Mana mungkin Lara dan Mahe rela tinggal satu rumah.

Mau tak mau, mereka bersatu untuk menyusun rencana. Lara dan Mahe memutuskan untuk pura-pura  berpacaran. Mereka berharap, sandiwara akan membatalkan pernikahan dua orang tua itu.

Namun, jangan-jangan bukannya pernikahan yang batal, justru Lara dan Mahe yang jatuh cinta betulan.

*

Sebetulnya buku ini langsung kelar dalam sekali baca. Jumlah halamannya sebenernya lumayan, tapi nggak tahu kenapa berasa dikit, hehe.... Mungkin karena ceritanya yang menarik dan gaya menulisnya yang enak banget dinikmati kali ya?

Antara penasaran dan nggak penasaran, buku ini bikin aku ngerasain keduanya. Penasaran karena strategi apa yang akan disusun oleh Lara dan Mahe untuk membatalkan pernikahan kedua orangtua mereka, nggak penasaran karena udah tahu kalau ujung-ujungnya Lara dan Mahe bakalan saling jatuh cinta. Ceritanya simpel, mengalir gitu aja. Nggak ada twist atau sesuatu yang bikin aku berpikir keras, jadinya ya cuma menikmati aja.

Novel remaja selalu nggak pernah jauh-jauh dari dilema keluarga. Nah, apa yang dialami Lara dan Mahe ini sebenernya klise kok. Udah sering dan hampir selalu diangkat dalam setiap novel remaja. Menjadi korban broken home serta orangtua yang egois. Orangtua yang lebih memikirkan diri sendiri ketimbang ananknya, terutama bokapnya Lara nih, bikin geregetan banget.

Nyaris nggak ada interaksi manis yang terjadi antara Lara dan Mahe, mereka berdua kan kayak Tom & Jerry, musuh berat, nggak pernah bisa akur. Lucu aja sih ngebayangin dua orang yang udah jadi musuh bebuyutan harus pura-pura pacaran, pasti konyol banget kan.

Untuk jalan ceritanya sendiri aku cukup menikmatinya, cuma pas bagian ending-nya, aku rada-rada gimana gitu. Entahlah, buat aku rasanya kurang natural, seakan semuanya terjadi begitu mudahnya. Oh ya, aku suka sama kovernya. Judulnya juga catchy. Awalnya—pas belum baca blurb-nya—aku ngebayangin ada pasangan yang bikin trouble di mana-mana, eh ternyata yang trouble mereka sendiri toh.

Yah, mungkin ini adalah buku terakhir yang aku baca di tahun 2019. Niatnya sih mau nambah satu lagi—semoga kesampaian ya. Masalahnya aku pas lagi repot-repotnya, kena serangan acara Natal dan tahun baru. Agak sedih sih karena target baca tahun ini nggak terpenuhi. FYI tahun ini adalah tahun yang paling berat buat aku :( Tapi syukurlah, semua bisa terlewati dengan baik. *Lah, kok malah curcol gini sih?*

Sampai jumpa tahun depan....

Q u o t e s :

"Berhenti jadi anak manja. Nggak semua yang kamu mau, bakalan kamu dapatkan di dunia ini." [Papa Mahe] - h. 11
"Kalau lo pendem terus apa yang ada di hati lo, lama-lama lo bisa jadi Petasan Meledak!" [Mahe] - h. 104


September 20, 2019

[Book Review] Voice from the Past - Eva Sri Rahayu

Judul: Voice from the Past
Penulis: Eva Sri Rahayu
Genre: Young Adult (15+)
Rilis: 9 September, 2019
Tebal: 280 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020628790, 9786020628826 (Digital)
Harga: IDR. 79.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Inka melamar menjadi Liaison Officer cabang olahraga anggar di Pekan Olahraga Nasional. Tanpa tahu sedikit pun mengenai olahraga tersebut. Ia tertarik karena job-nya sebagai influencer dan lifestyle blogger sedang sepi. Sebagai mahasiswi nanggung yang sedang menunggu wisuda, ia merasa tidak pantas jika masih meminta uang kepada orangtuanya.

Di pagelaran tersebut, Inka bertemu Rey, atlet anggar dari kontingen yang ia tangani. Saat pelan-pelan Rey yang tengil membuka diri, Inka merasa hubungan mereka kian dekat. Namun, justru saat itulah Faris muncul. Cowok yang selalu menghantui pikiran dan hati Inka selama dua tahun belakangan itu tiba-tiba saja menyatakan perasaan yang sebenarnya.

Di tengah kehebohan pertandingan anggar, Inka harus memutuskan siapa yang bisa memenangkan hatinya.

*

Pernah nggak kebayang betapa repot dan ribetnya menjadi panitia PON? Aku sih nggak pernah bayangin, hehe. Hal yang mencuri perhatianku di sini pertama adalah judulnya, lalu yang kedua adalah blurb-nya.

Judulnya memberi aku ekspetasi mengenai seseorang dari masa lalu, awalnya aku berpikir kalau ada kaitannya dengan orang yang sudah meninggal. Tapi meleset, nggak ada yang meninggal kok di sini. Sedangkan waktu baca blurb-nya, iming-iming mengenai atlet anggar seketika mencuri perhatianku. Yep, olahraga yang satu ini rasa-rasanya jarang banget dibicarakan. Jadi aku kepo dong, anggar itu seperti apa sih?

Pada lembar pertama aku sudah disuguhi sosok Inka yang tengah bergalau-galau ria. Inka adalah seorang fresh graduate yang berada dalam zona nanggung. Sudah lulus, tapi belum dapat kerjaan, sedangkan mau minta uang ke orangtua pastinya malu dong! Selain itu bisnis dunia maya, seperti endorsement yang menjadi pundi-pundi penghasilannya juga lagi sepi. Belum lagi perasaannya yang masih kecantol sama cowok di masa lalunya, Faris. Nah, di saat-saat seperti itu sahabatnya, Artyana, menawarkan sebuah pekerjaan menjadi panitia PON. Inka belum pernah menjalani pekerjaan semacam ini, tapi berhubung pemasukan lagi seret, boleh deh.

