January 21, 2019

[Book Review] Move Like Jagger - Christian Simamora

Judul: Move Like Jagger
Penulis: Christian Simamora
Halaman: 366 halaman
Genre: Adult Romance (21+)
Tahun: November, 2018
Penerbit: Penerbit Toro
ISBN: 978602534619
Harga: IDR. 97.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

NẾU BẠN ĐANG NGHĨ VỀ MỘT AI ĐÓ TRONG KHI ĐỌC ĐIỀU NÀY,
BẠN CHẮC CHẮN ĐANG YÊU. 

(Kalau kamu memikirkan seseorang saat membaca ini,
artinya kamu memang sedang jatuh cinta.)


YANG BELLA TAHU TENTANG JAGGER SUDARSO:
- Nggak bisa diajak ngobrol basa-basi.
- Nggak sudi diganggu karena lagi baca buku—euh, David Baldacci itu penulis novel apaan sih?
- Nggak ada angin, nggak ada hujan, malah disangka suami Bella!

Perjalanan kali ini benar-benar apes. Nggak hanya penerbangannya dialihkan dan membuat Bella harus menginap semalam di Hong Kong... eh, malah dituduh sudah menikah! Bisa-bisanya, hanya karena bernama belakang sama—dan kebetulan duduk bersebelahan di pesawat—dia dan cowok judes itu dikira pasangan suami-istri. Memang sih, dengan cepat mereka mengatasi kesalahpahaman itu, tapi tetap saja terpaksa harus berbagi kamar yang sama.

Awalnya, karena sama-sama butuh beristirahat di tempat tidur yang nyaman, Bella mencoba untuk sedikit lebih akrab dengan Jagger. Dia juga tak keberatan ditemani ngemil di minimarket sebelah hotel. Tapi, tak disangka-sangka, Bella bisa lebih dari sekadar bertoleransi dengan cowok itu. Malah, malam itu berakhir dengan lebih dari sekadar ciuman persahabatan di pipi.

Meski begitu, Bella tahu diri. Kedekatan ini nggak lebih dari sekadar pengalaman menarik dalam perjalanan, bukan bab pertama cerita cinta baru. Semuanya otomatis berakhir ketika mereka menginjakkan kaki di Indonesia.

Harusnya sih gitu ya....

Tapi kenapa kemudian Bella malah jadi plus one di pernikahan abang Jagger?

S t o r y l i n e : 

Cuaca buruk menyebabkan pesawat yang ditumpangi Bella dan Jagger harus singgah di Hong Kong. Para penumpangnya diberi fasilitas berupa sebuah kamar hotel untuk beristirahat semalam sebelum kembali melanjutkan penerbangan keesokan harinya. Bella dan Jagger yang memiliki nama belakang sama ditempatkan pada sebuah kamar yang sama karena dianggap sebagai pasangan suami-istri. Mereka sama-sama nggak mau dong, apesnya nggak ada kamar hotel yang tersisa malam itu. Semuanya penuh!

Yah, mau nggak mau mereka akhirnya berbagi kamar. They have no choice!

Karena Bella kelaparan, mereka akhirnya menuju sebuah minimarket yang ada di dekat hotel. Dari duduk bersama, mereka akhirnya terlibat obrolan. Bella yang mengetahui alasan Jagger hendak kembali ke Jakarta merasa geram. Yakaleeee abang nikung adik sendiri. Akan tetapi ketika Jagger balas menanyai Bella, cewek itu cenderung menutup diri, nggak mau cerita soal relationship-nya.

Dan kembali ke kamar hotel, malam mereka berakhir panas.

Setelah pesawat yang mereka tumpangi, finally, mendarat di Jakarta, Jagger dijemput oleh saudaranya dengan maksud langsung ke pernikahan abangnya, Michael. Bella yang saat itu kebetulan berdiri di dekat Jagger, diakui Jagger sebagai pacarnya.

Yuhu, permainan dimulai!

Jagger memang kelihatan oke-oke aja, tapi dalam hati meradang juga. Habisnya siapa yang nggak meradang lihat mantan bersanding dengan abang sendiri di pelaminan? Ugh! 
Dengan persiapan sekenanya, Bella berhasil berpura-pura sebagai pacar baru Jagger. Bahkan banyak yang bisik-bisik kalau Bella lebih cantik daripada Marissa,

Lalu, apa hubungan mereka selesai sampai di sini?
Oh, tidak semudah itu, Ferguso!

Jagger nggak bisa memungkiri ketertarikannya pada Bella lebih dari sekadar fisik. Sayangnya Bella malah mati-matian menepis perasaannya, padahal dia ada hati juga sama Jagger. Usut punya usut, ternyata Bella masih trauma karena dibohongi oleh mantan pacarnya. Bahkan gara-gara kejadian itu dia dipermalukan di lobby kantor. Hm, Bella sih mau hubungan yang meaningless, tapi Jagger-nya terlanjur jatuh cinta.

Tenang, meski ditolak ketika berada di Jakarta, Jagger nggak menyerah kok. Dia tetap ngejar Bella sewaktu mereka sudah kembali ke Hanoi.

K a r a k t e r : 

Jagger: Cowok 28 tahun ini good looking banget. Merasa dikhianati sang abang, serta dinomorduakan oleh ibunya membuat Jagger ogah kembali ke Indonesia dan memilih untuk tinggal di Hanoi. Playboy? Nggak kok. Jagger ini cowok paling 'lembut' yang pernah diciptakan Babang CS.

Bella: Hal paling memalukan yang pernah terjadi dalam hidupnya terjadi di lobby kantor. Tak hanya dipermalukan, namun juga dibohongi dan dipatahkan hatinya. Untung si bos berbak hati memberinya sebuah promisi di Hanoi.

Michael: Abang Jagger a.k.a si tukang tikung.

Marissa: Mantan Jagger yang sekarang jadi istri Michael.





"Gue cuman kelewat optimis bisa jadi pacar yang baik buat lo—dan ngira pengakuan gue bakal happy ending. Maafin ya." [Jagger] - h. 261.

Yang aku rasakan saat baca buku ini → fresh, fun, and happy!

Mungkin dari semua tulisan Babang, buku ini terasa paling 'simple'. Hampir setengah bagian pertama berkutat untuk mendekatkan Jagger dan Bella. Terlalu panjang sih menurutku, untungnya masih diimbangi dengan perbincangan yang menarik, dalam kasus ini kisah mellow-nya Jagger yang ditikung abang sendiri. So, suasananya excited. Cuma akibatnya berasa jomplang, karena semalam suntuk dihabiskan di setengah bagian depan, sisanya buat pengejaran Jagger, mengungkap masa lalu Bella, dst.

Hm, tapi di sisi lain buku ini fun. Dalam artian bisa memberikan sensasi menyenangkan saat dibaca. Gaya berceritanya kekinian banget, khas Babangse lah ya! Intinya buku ini cocok dibaca buat have fun, sama sekali nggak menguras otak dan guyonannya fresh.

Karakter Jagger sendiri menurutku agak berbeda dengan karakter-karakter di buku Babangse lainnya. Jagger did random sex, but he is not a jerk. Nggak ada bau-bau brengsek yang menguar dari Jagger. Malah menurutku dia sweet dan baperan. Wakakak!

Intinya buku ini → simple tapi nggak bosenin.

Kalau kalian lagi jenuh dengan bacaan yang menguras otak, mungkin bisa baca buku ini buat perenggangan😂 Eh, but it's adult romance ya. For underage, sorry, you cannot meet Jagger & Bella.

Oh ya, waktu scene Bella stalking IG-nya Jagger, aku iseng-iseng ikutan nyari nama Jagger Sudarso di IG, dan ternyata nggak ketemu gaes! Wakakak.... Sumpah ini paling gaje, sebelumnya nggak pernah sampai segininya.

