May 13, 2019

[Book Review] Claires - Valerie Patkar

Judul: Claires
Penulis: Valerie Patkar
Genre: Romance (13+)
Tebal: 380 halaman
Bahasa: Indonesia
Rilis: 19 Maret 2018
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
ISBN: 9786024553661
Harga: IDR. 81.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Tentang ada, namun tidak ada.
Tentang di sini, namun pergi.
Tentang sembuh, namun tetap luka.
Tentang percaya, namun ditinggalkan.

Claire dan Deverra seperti deretan awan di atas langit.
Mereka sama dan itu membuat mereka sempurna.

Claire dan Ares seperti rangkaian baris warna pada pelangi.
Mereka berbeda dan itu membuat mereka indah.

"Untuk siapa pun yang mengingatku
di kepalanya, aku mengingatmu lebih jelas
dari semua ingatan di kepalamu itu."

K a r a k t e r :

Claire Paveitria: Seorang gadis berdarah Bali dan Inggris. Setelah kedua orangtuanya bercerai, dia memilih tinggal bersama ibunya di Manchester, namun belakangan memilih untuk tinggal sendiri di Bali. Suka menulis puisi.

Kai Deverra: Pacar Claire. Seorang pembalab F1 yang terpaksa meninggalkan Claire selama enam bulan demi Grand Prix.

Ares Nota: Cowok begajulan, anak bungsu dari deretan orang terkaya di Indonesia. Kerjaannya hanya hura-hura.

Apollo Kitara: Sahabat Ares dan teman baik Kai.

Katrina Lanticca: Sahabat Claire.

S t o r y l i n e :

Secara garis besar buku ini menceritakan Claire yang harus long distance dengan Kai. Berawal dari ponsel yang ketinggalan, dia akhirnya sering bertemu dengan Ares—cowok begajulan yang sangat bertolak belakang dengan Kai. Ares terus-terusan mengejar dan mengganggu Claire, sama sekali tidak peduli dengan status gadis itu yang sudah menjadi milik orang lain. Di satu sisi, Claire yang kesepian juga mulai terbiasa dengan gangguan Ares. Claire tahu ini salah, namun ketika dia diharuskan untuk memilih, dia merasa kesulitan.


Iya, aku tahu kok kalau buku ini hype-nya udah lewat, udah setahun lebih bahkan. Dulu sempat mau beli buku ini, tapi sold terus sampai akhirnya kelupaan sendiri dan baru kebeli bulan lalu.

Sebetulnya kisah yang ditawarkan sangatlah klise, namun ketika udah masuk ke dalam cerita, perasaan ini jadi ikut-ikutan campur aduk. Di awal-awal aku ketawa-ketawa aja dengan kelakuan Ares, lalu di bagian sepertiga akhir, rasanya dada nyut-nyutan pas baca. Entah ini efek aku yang lagi kebaperan atau gimana, yang pasti aku berasa masuk banget ke ceritanya, bisa rasain gimana patah hatinya Ares, gimana galaunya Claire, juga gimana usaha kerasnya Kai.

Aku memang bukan penganut long distance dan nggak bakal mau. Jadi aku bisa banget ngerasain apa yang Claire rasakan. Claire nggak meminta diprioritaskan, tapi setidaknya dia pengin Kai itu sekali aja lebih milih dia daripada balapan. Pas banget waktu Claire kesepian, Ares masuk dalam kehidupannya, bikin hari-harinya yang sepi jadi semarak. Claire juga ngerasa nyaman dengan Ares. Salah sih, tapi kalau aku ada di posisi Claire, mungkin aku juga bakalan ngerasain hal yang sama. Bukannya selingkuh, tapi kehadiran dari orang yang kita sayang itu penting dalam sebuah hubungan. Cuma, hal seperti ini bisa berbeda-beda pada setiap orang, jadi memang bukan patokan.

Dalam buku ini sebetulnya lebih menekankan jika cinta itu bukan terdiri dari dua pribadi yang sama sehingga terlihat sempurna. Namun lebih pada dua pribadi berbeda yang berjalan bersama-sama sehingga cinta itu memiliki warna dan tidak monoton.

Kalimat-kalimatnya dalem banget, bener-bener indah buat aku. Sayangnya terkesan kurang rapi waktu dibaca, coba dirapiin dikit, wuih, bakalan cakep banget buku ini. Beberapa scene aku ngerasa agak lebay, tapi terbayarlah kalau dibandingin dengan keseluruhan cerita.

Menjelang akhir cerita aku agak kecewa dengan sikapnya Claire yang bersikukuh nggak mau ngakuin perasaannya dan memilih untuk lari. Bukan karena aku kasihan sama Ares sih, tapi lebih karena aku ngerasa Claire sok jual mahal aja. Ares udah di depan mata, tinggal jujur aja apa susahnya sih?

Kesimpulannya, kalau kalian suka buku dengan cerita yang jleb atau feel-nya ngena banget, aku rekomen buku ini ke kalian.