Di sinilah Inka bertemu dengan seorang atlet anggar tengil bernama Rey. Hubungan mereka cuma terjalin beberapa hari, bisa dikatakan cinlok. Namun beberapa hari yang dilalui bersama Rey itu cukup membuat Inka bimbang, kepada siapa sebenarnya hatinya tertuju. Karena di saat-saat dia dekat dengan Rey, Faris malah menyatakan perasaannya. Ew~

Buku ini ditulis menggunakan POV pertama dari sudut pandang Inka, ada juga beberapa POV tiga yang berfungsi sebagai flashback. Beberapa flashback juga dijelaskan melalui lamunan Inka. Halamannya cukup padat, tapi lumayan seru untuk diikuti, terutama bagian duel anggarnya. Dari sini aku juga jadi tahu gimana repot dan ribetnya menjadi panitia PON.

Aku terganggu dengan kata 'sawriii...' yang sering muncul di percakapan antara Inka dan Artyana. Sekali-dua kali nggak apa-apa sih, tapi berhubung ini keseringan, jadi geli kuping gue! Berasa lenjeh-lenjeh manjyah ala inces.

Oh ya, karakter Inka di sini nggak profesional banget. Terlalu sering terbawa sama perasaan dan pikirannya, sampai sering mengganggu pekerjaannya. Well, ini nyebelin banget buatku. Kisah cinta Inka ini juga bikin aku gemez. Semacam nggak niat, gampang baperan sama cowok baru, dan ada bau-bau jual mahal. Intinya secara pribadi aku kurang suka sama karakter Inka.

Bagi yang mau kenalan sama olahraga anggar, buku ini cukup banyak memberi pengetahuan mengenai cabang olahraga tersebut. Aku suka ceritanya, minus kisah cintanya Inka.

Q u o t e s :

Jadi saranku, kalau besoknya kamu mesti kerja, jangan pernah stalking mantan. Jangan! [Inka] - h. 18
Seandainya aku bisa menjalin hubungan lagi, aku tidak mau membagi hati setengah-setengah. Akan kupastikan dulu, perasaanku bisa bermigrasi total. [Inka] - h. 118
"Aku tahu kok, sedih yang paling sedih itu sampai nggak bisa ngeluarin air mata." [Rey] - h. 225
"Luka karena mencintai seseorang, nggak bisa disembuhkan oleh cinta baru. Luka tetap aja luka, yang cuma bisa sembuh oleh waktu dan perjuangan melawan rasa sakit." [Inka] - h. 267

September 16, 2019

[Book Review] A Sky Full of Stars - Nara Lahmusi

Judul: A Sky Full of Stars
Penulis: Nara Lahmusi
Genre: Teenlit (15+)
Rilis: 9 September, 2019
Tebal: 244 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020632100, 9786020632117 (Digital)
Harga: IDR. 73.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Meski hanya anak seorang cleaning service, Raya Angkasa punya cita-cita setinggi langit: kuliah di Kedokteran UI. Untuk itu, ia harus lihai membagi waktu sebagai guru privat bagi murid-murid tajir di sekolahnya demi menambah uang tabungan. Sejauh ini sih nggak ada masalah.

Namun, masa remaja Raya mendadak rumit ketika harus mengajar kakak-beradik dari keluarga Mahashakti. Dirga Romano Mahashakti, si biang kerok yang menyebalkan dan Dika Romino Mahashakti yang sakit-sakitan membuatnya kelimpungan. Bukan hanya kontrak mengajar yang ketat, ia juga terpaksa terlibat dalam masalah keluarga kedua cowok itu.

Seolah urusan pelajaran sekolah belum cukup membebani, pertaruhan, perasaan, dan cinta terpendam membelit ketiganya dengan benang kusut yang sulit diurai. Sanggupkah Dirga terus mengalah demi adiknya? Tegakah Raya menolak Dika saat harapan dan masa depan cowok itu disandarkan di bahunya?

“Cause you’re a sky, cause you’re a sky full of stars…”

*

Buku ini kovernya cakep bangettttt! Ya, itu adalah salah satu alasanku tertarik sama buku ini. Hehe.

ASFoS menceritakan mengenai Raya yang punya mimpi setinggi langit, tapi sayangnya keadaan ekonomi nggak mendukung. Sementara itu ada Dirga yang tajir, tapi ogah-ogahan untuk sekolah. Mereka benar-benar bertolak belakang. Kedekatan mereka dimulai pada saat Raya menjadi guru les untuk Dika—adik Dirga. Dan serunya lagi, ada cinta segitiga di sini.

Ini pertama kalinya aku baca tulisan Nara Lahmusi, aku belum sempat baca buku pertamanya yang berjudul Things About Him. Kapan tahun itu pernah mau baca, tapi belum kesampaian. Nggak banyak sih yang mau aku ulas tentang buku ini. Yang pasti aku suka gaya nulisnya, gampang dicerna dan nggak butuh waktu lama buat adaptasi.

Sementara dari ceritanya sendiri, jujur aku cukup terhibur. Cuma memang ada beberapa hal yang mengganjal buatku, misalnya nilai-nilai Dirga. Okelah dia belajar sangat keras, tapi menurutku kemungkinan dari siswa yang selalu dapat nilai nol, terus tiba-tiba aja menjadi 100, itu kok kurang realistis ya? Apalagi dalam kasusnya Dirga, dia itu sama sekali nggak pernah memperhatikan pelajaran sejak kelas X. Hal ini agak susah aku terima. Tapi ini menurutku lho, bagi orang lain bisa saja berbeda.

Perjuangan Raya di sinu juga patut diapresiasi. Walau ekonkminya minus, tapi semangatnya nggak pupus. Dia tetep berjuang meraih impiannya.

Di akhir cerita aku sempat berasa nyesek, pas kelulusan ituloh. Hiks.... *puk puk Dirga*

Q u o t e s :

"Kata bapak gue, konon, ketika harapan manusia sudah lenyap, cuma doa yang tetap membuat manusia bertahan." [Raya] - h. 177

September 14, 2019

[Book Review] Vio Don't Mess Up - Shania Kurniawan

Judul: Vio Don't Mess Up
Penulis: Shania Kurniawan
Genre: Teenlit (13+)
Rilis: 29 April, 2019
Tebal: 256 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020627830
Harga: IDR. 77.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Vio sepertinya menyandang gelar siswi paling bermasalah sepanjang sejarah SMA Mayapada. Dia sering bolos, suka cari masalah dengan cowok-cowok bajingan di lingkungan sekolah, dan sudah nunggak gorengan dua semester. Cewek biang kerok yang dihindari oleh teman-temannya karena mereka takut dia bakal menularkan virus berandalannya.

