Showing posts with label young adult. Show all posts
Showing posts with label young adult. Show all posts

January 04, 2020

[Book Review] Dia - Nonier

Judul: Dia
Penulis: Nonier
Genre: Young Adult
Rilis: 9 Desember, 2019
Tebal: 280 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020635446
Harga: IDR 75.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Denia sudah naksir Janu bertahun-tahun lamanya, tapi di depan Janu, Denia berusaha bersikap senormal mungkin. Sayangnya, Janu yang masih terhitung kerabat itu menganggap Denia sebagai adik. Maka saat mengetahui Janu akan bertunangan dengan Sasa, jantung Denia serasa mau copot.

Dalam perjalanan menuju Jakarta, Denia bertemu Saka, si cowok nyebelin, judes, nggak peka, walaupun sebenarnya ganteng kalau mau senyum. Dan kebetulan banget, sepupu Saka yang jadi fotografer di acara pertunangan Janu-Sasa. Kekecewaan Denia terbaca jelas lewat foto-foto yang tertangkap kamera fotografer.

Sejak itu, ada saja tingkah semesta yang bikin Denia harus berurusan dengan Saka. Sampai suatu saat, Saka menawarkan ide gila untuk menjadikan Denia pacarnya. Katanya sih supaya Denia bisa ngelupain Janu. Tapi tiba-tiba Janu bertindak aneh dan overprotektif pada Denia.

Lalu, Denia harus bagaimana? Melakoni ide gila Saka, atau jujur pada perasaannya sendiri?

*

"Halo, semuanya. Kepada Pak Iskandar dan Bu Hesti, nama saya Saka dan saya jatuh cinta pada Denia. Mohon izin untuk jadian. Terima kasih."

Seriusan aku senyum-senyum sendiri baca itu. Receh sih, tapi gokil. Hehe.... Dari awal, aku udah klik sama Saka ketimbang Janu. Yah, Saka itu tipeku banget—dinginnya ngalah-ngalahin freezer dua pintu.

Jujur aku baru tahu kalau buku ini adalah terbitan ulang, jadi sebelum diterbitkan oleh GPU, udah terlebih dahulu diterbitkan sama Gagas Media. Aku belum baca versi Gagas, tapi kata teman-teman yang udah baca, katanya beda di bagian ending. Entahlah, yang pasti aku menikmati kisah Denia, Janu, dan Saka. Gaya bahasanya agak unik. Gimana ya, setengah baku gitu. Campuran antara baku dan bukan, jadi pas dibacanya nggak berasa kaku-kaku amat. Bagi aku yang orang Jawa Timur, rasanya 'dekat' banget.

Seringnya novel YA mengusung sebuah kisah yang bikin pembaca baper, tapi novel ini nggak. Malahan condong ke argumen. Pendalaman tokohnya lebih kentara melalui keseharian mereka masing-masing, jadi nggak kayak baca biodata orang. Ini yang bikin aku masuk banget sama ceritanya. Padahal tokohnya lumayan banyak, tapi aku nggak kesulitan untuk mengenali dan mengingatnya satu per satu.

Cinta antar saudara memang agak-agak gimana gitu ya. Tapi Denia dan Janu ini nggak sedarah, mereka saudara jauh. Sempat ada twist menjelang akhir cerita, cuma aku udah yakin kok ujung-ujungnya Denia sama siapa. Oh ya, meski aku suka sama Saka, aku lebih suka sama si Hantu Ubi. Seriusan deh, aku gemes banget ngebayangin punya adik model kayak Galih.

Kovernya eye catching. Warna pink gitu loh, hehe....

Kalau ditanya apa yang aku inginkan dari novel ini, aku pengin kisah masa lalunya Saka lebih digali. Ya emang sih, semua ini mengenai Denia. Cuma masa lalu Saka bikin orang penasaran setengah mampus. Saking menyakitkannya, malah bikin tambah penasaran. 

Satu hal yang sangat realistis di sini, yaitu move on dari orang yang dicintai itu nggak gampang. Butuh usaha keras dan waktu—juga air mata. Jadi aku sangat bisa terima kalau Denia dan Saka kesannya kucing-kucingan melulu. Percayalah, move on itu dari orang yang dicintai itu sama sulitnya dengan move on dari mi instan! 

Betewe, Adit di halaman 56 itu siapa sih?

Q u o t e s :

"Jadi orang kok suka membuat diri sendiri menderita." [Saka] - h. 102
"Sudah tahu percuma menunggu, masih aja diterusin. Milik orang nggak usah dipenginin." [Saka] - h. 118
"Jangan terlalu naif, menunggu yang nggak akan datang." [Saka] - h. 119
Tidak peduli apa yang dikatakan Saka tentang dia dan Janu, Denia akan tetap menikmati apa yang bisa dia nikmati. Kebersamaan yang tinggal menunggu waktu untuk berakhir. - h. 121
Menyerahlah, Denia. Mungkin hatimu akan pecah berkeping-keping, remuk tak berbentuk. Tapi apa kamu tidak tahu bahwa hati itu ajaib? Dia bisa pulih kembali, seperti semula. Mungkin akan meninggalkan bekas luka, tapi itu lebih baik daripada mati rasa. - h. 126-127
Hancurkanlah hatimu sekarang, Denia, agar kamu bisa bangkit lagi. Hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan. Patahkanlah hatimu, leburlah kenanganmu. Habiskanlah air matamu, menderitalah untuk hari ini saja. Besok, kamu bangkit dengan kepala tengadah dan mata bercahaya. Dunia tidak berhenti berputar hanya karena kamu putus cinta. - h. 127
Semua berasal dari rasa sesal. Segalanya mungkin saja berbeda bila Saka mengungkapkan apa yang ada di hati. Setidaknya tidak ada yang tertinggal dan mengakar di sana hingga membuatnya mati rasa. - h. 134-135
"Melakukan hal yang sia-sia hanya akan menyakitimu." [Saka] - h.  156
Rasa penasaran itu seoerti gatal, yang belum puas kalau belum digaruk. - h. 171 
"Kenapa menghancurkan sesuatu yang begitu indah untuk masa lalu yang nggak akan kembali?" [Denia] - h. 266 

September 20, 2019

[Book Review] Voice from the Past - Eva Sri Rahayu

Judul: Voice from the Past
Penulis: Eva Sri Rahayu
Genre: Young Adult (15+)
Rilis: 9 September, 2019
Tebal: 280 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020628790, 9786020628826 (Digital)
Harga: IDR. 79.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Inka melamar menjadi Liaison Officer cabang olahraga anggar di Pekan Olahraga Nasional. Tanpa tahu sedikit pun mengenai olahraga tersebut. Ia tertarik karena job-nya sebagai influencer dan lifestyle blogger sedang sepi. Sebagai mahasiswi nanggung yang sedang menunggu wisuda, ia merasa tidak pantas jika masih meminta uang kepada orangtuanya.

Di pagelaran tersebut, Inka bertemu Rey, atlet anggar dari kontingen yang ia tangani. Saat pelan-pelan Rey yang tengil membuka diri, Inka merasa hubungan mereka kian dekat. Namun, justru saat itulah Faris muncul. Cowok yang selalu menghantui pikiran dan hati Inka selama dua tahun belakangan itu tiba-tiba saja menyatakan perasaan yang sebenarnya.

Di tengah kehebohan pertandingan anggar, Inka harus memutuskan siapa yang bisa memenangkan hatinya.

*

Pernah nggak kebayang betapa repot dan ribetnya menjadi panitia PON? Aku sih nggak pernah bayangin, hehe. Hal yang mencuri perhatianku di sini pertama adalah judulnya, lalu yang kedua adalah blurb-nya.