Q u o t e s :

It feels great. To find that someone you are longing for, asking how you are doing. Eventhough they aren't longing for you like the way you do. - h. 8
Bahwa kadang menjadi baik-baik saja tidak berarti sama dengan menjadi bahagia. - h. 9 
"Finding your paradise is as simple as to remember the smallest thing that remained forever." - h. 9
Sedikit orang yang percaya, ketika kaki terkilir dan sukar berjalan, selalu ada tangan yang bersedia terulur untuk membantunya bangkit. - h. 11
"Buat aku, nggak ada hari esok. Aku mau lakuin semuanya sekarang. Karena aku nggak tahu besok gimana. Aku nggak mau gagal dan hidup berdasarkan kata seharusnya." - h. 28
Karena pada dasarnya, manusia terlalu sibuk memberi cinta pada orang lain, sehingga lupa kalau dirinya sendiri juga butuh itu. - h. 43
Nota memang bukan sebuah keluarga yang hangat. Tapi Nota merupakan keluarga yang saling peduli dan melindungi. - h. 53
"Because true feeling starts from hate." - h. 84
"Jangan selalu merasa nggak enak. Semua orang kan berhak jadi diri mereka sendiri." - h. 99
Hujan selalu datang untuk membawa kembali kenangan yang sudah kering dengan cara membasahinya. - h. 107
"Cinta seperti misteri terselubung pada suatu zaman, mengendap-endap di balik penampilan, dan menjadikan hati kita sebagai sarangnya." - h. 163
Cinta bukan hanya dari dua orang berbeda yang memiliki satu tujuan, melainkan dua orang yang memiliki dua tujuan berbeda dan menjalani keduanya bersama-sama tanpa ada satu pun yang meninggalkan. - h. 164
"Sesempurna apa pun sebuah hubungan, kesempurnaan itu selalu kalah dengan perasaan. Ketika dia punya perasaan lebih dengan yang nggak sempurna, ketidaksempurnaan itu justru yang membuat semuanya jadi indah." - h. 186
"Buat diri kamu bukan jadi yang pertama untuk dia, tapi jadi yang terakhir. Karena saat kamu jadi yang pertama, selalu ada orang kedua." - h. 187
"Love is short. Forgetting is so long." - h. 256
 Jatuh cinta bukan sebuah kesalahan. Hanya waktu dan orang yang tidak tepat yang membuatnya salah. - h. 259
"Walau lo merasa nggak pantas, selama dia butuh lo, kata nggak pantas itu bisa dihapus." - h. 304
"Kalau nggak sakit namanya bukan cinta." - h. 312
"Girls cut their hair to get a new life, to forget everything that is really hard to be forgotten." - h. 319
Setinggi-tingginya harapan, di saat kita tidak punya tangga untuk sampai ke sana, kita hanya perlu berdiri di tempat kita berada, diam dan menatap harapan itu dari jauh. Karena meskipun kita tidak mewujudkan harapan itu, setidaknya harapan itu masih di sana, menunggu kita. Kapan pun kita punya tangganya, kita akan sampai ke sana. - h. 335-336
"Cintai orang yang bisa buat kamu bahagia. Bukan yang bisa buat kamu sempurna. Karena yang sempurna belum tentu bisa buat kamu bahagia. Tapi bahagia selalu bisa buat hidup kamu sempurna." - h. 345
Kita selalu bisa mencintai seseorang sebanyak yang kita ingin. Tapi hanya akan ada satu orang yang bisa menyakiti kita sebanyak yang mereka mau.... - h. 366

May 06, 2019

[Book Review] Levent Princes Wants Me - Ervina Karim

Judul: Levent Princes Wants Me
Penulis: Ervina Karim
Genre: Roman Fantasi
Tebal: 230 halaman
Rilis: 2018
Penerbit: DM Publisher
Editor, Desain Kover, Layout, Latar Kover: Siti Nurannisa
ISBN: -
Harga: -
Rate: ★½



Buku ini menceritakan tentang apa sih?

Tentang cewek bernama Avril yang tiba-tiba diculik ke negeri dongeng dan menjadi ratu di sana. Dia dijadikan istri dari Levent, sang penguasa yang merupakan Vampir. Avril berkali-kali ingin kembali, tapi di saat yang sama dia juga termehek-mehek oleh pesona Levent. Labil ya? Okelah, maklum masih 18 tahun.
Singkat kata mereka menikah, kemudian berperang melawan seorang penyihir yang berniat menghancurkan mereka beserta dengan pasukannya.
Avril sempat kembali ke dunia nyata setelah koma selama dua tahun. Tapi toh akhirnya dia nggak bisa memungkiri kalau dia tetap istrinya Levent.

Karakternya?

Rata-rata galau. Nggak ada yang kuat.

Penulisannya?

Oke, mari kita bahas....

♥ Benernya aku ogah bahas soal kata pengantar karena nggak ada sangkut pautnya sama cerita. Cuma karena ada dan kebaca sama aku, otomatis mataku langsung gatel kena typo-typo yang bertebaran. Kalo ada yang tanya typo-nya apa aja, silakan cek sendiri, males jelasin satu-satu karena ini poin yang sangat sederhana sekali, tapi terkesan diabaikan. Mungkin ada yang beranggapan kata pengantar boleh ditulis suka-suka, ya tapi nggak gini-gini juga kaleee. Okelah, aku nggak mau nge-judge kalo buku ini dari banyaknya typo di kata pengantar, jadi mari kita baca dulu. . . .

♥ Judulnya Levent Princes Wants Me. Hm, dari aku awal belajar bahasa Inggris, nggak ada tuh kata Princes. Yang ada Prince untuk pangeran dan Princess untuk putri. Atau mungkin Princes di sini maksudnya jamak?

♥ Masih sampai halaman 5, tapi aku udah kesel banget sama penggunaan tanda baca yang ada. Ituloh, seenak jidat narohnya. Penggunaan kata depan dan awalan juga ngasal.



♥ ...mahkota gagah... [- h. 5] → Kok nggak enak dibaca ya? Kalo orang pakai baju zirah kelihatan gagah mah wajar, tapi kalo mahkota kok nganu ya.

Layout-nya boros. Aku nggak tahu versi cetaknya gimana ya, yang pasti versi pdf-nya boros banget, jaraknya lebar-lebar kayak jarak aku dan kamu.

"The pretties sunday afternoon drive in the world." [- h. 10] → Weleh, ini mengutip aja kok ya masih salah sih? Salahnya di mana? Coba ceki-ceki Wikipedia sana.