Tapi, saat kakaknya hendak dipanggil, Vio menyerah. Cello nggak boleh sampai tahu tentang kelakuannya! Karena itu, Vio setuju untuk ikut program belajar dengan Jo untuk memperbaiki semua nilainya. Kalau dalam semester kedua ini Vio nggak mendapatkan nilai merah sama sekali, Cello nggak akan dipanggil.

Terpaksa belajar dengan cowok kaku itu, Vio cuma bisa menahan emosi. Bisa nggak ya, sekali ini saja, dia nggak mengacaukan semuanya?

*

Setelah belakangan baca buku yang suram-suram, semalam akhirnya aku mutusin buat baca teenlit, buat refreshing. Hehe. Nggak perlu waktu lama buat menuntaskan buku ini. Ceritanya sederhana, gaya menulisnya ngalir, dan gampang dinikmati. 

Apa jadinya cewek bandel ketemu dengan cowok rajin?
Well, kedengarannya biasa aja ya, tapi Vio yang bandel serta Jo yang ngomongnya pakai bahasa baku bikin cerita ini menarik. Vio punya masa lalu, begitu juga dengan Jo. Masa lalu itulah yang membuat mereka berubah jadi seperti itu.

Seperti kebanyakan, family issue masih jadi latar belakang tingkah 'ajaib' mereka. Hubungan Vio dan Jo berjalan biasa-biasa aja, selayaknya teman dekat. Lagian mereka memang nggak jadian atau semacamnya. Tapi aku yakin ada benih-benih bunga matahari yang tumbuh di hati mereka. Nggak ada adegan-adegan romantis ala-ala FTV remaja kok. Vio dan Jo hanyalah dua remaja yang sama-sama memiliki masalah dalam keluarganya, sebuah masa lalu pahit yang membuat mereka berubah seperti itu. Percaya nggak percaya, apa yang terjadi dalam keluarga itu berpengaruh besar terhadap anak.

Sisi yang aku suka dari buku ini adalah Vio yang berusaha keras untuk memperbaiki nilai-nilainya, meski dia tersiksa banget. Ya iyalah, cewek yang kerjaannya skip kelas buat nongkrong di kantin, bahkan sampai utang gorengan selama enam bulan, harus belajar bersama cowok berkacamata tebal yang ngomongnya baku banget. Awalnya Vio bosan setengah mati, cuma lama-kelamaan dia penasaran dengan Jo.

Konflik yang diangkat sederhana sekali. Cuma karena gaya menulisnya enak banget buat dibaca, semuanya berasa mengalir begitu aja. Aku menikmati banget kisah Vio dan Jo, walau sampai akhir aku masih bertanya-tanya ke mana hubungan Vio dan Jo akan berlabuh. Akan ada sesuatu di antara mereka ataukah Jo hanya menganggap Vio sebagai adiknya? Oh ya, aku juga penasaran banget sama Rio. Tuh anak ngeselin, tapi bikin gemes.


*

Q u o t e s :

Dan memikirkan soal matematika tampaknya lebih nikmat daripada memikirkan kenangan buruk yang semestinya nggak dia ingat. [Jo] - h. 29
"Kamu harus ingat kalau tidak selamanya kamu boleh dikalahkan masa lalu, dan ada saatnya kamu harus melawannya demi masa depanmu." [Jo] - h. 198

September 07, 2019

[Book Review] Mencari Simetri - Annisa Ihsani

Judul: Mencari Simetri
Penulis: Annisa Ihsani
Genre: Metropop (17+)
Bahasa: Indonesia
Tebal: 240 halaman
Rilis: 19 Agustus, 2019
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020629360, 9786020629353 (Digital)
Harga: IDR. 75.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Menjelang usia kepala tiga, April merasa gamang dan kehilangan arah. Ia memiliki karier yang nyaman, tapi tidak bisa dibanggakan. Punya banyak teman, tapi mereka sibuk dengan keluarga masing-masing. Dekat dengan Armin, tapi tak pernah ada kejelasan. Belum lagi menghadapi keanehan Papa yang terus menerus melupakan hal sepele.

Enam tahun April terjebak dalam hubungan yang rumit dengan Armin. Entah salah satu dari mereka punya pacar, atau memang sudah terlalu nyaman berteman. April tetap tak mampu melepaskan Armin sebagai sosok pria ideal.

Saat menemani Papa melalui serangkaian tes medis, Lukman hadir. Pria itu menawarkan kehidupan yang mapan dan hubungan serius.

April berusaha mencari cara untuk menyeimbangkan hidupnya kembali. Dan cara untuk menemukan simetri hatinya. Memilih hidup bersama Lukman, atau menunggu Armin entah sampai kapan.

*

Awalnya aku pikir novel ini akan sama saja dengan novel-novel Metropop pada umumnya, yang menceritakan tentang kehidupan cinta dengan bumbu-bumbu pekerjaan layaknya kaum urban. Ya memang seperti itu sih, tapi cuma 'bungkusnya' aja. Padahal setelah membaca dan menikmati ceritanya, aku cukup tersentil. Haha.

April, wanita berusia 29 tahun dengan hidup yang serba mengambang. Tidak punya tujuan, juga tidak punya arah. Kehidupannya hanya berkutat pada sebuah pekerjaan yang menurut orangtuanya tidak cukup membanggakan, plus perasaannya pada Armin yang tanpa kejelasan. Mereka berdua teman, dekat, tapi hanya seperti itu. April naksir Armin, sedangkan Armin sama sekali tidak peka. Namun begitu April berniat move on, Armin malah terkesan seperti memberi harapan. Yah, gitu aja terus sampai lebaran kebo! Sumpah, kisah April dan Armin di sini bikin aku eneg. Ke-tijel-annya kelamaan, bertahun-tahun. Aku sampai bertanya-tanya, "Nggak capek gitu nge-bucin selama itu? Sementara dunia terus berputar?" *Kalo aku sih ogah. Ogah banget!

Kehadiran Lukman sedikit meredakan rasa eneg-ku. Cuma ujung-ujungnya aku eneg lagi karena April jelas-jelas tidak menyukai Lukman. Sama sekali nggak welcome terhadap eksistensi Lukman. Jujur sebel banget sih, kenapa April malah milih si Armin yang nggak jelas itu?!

Oke deh, cukup bicara soal kisah cintanya April yang menurutku nggak banget. Sisi lain buku ini menyuguhkan sesuatu yang realistis. April merasa eneg dengan hidupnya yang terkesan B aja. Pekerjaan yang gitu-gitu aja, tanpa pencapaian yang bisa dibanggakan. Lalu ada hubungannya dengan Sita, sahabatnya, yang merenggang karena Sita memiliki anak. Tak lupa juga hubungan April dengan keluarganya, terutama ayah kandungnya.