January 02, 2019

[Book Review] My Possessive Junior - Ervina Karim

Judul: My Possessive Junior
Penulis: Ervina Karim
Halaman: iv+190 halaman
Genre: [Nggak ada labelnya, aku labelin YA aja deh]
Penerbit: Venom Publisher
Tahun: Mei, 2018
Penyunting & Layout: Julia Inna Bunga
Desain Kover: Evi Fhe
ISBN: -
Harga: -
Rate: ★☆☆☆☆


Apa gue mesti jadi luka supaya tetap ada dalam hidup lo? - h. 103

S t o r y l i n e :

Marvel adalah cowok SMA usia 17 tahun yang mendadak jatuh cinta pada Avie, cewek kuliahan yang lima tahun lebih tua daripada dia. Cara pendekatan Marvel yang frontal 'agak-agak' mengganggu Avie. Aku bilang 'agak' karena memang aku lihat Avie nggak sepenuhnya terganggu kok. Marvel bahkan nggak peduli sama Avie yang menyukai Noel. Bagi Marvel, Avie adalah cinta matinya.

[Aku nggak menuliskan storyline panjang-panjang karena memang intinya cuma begitu aja, si Marvel yang suka sama Avie.]


K a r a k t e r :

Avie → Cewek yang 'euuuuuh' banget. Nggak tegas dan cenderung gampang termehek-mehek. Ngakunya di hati cuma ada Noel, tapi dirayu Marvel tersipu-sipu. Zzz~

Marvel → Playboy cap botol kecap yang ngakunya jatuh cinta beneran sama Avie. Sok-sokan paling cakep, frontal, semaunya sendiri. Hzzz, bukannya terpesona, aku malah ilfil. Padahal aku ini penggemar bad boy loh, except this one. Karakternya enggak banget.

Dea → Teman sekaligus kakak Marvel.

Noel → Gebetan Avie.

Galang → Adik Avie sekaligus sahabat Marvel.


P e n u l i s a n   &   K o r e k s i :

1. Lihat kover pandangan langsung kabur. Lah iya soalnya kovernya pecah-pecah mirip tumit sama sikuku. Hzzzz~

2. Di kover depan nama penulisnya Ervina Karin, tapi di bagian dalam Ervina Karim. Niat banget typo-nya😪

[Ini aku sama sekali belum baca loh, tapi selera baca udah drop duluan. Oke, lanjut....]

3. "Mungkin gue baik, ramah, nggak jutek...." [Prolog - Avie]
→ Yang bisa nilai kamu kayak gimana itu orang lain, Sayang. Bukan kamu sendiri, oke?!

4. Dan ... aku disambut oleh typo lagi di bagian prolognya Marvel 😑 Terus kata shit yang harusnya miring juga tegak-tegak aja tuh.

5. POV-nya campur. Ada POV satu, ada POV tiga terbatas, ada POV tiga serba tahu. Mana tiap pergantian ditulis: Avie POV, Author POV. Duh, sumpah nggak rapi banget!

6. Bahasa yang dipakai nggak baku, baik itu dalam narasi ataupun percakapannya. Tapi sekali lagi plis, tetap ada aturannya. Nulis buku bukan suka-suka kayak nulis diary atau curhatan di sosmed ya.

7. Typo, tanda baca, kata depan, awalan, penggunaan huruf besar dan huruf kecil, kata dan kalimat yang harusnya ditulis miring kacau balau. Oke, mungkin ke belakangnya aku bakal abaikan ini dan fokus ke plot aja. Aku anggap buku ini ditulis suka-suka, yang bodo amat sama KBBI dan kawan-kawannya. Btw aku masih di bab satu awal banget.

8. Pertama kali ketemu sama Avie, Marvel langsung ngecup pipi Avie sampai basah. Refleks Avie bukannya nampar atau menjauh, eh malah termehek-mehek sama ketamvanan Marvel. [- h. 10]
→ Okelah, Marvel ganteng, tapi apa segitunya Avie nggak punya harga diri? Kalau aku jadi Avie sih bisa dipastikan bola kembar Marvel nggak bakal selamat.
→ Marvel juga, amit-amit dah. Ada temen kakaknya cantik langsung disosor aja. Part ini jujur bikin aku otomatis komen: wagelaseh!
Ngecup pipi sampai basah. Dicipok? Dijilat? Diemut? 😂
→ Sumpah aku langsung ilfil sama kedua mahkluk ini. Yang satu main sosor aja, yang disosor juga malah termehek-mehek. *asdfghjkl!

9. Marvel menyukai Avie secara instan.
→ Mau makan mi instan aja butuh proses, harus dimasak dulu. Nah ini? Tiba-tiba aja Marvel ngecup pipi Avie pas Avie lagi nungguin Dea (kakak Marvel). Terus seenak udel bilang suka, cinta, kamu milikku, kamu pacarku? Posesifnya si Marvel ini nggak beralasan.
Duh, fiksi sih fiksi. But where's the logic?

10. Kedua bola mataku terbelalak histeris. [- h. 10]
→ Bola mata terbelalak? Nggak bisa bayangin deh gimana bentuknya. Yang terbelalak itu kelopak mata, oke?!

11. Quote [- h. 11]
→ Penulisan aku dan kamu pakai A dan K besar, padahal aku dan kamu di situ bukan awal kalimat. Hell-to-the-O, penulisan seperti itu mengarah ke Tuhan. Berhubung gue dan lo bukan Tuhan, jadi pakai a dan k kecil aja.

12. Marvel yang langsung bilang kalau Avie adalah miliknya, pacarnya tanpa ada alasan. Padahal waktu itu dia baru aja ketemu sama Avie.
→ Marvel sehat? Mau nambah micin mungkin?

13. ...Queen of School di sekolah luar biasa ini?
→ Mungkin bisa pakai pilihan kata yang lain? Sekolah luar biasa aku bayanginnya kok SLB. Tahu kan SLB itu sekolah yang kayak gimana?

14. Bola mata terbelalak sempurna. [- h. 48]
→ Eh muncul lagi bola mata yang terbelalak. Next kalau muncul lagi nggak bakalan aku koreksi.

15. It's show time! [- h. 58]
→ Get ready? It's show time! Nah, mendadak ingat iKON.
*Abaikan yang ini ya. Bukan koreksi kok, cuma lucu-lucuan aja*

16. Bigbang! [- h. 59]
→ Woy! Kenapa bawa-bawa Big Bang sih, nggak tahu apa gue ini VIP sejak 2008.
*Abaikan yang ini ya. Bukan koreksi kok, cuma lucu-lucuan aja*

17. He's a player casanova. [- h. 62]
→ Um, kalimat ini maksudnya gimana, ya? Kalau memang mau bikin kalimat umpatan, He's a player aja cukup. Nggak usah ada embel-embel casanova, jadi tumpuk-tumpuk ah. Btw tahu nggak siapa itu Casanova? Kalau belum tahu tanya Eyang Gugel yak!

18. "He messes with girls and plays them like toys." [- h. 71]
→ Messes? *seketika ingat meses ceres*
#RIPEnglish 😭

19. "What do you do when I sleep?" [- h. 83]
→ Struktur kalimatnya bener-bener polosan nggak ada campur tangan tenses-nya. Padahal mengarah ke past tense. Tolong diperhatikan ya, sewaktu menulis kalimat atau apa pun dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, tolong pakai banget kuasai dulu. Kalau dibaca yang ngerti sih palingan cuma geleng-geleng kepala, tapi gimana kalau dibaca orang nggak ngerti dan mereka anggap kalimat itu benar? Wah, menyesatkan dong jadinya. Menulis buku itu bukan cuma sekadar hobi untuk mengisi waktu luang, tapi juga memberikan informasi kepada pembaca. So, jangan memberikan informasi yang menyesatkan ya. Kalau memang nggak menguasai bahasa asing, tanya dulu sama ahlinya. Atau, yang paling aman pakai bahasa Indonesia aja. Kuasai dulu bahasa Ibu, baru nambah bahasa lainnya.

20. Avie yang terkesan nurut aja sama Marvel. Katanya benci, tapi kesannya nggak bisa nolak.
→ Fix, authornya masih belum berhasil membangun karakter. Avie ini 22 tahun lho, harusnya sudah bisa ambil tindakan. Masak gara-gara Marvel tahu kalau Avie suka sama FF NC aja dia jadi susah nolak? Padahal semua tindakan Marvel ke Avie ini bisa dibilang 'sakit'. Macam fanboy freak yang terobsesi sama Jennie BlackPink.