Judulnya memberi aku ekspetasi mengenai seseorang dari masa lalu, awalnya aku berpikir kalau ada kaitannya dengan orang yang sudah meninggal. Tapi meleset, nggak ada yang meninggal kok di sini. Sedangkan waktu baca blurb-nya, iming-iming mengenai atlet anggar seketika mencuri perhatianku. Yep, olahraga yang satu ini rasa-rasanya jarang banget dibicarakan. Jadi aku kepo dong, anggar itu seperti apa sih?

Pada lembar pertama aku sudah disuguhi sosok Inka yang tengah bergalau-galau ria. Inka adalah seorang fresh graduate yang berada dalam zona nanggung. Sudah lulus, tapi belum dapat kerjaan, sedangkan mau minta uang ke orangtua pastinya malu dong! Selain itu bisnis dunia maya, seperti endorsement yang menjadi pundi-pundi penghasilannya juga lagi sepi. Belum lagi perasaannya yang masih kecantol sama cowok di masa lalunya, Faris. Nah, di saat-saat seperti itu sahabatnya, Artyana, menawarkan sebuah pekerjaan menjadi panitia PON. Inka belum pernah menjalani pekerjaan semacam ini, tapi berhubung pemasukan lagi seret, boleh deh.

Di sinilah Inka bertemu dengan seorang atlet anggar tengil bernama Rey. Hubungan mereka cuma terjalin beberapa hari, bisa dikatakan cinlok. Namun beberapa hari yang dilalui bersama Rey itu cukup membuat Inka bimbang, kepada siapa sebenarnya hatinya tertuju. Karena di saat-saat dia dekat dengan Rey, Faris malah menyatakan perasaannya. Ew~

Buku ini ditulis menggunakan POV pertama dari sudut pandang Inka, ada juga beberapa POV tiga yang berfungsi sebagai flashback. Beberapa flashback juga dijelaskan melalui lamunan Inka. Halamannya cukup padat, tapi lumayan seru untuk diikuti, terutama bagian duel anggarnya. Dari sini aku juga jadi tahu gimana repot dan ribetnya menjadi panitia PON.

Aku terganggu dengan kata 'sawriii...' yang sering muncul di percakapan antara Inka dan Artyana. Sekali-dua kali nggak apa-apa sih, tapi berhubung ini keseringan, jadi geli kuping gue! Berasa lenjeh-lenjeh manjyah ala inces.

Oh ya, karakter Inka di sini nggak profesional banget. Terlalu sering terbawa sama perasaan dan pikirannya, sampai sering mengganggu pekerjaannya. Well, ini nyebelin banget buatku. Kisah cinta Inka ini juga bikin aku gemez. Semacam nggak niat, gampang baperan sama cowok baru, dan ada bau-bau jual mahal. Intinya secara pribadi aku kurang suka sama karakter Inka.

Bagi yang mau kenalan sama olahraga anggar, buku ini cukup banyak memberi pengetahuan mengenai cabang olahraga tersebut. Aku suka ceritanya, minus kisah cintanya Inka.

Q u o t e s :

Jadi saranku, kalau besoknya kamu mesti kerja, jangan pernah stalking mantan. Jangan! [Inka] - h. 18
Seandainya aku bisa menjalin hubungan lagi, aku tidak mau membagi hati setengah-setengah. Akan kupastikan dulu, perasaanku bisa bermigrasi total. [Inka] - h. 118
"Aku tahu kok, sedih yang paling sedih itu sampai nggak bisa ngeluarin air mata." [Rey] - h. 225
"Luka karena mencintai seseorang, nggak bisa disembuhkan oleh cinta baru. Luka tetap aja luka, yang cuma bisa sembuh oleh waktu dan perjuangan melawan rasa sakit." [Inka] - h. 267

July 04, 2019

[Book Review] Represi - Fakhrisina Amalia

Judul: Represi
Penulis: Fakhrisina Amalia
Genre: Young Adult (15+)
Bahasa: Indonesia
Tebal: 264 halaman
Rilis: 24 September 2018
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020611945, 9786020611952 (Digital)
Harga: IDR. 68.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja.

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, gadis itu punya seorang ibu dan para sahabat yang setia. Sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingi Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri.

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan Anna dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.

*

Sekali seumur hidup, pernahkah kalian ngerasa pengin mati? AKU PERNAH!

Ini aku harus tersentuh atau malah misuh-misuh ya enaknya? Hehe.... Yah, karena waktu baca buku ini pikirannku kayak split in two.

Ada dua sudut pandang yang langsung timbul ketika membaca buku ini. Pertama, sudut pandang sebagai Anna yang memang ngerasa hidupnya lebih baik berakhir. Kedua, sudut pandang sebagai orang lain yang menganggap tindakan Anna ini bodoh dan impulsif. Terus terang buku ini memberikan sensasi tersendiri waktu dibaca, auranya pekat dan kelam. Bener-bener berasa dark banget pokoknya.

Sesuai judulnya, Represi di sini lebih condong ke arah tertekan/terkekang. Anna yang memiliki luka ketika masih kecil, serta kedua orangtua yang terkesan 'mendikte' membuatnya merasa terkekang karena tidak diizinkan untuk membuat pilihan sendiri. Sampai di satu titik, ketika dia hendak masuk kuliah, dia bersikeras mempertahankan pilihannya untuk masuk jurusan DKV. Tapi sebenarnya di sisi lain Anna memiliki sahabat-sahabat yang sayang banget sama dia, bahkan ketika Anna berada di titik terendah pun, sahabat-sahabatnya nggak pernah meninggalkannya. I'm so impressed with them—Hani, Nika, Ouji, dan Saka.

Sky adalah alasan kenapa Anna ingin bunuh diri. Jujur keberadaan Sky bikin emosi jiwa waktu baca. Sky kesannya sok ngatur banget, ngelarang Anna buat ngelakuin ini dan itu, termasuk ngejauhin sahabat-sahabatnya—bahkan mimpinya. Fakk bangetlah cowok model gini. Awalnya bilang cinta, sayang, mau menerima apa adanya. Terus ujung-ujungnya dengan gampang menjadikan luka di masa lalu Anna sebagai senjata untuk putus sama Anna. Fakk banget kan ya?!!! Tapi kalo berada di posisi Anna, bisa jadi nggak segampang itu ngatain Sky ini brengsek. Sebab bagi Anna, Sky itu ngasih semua perhatian dan kasih sayang yang nggak pernah Anna dapat dari ayahnya. Fyi, ayahnya Anna ini jarang di rumah, kerja mulu ke luar kota—atau ke luar planet sekalian sana. Sikapnya sama Anna bisa dibilang dingin, sementara Anna sebagai anak cewek pastilah pengin dipeluk, dipuji, dll. Nah, ayahnya ini menuntut Anna buat jadi anak yang kuat, nggak cengeng, dll. Anna udah ngelakuin itu dan tanggapan ayahnya 'anyep'. Makanya, waktu ketemu Sky, Anna langsung jadi bucinnya. Bodoh sih, karena menurutku harusnya pikiran Anna nggak secetek itu. Tapi lagi-lagi, kalo posisi kita sebagai Anna, apa iya kita bisa memilih hal yang sebaliknya? Aku rasa sulit.

Selain itu dalam buku ini kita juga diajak untuk memahami Anna. Apa yang dia alami dan seperti apa pola pikirnya. Aku nggak bilang jadi Anna itu mudah, sulit loh, serius! Ada satu ketika aku terenyuh banget dengan Anna, namun ada juga saat-saat aku ngerasa kalo Anna itu berpikiran pendek. Harusnya dengan adanya sahabat-sahabat yang mengelilinginya, Anna nggak dengan mudah menjadikan kurangnya perhatian sang ayah sebagai alasan dia takut kehilangan Sky—yang sampai-sampai mau melakukan apa pun yang Sky minta. Soal luka di masa lalu Anna, well, itu nggak bisa di apa-apain.