Semua itu membuat April jengkel dengan kehidupan yang dia miliki. Sewaktu melihat instagram Sita yang tengah berkumpul dengan sesama ibu muda, plus anak-anak mereka, April merasa jika dirinya sudah tertinggal jauh. Semua teman-temannya sudah berlari, sementara dia masih diam di tempat dengan kehidupan yang itu-itu saja. Tapi lama-lama April menyadari kalau hubungannya dengan Sita merenggang karena masing-masing dari mereka punya kehidupan. April dengan kehidupannya, Sita dengan kehidupannya. Yah, seperti inilah hidup. Semakin dewasa, akan semakin sibuk dengan hidup kita sendiri, sampai rasanya nggak punya waktu buat say hi sama sahabat kita sendiri. Jadi hubungan yang mulanya dekat jadi merenggang dengan sendirinya, padahal kita tidak bermaksud seperti itu.

Lanjut dengan posisi April sebagai anak bungsu yang mau tak mau harus mengurus ayahnya yang mulai pikun. Ibunya tidak di rumah karena harus mengurus Eyang Uti di luar kota, sementara Kak Laras sudah berkeluarga.
Kebayang nggak betapa repotnya merawat orangtua yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri?
Di satu sisi kita punya kehidupan sendiri, juga pekerjaan yang mungkin menjadi prioritas. Tapi di sisi lain kita juga tidak bisa mengabaikan jika orangtua membutuhkan kita. Keadaan yang sangat sulit memang. Selain direpotkan dengan orangtua yang harus diladeni, kita juga pontang-panting membagi waktu. Biasanya di titik ini, kita ribut dengan saudara sendiri. Meributkan siapa yang harus merawat, dlsb. 

Itulah kenapa aku bilang apa yang dialami April ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Sebagian besar dari kita mengalaminya, kan?
Dan sesuatu yang bisa aku ambil dari cerita ini adalah: Kadang-kadang kita menganggap masalah kita adalah yang paling berat, padahal tanpa kita ketahui, masalah orang-orang yang ada di sekitar kita mungkin saja lebih berat. Mereka hanya tidak mengeluh dan menunjukkannya.

Perasaanku bisa dibilang campur aduk saat membaca buku ini. Antara jengkel dengan April yang selalu mengeluh dengan kehidupannya, termasuk jadi bucin-nya Armin, serta banyaknya kejadian dalam buku ini yang secara pribadi menegurku. Awalnya aku nggak yakin bakal ngasih rate 3*, karena keburu eneg duluan sama April yang terus mengharapkan Armin. Tapi semakin ke belakang, aku semakin menikmati cerita ini. Intinya cerita ini membuat hatiku menjerit: AKU NGGAK MAU KAYAK APRIL!
Kebanyakan mengeluh bikin capek hati sendiri.

Oh ya, terlepas dari isi ceritanya, aku merasa kurang nyaman dengan gaya bahasanya.
Baku. Penggunaan aku-kau di sini berasa nggak match sama keadaan sekarang ini. Yakali di zaman Tinder ngobrolnya masih pakai aku-kau? Lagian ini lokasinya di Jakarta, kan?

Q u o t e s:

"Karena hubungan ini bahkan tidak pernah dimulai. Kau tidak bisa mengakhirinya karena tidak ada yang bisa diakhiri." [Sita] - h. 11
"Ketika orang-orang menaruh ekspetasi mereka terhadapmu dan kau tidak mau memenuhinya, itu bukan masalahmu. Kau tidak bisa memenuhi ekspetasi semua orang." [Armin] - h. 52
"Tahu tidak, hanya karena kau menyukai seseorang, bukan berarti kau tidak boleh pergi dengan orang lain. Tidak ada istilah monogami dalam dunia taksir-menaksir." [Tantri] - h. 56
"Aku mulai bertanya-tanya seberapa realistis mengharapkan seseorang untuk setia padamu seumur hidup." [Kak Laras] - h. 108
"Percayalah, kau tidak ingin berumah tangga dengan cowok yang terus-terusan membuatmu merasa tidak cukup baik." [Sita] - h. 124
Kurasa kebanyakan pertemanan berakhir bukan karena perselisihan dan pertengkaran, melainkan karena salah satu atau keduanya sudah larut dalam kehidupan mereka masing-masing. [April] - h. 141
Namun, dalam hati aku menyadari, entah umurmu 14 atau 29, cinta yang tak berbalas tetap sama menyakitkannya. [April] - h. 194
"Cinta bisa datang dan pergi. Komitmenlah yang membuatmu tetap bertahan saat kau bangun pada pagi hari dan tidak lagi kasmaran dengan orang yang tidur di sebelahmu." [Mama April] - h. 210

August 23, 2019

[Book Review] Resign - Almira Bastari

Judul: Resign
Penulis: Almira Bastari
Genre: Metropop
Rilis: 29 Januari, 2018
Tebal: 288 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020380711, 9786020380728 (Digital)
Harga: IDR 68.000 Paperback (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆



B l u r b :

Kompetisi sengit terjadi di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Pesertanya adalah para cungpret, alias kacung kampret. Yang mereka incar bukanlah penghargaan pegawai terbaik, jabatan tertinggi, atau bonus terbesar, melainkan memenangkan taruhan untuk segera resign!

Cungpret #1: Alranita
Pegawai termuda yang tertekan akibat perlakuan sang bos yang semena-mena.

Cungpret #2: Carlo
Pegawai yang baru menikah dan ingin mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi.

Cungpret #3: Karenina
Pegawai senior yang selalu dianggap tidak becus tapi terus-menerus dijejali proyek baru.

Cungpret #4: Andre
Pegawai senior kesayangan si bos yang berniat resign demi dapat menikmati kehidupan keluarga yang lebih normal dan seimbang.

Sang Bos: Tigran
Pemimpin genius, misterius, dan arogan, tapi sukses dipercaya untuk memimpin timnya sendiri pada usianya yang masih cukup muda.

Resign sebenarnya tidak sulit dilakukan. Namun kalau kamu memiliki bos yang punya radar sangat kuat seperti Tigran, semua usahamu pasti akan terbaca olehnya. Pertanyaannya, siapakah yang akan menang?

*

Sebenernya aku udah lama pengin bahas soal buku ini, tapi baru sekarang mood nulis review-nya muncul setelah reread kedua, hehe.
Buku ini ada mirip-miripnya dengan DOMB-nya Titi Sanaria. Bukan dari segi ceritanya, melainkan dari suasana kantornya.