21. "Silence. You are right. Aku akan...." [- h. 85]
→ Wait! Wait! Yang benar 'shut up!', bukan 'silence', pas ini si Marvel juga lagi marah lho! Sepintas maknanya memang sama, tapi beda. Sekali lagi, kuasai sedetail apa pun yang kamu tulis.

22. Deno yang penasaran secantik apa Avie. [- h. 92]
→ Lah? Bukannya mereka udah pernah ketemu? Waktu si Marvel nyamperin Avie di kampus, tiba-tiba datang 3 motor. Mereka Deno, Galang, dan Helmi, kan? [- h. 51]

23. "I don't care if you say's you never mine. 'Cause for me, you are mine. Now and forever. Remember that's!" [- h. 98]
#RIPEnglish

24. "Nothing reason for fall in love with you. 'Cause if you love someone, one again, nothing reason for that's." [- h. 127]
#RIPEnglish

25. 16.20 PM In Jakarta [- h. 163]
→ Kalau pake AM/PM formatnya 12 jam ya, bukan 24 jam gini. Siapa pun tahu kalau 16.20 itu udah lewat 12 siang, jadi nggak perlu ditambah PM lagi sebagai penunjuk. Beda kalau formatnya 12 jam, kudu dikasih keterangan AM/PM biar tahu itu sebelum/setelah jam 12 siang.
→ In di tengah I-nya pake huruf kecil ya. Kenapa? Ya emang gitu aturannya.


*Tarik napas dalam-dalam sebelum lanjut....*

Oke, jadi awalnya aku baca ebook ini karena dimintai tolong oleh author-nya untuk mereview. Dan posting review-an ini juga atas permintaan author.

Pertanyaanku yang paling mendasar: Ini editornya kerja? Seriusan menguasai KBBI dan kawan-kawannya?

Pertama kali ngelihat kovernya, aku pikir ini adalah buku dengan cerita 21+, ternyata aku kecele. Tokoh utama dalam buku ini anak SMA dan anak kuliahan. Storyline-nya benernya simple banget, cuma tentang Marvel yang mabok cinta sama Avie, sementara Avie susah mengakui karena Marvel lebih muda, um berondong jagung lah ya. Dari storyline yang sangat sederhana seperti itu harusnya diimbangi dengan bumbu-bumbu apa kek biar menarik. Sayangnya buku ini nggak, ditambah dengan penulisan dan premis yang euhhhh~ So, so, so sorry to say: this book has no interest!

Coba aja kalau plotnya dibikin gini:
Marvel naksir sama Avie, tapi Galang selaku adeknya Avie nggak setuju. Karena Galang yang juga sahabat Marvel tahu banget kebusukannya Marvel yang suka main cewek. Lalu Noel yang disukai oleh Avie bikin Avie patah hati (terserah gimana patah hatinya). Keadaan Avie yang patah hati dijadikan celah oleh Marvel untuk mendekat. Terus mereka dekat deh. Nah, Galang yang nggak setuju dengan berbagai cara mencoba untuk menghalagi hubungan Marvel dan Avie. Sampai pada puncaknya Marvel dilukai Galang yang bikin persahabatan Avie dan Dea retak. Dan seterusnya.... [Kan ini cuma misal aja, jadi ada twist-nya gitu lho!]

Oke, cerita ini tokohnya memang anak SMA dan anak kuliahan, tapi karakter Marvel diceritakan suka gonta-ganti cewek buat teman bobok dan have fun aja. Hm, nggak apa-apa sih, mengingat zaman sekarang gaya hidup seperti itu sudah umum, apalagi di kota-kota besar. Hanya saja, saranku bangunlah karakter utama yang lebih positif. Nakal dan brengsek itu wajar kok. Tapi buatlah ending yang menyenangkan buat si karakter utama. Marvel memang kelihatannya tobat sih, tapi prosesnya nggak terlalu kentara. Yang ditonjolkan dalam cerita ini cuma posesifnya Marvel ke Avie. Avie sebagai cewek juga nggak banget, haha.... Seganteng-gantengnya cowok yang main sosor aja, masak refleksnya cuma bengong karena terlalu terpesona? Minimal teriak kek, atau didorong. Lagian Avie baru pertama kali ketemu sama Marvel.

Selain posesif, mungkin yang ingin disampaikan oleh penulisnya adalah bahwa cinta tidak mengenal usia. Tema yang sudah sangat umum, hanya saja andaikata pengemasannya menarik pasti responku bakal beda. MPJ ini cenderung flat, nggak ada twist, dari segi penulisan dan diksi juga masih perlu lebih banyak belajar. Diksinya masih terlalu biasa untuk sebuah cerita yang diharapkan bisa membuat orang baper.

Saranku buat author:
Untuk penulisan yang baik dan benar, mungkin kamu bisa baca buku-buku terbitan Gramedia atau Elexmedia yang setahuku dari segi penulisan oke punya. Sedangkan untuk plot, karakter, dll kamu harus banyak membaca. Bacalah buku yang berkualitas ya. Sebelum memutuskan untuk menulis, riset dulu, juga kuasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Karena menulis ada aturannya, nggak seperti curhat di sosmed yang seenak jidat. Aku dulu juga gini kok, nulis aja apa yang ada di kepala. Tapi sekarang setelah banyak membaca dan belajar, aku baca naskah lamaku jijay sendiri. Berantakan parah! So, jangan malas untuk belajar kalau mau tulisan kamu berkualitas. Keep writing ya~ And thank you for giving me chance to read your book 😃💕

December 25, 2018

[Book Review] Purple Prose - Suarcani

Judul: Purple Prose
Penulis: Suarcani
Genre: Metropop (17+)
Halaman: 304 halaman
Penerbit: GPU
Tahun: Oktober, 2018
ISBN: 9786020614137, 9786020614144 (Digital)
Rate: ★★★★☆
Harga: IDR 79.000



Jakarta memang menyelamatkan masa depannya, tapi tidak bisa melindunginya dari masa lalu. Dan, masa depan yang damai tidak akan tercipta jika kita masih takut pada masa lalu. - h. 15 

B l u r b :

Tujuh tahun lalu, kematian Reza membuat Galih lari ke Jakarta. Namun, penyesalan tidak mudah dienyahkan begitu saja. Ketika kesempatan untuk kembali ke Bali datang lewat promosi karier, Galih mantap untuk pindah. Ia harus mencari Roy dan menyelesaikan segala hal yang tersisa di antara mereka.

Roya begitu terkurung dalam perasaan bersalah. Kanaya, adiknya, menderita seumur hidup karena kekonylannya tujuh tahun lalu. Roya merasa tidak memiliki hak untuk berbahagia dan menghukum dirinya secara berlebihan. Kehadiran Galih mengajarkan Roya cara memaafkan diri sendiri.

Saat karier Galih makin mantap dan Roya mulai mengendalikan haknya untuk berbahagia, karma ternyata masih menunggu mereka di ujung jalan.


Karena takdir bukan sesuatu yang bisa dijelaskan hanya dalam satu perdebatan. Sama halnya dengan kebenaran. Sejauh mana pun mereka membicarakannya, tidak akan jelas siapa yang benar maupun siapa yang salah. Semua tergantung pada sudut pandang. - h. 31
Kadang mereka yang terjerumus ke dalam dunia itu memang hanya berlari di lingkaran. Perlu tekad yang benar-benar kuat, tenaga besar untuk bisa menyerong keluar. - h. 68 

S t o r y l i n e :

Ketika Galih dimutasi dari Jakarta ke Bali, mamanya begitu menentang. Sang mama tidak mau Galih kembali bertemu dengan teman-teman semasa kuliahnya, yang membuat Galih terbelenggu dalam lingkaran setan. Namun Galih menganggap jika ini adalah sebuah kesempatan yang bagus karena dia dipromosikan sebagai Area Sales Manager menggantikan Pak Suryawan. Akhirnya, dengan berat hati mamanya melepas Galih dengan janji Galih tidak akan lagi bertemu dengan teman-temannya terdahulu. Padahal tanpa sepengetahuan sang mama, di Bali Galih berniat mencari Roy, temannya yang membuat Reza meninggal.

Kepindahan Galih ke Bali berjalan lancar. Semua staf menyambutnya dengan antusias dan ramah, kecuali Roya yang sama sekali tidak menaruh perhatian khusus seperti yang launnya. Perempuan itu terkesan cuek.