♥ Pfffftttt! Udah ah, aku nyerah sama typo, penggunaan tanda baca, kata depan, awalan, dan tetek bengeknya. Capek akutu! Btw aku masih sampai halaman 11. Next aku bakalan coba mengabaikan typo.

♥ Nah, mau pakai dual POV sah-sah aja kok, tapi nggak usah ditulis Avril POV, Author POV. Kalo emang POV-nya Avril ya tulis aja di atasnya, Avril. Eh tapi masalahnya ini mixed antara POV satu sama POV tiga. Gini deh, untuk POV yang gado-gado gini coba kamu baca novel Petjah karangan Oda Sekar Ayu. Coba pelajari gimana dia nge-mix POV tapi masih oke buat dibaca.

♥ Melipat dada. [- h. 17] → Bisa jelasin ini posisinya gimana? Aku masih gagal paham.

♥ Lha? Di akhir POV-nya Avril ada tulisannya Avril POV End. Yawlaaaa😅

♥ Terpelilit. [- h. 52] → Apaan neh?

♥ Menghisap. [- h. 53] → Oke, mungkin masih banyak yang belum tahu ya, kalo sebenarnya kata hisap itu nggak ada di KBBI. Yang ada isap. Untuk karya-karya selanjutnya, semoga bisa diterapkan.

♥ Meneguk saliva. [- h. 54] → Ini udah kedua kalinya aku ketemu sama kalimat meneguk saliva, yang tadi lupa di halaman berapa. Sebenernya ini nggak salah sih, karena saliva itu sendiri artinya ludah/air liur. Cuma saliva itu bukan bahasa Indonesia loh, kalaupun maksa dipakai, ya harus miring tulisannya. Tapi menurutku penggunaan kata saliva di sini kurang tepat aja, beda kalau dipakai dalam istilah medis/biologi.

♥ Judul bab: Blood's Drink? [- h. 57] → Tahu fungsi tambahan 's pada sebuah kata nggak?

♥ ...tubuhku terbengkalai tak berdaya. [- h. 61] → Terbengkalai memang bisa diartikan sebagai terlantar, tapi konteksnya apa dulu. Coba cek KBBI dan pahami artinya.

♥ Kurcaci, Tinkerbell, Beauty and the Beast, Mariposa... [- h. 62] → Kok ada Beauty and the Beast? Itu bukan jenis makhluk loh, tapi judul film. Hehe.

♥ Terlentang. [- h. 62] → Cek KBBI.

♥ Judul bab: Abnormal Married. [- h. 64] → #RIPEnglish.

♥ Mensejajarkan. [- h. 68] → Cek KBBI.

♥ "We got married to night, Avril." [- h. 69] → Belajar bahasa enggresss dulu ya, Nak.

♥ Judul bab: Panik Morgan! [- h. 74] → Auto rolling eyes!

♥ Kok aku terganggu dengan selipan kata-kata err, arght. Terlalu sering muncul. Kesal, sebal, marah, gugup, dlsb itu bisa diekspresikan macam-macam. Nggak melulu eer, arght.

♥ Si Avril hilang dan Morgan, kakaknya, kebingungan. Dia menanti sampai sore. Di situ juga dijelaskan kalau setiap pagi neneknya berbelanja untuk keperluan. Nah, terus si nenek pulang deh. [- h. 77-78] → Wait, ini neneknya belanja sampai sore gitu? Dan setiap hari?

♥ Pergejolakan. [- h. 80] → Cek KBBI.

♥ Morgan selama ini cuek sama Avril. Tapi giliran Avril hilang, Morgan langsung ngenes, sampai tidur di kasurnya Avril dan peluk selimut Hello Kitty. [- h. 82] → Walah, Morgan baperan amat ya. Banyak kok kakak cowok yang cuek tapi benernya sayang. Cuma yah, nggak gini-gini juga kali. Kecuali hilangnya udah berhari-hari, bolehlah baper gini karena menyesal. Ini kan masih sehari? Biasanya cowok cenderung optimis dan nggak mau disalahkan. Morgan, plis deh jangan kayak nastar yang garing di luar, tapi lembek di dalam.

♥ Kedua lenganku melingkupi rahang tegasnya. [- h. 113] → Posisi gimana lagi ini? Lengan melingkupi rahang, hm.

♥ Judul bab: Him Never Fall In Love. [- h. 132] → Tepok jidat. Him bisa sih diletakkan di depan, tapi struktur kalimatnya nggak gini.

♥ Banyak kata dan kalimat yang maksa. Nggak cocok, tapi di cocok-cocokin. Apakah ini efek ilmu cocoklogi yang lagi tren sekarang ini?

♥ Emak sama babenya Avril kelimpungan pas tahu kalo anak perempuannya hilang. Emaknya nangis, babenya mabuk-mabukan. [- h. 167] → WTF, anaknya ilang malah mabok-mabokan, maksudnya apaaah?

♥ Judul bab: De Ja Vu. [- h. 175] → Cek sendiri yang bener gimana tulisannya.

Avril mine's Levent. [- h. 225] → Ya Gusti, sudahlah, capek mau komen soal parahnya bahasa enggres yang dipakai.

♥ Sampai akhir cerita pangerannya cuma ada satu, yaitu Levent. Nah, berarti judulnya nggak pas. Kalo satu doang kan Prince, nggak pake tambahan s.


Seperti sebelumnya, aku bikin review dan nge-post ini atas permintaan author. Jadi jangan bilang kalo aku mau jelek-jelekin pihak tertentu ya.