Secara garis besar menceritakan mengenai empat cungpret yang berlomba-lomba untuk resign. Loh, kenapa? Bukannya cari kerja itu susah, kok malah pengin resign?! Ya kalo bosnya model kayak Tigran siapa yang betah coba? Hampir nggak ada hari tanpa lembur! Iya sih bayaran gede, tapi kalo nggak punya waktu buat ngabisin ya percuma dong.

Salah satu poin menarik dalam buku ini adalah para cungprets itu sendiri. Tiada hari tanpa gosip. Terus dialognya fresh, humornya simpel tapi masuk, jadi nggak garing. Itu juga yang membuat buku ini page turner. Sementara untuk romance-nya aku nggak begitu klik, yah semacam cinlok sama bos sendiri, udah gitu kesannya maksa. Perasaan Rara berubahnya terlalu cepat, mengingat dia benci setengah mamvus sama Tigran. Harusnya lebih alot kan ya, nggak segampang itu dia dibikin luluh.

Yah, buku ini memang nggak offer sebuah cerita yang wow atau yang baper atau yang lucunya kebangetan. Tapi bagiku mengikuti kegiatan para cungprets itu cukup menghibur, apalagi kalo yang lagi suntuk kek aku, haha. Makanya aku sampe reread, butuh sesuatu yang ringan dan segar soalnya. 

Aku rekomen buku ini sebagai bacaan pelepas penat. Bisa juga buat selingan abis baca novel yang tebel-tebel dengan cerita yang berat.

August 12, 2019

[Book Review] Dark Love - Ken Terate

Judul: Dark Love
Penulis: Ken Terate
Genre: Teenlit
Bahasa: Indonesia
Tebal: 248 halaman
Rilis: 6 September, 2012
Penerbit: GPU
ISBN: 9789792287516
Harga: IDR -
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Usiaku 17 tahun, hampir 18. Kelas 12. Hampir lulus. Dan aku hamil...

Kirana yang cerdas, cantik, dan ceria melihat semua impiannya luruh di depan mata. Hari-harinya mulai dipenuhi rahasia dan kecemasan. Ia nggak mungkin mampu melahirkan dan merawat bayi. Ia juga nggak mungkin mampu menghadapi celaan dari orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, guru-gurunya, terutama kekecewaan orangtuanya. Saat ini Kirana berada di ambang jurang keputusasaan. Hidup seolah tidak menawarkan solusi apa pun padanya.

Bagaimana dengan cowok yang menghamilinya? Oh, cowok itu harus tetap sekolah. Dia nggak boleh terlibat. Dia cowok paling tampan dan paling cerdas di sekolah. Masa depannya begitu gilang gemilang. Kirana tidak ingin merusaknya. Siapakah dia? Kirana takkan pernah mau mengakuinya.

*

Masih related sama Dua Garis Biru, novel ini juga mengusung tema kehamilan remaja di luar nikah. Bedanya, tokoh dalam novel ini sama-sama murid cerdas, andalan, kebanggaan sekolah—plus, novel ini udah terbit duluan ya.

Mengambil setting tahun 2009, aku bisa dengan baik merasakan situasinya saat itu. Mungkin karena tahun segitu aku juga SMA kelas 12. Waktu itu yang namanya sex education memang belum seterbuka sekarang. Pendidikan resmi cuma didapat dari pelajaran biologi bab reproduksi, sedangkan yang nggak resmi didapat dari nonton video bokep ato majalah porno. Tahun segitu akses internet masih tergolong seret, orang streaming YouTube di warnet aja nggak boleh—bisa bikin lag komputer lain soalnya.

Sedari awal baca aku udah dibikin penasaran setengah mampus sama si "My Prince" alias bapak biologis dari anak yang dikandung Kirana. Mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu Kirana, aku diajak bergalau-galau ria. Bingung, takut, malu. Rasanya campur aduk jadi satu. Sempat sebel juga sih kenapa dia nggak mau mengungkapkan siapa bapaknya. Alasannya sih mereka berdua sama-sama murid populer, dia nggak mau membuat semuanya tambah rumit, toh mereka melakukan 'itu' berdua, tanpa ada unsur paksaan. Padahal "My Prince" siap bertanggung jawab dan nggak meninggalkan Kirana. Speechless juga sih, anak usia segitu bisa mikir kek gini, bukannya saling menuntut dan lepas tanggung jawab.

Karakter favoritku adalah Bu Welas. Pemikirannya luas, nggak terpaku pada sebuah peraturan. Dipandang dari mana pun, hamil di luar nikah memang nggak ada bener-benernya. Tapi berhubung mau UN, harusnya dari pihak sekolah ada usaha untuk menyelamatkan masa depan anak didiknya. Cuma ini pandangan subyektif sih, orang lain mungkin nggak sependapat dengan Bu Welas. Yah, meski akhirnya Kirana dan "My Prince" tetap bisa ikut UN dengan cara lain.

Oh ya, meski cerita ini fokusnya pada kehamilan Kirana, unsur persahabatan masih melekat erat. Aku awal-awal nggak suka sama sifatnya Maria, tapi lama-lama aku nyadar kalo dia itu cuma remaja yang ingin mimpinya direstui kedua orangtuanya. Poin bagus juga sih buat orangtua yang seringnya memaksakan kehendak sama anak. Come on, anak itu bukan objek yang bisa dengan leluasa diatur-atur atau digunakan orangtua demi gengsi atau mendapat pujian.

Aura buku ini dark, tapi menyimpan sejuta pelajaran bagus untuk remaja. Terutama sex education. Seks memang masih tabu untuk dibahas terang-terangan, tapi semakin kita menyembunyikan, anak akan semakin penasaran. Terlebih akses internet zaman sekarang yang gampang banget. Seks itu penting dikenalkan pada anak, bukan untuk dilakukan, tapi agar anak itu tahu risiko yang ditanggung.

Ingat, love is not sex! Ada banyak cara mengekspresikan kasih sayang/cinta. Misalnya dengan kasih cokelat atau melakukan kegiatan positif bersama, misalnya belajar bareng, nonton bareng. Cowok yang mencintai kamu nggak bakal menyuruh kamu, apalagi memaksa kamu untuk melakukan seks. Sebaliknya, cowok itu bakal ngejaga kamu. Buat jaga-jaga kalo ada setan lewat, jangan pacaran di tempat sepi, juga buat batasan-batasan interaksi (sentuhan tubuh) biar nggak kebablasan.