Galih merasa jika semua ini tidak seburuk yang dibayangkan, dia merasa baik-baik saja. Hingga suatu hari seseorang yang dulunya adalah teman kuliahnya lewat di depan kontrakannya dan mengenalinya. Galih hendak mangkir dengan berpura-pura tidak kenal, akan tetapi itu tidak mungkin. Jadilah kedua teman lama itu mengobrol, bahkan teman-teman lamanya yang lain juga ikut berkunjung. Nama Roy tanpa sengaja terlontar oleh salah satu temannya, yang seketika membuat Galih meradang dan menanyakan alamat baru Roy. Setelah mendapatkannya, tanpa pikir panjang Galih mendatangi Roy yang ternyata kehidupannya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat.

Di sisi lain Roya mengenali Galih, dia yakin Galih adalah pemuda babak belur yang pernah ditolongnya dulu. Walau begitu Roya berusaha mengabaikan dan hanya fokus pada pekerjaannya. Sikap Roya ini menarik perhatian Galih, lelaki itu merasa heran karena Roya tidak seperti teman-temannya yang lain. Terlebih Roya ini hanya bisa meminta maaf jika dibentak atau disalahkan oleh teman-temannya.

Galih sering kali menggoda Roya, mencandainya hingga perempuan itu salah tingkah. Sampai akhirnya Galih mengutarakan perasaannya pada Roya. Sempat menganggap ungkapan perasaan Galih itu hanyalah candaan, Roya akhirnya bisa merasakan bila lelaki itu benar-benar menyukainya.

Waktu terus berjalan, hubungan Galih dan Roya masih sembunyi-sembunyi. Selain karena peraturan kantor yang melarang para karyawannya untuk menjalin hubungan, Roya juga belum siap untuk memperkenalkan Galih pada keluarganya. Dalam hati, Roya masih beranggapan kalau dia tidak layak bahagia sementara adiknya trauma seumur hidup karenanya.

Pertemuan Roy dan Roya mengubah segalanya. Roy memberitahu Galih siapa Roya sebenarnya. Hal itu membuat Galih ketakutan, dia sempat lari dan menghindari kekasihnya itu. Akhirnya karena tidak kuat menanggung dosa di masa lalu, Galih berusaha menghadapinya. Meski itu artinya dia akan kehilangan Roya.


"...aku pikir cara terbaik untuk menang atas masa lalu adalah dengan menghadapinya." - h. 106
Masa lalu ternyata tetap menjadi hantu-hantu yang mengganggu mereka dengan cara yang sama. - h. 132
...rasa bersalah itu seperti jamur di kulit. Jika tidak dicabut sampai ke akarnya, maka akan tumbuh lagi. - h. 164 

K a r a k t e r :

Galih → Laki-laki yang humoris, apa aja dijadikan candaan. Namun di balik semua itu tidak ada yang mengetahui jika dia pernah menjadi seorang pendosa di masa lalu.

Roya → Perempuan aneh yang suka membakar dupa untuk menenangkan diri. Peristiwa yang dialami adiknya tujuh tahun lalu membuatnya merasa tidak pantas untuk berbahagia dan terus-terusan menyalahkan diri sendiri.

Kanaya → Adik Roya yang memiliki trauma.

Roy → [Aku bilang sih ya, ini orang the real bajingan. Nggak peduli dia udah tobat sekalipun aku tetep nggak bisa maafin]

"Kamu boleh saja lari dari kenyataan, tetapi tidak dariku." [Galih] - h. 171
"Aku memang bodoh, tetapi bukan berarti tidak paham. Aku mengerti kapan aku diinginkan, sadar juga ketika aku tidak diharapkan." [Roya] - h. 231 

P e n u l i s a n :

Seperti salah satu buku karya Suarcani yang aku baca tahun lalu, tulisan-tulisannya masih jago banget ngaduk-ngaduk emosi. Kayaknya penulisnya ahli bikin orang nyesek tapi pengin terus baca deh. Wkwkwk....

Mulai dari penulisan sampai setting tempat, semuanya oke. Aku nggak akan komentar apa-apa karena memang nggak ada yang perlu dikomentarin. Eh, ada satu yang ganjal, di halaman 174 ada kalimat: "Yes, you can and you have done it."
Hm, kata done itu setahuku selalu diletakkan di akhir kalimat, alias nggak ada buntutnya.

"Karma itu seperti asap, Ya. Dia selalu ada di udara, walau tidak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan datang untuk menagih pertanggungjawaban." [Galih] - h. 289

Wah, setelah tahun lalu hatiku diporakporandakan sama Ghi dan Kei, sekarang giliran dibikin nyesek sama Galih dan Roya. Sebetulnya di bab-bab awal aku udah bisa nebak twist-nya, tapi aku kepo sama penyelesaiannya, juga sama hubungan Galih dan Roya. Karena yah, kisah dalam buku ini tuh kayak benang ruwet, susah diurai.

Seperti Welcome Home, Rain, novel ini mengusung kisah yang kelam dan aku pikir topik yang diambil sama beraninya juga. Bedanya sih Purple Prose menunjukkan kalau penulisnya lebih matang aja, kelihatan dari tulisannya yang lebih rapi dan lebih enak dibaca.

Kalau dari segi cerita sih aku suka ini daripada Welcome Home, Rain. Tapi bagiku emosinya lebih ngena si Ghi dan Kei. Hm, mungkin ini pengaruh akunya yang lebih suka tokoh-tokoh YA ya. So, bagi yang suka cerita dengan aura kelam, buku ini rekomen banget buat kalian. Dijamin nggak bakal nyesel meski mungkin kalian bakalan sebel karena nyesek banget, hehe.

December 13, 2018

[Book Review] Star of You - Shan A. Fitriani [Platinum Edition]

Judul: Star of You
Penulis: Shan A. Fitriani
Genre: Romance
Halaman: 296 halaman
Tahun: September, 2018 (Cetakan ketiga)
Penerbit: Namina Books
ISBN: 9786025109379
Harga: IDR 79.000
Rate: ★★½




B l u r b :

Emily sangat mencintai seorang pria yang terpaut delapan tahun lebih tua darinya, sejak ia masih kecil. Rasa cintanya bermula ketika pria itu menolongnya saat ia masih berumur sembilan tahun. Walau pria itu sejak dulu sering bersikap dingin dan mengeluarkan kata-kata pedas, hal itu tidak pernah menyurutkan rasa cintanya. Baginya, Eric cinta pertama dan terakhirnya. Bagi Eric, Emily tidak lebih dari seorang pengganggu dan perusak hari-hari. Entah kenapa dia begitu benci melihat Emily. Ia selalu menyuruh gadis itu pergi, tapi gadis itu malah tersenyum dan terus kembali ke sisinya. Suatu hari ia melakukan hal yang melebihi batas sehingga Emily tak hanya pergi dari hadapannya, melainkan juga pergi dari kehidupannya.

S t o r y l i n e :

Saat berumur sembilan tahun, Emily ditolong oleh Eric dari anak laki-laki yang hendak merebut permennya. Detik itu juga Emily jatuh cinta dan suatu hari ingin menikah dengan sang penolongnya. Namun sayangnya Eric malah mati-matian membenci Emily, menganggap gadis kecil yang rupanya adalah tetangganya itu begitu mengganggu.

Emily tidak menyerah. Delapan tahun kemudian gadis kecil itu sudah menjelma menjadi gadis remaja yang cantik. Meski begitu Eric sama sekali tak meliriknya.

Setiap bentakan maupun kata-kata kasar yang keluar dari mulut Eric diabaikan begitu saja oleh Emily. Walau selalu terlihat ceria dan tak tahu malu, Emily sebenarnya selalu menangis diam-diam. Terlebih ketika Emily mengetahui jika hati Eric masih terpaku pada cinta pertamanya dulu, Liza.

Suatu hari Emily pulang dan mendengar kabar kurang menyenangkan dari kedua orangtuanya. Mereka bilang terlilit utang dengan pemilik perusahaan tempat ayah Emily bekerja, plus jumlahnya tidak sedikit. Untuk melunasi sisa utang serta bunganya, pemilik perusahaan meminta Emily untuk menikah dengannya. Emily menimbang-nimbang dan berniat menolaknya karena dia hanya ingin menikah dengan pria yang dicintainya. Namun di hadapan kedua orangtuanya Emily meminta waktu untuk memikirkannya.