Yang bikin aku salut adalah usaha keras Anna untuk berhadapan dengan semua luka-lukanya. Bagi seseorang yang terbiasa menyimpan semua luka seorang diri, mengekspresikannya akan menjadi sesuatu yang sangat sukar. Butuh dorongan yang kuat, nggak lupa juga dukungan.

Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, buku ini enak dibaca, meski ada TAPI-nya.... Jadi gini, aku ngerasa kalimat yang dipakai boros alias mubazir. Berasa lelet banget gitu pas bacanya, ehm, gimana ya, berasa agak mbulet gitu. Mungkin maksud penulisnya adalah agar pembaca mendapatkan feel yang dramatis, but sorry to say, di aku malah terkesan boros. Untuk kovernya sendiri cukup menarik ya, dan setelah aku baca, kovernya memang Anna banget.

Kesimpulannya buku ini cocok dibaca kalo pas hati dan pikiran sedang lapang. Ceritanya sendiri sebenernya nggak berat kok, yang bikin terasa berat adalah eksekusinya, karena kita bener-bener diajak untuk menyelami diri Anna secara psikologis—di sini melibatkan psikolog bernama Nabila yang perannya sangat besar bagi Anna untuk menghadapi ketakutan serta dorongan kuat untuk bunuh diri. Kalo baca buku ini pelan-pelan aja, nggak usah keburu-buru. Nikmati, ikuti alur emosinya. Ada saatnya kita dibikin terenyuh, ada juga saatnya kita misuh-misuh. Oh ya, jangan ngarep ada sesuatu yang kocak dari buku ini. Nggak ada! Yang ada seriusan bikin kamu ikutan depresi. Haha!

P. S. Sorry kalo lancang, di blurb tulisannya 'Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja'. Phewww, baik dari mana btw? Bukannya dari kecil dia udah nggak baik-baik aja? Kurang kasih sayang ayah, terus ada peristiwa itu.... Apanya yang baik-baik ajaaa?

*


Q u o t e s :

"Kita semua nggak tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri, Anna." [Nabila] - h. 77
"Dan untuk bisa menerima, pada awalnya kamu harus bercerita. Bercerita membuat kamu mengakui bahwa itu terjadi." [Nabila] - h. 80
"Hubungan dua orang nggak cuma tentang menyenangkan hati orang lain tanpa memedulikan diri sendiri." [Saka] - h. 133
"Semua orang membuat kesalahan, dan hampir semua orang pernah membuat kesalahan besar. Kewajiban kita adalah meminta maaf." [Nabila] - h. 147
"Kekuatan terbesar sering kali datang ketika kita sudah memaafkan dan menerima diri kita sendiri." [Nabila] - h. 200
"Kecemasan adalah sesuatu yang membuat dirimu bekerja keras dan menderita dua kali lipat." [Nabila] - h. 203

June 30, 2019

[Book Review] Breaking Point - Pretty Angelia

Judul: Breaking Point
Penulis: Pretty Angelia
Genre: Young Adult (17+)
Bahasa: Indonesia
Tebal: 240 halaman
Rilis: 19 Februari 2019
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020381282
Harga: IDR. 59.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Geta, 17 tahun
Gue terpaksa ikutan program Paket C karena dikeluarin dari sekolah. Mungkin lo semua heran mantan ketua OSIS kayak gue bisa tersandung kasus berat. Tapi ini masalah prinsip dan gue yakin, gue nggak bersalah. Sebenarnya gue sempat malu karena gue pikir gue bakal ketemu sama orang-orang gagal, tapi setelah masuk kelas itu gue tahu… kata gagal nggak tepat diberikan untuk mereka.

Vierro, 18 tahun
Nggak ikut UN gara-gara nggak bisa ninggalin kompetisi catur di Roma. Tapi tetangga ada yang nyeletuk, sepenting itukah pertandingan gue sampai berani ikutan Paket C yang isinya orang-orang payah? Seenaknya aja dia bilang payah. Gue jelasin juga akan percuma karena mereka memang nggak suka sama gue yang punya banyak uang gara-gara catur doang. 

Daniar, 17 tahun
Penyakit ini nggak akan ngambil semuanya dari aku. Aku bakal sembuh dan kejar cita-citaku dengan sekolah setinggi-tingginya. Program Paket C membantuku mewujudkan hal itu.

Bogel, 20 tahun 
Gue emang dulu bandar narkoba, keluar-masuk penjara, terus lo pikir gue nggak boleh punya ijazah?! Enak aja lo ngomong!

*

Breaking point, adalah di mana kita tengah berada di titik terendah, benar-benar jatuh, dan nggak ada yang mau mengulurkan tangan pada kita. Tapi setelah kita melewati titik itu, biasanya kita akan menjadi manusia yang baru.

Sebetulnya novel ini keren. Mulai dari blurb, topik cerita mengenai paket C, serta premisnya pun menarik. Sayang eksekusinya kayak nggak ada feel-nya.

Awal-awal baca sih aku nggak begitu suka sama Geta yang memang terkesan sok pahlawan. Tapi lama-lama aku malah suka banget sama karakternya yang kokoh. Untuk tersangka utamanya sendiri di awal cerita aku udah nebak, dan kebetulan tebakanku bener. Pembahasan mengenai paket C serta orang-orang mengikutinya memberi pencerahan baru. Kita nggak boleh memandang mereka sebelah mata atau merasa kita yang lulus UN di sekolah reguler lebih tinggi derajatnya dibandingkan mereka. Paket C itu setara loh sama SMA!

Seperti normalnya novel teenlit atau YA, Breaking Point ini juga nggak lepas dari bumbu-bumbu persahabatan. Salut banget sama persabahatan Geta, Vierro, Daniar, dan Bogel. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, bahkan salah satunya memiliki cacat fisik. Tapi semua itu nggak berpengaruh, malahan membuat mereka saling menopang satu sama lain.

Selain persahabatan, novel ini juga mengusung permasalahan yang kerap terjadi di sekolah, yaitu korupsi. Percaya nggak percaya, aku pernah dapet wali kelas yang mata duitan banget—yang dikit-dikit suruh bayar iuran, nggak jelas tuh duit larinya ke mana. Kalau di sini kasusnya beasiswa yang nggak cair karena ditilep sama salah seorang oknum guru. Sikap Geta yang nggak bisa ngelihat orang lain kesusahan itulah yang bikin oknum guru itu membencinya, sampai merancang sesuatu yang busuk buat ngedepak Geta dari sekolah. Bangsat dah!

Twist-nya lumayan. Cuma aku terganggu sama 'tebak-tebakan' yang kadang nggak terjawab. Misalnya hubungan Alanda dengan anu dan si anu. Terus apa dia dipenjara juga ada kaitannya sama si anu itu?

Mengambil sudut orang ketiga, penulisan buku ini enak buat dibaca. Karakternya yang kuat bikin gampang diingat dan gampang disukai/dibenci. Btw aku suka banget deh sama Vierro, yaelah tuh anak bikin aku mesem-mesem sendiri pas baca🤣

Oh ya, aku dibikin kesal setengah mampus sama Rajen dan Pak Radi. Sungguhan bikin orang pengin bejek-bejek. Dua orang ini liciknya niat banget, ular pokoknya!