Jujur aku sedikit berharap ada sedikit perubahan pada tulisan kedua milik author ini, ya nyatanya memang ada sih, sedikiiiiiit banget. Yaitu tema yang diangkat sedikit lebih menarik ketimbang My Possessive Junior dulu dan sepertinya memang melakukan riset karena beberapa aku sempat baca beberapa infonya di Wikipedia. Jalan ceritanya agak mbulet, juga nggak punya dasar yang jelas. Contohnya, Levent yang tiba-tiba aja jatuh cinta sama Avril dan ingin menikahinya. Ada dijelaskan di situ kasak-kusuk soal Avril 500 tahun lalu atau apa, aku kurang jelas, dan sampai akhir memang nggak dijelaskan. Boleh-boleh aja berteka-teki asalkan jelas di belakangnya. Digantungin juga boleh, tapi dikasih sekuel. Ya kali digantungin doang nggak enak tauk!

Dari segi penulisan dan tetek bengeknya belum ada perbaikan sama sekali, author terkesan masih menyepelekan typo, penggunaan tanda baca, bahkan kata depan dan awalan pun amburadul. Duh, sampai bingung aku mau komen gimana, karena kurang lebih komenku masih sama seperti dulu. Memang sih, dalam menulis kita menuangkan apa aja yang ada di kepala kita, tapi setelahnya dibaca lagi nggak? Diteliti lagi nggak? Ya kalo bener ini udah hasil editan, naskah aslinya separah apa? Atau, editornya bisa ngedit nggak sih? Hati-hati lho dalam milih editor, pilih yang beneran ahli di bidangnya, jangan yang abal-abal. Bayangin aja naskah amburadul ketemu editor dodol? Ya nggak bakal bener naskahnya. *Duh, emosi aku. Maap.*

Masukanku juga masih sama, terus belajar. Aku nggak tahu kamu usia berapa, tapi tolonglah, jangan menutup mata sama kaidah penulisan yang baik dan benar. Minimal bisalah bedakan kata depan dan awalan, serta peletakan dan penggunaan tanda baca yang tepat. Soal typo, namanya juga manusia, bisa salah, tapi kalo sebanyak ini yah.... Masak sih keluputan sampai satu buku?

Oh ya, perbanyak baca buku yang berkualitas. Pelajari buku itu. Habis nulis, baca ulang, ada yang saltik nggak, kalimatnya udah pas belum, enak dibaca nggak.... Ya gitu aja deh masukanku. Btw thanks udah kasih kesempatan aku buat baca. Next, aku ngarep ada kemajuan dari kamu.

May 01, 2019

[Book Review] Hold You Close - Melanie Harlow and Corrine Michaels

Judul: Hold You Close
Penulis: Melanie Harlow & Corrine Michaels
Genre: Adult Romance (21+)
Tebal: 270 halaman
Rilis: 20 Agustus 2018
Penerbit: Love & Olives Ink, LLC
Bahasa: Inggris
ISBN: 9781732371804
Harga: $14.99 (Paperback), Kindle Audiobook Free
Rate: ★★½


B l u r b :

Ian Chase broke my heart at seventeen, and I’ve spent the last eighteen years hating him for it.

He makes it easy, with his smart mouth and playboy lifestyle—which I unfortunately have to observe since he lives behind me. Every time I see him climbing out of his pool, practically naked and unreasonably sexy, my blood boils.

I’ve always loved to loathe him.

I never planned to need him.

*** 

London Parish is my little sister’s best friend, not that it stopped me from falling for her.

Our history is complicated. The only thing we have in common is being godparents to my sister’s three adorable kids—until our lives are changed in one tragic moment. 

Now we’re trying to raise the children we love, mourn an unthinkable loss, and fight an undeniable attraction.

My life is already upside-down, and the last thing I need is for old feelings to resurface. 

Because I’ll never be able to keep her, no matter how hard I try to hold her close.

P. S. Blurb copas dari Goodreads, sori nggak aku terjemahin.





Tbh, I'm disappointed. This book is not like was I expected.
Yeah, I went here after I read Imperfect Match. And because I love the colab, I search for another book. Viola, I found this, but. . . .

Awal aku baca blurb, terus awal cerita, aku suka. Aku kan bisa dibilang bad boy slave. Yang ngebuat aku ilfil itu malah dua tokoh utamanya. It's not because they don't have feelings, I just ... feel weird.

*ambil napas*

Buku ini menceritakan tentang London yang suka sama Ian, kakak sahabatnya (Sabrina) sejak mereka masih sekolah. Nah, waktu London umur 17 tahun, Ian took her virginity and act. like a bastard. Lately I know he has a reason.

Setelah dewasa, mereka ketemu lagi, tetanggaan malah. Ditambah lagi Sabrina dan David (suaminya) meninggal karena kecelakaan pesawat. Mereka punya tiga orang anak; Chris, Morgan, dan Ruby. Dalam wasiatnya, Sabrina minta anak-anaknya diasuh oleh sang kakak alias Ian dan sahabatnya alias London.

Mulanya sulit bagi Ian dan London buat bekerja sama. Ian egois. Okelah dia punya bar yang selalu ramai, tapi London kan juga kerja. Cuma lama-lama mereka saling melunak meski itu Ian duluan yang nyosor. Sementara London yang masih cinta sama Ian otomatis termehek-mehek.

Sampai di sini aku udah muterin mata aja sumpah. Bagiku Ian itu semaunya sendiri dan London itu bego. Entah gimana hubungan seperti ini di mata orang lain, yang pasti di mataku WTF aja.

Lucunya, Ian kan punya alasan kenapa dia bersikap brengsek setelah bobok bareng London. Jadi Ian itu nggak mau karena dia, London mengorbankan mimpi-mimpinya. Fyi London ini pintar dan diterima di universitas yang oke, tapi mau dibatalkan karena dia pengin sama-sama Ian. Ini yang bikin Ian bersikap brengsek, biar London mau pergi dan nggak kehilangan mimpinya.

Di mana lucunya?