Saat dimintai tolong oleh ibu Eric untuk mengantar makan siang untuk Eric di kampusnya, Emily melihat kejadian yang begitu menohok hatinya. Eric tengah berciuman dengan Liza. Emily yang terbakar cemburu sontak menjambak rambut Liza yang berujung tamparan dari Eric. Tak hanya tamparan, Eric bahkan mempermalukan serta menghina orangtua Emily.

Berangkat dari situ, Emily akhirnya tahu keputusan apa yang harus diambilnya. Dia akan menerima lamaran pemilik perusahaan tempat orangtuanya berutang. 

Di sisi lain, Eric yang mengetahui Emily akan menikah menyerobot menemui Emily yang sudah dalam balutan gaun pengantin. Tanpa alasan yang jelas Eric meminta Emily membatalkan pernikahan itu. Sayangnya Emily malah menyuruhnya pergi.

Sehari setelah pernikahan Emily, Emily pergi ke Paris dan kembali ke Indonesia empat tahun setelahnya. Kepulangan Emily itu menjadi sebuah titik terang bagi Eric. Dia sama sekali tak peduli sekalipun Emily adalah istri orang. Dia akan membuat gadis itu kembali jatuh cinta padanya.

K a r a k t e r :

Emily → Gadis yang menganggap Eric adalah cinta matinya. Pantang menyerah sekalipun Eric selalu mengusirnya.

Eric [Joey] → Cowok yang amit-amit kasarnya. Dingin kek bongkahan gunung es yang bikin Titanic tenggelam. Sumpah nggak ada bagus-bagusnya ini anak. Untung ganteng.

Khira → Sahabat Emily.

Alex [Xavier] → Cowok cupu yang merupakan sahabat Emily dan Khira, yang ternyata adalah. . . . Ehm, pokoknya ini ganteng juga.

Alicia → Adik Alex.

Liza → Mantan Eric.

Molly → Si tukang bully yang aslinya cuma kesepian.

Aslan → Sohib Eric yang playboy abis, pacarnya selalu lebih dari satu.

P e n u l i s a n :

Ampunnn!!!!!
Aku hampir angkat bendera putih di halaman pertama prolog. Amit-amit typo bertebaran kayak ketombe, penggunaan tanda bacanya juga bikin sakit mata. Masa penggunaan tanda tanya kebalik seperti ini: ¿
Ini nggak cuma di satu kalimat aja lho, tapi SEMUA!!!

Terus penggunaan awalan, kata depan, imbuhan, dll PARAH. Aku nggak tahu buku ini gimana ngeditnya, yang pasti penulisannya asal. Istilah juga beberapa ngaco, misalnya: acuh, jengah, terjungkal. Cek KBBI plis....

Penggunaan kata ganti dia/ia.
Jangan semuanya dipakai, satu saja yang penting konsisten. Dalam satu kalimat tidak langsung masak ada dia dan ia? Pertamanya aku pikir mungkin dia untuk laki-laki dan ia untuk perempuan, eh ternyata nyampur kek gado-gado.

Tanda baca penutup kalimat langsung di sini pakai koma (,) bukan titik (.)
Walah, sejak kapan ada aturan nulis kayak gini?

Pendeskripsiannya kurang luas, kadang berlebihan, dan cenderung diulang-ulang. Yang rumah mewah, dapur indah, pria tampan, wanita cantik. Kalau udah tampan ya udah, nggak perlu diulang-ulang sampai aku muter mata sambil batin: Iya, iya. Eric ganteng. IYA, DIA GANTENG.

Aku juga pernah nulis buku, pertamanya memang asal nulis tanpa peduli tanda baca atau istilah yang amburadul. Tapi setelah ikut beberapa pelatihan, aku nyadar kalau tulisanku ternyata ampas dari segi penulisan. Sampai sekarang aku berusaha memperbaiki dan terus belajar. So, jangan anggap remeh typo, dkk itu ya. Beneran mengganggu proses membaca, aku nggak bisa menikmati ceritanya dengan enak.

Hal-hal yang menurutku kurang logis [Ini berdasarkan pendapatku, nggak tahu orang lain gimana]

Emily waktu itu umur 9 tahun, dibentak-bentak sama Eric dan dikatain bodoh malah senyum manis? [- h. 9]
→ Is that realistic? Anak umur segitu yang ada mewek terus lari. Secara waktu itu Eric dan Emily masih baru pertama kali ketemu. Masak iya anak umur 9 tahun dibentak orang asing malah senyum. Jangan-jangan anaknya yang nggak normal? Mana di sini orang asingnya dideskripsikan sebagai cowok yang menakutkan pula.

Setiap kali Eric bikin Emily nangis, emaknya Eric langsung nyeret nyuruh minta maaf.
→ Okelah. Tapi emak-emak ini nggak perlu berlebihan gini deh. [Waktu scene ini mereka udah gede. Emily SMA, Eric kuliah S2]

Emily yang dikit-dikit meluk Eric.
Wajar kalau Eric-nya eneg. Orang tiap ketemu main peluk-peluk nggak jelas. Sikap Emily juga menurutku terlalu kekanak-kanakan, padahal dia udah SMA. Cara ngomongnya kayak diimut-imutin. Well, di mataku ini sih bukan manja, tapi malah bikin eneg. So wajar kalau Babang Tamvan risi banget.

Pelukan Emily bikin Babang Tamvan eh, Eric sesak napas.
Yang benar aja?! Katanya Emily mungil?

Karakter Emily pas SMA menurutku sama aja kayak waktu umur 9 tahun, nggak berkembang.
Cara dia ngomong dan bersikap benar-benar nggak sesuai usianya. Lalu menurutku Emily ini adalah karakter yang TGTBT sewaktu dia SMA. Semua memandang dia cantik, baik, dibentak cuma senyum, diusir besoknya balik lagi tanpa sakit hati, pokoknya kayak malaikat. Tapi untungnya Emily dewasa sifatnya berubah, realistis lah seenggaknya.

Eric ngasih surat izin nggak masuk sekolah Emily langsung ke kelasnya [- h. 59]
Setahuku dan pengalamanku waktu sekolah dulu surat izin biasanya disampaikan oleh pengantar ke kantor piket atau TU. Nah, dari situ nanti sama staf yang bertugas baru disampaikan ke kelas yang bersangkutan. Bener gini nggak?

Merida, ibu Eric, yang menyampaikan kalau Sara, ibu Emily kecelakaan lewat catatan yang ditinggal di dapur. [- h. 66]
Emily nggak punya HP? Dia waktu itu lulus SMP sih. Kalau kidz zaman now pastinya punya, kan?

Emily yang nggak pernah masak tiba-tiba bisa masak steak yang enak, proses masaknya mahir pula. [- h. 76]
Haduh, jangankan steak. Goreng telur aja kalau masih pertama rasanya juga pasti nggak karu-karuan. Ente kira ini dalam kartun SpongeBob? Be realistic please.

Emily yang berdecak kagum sewaktu tahu betapa tingginya gedung perusahaan milik keluarga Eric.
Ini setting-nya di Ibukota loh, masak lihat gedung tinggi aja heran? Jangan norak dong, Em.

Emily yang heran lihat banyak mobil mewah terparkir sewaktu perayaan ulang tahun perusahaan milik keluarga Eric. [- h. 172]
Yaelah, Em.... Kan ente baru pulang dari Paris? Lihat mobil mewah kenapa terkagum-kagum sampai segitunya?

Perubahan sikap Eric setelah Emily kembali ke Indonesia dan menyadari kalau dia ternyata cinta mati sama gadis yang dulu sering dibentak-bentaknya tersebut.
Memang sih kalau udah cinta orang bisa berubah dari harimau jadi kucing. Tapi tolong dikondisikan sama sifat asli Eric yang di depan-depan digambarkan sebagai orang yang dingin banget. Sampai di sini aku bilang pembangunan karakternya gagal.

Eric kecelakaan pas nolongin Emily. Di sini dikatakan sendi kakinya putus. [- h. 220]
Sendi bisa putus? Bukannya dislokasi ya? Tahu sendi, kan?