Q u o t e s :

"Jika percaya Tuhan, harusnya kita juga bisa percaya sama diri sendiri." [Pak Jihad] - h. 158
"Mereka yang berhasil keluar dari masa breaking point-nya, pasti akan lahir sebagai manusia yang baru." [Pak Jihad] - h. 159
"Kalian hidup untuk bahagia. Kebahagiaan itu akan muncul ketika kalian menemukan cahaya. Dan cahaya itu tidak akan kelihatan tanpa kalian berada di kegelapan terlebih dahulu." [Pak Jihad] - h. 162
Bukan hanya tak berbalas, cinta yang didiamkan juga meninggalkan luka yang mendalam. - h. 204

June 25, 2019

[Book Review] Fallega - Dana Fazaira

Judul: Fallega
Penulis: Dana Fazaira
Genre: Novel Remaja (17+)
Bahasa: Indonesia
Tebal: 336 halaman
Rilis: 29 Oktober 2018
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020618326
Harga: IDR. 85.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Fallega Dinata kembali ke Jakarta!

Setelah diasingkan karena dianggap mencoreng nama baik keluarga, cewek itu kembali sebagai mahasiswi tomboi yang disegani para mahasiswa. Semua orang yang mengenalnya tidak percaya dengan penampilan Fal yang berubah 180 derajat. Mereka tambah gempar karena Fal mengaku hilang ingatan.

Apa iya Fal hilang ingatan karena insiden beberapa tahun lalu? Sayangnya, itu hanya rumor yang cewek itu ciptakan sendiri. Mana mungkin dia amnesia setelah dihunjam dengan pengkhianatan dan rasa sakit hati yang begitu mendalam? Fal kembali untuk membuat perhitungan dengan mereka yang sudah membuat hidupnya hancur. Rumor itu Fal sebar agar dia bisa menjalankan rencana balas dendam yang sudah dia siapkan matang-matang.

Dalam menjalankan rencana itu, Fal bertemu dengan Rani dan Awi, dua sosok polos yang mengajarkannya berbagai kebaikan. Dia juga mesti berhadapan dengan Aji—cinta masa lalu—yang sudah mengkhianatinya.

Setelah rencana dijalankan dengan begitu rapi, haruskah dia mundur setelah tahu bahwa masih ada ketulusan dan rasa penyesalan dari orang-orang itu? Lantas, bagaimana jika sesungguhnya Fal masih mengharapkan cinta tulus dari Aji?



*

FAKK! BUKU MACAM APA INIII?
SUMPAH DARI AWAL SAMPAI AKHIR SERIUS MULU BAWAANNYA!!!!

*tarik napas*

Oke, mari kita bahas buku yang baru aja aku kelarin cuma dalam semalam ini. Tadinya aku cuma iseng baca buku ini. Pas scroll-scroll di GD aku ketemu buku yang kovernya pink, cakep deh, auto pencet download. Kalo ditanya apa sebelumnya aku tahu buku ini, aku jawab tahu. Karena beberapa teman bookstagram emang udah pernah bikin ulasan mengenai buku ini—dan jujur ketika itu aku berencana beli. Tapi ayolah, berhubung wishlist banyak, jadi yah ... u know lah.

Dari blurb-nya siapa pun mengira kalo isinya pasti seputaran balas dendam. Emang iya! Tapi tak sesederhana itu, Ferguso! Intinya memang balas dendam, tapi apa iya semua itu bisa berjalan lancar kalo hati nurani masih hidup?

Fal kembali ke Jakarta memang untuk membuat perhitungan dengan orang-orang yang dulu pernah menyakiti dan menghancurkannya. Orang-orang yang menyakitinya itu bukan orang asing loh, melainkan sahabat dan pacarnya sendiri. Dari halaman pertama, aku berusaha untuk memosisikan diri sebagai Fal, sosok lembut yang saking tersakitinya, berubah menjadi sekeras batu karang. Tak hanya itu, Fal yang dulunya feminin berputar haluan menjadi tomboi. Semua rencana balas dendam yang Fal susun berjalan dengan sebagaimana mestinya. Namun di akhir, perasaan lega tak kunjung datang. Malahan Fal merasa bersalah.

Alur cerita dan konfliknya padat, nggak santai banget sumpah.  Seperti novel YA pada umumnya, pacar, sahabat, dan keluarga sudah menjadi komposisi wajib. Namun rencana balas dendam yang Fal susun dengan sangat rapi bikin buku ini punya citarasa tersendiri. Plot twist-nya cukup oke karena aku sempat ber-oh-oh ria waktu baca. Cuma tokohnya yang lumayan banyak bikin aku agak kesulitan untuk mendalaminya, soalnya masing-masing tokohnya hampir serupa—terutama mengenai sifat, sementara fisiknya nggak dijelasin secara gamblang.

Kisah Fal, Aji, dan kawan-kawan di sini memberi kita pelajaran untuk nggak menyimpan dendam, lalu bagaimana caranya memaafkan. Terus, ada baiknya tenangin emosi dulu sebelum mengambil keputusan, biar nggak salah paham. Karena di sini kesalahpahaman antara Fal dan Aji menjadi salah satu pemicu yang bikin dendam di hati Fal membara. Percayalah, dendam nggak akan membuat kamu puas!

Penulisan serta diksinya cukup masuk di aku. Waktu baca jujur aku nggak terlalu merhatiin tulisan, dll gegara terlalu fokus sama ceritanya. Meski aku sempat nemu typo dan salah nama. Tapi oke kok, masih termaafkan.

Dan endingnya...?
Kampret gilak!
Di awal-awal aku terhanyut dengan dendamnya Fal, eh ujung-ujungnya aku dibikin mewek.

Kalo diibaratkan drakor, ini tuh kayak Moon Lovers yang di awal aja konfliknya udah terbangun. Terus selama jalan cerita sampai akhir, ada aja yang terjadi sampai berasa susah napas.

Weits, bukan berarti buku ini nggak ada kelemahannya. Adegan yang sepotong-potong alias perpindahan yang cepat membuat aku nggak nyaman. Itu juga yang bikin aku baru bisa memahami satu per satu karakter tokohnya waktu pas udah sampai pertengahan.

Kesimpulannya buku ini punya alur cerita dan konflik yang menarik. Padat alias nggak santai yang dengan mudah bikin kamu terhanyut. Aku rekomen buku ini buat kalian yang suka baca cerita-cerita nyesek dan keraddd.

Q u o t e s :

"Tapi manusia selalu punya kesempatan kedua. Nggak ada istilah terlambat untuk berubah." [Eyang Wibbi] - h. 22
"Lo yang main pedang dan lo yang luka karenanya." [Fal] - h. 221
"Manusia perlu waktu untuk berubah, termasuk gue.... [Aji] - h. 221
"Dan yang diperlukan manusia untuk berubah itu waktu." [Rani] -h. 223
Beginilah ego kalau sudah membakar habis hati—beginilah kalau membenci seseorang. Yang sakit bukan orang yang dibenci, melainkan diri kita sendiri. - h. 223

March 20, 2019

[Book Review] Five Feet Apart - Rachael Lippincott

Judul: Five Feet Apart
Penulis: Rachael Lippincott
Genre: Teen, Young Adult
Halaman: 288 halaman
Penerbit: Simon and Schuster Books for Young Readers
Tahun: November, 2018
ISBN: -
Harga: -
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Can you love someone you can never touch?

Stella Grant likes to be in control—even though her totally out of control lungs have sent her in and out of the hospital most of her life. At this point, what Stella needs to control most is keeping herself away from anyone or anything that might pass along an infection and jeopardize the possibility of a lung transplant. Six feet apart. No exceptions.

The only thing Will Newman wants to be in control of is getting out of this hospital. He couldn’t care less about his treatments, or a fancy new clinical drug trial. Soon, he’ll turn eighteen and then he’ll be able to unplug all these machines and actually go see the world, not just its hospitals.