Well, katanya Ian nunggu London lulus baru mau ungkapin alasan sebenarnya. Tapi berhubung London udah marah, dia nggak mau ngomong sama Ian. Nah, ini dia lucunya (menurutku), masak butuh waktu sampai tujuh belas tahun kemudian buat Ian sadar kalau dia masih cinta sama London. Bahkan si Ian udah sampai nikah dan cerai lho. Weird aja sih bagiku. Cewek nggak gitu-gitu amat kali. Benci luarnya doang. Dan ... karakter London memang seperti itu, benci tapi termehek-mehek.

Kesimpulannya, ceritanya okelah, cara mendekatkan dua karakter utamanya agak unik, yaitu lewat kerja sama mengasuh anak-anaknya Sabrina. Aku cuma nggak klik aja sama dua karakter mereka—bagiku mereka enggak banget. Terus, mungkin ini juga karena aku berekspetasi terlalu tinggi aja, jatuhnya aku malah kecewa. Haha.

Q u o t e s :

Because hate is easier than love. If I hate him and he lets me down, I’m not left disappointed.
The thing about love is that it’s irrational and stupid.
"No matter where we live, this is hard."
"You know, a princess doesn’t need a prince to be happy."
"In fact, some of the greatest women we know don’t have a prince."
"Problems don’t go away just because you refuse to think about them. I shouldn’t have to tell you that."
I don’t want to. Because I know that the moment I take my hand off her is the moment I lose her forever. I’ll be more alone than I’ve ever been. And more miserable, because now I know how good we can be together.

[Book Review] Imperfect Match - Corrine Michaels and Melanie Harlow

Judul: Imperfect Match
Penulis: Corrine Michaels & Melanie Harlow
Genre: Adult Romance (21+)
Tebal: 253 halaman
Rilis: 26 April 2019
Penerbit: Love & Olives Ink.
Bahasa: Inggris
ISBN: 9781095783627
Harga: $14.99 (Paperback), Kindle Free Unlimited
Rate: ★★★½


B l u r b :

Rule number one for a professional matchmaker?

Don't fall in love with your client.

I screwed that up when I fell for my best friend, Reid Fortino. He's gorgeous, successful, and sexy as hell. I figured it would be easy to find him a match—and save the family business at the same time.

But the more time I spend attempting to find the perfect girl, the more I realize how much I want him for my own. What's the harm if we give in for just one night?

I shoud have known that would never be enough.

Now I'm on the verge of losing my job and my heart.

We were an imperfect match from the start, but I don't know how to let him go.

P. S. Blurb aku copas dari Goodreads ya. Maap nggak aku terjemahin.

K a r a k t e r : 

Willow Hayes → Seorang wanita yang lahir dalam keluarga yang bahagia. Orangtuanya memiliki sebuah biro jodoh, My Heart's Desire. Impiannya adalah memiliki keluarga dan anak.

Reid Fortino → Pria yang lahir dari keluarga amburadul. Ayah tukang selingkuh, ibunya pecandu alkohol. Kebalikan dengan Willow, Reid ini nggak pengin punya keluarga, apalagi punya anak.

Aspen → Adik Willow. Punya kemampuan bisa melihat aura orang seperti sang ibu.

Leo → Adik Reid. Numpang di apartemen Reid dan cenderung malas.

Jadi buku ini tentang apa?

Cerita dibuka dengan Mrs. Hayes (ibunya Willow) yang ingin menikmati liburan panjang bersama Mr. Hayes, suaminya. Berhubung Willow nggak punya kemampuan buat masang-masangin orang, jadi Mrs. Hayes memutuskan untuk menutup biro jodohnya. Sebenernya Aspen punya kemampuan itu, tapi yah ... nggak bisa diandalkan anaknya. Nah, Willow nggak terima biro jodoh itu ditutup, dia tetap ingin meneruskannya. Akhirnya Mrs. Hayes ngasih Willow kesempatan sekali lagi untuk menjodohkan seseorang. Dan orang itu adalah Reid, sahabat Willow sendiri yang notabene nggak mau pusing cari jodoh. Bisa dipastikan Reid keberatan, tapi okelah demi menolong sahabat sendiri. Di sisi lain Willow juga ngerasa nggak rela melepas Reid dengan cewek lain.

Singkat kata mereka akhirnya menyadari perasaan masing-masing. Tapi nggak berhenti sampai di sini, hubungan mereka sejak awal memang nggak match alias bertolak belakang. Willow ingin punya keluarga dan anak, sementara Reid kebalikannya karena dia merasa kalau dia akan jadi seperti ayahnya yang super duper asshole.


Wah, udah berapa lama ya aku nggak baca cerita macam gini? Belakangan ini cenderung ke fantasi sama teenlit. Btw aku juga baru pertama kali baca karya dari author ini. Untuk ceritanya sebetulnya sudah umum sih, cewek yang pengin punya keluarga vs cowok yang takut berkeluarga, udah sangat umum banget temanya. Cuma karena ada unsur fall in love with best friend, aku jadi lebih tertarik. Terus kovernya juga ... ea, cwiiit banget. Tahu kan kalau aku kover slave? Haha!

Dari segi penulisan aku cukup suka, enak aja dibaca. Antara show dan tell-nya pas, nggak melulu narasi galau dan pedih yang menggambarkan perasaan tokohnya. Buku ini pakai dual POV, bergantian dari Willow dan Reid, yang  mana ini juga udah sangat umum dipakai di novel-novel luar. Masing-masing karakternya juga ordinary menurutku, novel romance banget lah pokoknya. 

Cuma aku agak-agak gimana gitu dengan karakter Reid ini di akhir cerita, like flip a hand. Aku agak kurang suka aja dengan perubahan yang tiba-tiba tanpa proses yang masuk akal. Haha—it's just my opinion, don't judge me.