Kevin, anak Emily-Eric umur 6 bulan sudah bisa bilang Papa, Daddy, Ayah. [- h. 280]
Aku kurang tahu ini tepatnya gimana. Cuma aku googling biasanya bayi mulai aktif ngoceh usia 9-12 bulan, ngomongnya udah rada jelas.

Setting tempat.
Kalau ngelihat nama-nama tokohnya, aku pikir ini setting-nya di luar negeri loh. Hampir nggak ada yang pakai nama Indonesia. Terus percakapannya juga pakai bahasa baku. Makanya aku sempat kaget waktu tahu kalau setting-nya di Ibukota. Nggak masalah sih, cuma bagiku kurang pas karena nggak cocok dengan suasana Ibukota yang notabene pakai bahasa gaul. Mungkin ada baiknya kalau percakapan disesuaikan dengan setting tempatnya.

Roda waktu yang aneh:

Pertama ketemu....
Emily → 9 tahun
Eric → 17 tahun

Delapan tahun kemudian....
Emily → 17 tahun
Eric → 25 tahun

Empat tahun kemudian.... [Emily balik ke Indonesia setelah sekolah di Paris]
Emily → 21 tahun
Eric → 29 tahun
Di sini disebutkan mereka menikah dan dua bulan kemudian Emily udah hamil 6 minggu.

Dua tahun kemudian.... [Extra Part]
Emily → 23 tahun
Eric → 31 tahun
Di sini disebutkan anak mereka, Kevin, lahir enam bulan lalu. Lah, lama amat Emily buntingnya?

Flasback tiga tahun lalu....
Emily →  20 tahun
Eric → 28 tahun
Sedangkan Alex setahun lebih tua dari Emily, harusnya umur 21 tahun, kan? Tapi di sini ditulis 17 tahun dan masih SMA. *garuk-garuk pantat*


Huft, udah dulu deh. Aku capek ngetik. Benernya dari segi cerita lumayan loh, cukup menarik perhatianku. Sayang penulisan serta logika yang amburadul bikin nilai minusnya banyak banget. Coba kalau ditulis ulang dengan memperbaiki poin-poin minusnya, pasti mantul banget.

Oh ya, tulisannya imut-imut banget. Tapi kovernya cakep, ada gliternya. Wkwkwkw

Benernya aku mau kasih rate 2 bintang, tapi karena plotnya berhasil menarik perhatianku, aku tambahin setengah deh. Jarang-jarang aku finished buku dengan format penulisan dan logika yang kayak gini.

November 16, 2018

[Book Review] If I Were You - Nureesh Vhalega

Judul: If I Were You
Penulis: Nureesh Vhalega
Halaman: 208 halaman
Genre: Teenlit
Tahun: Oktober, 2018
Penerbit: Lumiere Publishing
ISBN: 9786025296208
Harga: IDR 59.800
Rate: ★★★★☆



Gadis itu tahu keluarganya tidak sempurna, namun dia tidak pernah berpikir bahwa ketidaksempurnaan itu akan menjelma menjadi teror. - h. 19

B l u r b :

Liv dan Langit. Dua remaja yang dipertemukan dengan luka hampir serupa.

Liv gadis ceria yang mudah bergaul, selalu menebar tawa kepada siapa pun yang ditemuinya. Orang-orang mengira itu karena hidupnya sempurna, meski kenyataannya dia menutupi luka karena keluarganya tidak bahagia.

Sementara Langit berusaha membekukan hatinya setelah kehilangan besar yang dialaminya. Tidak mau pecaya pada siapa pun, bahkan nyaris menyerah pada hidup.

Ketika takdir memutuskan untuk meletakkan mereka pada lintasan yang sama, mampukah mereka menyembuhkan hati? Atau justru mereka akan semakin jauh berlari dari realita yang menyakitkan ini?


S t o r y l i n e :

Tahun ajaran baru dimulai. Liv yang super duper ceria tentunya bersemangat menyambutnya, namun rupanya semangatnya dinodai oleh kehadiran anak baru bernama Langit yang kebetulan satu kelas dengannya. Yep, cowok bernama Langit ini bikin Liv kesal setengah mati pada pertemuan pertama mereka.

Sebuah tugas kelompok kembali menyatukan Liv dan Langit. Liv yang dasarnya memang nggak mudah menyerah terus-terusan menginvasi kehidupan Langit. Langit yang mulanya cuek bebek dan sama sekali nggak peduli akhirnya terusik juga. Terlebih ketika Langit mengetahui bila Liv juga menyimpan luka atas keluarganya.

Di sisi lain Diaz, sahabat Liv, mulai gusar melihat kedekatan Liv dengan si anak baru. Dia merasa posisinya mulai tergeser.





"Kesempurnaan itu nggak jadi jaminan mereka bisa bahagia." [Liv] - h. 64


K a r a k t e r :

Liv → Cewek ini cerianya kebangetan. Banyak omong tanpa ambil pusing yang diajak omong bakal nanggepin atau nggak. Tapi di balik keceriaannya, dia punya keluarga yang nggak bahagia.

Langit → Duh, ini anak irit omong banget. Jutek dan cuek bebek. Langit kayak gini bukan tanpa sebab, juga bukan karena dia sombong. Langit cuma kehilangan alasan dia bahagia. Hiks.

Diaz → Sahabat Liv. Blasteran bule. Tinggi. Cakep. So, auto banyak yang naksir.

Pelangi → Hm, dia ini ... seseorang yang berarti bagi Langit.

Tokoh favoritku?
Langit dong! Aku kan tim cowok yang luarnya cuek, dingin, jutek tapi dalamnya perhatian dan 'terluka'~😁


P e n u l i s a n :

Nggak bakal bicarain soal diksi, dll.... Penulisnya udah pro. Wkwk.... Cuma mau sedikit koreksi.

- h. 54
Toples → harusnya stoples.
Coba toples+s, artinya beda lagi tuh, hihii *kidding*

- h. 82
Membumbung → yang benar membubung.
Kata bumbung itu artinya bambu loh :)



"Karena sehebat apa pun kita jadi pendengar, kita tetap nggak bisa 'menyembuhkan' orang yang punya keinginan bunuh diri itu." [Langit] - h. 190

Welcome back, Nui!

Kalimat itu melintas gitu aja waktu aku selesai baca buku ini. Bukannya apa, di buku yang sebelumnya aku kayak nggak menemukan Nui di sana.

Buku ini bergenre teenlit, namun tema yang diangkat bukan cinta-cintaan ala remaja, melainkan mengenai keluarga. Yup, keluarga yang berantakan akibat keegoisan orangtua. Liv dan Langit sebagai anak malah harus menanggung akibatnya. If you have family issue, you must know very well what it's feels~apa yang Liv dan Langit rasakan.

Keegoisan orangtua + remaja labil = auto berantakan.
Itu udah rumus pakem ya!
Tapi Liv dan Langit adalah anak-anak yang kuat. Sekalipun marah, kecewa, dan sakit hati, mereka berusaha melakukan yang terbaik.

Dari buku ini kita tahu kalau sebagai orang tua kita nggak boleh egois. Dan sebagai anak yang jadi 'korban', nggak seharusnya kita melakukan hal-hal yang negatif. Banyak kok hal positif lainnya yang bisa jadi pengalih perhatian.

Meski fokusnya ke family issue, buku ini nggak meninggalkan identitas aslinya. Ciri khas novel teenlit alias kisah cinta ala remaja menjadi bumbu yang bikin aku senyum-senyum sendiri waktu baca. Wkwkwk.... That's why I love teenlit, they drag me back into my school life.

Every family have an issue. Maybe you are the one who having issue like Liv and Langit. But you must trust yourself, you are strong more than you imagine.