Q u o t e s :

"Pendidikan adalah untuk semua orang. Siapa pun dia. Laki-laki dan perempuan. Miskin dan kaya. Hamil atau tidak. Bila Bapak tidak memberikan hak itu untuk Kirana, Bapak melanggar hukum. Melanggar amanat undang-undang." [Bu Welas] - h. 204
"Lucu ya, di abad dua puluh satu, keperawanan tetap penting. Dan mereka tak mau tahu penyebab kehilangannya." [Bu Welas] - h. 229
Love is not sex.

August 09, 2019

[Book Review] Cinta Akhir Pekan - Dadan Erlangga

Judul: Cinta Akhir Pekan
Penulis: Dadan Erlangga
Genre: Amore (17+)
Tebal: 344 halaman
Rilis: 23 November, 2015
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020322988
Harga: IDR -
Rate:★★★★☆


B l u r b :

Arlin yakin ia telah diperkosa!

Setelah menginvestigasi dan menginterogasi keempat teman prianya yang menginap dan berpesta di suatu akhir pekan, semua punya alibi yang meyakinkan bahwa mereka bukan pelakunya. Lalu, siapa?

Dunia dan masa depan Arlin runtuh dalam semalam. Ia bahkan sempat memutuskan akan mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menanggung aib dan malu.

Ketika akhirnya salah seorang mengaku sebagai pelakunya dan bersedia bertanggung jawab, Arlin tak serta-merta percaya. Arlin mengenal pria itu sejak di bangku SMP, dan dia terlalu baik untuk melakukan hal sebejat itu.

Ironisnya, Arlin harus menerima pernikahannya agar benih yang ia kandung tidak dicap sebagai anak haram. Arlin bertekad melampiaskan kemarahannya dan menjadikan pernikahan mereka sebagai neraka bagi pria itu. Hingga sebuah rahasia tersibak, membuat Arlin percaya bahwa cinta yang tulus benar-benar ada…

*

Suka! Aku suka sama novel ini!
Buatku novel ini unexpected. Soalnya kebanyakan novel Amore yang kubaca ceritanya cenderung manis-manis empuk, berbeda dengan Cinta Akhir Pekan yang menyuguhkan novel roman dengan twist oke serta penulisan yang nggak menye-menye.

Jadi ini adalah novel kedua dari Dadan yang aku baca, sebelumnya aku malah udah baca Sweetly Broken yang merupakan novel keduanya. Dan aku juga suka!

Oke, mari kita ulas secara singkat, padat, jelas, dan aku usahakan nggak spoiler mengenai novel ini.

Garis besar ceritanya sudah terangkum dengan jelas di blurb-nya. Arlin diperkosa. Pelakunya adalah satu di antara keempat laki-laki yang menghabiskan malam bersamanya di vila. Eits, Arlin bukannya satu-satunya perempuan loh, tapi ada Dita, sahabatnya. Akibatnya Arlin hamil, yang mau tak mau dia harus mencari siapa pemerkosanya. Eng-ing-eng!!! Chandra pun akhirnya mengaku dan mereka pun menikah. Selain pada dasarnya Arlin nggak suka sama Chandra (iya, Arlin suka sama Bisma, pacarnya Dita), ditambah dengan kenyataan kalo laki-laki itu yang memerkosanya, membuat kebencian Arlin menggunung. Tapi meski dibenci oleh Arlin, Chandra malah sayang banget sama Arlin.

Kehidupan pernikahan mereka ya begitu deh, apalagi mamanya Chandra nggak suka sama Arlin. Tipe-tipe mama mertua yang sewot gegara anak laki-lakinya menikahi perempuan yang nggak pas di hatinya. Untungnya Arlin lebih memilih cuek dan tidak pernah menjawab sekalipun mama mertuanya itu nyerocos nggak abis-abis, tapi dalem hati ngomel boleh lah.

Perlakuan sayang Chandra pada Arlin lama-kelamaan membuat perempuan itu luluh juga. Perempuan mana sih yang nggak luluh sama perlakuan Chandra? Aku aja yang cuma pembaca sempat termehek-mehek kok. Wkwkwk. Nah, tapi di sisi lain Arlin juga belum bisa memaafkan kelakuan Chandra padanya. Sampai suatu ketika Arlin menemukan sesuatu yang membuatnya percaya jika bukan Chandra pelakunya.

Ditulis dengan POV orang pertama, yaitu Arlin, novel ini menawarkan sebuah pemikiran dari seorang perempuan korban pemerkosaan. Di satu sisi aku emang pengin cubit ginjalnya Arlin karena nggak bisa menerima kebaikan Chandra, tapi di sisi lain aku juga nggak bisa menyalahkan kebenciannya pada Chandra. Belum lagi ngadepin mama mertuanya ituloh. 

Dua kali baca buku Dadan Erlangga, semuanya pake POV 1 dan dari sisi cewek. Wah, salut loh, penulis cowok bisa mendalami karakter cewek seperti ini. Keren pokoknya!

Alur ceritanya maju, tapi kadang-kadang flashback sewaktu si tokoh tengah mengingat-ingat sesuatu. Sayangnya perpindahan di sini kurang begitu kentara, sempat bikin aku bingung ini flashback ato bukan sih?
Lalu dari segi twist-nya sendiri oke punya untuk novel bergenre Amore. Tbh, aku sempat terkecoh dan menyangka memang beneran Chandra pelakunya. Padahal di awam tebakanku bukan Chandra, cuma karena ngikutin arus cerita, aku jadi terseret dan iya-iya aja pas dibilang si Chandra yang memerkosa.

Kalimat yang dipake sederhana, tapi feel-nya kena. Nggak menye-menye ato yang bertaburan quotes. Jadi latar belakang, isi cerita, konflik, twist, serta penyelesaiannya pun tersampaikan dengan sangat baik.

Oh ya, kita bahas soal ending. Apakah aku puas dengan endingnya?
YA! AKU PUAS!
Sesuai yang aku pengin. Apa adanya. Nggak dipaksakan. Pokoknya natural sekaleeee....

Am I recommending this book?
Yes, I am. Especially for you, who love romance story with reality. Not sweet as candy, but beautiful as it is.