Kesimpulannya, buku ini punya cerita yang simpel dan tema yang umum, tapi di beberapa part berasa deep banget. Bagiku cocoklah buat kangen-kangenan sama novel romance.

Q u o t e s :

There’s nothing in this world I treasure more than our friendship.
"We force people to open their horizons to ideas they don’t think they believe in. Most of my clients couldn’t find the right person not because they didn’t want love, but because they weren’t willing to truly open their eyes."
"He’s ready for love, he’s just afraid to take the risk."
"I have us. I know. You’re my best friend, and I love you. Always will. And I want you by my side through everything."
They say guys and girls can’t be just friends, but we were—until we weren’t.
We aren’t a couple. We aren’t in love. We’re just two best friends who got a little carried away and gave in to an itch that has needed to be scratched for a while now.
Sex can make you believe you feel things for another person, when really it’s just the chemicals in your body. The oxytocin and whatnot. It isn’t real.
"Fear does not stop death. It stops life."
"You said you wanted things to change. It was me who wanted them to stay the same."
"Relationships are scary. But lucky for us, we know each other really well. There won’t be too many surprises."
Because I don’t want to fall to a place where I can never get back up again.

Don’t rush things, let them happen.
You can’t love too hard, there’s no such thing.
Stop trying to control the heart, it doesn’t listen.
Fight for what you want because it won’t be yours if you don’t.
Don’t fall in love with the potential.
Just because a person is right or perfect for you, you may not be the right one for them.
Speak the truth and it shall become real.

Patience, I can do. It’s the time part that worries me.
I’m not asking for anything from him, other than to love me enough to understand this.
"You can’t give me what I want. I can’t give you what you want, and staying for a year or two, or even a few days, is going to lead to the same result."
"Don’t let your dreams die over a broken heart."
"There’s no such thing as perfect. We were imperfect from the start."
"I’m only perfect because I have you."

April 03, 2019

[Book Review] Treat You Better - Hana Nabilah

Judul: Treat You Better
Penulis: Hana Nabilah
Genre: Novel Remaja (15+)
Halaman: 288 halaman
Tahun: Juni, 2018
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020461212
Harga: IDR. 56.800
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Andrea adalah ketua komdis yang disegani semua angkatan di bawahnya. Ekspresi serta tatapannya membuat para mahasiswa baru tidak ingin bersitatap dengannya. Menurut Andrea, merekas emua harus belajar disiplin, dimulai pada hari pertama ospek. Tapi entah kenapa dia malah memberikan kelonggaran kepada si genius Angkasa. Kesalahan yang membuat panitia lain mencibirnya, bahkan membuat dirinya tak lagi dihargai oleh para adik tingkat. Seakan-akan itu saja belum cukup, ia dikhianati oleh sang pacar yang tidak benar-benar mencintainya.

Angkasa adalah si mahasiswa baru pembenci organisasi yang membuat kesalahan fatal di hari pertama ospek jurusan. Pertama, dia tidak membawa perlengkapan. Kedua, dia tidak menyelesaikan tugas hukumannya. Ketiga, dia menjadi tahu latar belakang komdis yang telah membelanya, dan gara-gara itu, Andrea dipermalukan oleh teman-teman seangkatannya. Sejak itu, ia dikungkung rasa bersalah, terlebih setelah berkali-kali ia memergoki kakak tingkatnya itu menangis.

Mereka dua orang yang bertolak belakang. Tetapi, adakah hal lain yang bisa membuat dua orang dengan karakter seperti kutub berlawanan bisa menyatu, selain cinta?


Oke, langsung aja ya.... Dua hal yang menarik aku untuk baca buku ini adalah kover dan judulnya. Kovernya cantik, sementara judulnya mengingatkan aku sama lagunya Shawn Mendes.

Dari blurb-nya udah jelas banget, baik itu isi cerita maupun karakternya. So, dari situ aku udah bisa mengira-ngira jalan ceritanya gimana. Yup, seputar dunia kampus yang lebih menitikberatkan pada ospek dan organisasi. Hm, ini agak-agak beda loh dengan tema yang biasa diusung dalam cerita teenlit. Cukup menarik bagiku.

Kalau bicara sisi romance-nya, terus terang aku nggak ada feel di situ. Ya mau gimana lagi, si Angkasa kakunya kayak kanebo kering, sementara Andrea sewajarnya cewek lah. Interaksi mereka hanya sebatas kampus, entah itu tugas kampus, berbagi soal UTS, atau kegiatan organisasi kampus. Memang sih diselingi dengan cerita mengenai keluarga Andrea yang broken home, tapi ini nggak begitu pengaruh ke karakter. Di mataku sikap dan emosi Andrea kurang menunjukkan kalau dia korban broken home.

Untuk penulisannya aku lumayan suka. Okelah buat dibaca, nggak bertele-tele dan nggak bikin pusing. Benar-benar simpel seperti ceritanya. Yah, gimanapun ini cerita yang sederhana, tapi konsisten dengan topik yang diangkat. Bagiku buku ini cukup untuk mengisi waktu luang dan mengenang masa-masa ospek.