Will’s exactly what Stella needs to stay away from. If he so much as breathes on Stella she could lose her spot on the transplant list. Either one of them could die. The only way to stay alive is to stay apart. But suddenly six feet doesn’t feel like safety. It feels like punishment.

What if they could steal back just a little bit of the space their broken lungs have stolen from them? Would five feet apart really be so dangerous if it stops their hearts from breaking too?

P. S. Maap blurb-nya copas dari GR dan nggak aku terjemahin.

K a r a k t e r :

Stella → Penderita CF yang dirawat di rumah sakit sejak usia enam tahun. Nggak sepenuhnya dirawat sih, dia masih sekolah juga kok. Selama di rawat dia nggak cuma diem aja, tapi bikin channel YouTube tentang CF. Terus dia juga bikin aplikasi hp untuk mempermudah penderita CF minum obat dan treatment tepat waktu.

Will → Cowok penderita CF juga. Bedanya, Will juga terinfeksi oleh B. cepacia yang membuatnya tereliminasi dari daftar penerima donor paru-paru. Berbeda dengan Stella yang optimis, Will ini malah nggak pengin dirawat di rumah sakit. Baginya, waktu yang tersisa itu harusnya dinikmati dengan hidup sesuai keinginannya, bukannya malah terkurung di rumah sakit. Cowok ini hobinya menggambar, terutama kartun.

Poe → Teman baik Stella, sesama penderita CF. Mereka ini temenan sejak mereka masih kecil, tepatnya waktu pertama kali Stella dirawat di rumah sakit. Meski cowok Poe ini pinter masak lho!

Mya & Camilla → Stella's BFF.

Hope & Jason → Will's BFF.

💔💔💔💔💔

Another story like A Fault in Our Stars, Before I Die or A Walk to Remember?
Hm, at the start I guess this book will be same with the previous. Tapi setelah di baca, aku ngerasa enjoy dan begitu menikmatinya.

Buku ini menceritakan tentang penderita CF (Cystic Fibrosis) atau disebut juga kista fibrosis. Yaitu sebuah penyakit genetik yang menyebabkan lendir di dalam tubuh menjadi kental dan lengket. Karena kental dan lengket, lendir-lendir ini kemudian menyumbat berbagai saluran yang ada di dalam tubuh, terutama saluran pernapasan dan pencernaan. Nah, para penderita CF ini dilarang untuk berdekatan, karena dapat menularkan bakteri atau virus satu sama lain. Hal itulah yang membuat Stella dan Will tetap menjaga jarak. Will sendiri selain menderita CF, juga menderita B, cepacia. B. cepacia ini adalah bakteri yang menginfeksi tubuh seseorang yang sedang rentan.

Meski udah berusaha, tapi yang namanya hati memang susah dinasihati. Stella dan Will harusnya cukup berteman aja, eh malah saling jatuh cinta. Stella itu sebel lihat Will yang males minum obat dan skip skip treatment. Sementara Will yang dasarnya emang nggak suka diatur-atur akhirnya milih nurut aja daripada dicerewetin, hehe....

Mereka dekat. Mereka pacaran. Tapi tetap nggak boleh bersentuhan. Jarak aman mereka six feet alias enam langkah. Lah, kok bisa jadi five feet? Yes, they broke the rule.

Dari kacamata young adult, buku ini bikin aku ngerasain senang dan sedih dalam waktu bersamaan. Senang karena jatuh cinta, tapi sedih karena nggak bisa bersentuhan. Hiks, pengangan tangan pun nggak boleh. Bener-bener harus ada jarak.

Lalu dari kacamata lainnya, banyak pelajaran yang bisa diambil. Jadi memahami apa yang orang sakit inginkan itu nggak gampang. Mereka punya ketakutan besar yang mengalahkan harapan mereka untuk hidup. Contohnya Will, mamanya ingin Will sembuh gimanapun caranya. Tapi yang Will pikirkan nggak gitu. Cepat atau lambat dia pasti bakalan mati, so daripada buang-buang waktu buat treatment, dll yang nggak penting, dia milih buat hidup sesuai keinginannya, pergi ke tempat-tempat yang dia ingin kunjungi selagi bisa. Sementara Stella yang dari awal optimis dan semangat, drop di akhir karena merasa orang-orang yang harusnya pergi setelah dia, malah pergi terlebih dulu.

Ada sisi mengharukan ketika mereka harus merelakan sebuah kehilangan. Teman yang beru saja tertawa dan bersenang-senang bersama, tiba-tiba paru-parunya nggak berfungsi dan.... yah, u know lah.

People come and go. Itu nggak bisa ditolak.
CF merenggut apa yang seharusnya dimiliki Stella dan Will. Di saat teman-temannya bisa pergi ke mana-mana dan leluasa jatuh cinta, mereka nggak bisa. Bayangin juga mereka yang harus hidup dengan alat-alat di badan mereka, G-tube dan portabel oksigen misalnya, terus badan penuh dengan luka bekas operasi. It's hard to carry. And, pretty much CFer are infertile.

Gaya bahasa yang dipakai ringan dan simpel meski buku ini tentang penyakit, nggak njlimet lah pokoknya. Sekali baca bisa langsung habis.

Endingnya?
Tenang, nggak sad ending kok meski 'ewh'. Wkwk....
Hoping someday this book will be translated into Bahasa.

Btw jangan lupa nonton movie-nya juga ya.... Cole Sprouse as Will Newman loh!❤❤



Q u o t e s :

"My lungs are toast. So I'm going to enjoy the view while I can." [Will]
"Everyone in this world is breathing borrowed air." [Will]
"Wanting someone to live isn't same thing as wanting them." [Stella]
"I've been dying my whole life. Evehry birthday, we celebrated like it wa my last one." [Stella] 
"This disease is a fucking prison! I want to hug you." [Will]
Time. All this waiting is agony. [Will]
For me, it was easy to give up. It was easy to fight my treatments and focus on the time I do have. Stop working so damn hard for just a few seconds more. But Stella and Poe are making me want every second more than I get. [Will]
The distance between us will never go away or change. Six feet forever. [Will]
I know in that moment, even though it could not be more ridiculous, that if I die in there, I won't die without falling ini love. [Stella]
The only thing worse than not being able to be with her or be around her would be living in a world that she didn't exist in at all. Especially if it's my fault. [Will]
When you have CF, you don't know how much time you have left. But, honestly, you don't know much time the ones you love have left either. [Stella]
Every minute of my life is what-if, and it would be no different with Will. But I can already tell one thing. It'll be different without him. [Stella]
"You know what someone gets for loving me? They get to help me pay of all my care, and then they watch me die. How is that fair to anyone?" [Poe]
"Cystic fibrosis will steal no more from me. From now on, I am the thief." [Stella]
“When I was really little, I used to just stare at these fish, wondering what it would feel like to be able to hold my breath long enough to swim like they do.” [Stella]
“There’s one theory I like that says in order to understand death, we have to look at birth.” [Stella]
“But we all die alone, don’t we? The people we love can’t go with us.” [Will]
“God, you’re beautiful. And brave. It’s a crime I can’t touch you.” [Will]
It hurts, but the pain isn’t as sharp. [Stella]
I’ll die or they will, and this cycle of people dying and people grieving will just continue. [Stella]
If this year has taught me anything, it’s that grief can destroy a person. [Stella]
“It’s just life, Will. It’ll be over before we know it.” [Stella]
“You know I want to. But I can’t.” [Will]
“You make me want a life I can’t have.” [Will]
“Don’t think about what you’ve lost. Think of how much you have to gain. Live, Stella.” [Will]
“I guess it’s true what that book of yours says—the soul knows no time. These past few weeks will last forever for me. My only regret is that you never got to see your lights.” [Will]
“The only thing I want is to be with you. But I need for you to be safe. Safe from me.” [Will]
“I don’t want to leave you, but I love you too much to stay.” [Will]
“We need that touch from the one we love, almost as much as we need air to breathe. I never understood the importance of touch, his touch . . . until I couldn’t have it.” [Stella] 
The pain reminds me that they were here, that I’m alive. [Stella]