Q u o t e s :

Selalu ada yang pertama untuk segala hal yang baik dan buruk. Untuk yang satu ini, aku menyesalinya seumur hidup. [Arlin] - h. 12
"Mati dalam perlarian rasa bersalah yang tak termaafkan itu jauh lebih menyedihkan daripada hidup dalam kesia-siaan." [Chandra] - h. 158
"Kamu boleh membenciku selama yang kamu mau, Ar. Tapi ketika kebencian itu malah semakin menyiksa dirimu, aku mohon berhentilah, demi dirimu sendiri." [Chandra] - h. 162
Jika suatu hari seseorang bertanya kepadaku, "Bagaimana cara membuat orang lain tersenyum." Maka akan kujawab, "Tersenyumlah terlebih dahulu kepadanya." [Arlin] - h. 259

August 05, 2019

[Book Review] Dua Garis Biru - Lucia Priandarini

Judul: Dua Garis Biru
Penulis: Lucia Priandarini
Genre: Teenlit (17+)
Bahasa: Indonesia
Tebal: 216 halaman
Rilis: 11 Juli, 2019
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020631868, 9786020631875 (Digital)
Harga: IDR. 59.000 Paperback (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Dara, gadis pintar kesayangan guru, dan Bima, murid santai yang cenderung masa bodoh, menyadari bahwa mereka bukan pasangan sempurna. Tetapi perbedaan justru membuat keduanya bahagia menciptakan dunia mereka sendiri. Dunia tidak sempurna tempat mereka bisa saling mentertawakan kebodohan dan menerbangkan mimpi. 

Namun suatu waktu, kenyamanan membuat mereka melanggar batas. Satu kesalahan dengan konsekuensi besar yang baru disadari kemudian. Kesalahan yang selamanya akan mengubah hidup mereka dan orang-orang yang mereka sayangi. 

Di usia 17, mereka harus memilih memperjuangkan masa depan atau kehidupan lain yang tiba-tiba hadir. Cinta sederhana saja ternyata tak cukup. Kenyataan dan harapan keluarga membuat Bima dan Dara semakin terdesak ke persimpangan, siap menjalani bersama atau melangkah pergi ke dua arah berbeda.

*

Finally, aku baca bukunya duluan—karena emang belum sempat nonton filmnya. Habisnya filmnya heboh banget, aku kan jadi kepo, hehe.

Topik mengenai hamil di luar nikah memang seperti magnet yang gampang menarik perhatian. Jujur kalo dari segi ceritanya sendiri, aku nggak terlalu berkesan. Karena emang udah banyak sih buku yang mengangkat tema semacam ini. Cuma eksekusi cerita serta gaya menulisnya bikin aku acungin dua jempol buat buku ini. Well, simpel tapi menarik. Singkat, tapi padat dan jelas. Ringan, tapi nggak ngebosenin. Penulisannya keren punya pokoknya!

Isi bukunya sendiri tergolong ringan untuk masalah seberat ini. Malah kesannya jadi agak drama. Tapi di sisi lain pesan moralnya bagus banget. Klise sih. Intinya jangan berbuat kalo nggak siap dengan risikonya. Sekali berbuat bisa hamil. Lalu kalo udah terlanjur hamil, mau nggak mau, siap nggak siap, kehidupan pasti akan berubah. Dara dan Bima emang berusaha untuk bertanggung jawab, tapi tetap saja, mereka itu masih 17 tahun. Anak umur segitu mah masih hijau banget soal kehidupan, apalagi punya anak. 

Banyaklah yang bisa direnungkan dari akibat hamil di luar nikah, dan bagi aku ini pelajaran bagus buat para remaja jaman now ini biar nggak kebablasan. Misalnya Bima yang kelimpungan karena dia berasal keluarga B aja. Bima sayang Dara, tapi dia nggak siap jadi seorang bapak. Di satu sisi dia juga nggak mau buang anaknya. Sementara Dara sebagai siswa favorit harus rela dikeluarkan dari sekolah, hidupnya berubah 180°, belum lagi perasaan malu. Dan yang paling penting adalah perasaan bersalah yang menghantui Dara dan Bima. Mereka menyesal, mengecewakan orangtua, dll.

Endingnya?
Aku nggak kaget dengan ending yang seperti ini. Habis mau digimanain lagi? Sejauh aku baca buku dengan tema hamil di luar nikah, aku belum pernah puas dengan endingnya—termasuk buku ini. Padahal kalo ditanya aku pengin ending yang gimana, aku sendiri juga bingung. Haha. Emang susah sih bikin ending yang memuaskan plus masuk akal untuk tema semacam ini.

Oh ya, setelah baca buku ini terjawab sudah pertanyaanku mengenai judulnya 'Dua Garis Biru'. Ngakak aing, Bima gitu amat woy!

Q u o t e s :

Kebebasan juga adalah penjara. Setiap pilihan tidak bebas dari konsekuensi. - h. 25 
Tetapi berusaha tenang adalah sikap yang paling tidak menyenangkan. - h. 43

August 04, 2019

[Book Review] False Beat - Vie Asano

Judul: False Beat
Penulis: Vie Asano
Genre: Metropop (17+)
Bahasa: Indonesia
Tebal: 296 halaman
Rilis: 19 Maret, 2018
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020382265
Harga: IDR.72.000 Paperback (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

"Nggak usah lihat-lihat. Gawat kalau lo nanti suka sama gue."

Gara-gara terlilit utang dengan om-nya, Aya harus rela menjadi manajer Keanu & the Squad. Sebenarnya pekerjaan itu tak seburuk yang dia bayangkan, kalau saja bukan Keanu yang harus dihadapinya. Vokalis sekaligus pentolan band itu mungkin punya banyak fans. Dan harus dicatat, Keanu tuh punya wajah ganteng, bibir seksi, penampilannya keren, dan suara yang bagus banget. Tapi, Keanu punya segudang kelakuan ajaib yang membuat Aya tak bisa berkutik, juga membuat jadwal roadshow band itu berantakan!

Aya pun mencari cara untuk mengendalikan Keanu agar roadshow berjalan lancar. Baru saja merasa menemukan jawaban, Aya malah terjerumus dalam masalah baru: mengetahui rahasia besar yang disimpan Keanu yang membuatnya terperangkap dalam drama tak berujung.

*

So, are you fans of One OK Rock or My First Story? Kalo iya kalian wajib baca buku ini deh kayaknya. Wkwkwk.... Jujur aku agak lama nggak ngedengerin lagu-lagu Jepang—belakangan ini didominasi K-Pop sama Western—nah, pas baca buku ini tiba-tiba aku kangen banget sama J-Pop. Akhirnya nyalain laptop dan setel lagu-lagunya L'Arc~en~Ciel, One OK Rock, My First Story, dll. Hehe.... I had ever into J-Pop u know!