Q u o t e s :

Orang-orang harus belajar untuk tidak mengutarakan pendapat sebelum memahami situasi secara keseluruhan. Mereka hanya melihat segelintir hidupnya, lalu sekonyong-konyong mengeluarkan opini seakan-akan mengenalnya luar dalam. [Andrea] - h. 31
"Orang percaya dengan apa yang mereka mau percaya." [Angkasa] - h. 129
"Perceraian itu sebuah keputusan besar yang saya yakin nggak dilakukan kalau nggak terpaksa." [Angkasa] - h. 206

April 01, 2019

[Book Review] Nothing Hurts Like Love - Ria N. Badaria

Judul: Nothing Hurts Like Love
Penulis: Ria N. Badaria
Halaman: 304 halaman
Genre: Metropop (17+)
Tahun: Februari, 2019
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020622316, 9786020622323 (Digital)
Harga: IDR. 88.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Tersangka prostitusi online kelas atas, RF, kembali menyebut nama-nama artis yang masuk dalam jaringannya. Model dan
bintang iklan terkenal berinisial LA disebut-sebut sebagai salah satu artis yang terlibat.
-----------
Bagi ladya Arum, tidak ada yang lebih menyakitkan melebihi cinta. Ia pernah begitu bodoh menyerahkan cinta dan segala yang ia miliki pada bajingan pengecut yang tak bertanggung jawab. Ia rela meninggalkan keluarganya demi hidup bersama lelaki itu. Bahkan yang lebih tragis, kedua orangtuanya kecelakaan ketika hendak mencegahnya pergi.

Ladya melanjutkan hidup dalam dinginnya penyesalan tak berujung. Segala luka ia tutupi di balik penampilan tak bercela serta ambisi harta dan ketenaran.

Prasetya Pradana adalah sosok di balik kesuksesan Ladya Arum. Bertahun-tahun pria itu menopang Ladya sebagai manajer, meskipun diam-diam ia menyimpan cinta dan rasa sayang yang teramat dalam. Dan ketika Ladya diterpa gosip tak sedap, Pras rela melakukan apa pun. Tak peduli ia harus mengorbankan diri. Pras ingin Ladya percaya bahwa cinta tak pernah menyakiti dan ketulusan selalu mampu merekat semua luka.

K a r a k t e r :

Ladya Arum → Wanita 28 tahun. Merupakan model dan bintang iklan terkenal. Pernah dicampakkan oleh cinta membuatnya hidup hanya demi uang, tak peduli mengenai apa pun yang harus dikorbankannya.

Prasetya Pradana → Laki-laki 32 tahun yang merupakan manajer Ladya.

Utama Tandrawan → Laki-laki 33 tahun. Penerus perusahaan properti besar dan sukses di Indonesia. Dia pernah mencampakkan serta menghancurkan hidup wanita yang dicintainya, Ladya, demi menuruti kemauan ayahnya.

Haris (RIP) → Kakak Ladya yang merupakan sahabat Pras.

Raymon Fernando → Laki-laki kemayu yang membuat Ladya terjerumus ke dalam prostitusi, bisa dibilang mucikari lah ya.

Mirna Asisten Ladya. Menurutku si Mirna ini agak suka ikut campur urusan Ladya-Pras. Mungkin gara-gara dia suka sama Pras kali, ya?

Ferdi Atasan Pras di perusahaan manajemen tempat Ladya bernanung.

Budi → Sahabat Pras.

Laras   Istri Utama.


Seperti yang udah ditulis di blurb-nya, buku ini menceritakan mengenai sekelumit kehidupan Ladya, seorang model dan bintang iklan terkenal tanah air. Ladya memiliki luka masa lalu, itu yang membuatnya berambisi merengkuh segalanya agar tidak dihina, sekalipun untuk mencapainya, dia harus melegalkan segala cara—termasuk terjun ke dalam prostitusi kelas atas.

Jujur blurb-nya bikin aku tertarik, karena menawarkan cerita yang akan berkaitan dengan dunia prostitusi dan antek-anteknya, ekspetasiku dark romance lah. Tapi rupanya aku salah duga. Ceritanya lebih menekankan pada perasaan Pras pada Ladya dan kehidupan Ladya yang cenderung 'rusak'.

Setengah buku pertama diisi dengan pergulatan batin dua tokoh utama, yaitu Ladya dan Pras. Ladya dengan segala penyesalannya dan Pras dengan segala usahanya untuk melindungi Ladya. Ladya tidak percaya cinta, sementara Pras mati-matian menunjukkan jika cinta bisa mengubah apa pun, termasuk menyembuhkan luka. Nah, di sini aku ngerasa bosan karena ceritanya berasa nggak maju-maju. Diksi yang dipakai aku suka, menyentuh juga, tapi kalau konfliknya nggak kelihatan kan ya pasti bosan juga. Konfliknya batin mulu, nggak ada konflik eksternal yang menyemarakkan cerita. Baru setelah lewat halaman 160-an, konflik utamanya mulai muncul. Utama, si perusak hadir kembali dalam hidup Ladya. Pun dengan Laras, istri Utama, yang merecoki Ladya karena tidak terima suaminya ingin kembali pada Ladya.

Awal-awal aku juga agak terganggu dengan sikap Pras yang terkesan jadi bucin-nya Ladya. Tapi untungnya seiring berjalannya cerita Pras bisa tegas terhadap perasaan dan sikapnya.

Terus yang bikin aku geli banget adalah adegan papanya Utama nampar Utama. Hadeh.... Iya kalau Utama masih bocah atau ABG, lha ini udah 33 tahun. Kalo niat ya gelut aja sekalian, banci banget cuma nampar.

Aku ngerasa di sini kita diajak untuk memahami jika cinta itu memiliki banyak wajah. Ada senang, sedih, bahkan bisa mengubah seseorang. Tapi yang ditekankan adalah mengenai ketulusan Pras terhadap Ladya. Meski Ladya sudah rusak, tapi Pras tetap bertahan di sisinya, bahkan membuat Ladya membuka hatinya untuk Pras. Yah, bagiku Pras itu TGTBT aja sih.... Sedangkan Ladya, sebagai cewek yang pernah tersakiti, berubah sampai segitunya wajar, aku bisa menerima perubahannya. Cuma setidaknya di akhir cerita Ladya bisa mempersembahkan sesuatu yang berharga untuk Pras, berkorban demi orang yang dicintainya.