At last, thank you Nui for the beautiful story 💓💕

November 10, 2018

[Book Review] Thousand Dreams - Dian Mariani

Judul: Thousand Dreams
Penulis: Dian Mariani
Halaman: 216 halaman
Genre: Teenlit, Young Adult (15+)
Tahun: Juli, 2018
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020476759
Harga: IDR 52.800 (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆



Cita-cita terdalam mereka, kecintaan mereka terhadap dunia seni, kerelaan mereka mengorbankan banyak hal demi mewujudkan mimpi mereka. Tidak semua orang bisa mengerti. Hanya orang yang punya kecintaan sebesar itu yang bisa memahami. [Jo] - h. 80


B l u r b :

Jo dan Callista bersahabat sejak SMA. Sama-sama menyukai seni, tetapi terpaksa menempuh pendidikan di jurusan yang tidak mereka sukai. Callista yang suka menulis, terpaksa memilih jurusan yang dibencinya, demi karier yang menurut ibunya jauh lebih cemerlang. Sedangkan Jo, yang tergila-gila dengan fotografi, terpaksa mengambil jurusan Bisnis sesuai dengan keinginan orangtuanya.

Segalanya memang akan terasa lebih berat kalau kita tidak suka dengan apa yang kita lakukan. Tapi, hobi yang dijalankan sepenuh hati, juga punya tuntutan sendiri. Dunia seni profesional mulai menunjukkan taringnya. Menjadi seniman ternyata tak semudah yang dibayangkan. Target, deadline, dan profesionalisme adalah wajib hukumnya demi unjuk gigi di dunia yang mereka idamkan ini.

Sibuk dengan mimpi dan cita-cita masing-masing, kedua sahabat ini perlahan saling menjauh. Memang harus ada yang dikorbankan, demi mencapai sesuatu yang sangat kita inginkan. Dan ketika percik hati mulai berbunyi, siapakah yang mereka pilih? Jemari lain yang menggandeng mereka meraih mimpi atau seseorang yang pernah punya arti?


S t o r y l i n e :

Jo menyukai fotografi, sementara Callista suka menulis. Namun semua itu tidak mendapatkan restu dari orangtua mereka, terutama sang ayah. Merasa memiliki 'nasib' yang sama, mereka berdua saling menyemangati. Sering kali berbicara mengenai mimpi-mimpi mereka.

Suatu hari Callista dinyatakan sebagai salah satu pemenang dalam lomba menulis yang diadakan oleh penerbit Garuda, dan karyanya akan diterbitkan. Namun sebelumnya Callista harus menjalani beberapa perosedur penerbitan, salah satunya adalah merevisi naskah yang ditangani oleh Nando, editor Garuda sekaligus penulis favorit Callista. Well, tentu saja Callista happy nggak ketulungan, siapa sih yang nggak happy kalau berada di posisinya Callista?

Sementara itu di sisi lain, Jo juga memenangkan sebuah lomba fotografi yang berhadiah kursus langsung oleh seorang fotografer terkenal, Darius Bono, selama dua bulan. Berangkat dari sini Jo akhirnya semakin mahir memotret. Bang Patar yang juga sering mengajak Jo memotret mengajak Jo untuk memotret sebuah event fashion. Nah, di sinilah Jo mengenal Elisa, sosok yang sangat gigih dalam meraih mimpi-mimpinya, sosok yang sama sekali tidak membuang kesempatan sekecil apa pun. Elisa berperan besar dalam karir memotret Jo yang masih pemula ini. Mulai bertukar pikiran, memberi motivasi, hingga mengenalkan/merekomendasikan Jo pada networking-nya.

Callista dan Nando sibuk dengan dunia kepenulisan mereka.
Jo dan Elisa sibuk dengan even-even fotografi mereka.

Kesibukan itu menjauhkan mereka. Jo dan Callista hampir tidak pernah bersama, bahkan untuk sekadar bertukar kabar melalui telepon/pesan singkat. Ujung-ujungnya kesalahpahaman pun tidak dapat dihindari. Pun dengan rasa cemburu.

Belakangan mereka menyadari, banyak yang harus dikorbankan demi meraih mimpi. Namun tidak berarti mereka juga harus mengorbankan apa yang sudah mereka dapatkan.



"Menurut gue ... berlari terlalu cepat bisa bikin kaki kita luka. Berjalan pelan, bukan berarti kita nggak bisa sampai di tujuan. Saat ini, gue memilih untuk berjalan pelan dan menikmati setiap prosesnya." [Callista] - h. 136 


K a r a k t e r :

Jo → Tergila-gila dengan fotografi, namun restu orangtua (terutama sang ayah) membuat cita-citanya terhambat. Meski begitu dia masih mau menuruti keinginan ayahnya untuk masuk jurusan Bisnis. Dia berani mengambil risiko apa pun demi mengejar mimpinya, termasuk kuliahnya yang menjadi berantakan.

Callista → Terpaksa masuk jurusan Akuntansi meski sangat suka menulis, padahal dia sangat membenci jurusan itu. Namun ketika tulisannya berhasil diterbitkan, Callista menyadari satu hal, bila ternyata semua ini tak semudah yang dia bayangkan.

Nando → Editor sekaligus penulis favorit Callista. Memiliki hobi serta pemikiran yang sama membuat Nando menaruh rasa lebih pada Callista.

Elisa → Cewek yang terbang bebas, tidak peduli apa pun dalam berjuang meraih mimpinya. Semua kesempatan yang ada tidak dia sia-siakan. Elisa ini juga berperan penting dalam karir memotret Jo.

P e n u l i s a n :

Seperti tulisan ce Dian yang sebelumnya aku baca (Me Minus You) penulisan novel ini menggunakan POV ketiga terbatas. Bedanya semua perpindahan POV dalam novel ini rapi banget, lalu semua kalimatnya juga begitu rapi, jadi dari segi penulisan novel ini lebih nyaman untuk dibaca.

Di beberapa bagian aku masih nemu kata yang nggak konsisten, yaitu penulisan orangtua. Ada yang dipisah, ada juga yang digandeng. Sebetulnya artinya beda, walau sampai sekarang setahuku nggak ada ketentuan khusus.
Orang tua → Orang yang tua.
Orangtua → Lebih menunjuk ke Ayah-Ibu.



"Jadi gue berpikir ... hidup ini, bukan tentang memenangi seluruh pertandingan. Bukan juga tentang siapa yang paling cepat berjalan. Atau menentukan siapa juaranya. Tapi, yang menikmati waktu setiap detiknya." [Callista] - h. 190

Aku excited banget sama buku ini. First, karena aku suka baca teenlit (biar awet muda). Second, karena temanya friend zone. Jadilah dua poin unggulan itu menjadikan buku ini masuk dalam reading list-ku. Dan setelah dibaca, isinya nggak mengecewakan. Banyak pelajaran mengenai mimpi yang bisa diambil dari sini.

Novel ini memang menuliskan betapa pentingnya kita menggapai mimpi kita, semua itu butuh sebuah pengorbanan yang besar, termasuk mengorbankan apa yang sudah kita miliki. Memang mimpi terkadang bisa menjadikan kita serakah dan kurang bersyukur. Nah, Jo dan Callista juga menghadapi itu. Pertama-tama mereka harus berjuang menggapai mimpi mereka sementara orangtua mereka tidak merestui. Lalu setelah mimpi itu tercapai, mereka dihadapkan pada situasi yang menuntut mereka untuk mengorbankan hal-hal sederhana yang sudah mereka miliki, seperti orangtua dan sahabat. Susah euy menyeimbangkan semua itu. Selain itu, buku ini juga mengajarkan kalau apa pun keinginan orangtua, sekalipun bertentangan dengan keinginan kita, orangtua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kelak, sebagai orangtua kita juga pasti akan mengerti.

Cita-cita Jo maupun Callista sangat dieksplor di sini, jelas sejelas-jelasnya. Sayangnya pergulatan batin mereka malah kurang dieksplor, alhasil kurang bikin baper. Interaksi yang menggambarkan friend zone mereka lebih ke aksi daripada perasaan. Seperti Jo yang ngelindungin Callista atau Callista yang bersedia nungguin mamanya Jo. Scene favoritku yang waktu di Bandung itu, feel cemburunya Jo dapet banget. Hehe....

Btw waktu baca ini, aku feel related banget sama Callista. I was on the same boat with her. Mau masuk jurusan Sastra tapi dipaksa masuk jurusan Akuntansi. Bisa lulus dengan IP bagus? Bisa kok. Tapi sampai sekarang aku nggak ada suka-sukanya sama Akuntansi, not even a little. Aku tetep suka baca dan nulis. Tapi bagiku nggak ada kata terlambat sih. Aku masih berjuang buat mimpiku.