January 02, 2019

[Book Review] My Possessive Junior - Ervina Karim

Judul: My Possessive Junior
Penulis: Ervina Karim
Halaman: iv+190 halaman
Genre: [Nggak ada labelnya, aku labelin YA aja deh]
Penerbit: Venom Publisher
Tahun: Mei, 2018
Penyunting & Layout: Julia Inna Bunga
Desain Kover: Evi Fhe
ISBN: -
Harga: -
Rate: ★☆☆☆☆


Apa gue mesti jadi luka supaya tetap ada dalam hidup lo? - h. 103

S t o r y l i n e :

Marvel adalah cowok SMA usia 17 tahun yang mendadak jatuh cinta pada Avie, cewek kuliahan yang lima tahun lebih tua daripada dia. Cara pendekatan Marvel yang frontal 'agak-agak' mengganggu Avie. Aku bilang 'agak' karena memang aku lihat Avie nggak sepenuhnya terganggu kok. Marvel bahkan nggak peduli sama Avie yang menyukai Noel. Bagi Marvel, Avie adalah cinta matinya.

[Aku nggak menuliskan storyline panjang-panjang karena memang intinya cuma begitu aja, si Marvel yang suka sama Avie.]


K a r a k t e r :

Avie → Cewek yang 'euuuuuh' banget. Nggak tegas dan cenderung gampang termehek-mehek. Ngakunya di hati cuma ada Noel, tapi dirayu Marvel tersipu-sipu. Zzz~

Marvel → Playboy cap botol kecap yang ngakunya jatuh cinta beneran sama Avie. Sok-sokan paling cakep, frontal, semaunya sendiri. Hzzz, bukannya terpesona, aku malah ilfil. Padahal aku ini penggemar bad boy loh, except this one. Karakternya enggak banget.

Dea → Teman sekaligus kakak Marvel.

Noel → Gebetan Avie.

Galang → Adik Avie sekaligus sahabat Marvel.


P e n u l i s a n   &   K o r e k s i :

1. Lihat kover pandangan langsung kabur. Lah iya soalnya kovernya pecah-pecah mirip tumit sama sikuku. Hzzzz~

2. Di kover depan nama penulisnya Ervina Karin, tapi di bagian dalam Ervina Karim. Niat banget typo-nya😪

[Ini aku sama sekali belum baca loh, tapi selera baca udah drop duluan. Oke, lanjut....]

3. "Mungkin gue baik, ramah, nggak jutek...." [Prolog - Avie]
→ Yang bisa nilai kamu kayak gimana itu orang lain, Sayang. Bukan kamu sendiri, oke?!

4. Dan ... aku disambut oleh typo lagi di bagian prolognya Marvel 😑 Terus kata shit yang harusnya miring juga tegak-tegak aja tuh.

5. POV-nya campur. Ada POV satu, ada POV tiga terbatas, ada POV tiga serba tahu. Mana tiap pergantian ditulis: Avie POV, Author POV. Duh, sumpah nggak rapi banget!

6. Bahasa yang dipakai nggak baku, baik itu dalam narasi ataupun percakapannya. Tapi sekali lagi plis, tetap ada aturannya. Nulis buku bukan suka-suka kayak nulis diary atau curhatan di sosmed ya.

7. Typo, tanda baca, kata depan, awalan, penggunaan huruf besar dan huruf kecil, kata dan kalimat yang harusnya ditulis miring kacau balau. Oke, mungkin ke belakangnya aku bakal abaikan ini dan fokus ke plot aja. Aku anggap buku ini ditulis suka-suka, yang bodo amat sama KBBI dan kawan-kawannya. Btw aku masih di bab satu awal banget.

8. Pertama kali ketemu sama Avie, Marvel langsung ngecup pipi Avie sampai basah. Refleks Avie bukannya nampar atau menjauh, eh malah termehek-mehek sama ketamvanan Marvel. [- h. 10]
→ Okelah, Marvel ganteng, tapi apa segitunya Avie nggak punya harga diri? Kalau aku jadi Avie sih bisa dipastikan bola kembar Marvel nggak bakal selamat.
→ Marvel juga, amit-amit dah. Ada temen kakaknya cantik langsung disosor aja. Part ini jujur bikin aku otomatis komen: wagelaseh!
Ngecup pipi sampai basah. Dicipok? Dijilat? Diemut? 😂
→ Sumpah aku langsung ilfil sama kedua mahkluk ini. Yang satu main sosor aja, yang disosor juga malah termehek-mehek. *asdfghjkl!

9. Marvel menyukai Avie secara instan.
→ Mau makan mi instan aja butuh proses, harus dimasak dulu. Nah ini? Tiba-tiba aja Marvel ngecup pipi Avie pas Avie lagi nungguin Dea (kakak Marvel). Terus seenak udel bilang suka, cinta, kamu milikku, kamu pacarku? Posesifnya si Marvel ini nggak beralasan.
Duh, fiksi sih fiksi. But where's the logic?

10. Kedua bola mataku terbelalak histeris. [- h. 10]
→ Bola mata terbelalak? Nggak bisa bayangin deh gimana bentuknya. Yang terbelalak itu kelopak mata, oke?!

11. Quote [- h. 11]
→ Penulisan aku dan kamu pakai A dan K besar, padahal aku dan kamu di situ bukan awal kalimat. Hell-to-the-O, penulisan seperti itu mengarah ke Tuhan. Berhubung gue dan lo bukan Tuhan, jadi pakai a dan k kecil aja.

12. Marvel yang langsung bilang kalau Avie adalah miliknya, pacarnya tanpa ada alasan. Padahal waktu itu dia baru aja ketemu sama Avie.
→ Marvel sehat? Mau nambah micin mungkin?

13. ...Queen of School di sekolah luar biasa ini?
→ Mungkin bisa pakai pilihan kata yang lain? Sekolah luar biasa aku bayanginnya kok SLB. Tahu kan SLB itu sekolah yang kayak gimana?

14. Bola mata terbelalak sempurna. [- h. 48]
→ Eh muncul lagi bola mata yang terbelalak. Next kalau muncul lagi nggak bakalan aku koreksi.

15. It's show time! [- h. 58]
→ Get ready? It's show time! Nah, mendadak ingat iKON.
*Abaikan yang ini ya. Bukan koreksi kok, cuma lucu-lucuan aja*

16. Bigbang! [- h. 59]
→ Woy! Kenapa bawa-bawa Big Bang sih, nggak tahu apa gue ini VIP sejak 2008.
*Abaikan yang ini ya. Bukan koreksi kok, cuma lucu-lucuan aja*

17. He's a player casanova. [- h. 62]
→ Um, kalimat ini maksudnya gimana, ya? Kalau memang mau bikin kalimat umpatan, He's a player aja cukup. Nggak usah ada embel-embel casanova, jadi tumpuk-tumpuk ah. Btw tahu nggak siapa itu Casanova? Kalau belum tahu tanya Eyang Gugel yak!