Oke, cukup deh prolog dari aku. Mari kita langsung bahas soal bukunya. Sebetulnya aku udah tertarik baca buku ini sejak awal rilis dulu, ya penasaran aja sih. Cuma yah, kelindes sama buku-buku lain, hiks.

Satu hal yang paling aku suka dari buku ini adalah world building-nya alias penggambaran suasananya. Berhubung buku ini menceritakan mengenai anak band beserta dengan roadshow-nya, jadi isinya ya nggak jauh-jauh dari kegiatan anak band. Entah manggung, bikin lagu, syuting, dll. Aura musik dan band-nya kerasa banget. Terus dari sini aku juga baru tahu kalo tugas seorang manajer artis itu ternyata ribet banget, apalagi kalo artisnya itu Keanu yang—haduhhh—semaunya sendiri. Suka muncul dan ngilang sesuka hati, bicaranya sesuka udel. Eh, tapi, tapi, tapi ... Keanu itu ganteng banget. Bibir kissable-nya itu loh nggak nahan!!!

Konflik yang disuguhkan bukanlah konflik yang rumit. Yah semacam hate to love antara Aya dan Keanu. Manajer dan vokalis band. Alur cerita yang dipakai adalah alur maju dengan beberapa flashback di bagian yang memang perlu. Twist-nya oke meski dari awal aku udah bisa menebak. Bisa dibilang eksekusi buku ini oke punya. Gaya menulisnya simpel dan enak dibaca, nggak bertebaran quotes yang kadang malah bikin ambigu di sana sini.

So far aku nggak ada masalah sama karakternya. Baik Aya atau Keanu masing-masing punya karakter yang kuat. Aya disiplin, Keanu seenaknya sendiri. Chemistry yang terbangun antara Aya dan "Keanu" Kevin berasa natural. Hubungan mereka dikemas menarik sebagai manajer dan artis (vokalis band). Oh ya, Keanu itu punya kakak kembar identik lho. Namanya Kevin. Kevin ini kayak mirror-nya Keanu, secara fisik sama dengan Keanu. Bedanya kalo Keanu itu bebas dan suka bersenang-senang, Kevin ini pendiam dan jadi kebanggaan sang papa. Mereka berdua sama-sama kuliah hukum, tapi yang lulus dan berhasil jadi pengacara Kevin. Keanu? Dia mah emang jalannya bukan ke sana.

Untuk endingnya nggak seperti ekspetasiku, tapi tetep oke kok—dan aku bisa menerima endingnya. 

Kesimpulannya buku ini layak dibaca. Aku rekomen buat kalian yang suka dengan karakter cowok anak band, bad boy gitulah. Ceritanya agak beda dengan novel metropop pada umumnya. Penulis 'menjiwai' tulisannya, karena pada saat membaca kita bener-bener seperti masuk ke dalam ceritanya dan merasakan emosi para karakternya. Buat aku buku ini juga termasuk page turner.

July 31, 2019

[Book Review] Romansick - Emilya Kusnaidi

Judul: Romansick
Penulis: Emilya Kusnaidi
Genre: Metropop
Bahasa: Indonesia
Tebal: 280 halaman
Rilis: 5 Februari, 2015
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020312781
Harga: IDR. -
Rate: ★★½



B l u r b :

Her life was almost perfect. Pekerjaan sebagai editor di majalah fashion ternama, rekan kerja yang baik hati meskipun doyan gosip, serta dua sahabat cowok yang selalu ada ketika dibutuhkan. So what a girl could ask for more? Well, please underline the ‘almost’ part.

Audrey ‘Dre’ Kahono jatuh cinta setengah mati dengan Eren,sahabatnya––namun nggak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan hal itu. Sebuah pengakuan mendadak dari Eren membuatnya terseret dalam insiden penuh kesialan yang berujung pada serentetan drama baru; pertemuan tanpa sengaja dengan Austin yang moody setengah mati, insiden di pelataran parkir, dan belum lagi soal liburan ke Bintan yang mendadak namun berakhir mengejutkan!

Austin yang persisten mendekati Dre membuat Dre kesal tapi lama-lama suka. Nah, masalahnya, ketika Dre mulai dekat dengan cowok lain, Eren malah kelihatan uring-uringan. Belum lagi drama antara Dre dan Eren berakhir, Austin malah menambah drama baru dalam hidupnya...

*

Jujur aku perlu waktu sekitar dua mingguan buat kelarin buku ini. Pertama, pikiranku lagi morat-marit. Kedua, aku nggak konek-konek sama feel-nya, baru setelah halaman 200 aku baru ngerasain, itu pun nggak jleb-jleb amat, cuma yah ... pokoknya konek.

Awal baca aku udah nggak ngerasa nyaman dengan gaya nulisnya. Hm, gimana ya, bahasanya gado-gado alias campuran Indo-English. Tulisan seperti ini biasanya aku nemu di bukunya Babang CS, tapi cara meramunya beda jadi bisa tetep enak dibaca. Nah, di sini aku bener-bener nggak ngerasa nyaman bacanya, malah di aku kesannya lebay. Satu kalimat itu susunannya bisa Eng-Indo-Eng. Aduh, beneran bikin selera baca jadi menguap. Mungkin karena ini juga feel-nya nggak konek-konek di aku. Weits, ini subjektif lho, bagi orang lain mungkin aja beda.

Kalo ceritanya sendiri sih buat aku terlalu menye-menye di awalnya. Si Dre galau batin mulu kena friend zone, cemburu, curhat ke Tara. Ya gitu deh. Terlalu repetitif. Maksudku nggak ada apa kek atau gimanalah yang bikin pembaca itu penasaran. Konflik yang B aja seperti ini harusnya diimbangi dengan eksekusi yang menarik. Sorry to say, di sini nggak kayak gitu. Singkatnya buku ini punya alur cerita yang flat banget (buat aku).

Aku nggak begitu suka sama karakter Dre, kesannya dia itu childist. Sama Austin juga B aja. Yang suka sih sama Tara, wkwkwk. Asik aja gitu. Kalo sama Eren, aku sama sekali nggak klik.

Oh iya, di halaman 238, itu ada salah sebut nama: Seharusnya Eren senang bisa berduaan dengan Eren. Maksudnya Dre kali ya? 


Q u o t e s :

"Getting drunk is like borrowing the happiness from tomorrow." [Austin] - h. 166