"Yes, you have to dream high. Just don't forget to be safely landed." [Callista] - h. 191

November 04, 2018

[Book Review] Me Minus You - Dian Mariani

Judul: Me Minus You
Penulis: Dian Mariani
Halaman: 224 halaman
Genre: Romance (17+)
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Tahun: Juni, 2018
ISBN: 9786024556259
Harga: IDR 59.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆ (Actually 3.8★)




Menyenangkan. Menenangkan. Cinta itu seharusnya seperti ini. Tidak perlu terburu-buru. Tidak selalu banyak kata-kata. Saling percaya. Saling mengerti. Tidak perlu takut, kecuali takut kehilangan. Tidak ada khawatir, kecuali cemas ditinggalkan. Tidak perlu terlalu banyak rayuan. Tidak perlu bunga, karena hatinya sendiri sudah penuh renda-renda. [Rein] - h. 40

B l u r b :

Dua sosok dewasa, dengan cinta yang dewasa juga. Tidak pernah ada aturan harus selalu bertemu atau melapor setiap hari. Semua tumbuh begitu saja, termasuk perasaan cinta. Daniel bukan pria romantis dan pandai bermain kata. Tapi dari matanya, Rein tahu ia disayangi. Diinginkan, Dicintai. Rein percaya pada Daniel sepenuh hatinya.

Hingga keraguan datang dan mengusiknya. Saat sedang bersama, Daniel beberapa kali harus meninggalkannya, setelah menerima telepon dari seseorang. Seseorang yang tak pernah sanggup diceritakannya pada Rein. Seseorang yang~mau tak mau~telah menjadi bagian penting dalam hidup Daniel.

Rahasia apa yang disembunyikan Daniel? Kalau harus memilih, siapa yang dipilih Daniel? Seseorang~yang penting untuknya sejak dulu~atau Rein~yang baru dikenalnya tapi berhasil membuatnya jatuh cinta? Atau bolehkah ia memiliki keduanya?


S t o r y l i n e :

Sebuah urusan pekerjaan mempertemukan Daniel dan Rein untuk kali pertama. Saat itu juga baik Daniel maupun Rein merasakan getaran-getaran lain di dadanya. Setelahnya Daniel bekali-kali membuat janji, namun berkali-kali juga batal. Sama-sama sibuk menjadi alasan mereka sulit bertemu satu dengan yang lain. Hubungan mereka terbilang sangat sederhana. Dan DEWASA. Tidak ada kata 'I love you' atau 'Kita pacaran' dalam hubungan mereka. Tidak ada sebuah ketegasan memang, just let it flow. Apa yang mereka obrolkan didominasi oleh topik pekerjaan dan beberapa hal kecil lainnya~seperti makanan kesukaan. Benar-benar tidak ada hal khusus. Tapi di balik kesederhanaan hubungan Daniel dan Rein berakar sebuah cinta yang kokoh.

Terkadang ketika mereka bersama, sebuah telepon masuk membuat Daniel harus pergi meninggalkan Rein. Mulanya Rein memaklumi, bukankah hubungan mereka hanya sekadar dekat? Tapi kemudian Rein mulai bertanya-tanya. Firasatnya mengatakan jika ada sesuatu yang disembunyikan Daniel darinya. Entah apa....

Rupanya memang ada sesuatu yang disembunyikan Daniel dari Rein. Daniel mengakui itu, namun dia tidak bisa menceritakannya. Tidak untuk saat ini. Sampai suatu hari Daniel sama sekali tidak ada kabar. Ketika Rein menghubungi ponsel Daniel, yang menerimanya adalah seorang perempuan, mengatakan kalau Daniel tengah sakit. Rein menjenguk Daniel dengan sebongkah rasa penasaran di dada, dia tetap berusaha berpikir positif. Walau pada akhirnya kenyataan yang ada membuat Rein harus menelan pil pahit. Perempuan yang menerima teleponnya tadi adalah Livia, kekasih Daniel.

Tidak ada keributan. Daniel dan Rein bertemu kembali dengan sikap mereka yang dewasa. Daniel berkata jika dia mencintai Rein, namun ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa meninggalkan Livia. Setelahnya mereka sama-sama menderita. Rein berusaha melupakan Daniel dan Daniel mencoba untuk mencintai Livia. Tapi sayangnya masalah hati tidak sesederhana itu.

Semua memang membutuhkan pengorbanan, termasuk untuk bahagia.



Cinta itu ternyata begitu. Semakin dipaksa, semakin tak bisa. Cinta itu ternyata keras kepala. Semakin berharap hilang, semakin dalam juga menapaknya. [Daniel] - h. 99

K a r a k t e r :

Rein → Cewek yang berprofesi sebagai konsultan. Pengalaman buruk dengan mantannya membuat Rein tidak mau terlibat hubungan baru dengan lawan jenis. Tapi dadanya kembali berdebar ketika dia bertemu Daniel. Suka banget sama croissant dan majalah donal bebek.

Daniel → Cowok dengan reputasi pekerjaan yang bagus. Ganteng pula. Sayangnya Daniel memiliki janji yang membuatnya membuang jauh-jauh keinginannya untuk bersama Rein dan terpaksa menemani orang yang tidak dia cintai.

Stevan → Cowok ini ada rasa pada Rein. Tapi saat itu Rein masih betul-betul nggak pengin dekat sama cowok. Baru saat Rein 'berpisah' dari Daniel, Stevan mendekati Rein lagi. Stevan ini adalah teman kuliah Daniel. And ... he's an asshole!

Livia → Cewek yang sangat mencintai Daniel. Livia egois karena memanfaatkan keadaannya untuk membuat Daniel berada di sisinya. Bagi Livia tak masalah Daniel tidak mencintainya, asalkan bisa terus bersama-sama.

Domi → Sahabat Rein sejak kuliah.


P e n u l i s a n :

Novel ini ditulis menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas. Pilihan kata maupun susunan kalimatnya cukup nyaman dibaca, meski ada beberapa yang penulisannya perlu dikoreksi. Perpindahan POV-nya memang kadang tiba-tiba, tapi okelah, aku nggak bingung kok bacanya. 

Koreksi pada - h. 156 -157 [spoiler alert]
Waktu Daniel menolong Rein di hotel, waktu menuju ke kamarnya kan naik tangga biasa karena Daniel nggak punya pass card. Nah, waktu udah selesai nolongin Rein, kenapa ada kalimat '...Daniel yang menggendong Rein menuju lift.' Nah, di sini aku nggak paham nih. Kan Daniel nggak punya pass card, Rein pastinya juga nggak punya karena yang booking kamar Stevan. Terus kenapa digendong ke lift?



"You know what, you don't have totally forget someone if you wanna be with someone else. Yet, being with someone else, will make you forget the old one. Totally." [Domi] - h. 112

Hal pertama yang bikin aku tertarik buat baca buku ini adalah kovernya. Terus sewaktu baca blurb-nya, aku malah semakin tertarik. Kisah yang disuguhkan dalam buku ini memang bukan percintaan yang banyak gombalan atau sebagainya, malahan hampir-hampir nggak ada gombalannya. Karena memang hubungan Daniel dan Rein digambarkan sebagai hubungan yang 'dewasa', yang nggak menuntut dan lebih banyak memahami.

Sebetulnya garis besar ceritanya sendiri sederhana, tapi karena masing-masing karakternya 'hidup' dan realistis, buku ini jadi nggak membosankan untuk dibaca. Yup, aku paling suka dengan cara penulis membangun karakter di sini. Pas banget. Nggak berlebihan, juga nggak kurang. Secara keseluruhan plotnya juga oke. Cuma perlu ada yang diperbaiki di penulisannya agar lebih enak dibaca. Soalnya beberapa nggak konsisten. Misalnya kalimat yang diucapkan dalam hati ada yang menggunakan kalimat miring, ada yang menggunakan '...' ada juga yang nggak diapa-apain. 

Jadi kalau kalian tanya apa aku suka sama buku ini, aku bakal jawab ya 😍 Karena dalam buku ini mengajarkan kalau cinta itu tidak egois. Rela berkorban walau rasanya begitu berat dan sakit. Tapi jangan lupa, semua pengorbanan itu pasti bakal dapat balasan yang setimpal kok.