18. "He messes with girls and plays them like toys." [- h. 71]
→ Messes? *seketika ingat meses ceres*
#RIPEnglish 😭

19. "What do you do when I sleep?" [- h. 83]
→ Struktur kalimatnya bener-bener polosan nggak ada campur tangan tenses-nya. Padahal mengarah ke past tense. Tolong diperhatikan ya, sewaktu menulis kalimat atau apa pun dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, tolong pakai banget kuasai dulu. Kalau dibaca yang ngerti sih palingan cuma geleng-geleng kepala, tapi gimana kalau dibaca orang nggak ngerti dan mereka anggap kalimat itu benar? Wah, menyesatkan dong jadinya. Menulis buku itu bukan cuma sekadar hobi untuk mengisi waktu luang, tapi juga memberikan informasi kepada pembaca. So, jangan memberikan informasi yang menyesatkan ya. Kalau memang nggak menguasai bahasa asing, tanya dulu sama ahlinya. Atau, yang paling aman pakai bahasa Indonesia aja. Kuasai dulu bahasa Ibu, baru nambah bahasa lainnya.

20. Avie yang terkesan nurut aja sama Marvel. Katanya benci, tapi kesannya nggak bisa nolak.
→ Fix, authornya masih belum berhasil membangun karakter. Avie ini 22 tahun lho, harusnya sudah bisa ambil tindakan. Masak gara-gara Marvel tahu kalau Avie suka sama FF NC aja dia jadi susah nolak? Padahal semua tindakan Marvel ke Avie ini bisa dibilang 'sakit'. Macam fanboy freak yang terobsesi sama Jennie BlackPink.

21. "Silence. You are right. Aku akan...." [- h. 85]
→ Wait! Wait! Yang benar 'shut up!', bukan 'silence', pas ini si Marvel juga lagi marah lho! Sepintas maknanya memang sama, tapi beda. Sekali lagi, kuasai sedetail apa pun yang kamu tulis.

22. Deno yang penasaran secantik apa Avie. [- h. 92]
→ Lah? Bukannya mereka udah pernah ketemu? Waktu si Marvel nyamperin Avie di kampus, tiba-tiba datang 3 motor. Mereka Deno, Galang, dan Helmi, kan? [- h. 51]

23. "I don't care if you say's you never mine. 'Cause for me, you are mine. Now and forever. Remember that's!" [- h. 98]
#RIPEnglish

24. "Nothing reason for fall in love with you. 'Cause if you love someone, one again, nothing reason for that's." [- h. 127]
#RIPEnglish

25. 16.20 PM In Jakarta [- h. 163]
→ Kalau pake AM/PM formatnya 12 jam ya, bukan 24 jam gini. Siapa pun tahu kalau 16.20 itu udah lewat 12 siang, jadi nggak perlu ditambah PM lagi sebagai penunjuk. Beda kalau formatnya 12 jam, kudu dikasih keterangan AM/PM biar tahu itu sebelum/setelah jam 12 siang.
→ In di tengah I-nya pake huruf kecil ya. Kenapa? Ya emang gitu aturannya.


*Tarik napas dalam-dalam sebelum lanjut....*

Oke, jadi awalnya aku baca ebook ini karena dimintai tolong oleh author-nya untuk mereview. Dan posting review-an ini juga atas permintaan author.

Pertanyaanku yang paling mendasar: Ini editornya kerja? Seriusan menguasai KBBI dan kawan-kawannya?

Pertama kali ngelihat kovernya, aku pikir ini adalah buku dengan cerita 21+, ternyata aku kecele. Tokoh utama dalam buku ini anak SMA dan anak kuliahan. Storyline-nya benernya simple banget, cuma tentang Marvel yang mabok cinta sama Avie, sementara Avie susah mengakui karena Marvel lebih muda, um berondong jagung lah ya. Dari storyline yang sangat sederhana seperti itu harusnya diimbangi dengan bumbu-bumbu apa kek biar menarik. Sayangnya buku ini nggak, ditambah dengan penulisan dan premis yang euhhhh~ So, so, so sorry to say: this book has no interest!

Coba aja kalau plotnya dibikin gini:
Marvel naksir sama Avie, tapi Galang selaku adeknya Avie nggak setuju. Karena Galang yang juga sahabat Marvel tahu banget kebusukannya Marvel yang suka main cewek. Lalu Noel yang disukai oleh Avie bikin Avie patah hati (terserah gimana patah hatinya). Keadaan Avie yang patah hati dijadikan celah oleh Marvel untuk mendekat. Terus mereka dekat deh. Nah, Galang yang nggak setuju dengan berbagai cara mencoba untuk menghalagi hubungan Marvel dan Avie. Sampai pada puncaknya Marvel dilukai Galang yang bikin persahabatan Avie dan Dea retak. Dan seterusnya.... [Kan ini cuma misal aja, jadi ada twist-nya gitu lho!]

Oke, cerita ini tokohnya memang anak SMA dan anak kuliahan, tapi karakter Marvel diceritakan suka gonta-ganti cewek buat teman bobok dan have fun aja. Hm, nggak apa-apa sih, mengingat zaman sekarang gaya hidup seperti itu sudah umum, apalagi di kota-kota besar. Hanya saja, saranku bangunlah karakter utama yang lebih positif. Nakal dan brengsek itu wajar kok. Tapi buatlah ending yang menyenangkan buat si karakter utama. Marvel memang kelihatannya tobat sih, tapi prosesnya nggak terlalu kentara. Yang ditonjolkan dalam cerita ini cuma posesifnya Marvel ke Avie. Avie sebagai cewek juga nggak banget, haha.... Seganteng-gantengnya cowok yang main sosor aja, masak refleksnya cuma bengong karena terlalu terpesona? Minimal teriak kek, atau didorong. Lagian Avie baru pertama kali ketemu sama Marvel.

Selain posesif, mungkin yang ingin disampaikan oleh penulisnya adalah bahwa cinta tidak mengenal usia. Tema yang sudah sangat umum, hanya saja andaikata pengemasannya menarik pasti responku bakal beda. MPJ ini cenderung flat, nggak ada twist, dari segi penulisan dan diksi juga masih perlu lebih banyak belajar. Diksinya masih terlalu biasa untuk sebuah cerita yang diharapkan bisa membuat orang baper.

Saranku buat author:
Untuk penulisan yang baik dan benar, mungkin kamu bisa baca buku-buku terbitan Gramedia atau Elexmedia yang setahuku dari segi penulisan oke punya. Sedangkan untuk plot, karakter, dll kamu harus banyak membaca. Bacalah buku yang berkualitas ya. Sebelum memutuskan untuk menulis, riset dulu, juga kuasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Karena menulis ada aturannya, nggak seperti curhat di sosmed yang seenak jidat. Aku dulu juga gini kok, nulis aja apa yang ada di kepala. Tapi sekarang setelah banyak membaca dan belajar, aku baca naskah lamaku jijay sendiri. Berantakan parah! So, jangan malas untuk belajar kalau mau tulisan kamu berkualitas. Keep writing ya~ And thank you for giving me chance to read your book 😃💕

November 10, 2018

[Book Review] Thousand Dreams - Dian Mariani

Judul: Thousand Dreams
Penulis: Dian Mariani
Halaman: 216 halaman
Genre: Teenlit, Young Adult (15+)
Tahun: Juli, 2018
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020476759
Harga: IDR 52.800 (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆



Cita-cita terdalam mereka, kecintaan mereka terhadap dunia seni, kerelaan mereka mengorbankan banyak hal demi mewujudkan mimpi mereka. Tidak semua orang bisa mengerti. Hanya orang yang punya kecintaan sebesar itu yang bisa memahami. [Jo] - h. 80


B l u r b :

Jo dan Callista bersahabat sejak SMA. Sama-sama menyukai seni, tetapi terpaksa menempuh pendidikan di jurusan yang tidak mereka sukai. Callista yang suka menulis, terpaksa memilih jurusan yang dibencinya, demi karier yang menurut ibunya jauh lebih cemerlang. Sedangkan Jo, yang tergila-gila dengan fotografi, terpaksa mengambil jurusan Bisnis sesuai dengan keinginan orangtuanya.

Segalanya memang akan terasa lebih berat kalau kita tidak suka dengan apa yang kita lakukan. Tapi, hobi yang dijalankan sepenuh hati, juga punya tuntutan sendiri. Dunia seni profesional mulai menunjukkan taringnya. Menjadi seniman ternyata tak semudah yang dibayangkan. Target, deadline, dan profesionalisme adalah wajib hukumnya demi unjuk gigi di dunia yang mereka idamkan ini.

Sibuk dengan mimpi dan cita-cita masing-masing, kedua sahabat ini perlahan saling menjauh. Memang harus ada yang dikorbankan, demi mencapai sesuatu yang sangat kita inginkan. Dan ketika percik hati mulai berbunyi, siapakah yang mereka pilih? Jemari lain yang menggandeng mereka meraih mimpi atau seseorang yang pernah punya arti?


S t o r y l i n e :

Jo menyukai fotografi, sementara Callista suka menulis. Namun semua itu tidak mendapatkan restu dari orangtua mereka, terutama sang ayah. Merasa memiliki 'nasib' yang sama, mereka berdua saling menyemangati. Sering kali berbicara mengenai mimpi-mimpi mereka.

Suatu hari Callista dinyatakan sebagai salah satu pemenang dalam lomba menulis yang diadakan oleh penerbit Garuda, dan karyanya akan diterbitkan. Namun sebelumnya Callista harus menjalani beberapa perosedur penerbitan, salah satunya adalah merevisi naskah yang ditangani oleh Nando, editor Garuda sekaligus penulis favorit Callista. Well, tentu saja Callista happy nggak ketulungan, siapa sih yang nggak happy kalau berada di posisinya Callista?

Sementara itu di sisi lain, Jo juga memenangkan sebuah lomba fotografi yang berhadiah kursus langsung oleh seorang fotografer terkenal, Darius Bono, selama dua bulan. Berangkat dari sini Jo akhirnya semakin mahir memotret. Bang Patar yang juga sering mengajak Jo memotret mengajak Jo untuk memotret sebuah event fashion. Nah, di sinilah Jo mengenal Elisa, sosok yang sangat gigih dalam meraih mimpi-mimpinya, sosok yang sama sekali tidak membuang kesempatan sekecil apa pun. Elisa berperan besar dalam karir memotret Jo yang masih pemula ini. Mulai bertukar pikiran, memberi motivasi, hingga mengenalkan/merekomendasikan Jo pada networking-nya.

Callista dan Nando sibuk dengan dunia kepenulisan mereka.
Jo dan Elisa sibuk dengan even-even fotografi mereka.

Kesibukan itu menjauhkan mereka. Jo dan Callista hampir tidak pernah bersama, bahkan untuk sekadar bertukar kabar melalui telepon/pesan singkat. Ujung-ujungnya kesalahpahaman pun tidak dapat dihindari. Pun dengan rasa cemburu.

Belakangan mereka menyadari, banyak yang harus dikorbankan demi meraih mimpi. Namun tidak berarti mereka juga harus mengorbankan apa yang sudah mereka dapatkan.



"Menurut gue ... berlari terlalu cepat bisa bikin kaki kita luka. Berjalan pelan, bukan berarti kita nggak bisa sampai di tujuan. Saat ini, gue memilih untuk berjalan pelan dan menikmati setiap prosesnya." [Callista] - h. 136 


K a r a k t e r :

Jo → Tergila-gila dengan fotografi, namun restu orangtua (terutama sang ayah) membuat cita-citanya terhambat. Meski begitu dia masih mau menuruti keinginan ayahnya untuk masuk jurusan Bisnis. Dia berani mengambil risiko apa pun demi mengejar mimpinya, termasuk kuliahnya yang menjadi berantakan.

Callista → Terpaksa masuk jurusan Akuntansi meski sangat suka menulis, padahal dia sangat membenci jurusan itu. Namun ketika tulisannya berhasil diterbitkan, Callista menyadari satu hal, bila ternyata semua ini tak semudah yang dia bayangkan.

Nando → Editor sekaligus penulis favorit Callista. Memiliki hobi serta pemikiran yang sama membuat Nando menaruh rasa lebih pada Callista.

Elisa → Cewek yang terbang bebas, tidak peduli apa pun dalam berjuang meraih mimpinya. Semua kesempatan yang ada tidak dia sia-siakan. Elisa ini juga berperan penting dalam karir memotret Jo.

P e n u l i s a n :

Seperti tulisan ce Dian yang sebelumnya aku baca (Me Minus You) penulisan novel ini menggunakan POV ketiga terbatas. Bedanya semua perpindahan POV dalam novel ini rapi banget, lalu semua kalimatnya juga begitu rapi, jadi dari segi penulisan novel ini lebih nyaman untuk dibaca.

Di beberapa bagian aku masih nemu kata yang nggak konsisten, yaitu penulisan orangtua. Ada yang dipisah, ada juga yang digandeng. Sebetulnya artinya beda, walau sampai sekarang setahuku nggak ada ketentuan khusus.
Orang tua → Orang yang tua.
Orangtua → Lebih menunjuk ke Ayah-Ibu.



"Jadi gue berpikir ... hidup ini, bukan tentang memenangi seluruh pertandingan. Bukan juga tentang siapa yang paling cepat berjalan. Atau menentukan siapa juaranya. Tapi, yang menikmati waktu setiap detiknya." [Callista] - h. 190

Aku excited banget sama buku ini. First, karena aku suka baca teenlit (biar awet muda). Second, karena temanya friend zone. Jadilah dua poin unggulan itu menjadikan buku ini masuk dalam reading list-ku. Dan setelah dibaca, isinya nggak mengecewakan. Banyak pelajaran mengenai mimpi yang bisa diambil dari sini.

Novel ini memang menuliskan betapa pentingnya kita menggapai mimpi kita, semua itu butuh sebuah pengorbanan yang besar, termasuk mengorbankan apa yang sudah kita miliki. Memang mimpi terkadang bisa menjadikan kita serakah dan kurang bersyukur. Nah, Jo dan Callista juga menghadapi itu. Pertama-tama mereka harus berjuang menggapai mimpi mereka sementara orangtua mereka tidak merestui. Lalu setelah mimpi itu tercapai, mereka dihadapkan pada situasi yang menuntut mereka untuk mengorbankan hal-hal sederhana yang sudah mereka miliki, seperti orangtua dan sahabat. Susah euy menyeimbangkan semua itu. Selain itu, buku ini juga mengajarkan kalau apa pun keinginan orangtua, sekalipun bertentangan dengan keinginan kita, orangtua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kelak, sebagai orangtua kita juga pasti akan mengerti.

Cita-cita Jo maupun Callista sangat dieksplor di sini, jelas sejelas-jelasnya. Sayangnya pergulatan batin mereka malah kurang dieksplor, alhasil kurang bikin baper. Interaksi yang menggambarkan friend zone mereka lebih ke aksi daripada perasaan. Seperti Jo yang ngelindungin Callista atau Callista yang bersedia nungguin mamanya Jo. Scene favoritku yang waktu di Bandung itu, feel cemburunya Jo dapet banget. Hehe....

Btw waktu baca ini, aku feel related banget sama Callista. I was on the same boat with her. Mau masuk jurusan Sastra tapi dipaksa masuk jurusan Akuntansi. Bisa lulus dengan IP bagus? Bisa kok. Tapi sampai sekarang aku nggak ada suka-sukanya sama Akuntansi, not even a little. Aku tetep suka baca dan nulis. Tapi bagiku nggak ada kata terlambat sih. Aku masih berjuang buat mimpiku.

"Yes, you have to dream high. Just don't forget to be safely landed." [Callista] - h. 191