Pas baca sampai pertengahan aku nggak yakin kalau bakal ngasih bintang tiga, tapi setelah baca sampai ending okelah. Sebab buku ini flat di awal, konfliknya baru berjubel di separo terakhir.

Am I recommending this book?
Yes, if you a huge fans of romance story.
Not, if you a huge fans of emotional story.

Q u o t e s :

Saat kau menghabiskan hampir seluruh waktu dalam hidupmu untuk mengurus dan menjaga seseorang, dengan sendirinya kau akan menganggap orang itu sebagai bagian dirimu yang tak bisa dilepaskan meski kau ingin melepaskannya. [Pras] - h. 43
Dia harus mendapatkan yang terbaik saat harus melakukan hal terburuk dalam hidupnya. - h. 49
“Kamu hanya perlu melupakan luka itu, Ladya. Berhenti menyakiti diri sendiri, karena yang akan berakhir terluka hanyalah dirimu juga, bukan orang lain.” [Pras] - h. 77
“Karena itu, berhentilah melangkah di jalan yang salah! Kembalilah. Kamu akan tersesat jika melangkah semakin jauh.” [Pras] - h. 77
“Aku memiliki perasaan yang paling kamu benci, untukmu. Aku mencintaimu walaupun tahu kamu tidak bisa menerimanya.” [Pras] - h. 138
“Karena itu, Ladya, lupakan semua yang sudah terjadi dan buatlah dirimu bahagia. Hiduplah bahagia, demi mereka yang menyayangimu.” [Pras] - h. 155
“Aku mencintaimu dan aku siap tersakiti karena perasaanku itu.” [Pras] - h. 157
“Tujuan terbaik manusia dalam hidupnya adalah meraih bahagia.” [Budi] - h. 169
“Hadapi pelaku kenanangan buruk itu agar tidak lagi mengusikmu.” [Pras] - h. 186
“Siapa pun dirimu, merengkuh cintamu adalah anugerah untukku.” [Pras] - h. 191
“Aku mungkin tidak bisa memberimu kehidupan mewah seperti yang kamu miliki, tapi tidak akan membiarkanmu kelelahan.” [Pras] - h. 223
“Bersandarlah padaku, Ladya. Aku akan berusaha menjadi sandaran yang kuat dan nyaman untukmu.” [Pras] - h. 223
“Apa istimewanya menawarkan hal-hal yang sudah dia miliki? Dia jelas tidak lagi menginginkan itu semua darimu. Kamu punya ketulusan cinta, kamu punya keinginan untuk membuatnya bahagia. Tawarkan itu padanya, karena itu yang dia butuhkan.” [Budi] - h. 227
“Jika nanti kamu lelah menghadapi semuanya, berjanjilah untuk melepaskannya. Aku ingin kamu berhenti berjuang jika itu terlalu melelahkan.” [Pras] - h. 235
“Cinta bisa berubah menjadi obesesi yang sangat mengerikan, setelah pergi dan melukaimu. Kamu harus pahami itu!” [Laras] - h. 264

[Book Review] Tujuh Hari untuk Keshia - Inggrid Sonya

Judul: Tujuh Hari untuk Keshia
Penulis: Inggrid Sonya
Genre: Teenlit
Halaman: 448 halaman
Tahun: Februari, 2019
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020489728
Harga: IDR. 94.800 (P. Jawa)
Rate: ★★★★½


B l u r b :

Sejak mantan pacarnya tahu-tahu saja kembali dan membawa seseorang anak perempuan bernama Keshia yang katanya adalah anaknya, Sadewa tahu bila hidupnya akan menjadi kacau.

Lalu, benar saja, Sadewa tidak pernah akur dengan Keshia. Jika di rumah, keduanya selalu saja bertengkar. Entah itu meributkan tagihan listrik, cicilan yang ditunggak berbulan-bulan, utang beras di warung, dapur berantakan, atau bahkan cuma karena remote tv yang hilang. Masalah sekecil apa pun sepertinya selalu dijadikan momok untuk keduanya adu mulut dan membuat rumah menjadi zona perang seketika.

Keduanya tidak pernah memedulikan satu sama lain. Sadewa tidak pernah peduli dengan kehidupan Keshia, baik di rumah ataupun di sekolahnya. Sadewa tidak peduli dengan kelakuan putri tomboinya itu yang selalu saja berpura-pura kuat dan menganggap bisa mengatasi segalanya sendirian. Sementara Keshia, sama halnya dengan Sadewa, dia tidak pernah peduli dengan kelakuan ayahnya yang masih saja bersikap layaknya ABG itu.

Bagi Sadewa, Keshia itu pengganggu ulung atau makhluk paling cerewet sedunia. Sedangkan bagi Keshia, Sadewa itu hanya seorang laki-laki 36 tahun yang hanya tahu bersenang-senang saja. Yang hanya tahu ngeband, mabuk-mabukan, atau main perempuan.

Sampai suatu ketika sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Sebuah kecelakaan yang membuat Sadewa mati-matian ingin memenuhi seluruh keinginan Keshia dan membuat Keshia ingin tetap bersama ayahnya sekalipun dia sangat membenci laki-laki itu. Sebuah kecelakaan yang memberikan keduanya pemahaman bila mungkin hanya kehilangan yang membuat mereka bisa berjalan beriringan tanpa lagi ada kebencian.

Kisah ini tentang waktu. Tentang kesempatan. Tentang kehilangan.

K a r a k t e r :

Keshia → Cewek 16 tahun yang bak Wonder Woman, kuat banget menghadapi hidup di usianya yang masih belia. Hobi memasak dan bikin kue.

River → Cowok yang diam-diam menyukai Keshia dan hanya memantaunya dari jauh. Keluarganya yang begitu bobrok membuat River kabur. Dia ini adalah arranger dan gitaris Seventy Six.

Sadewa → Ayah kandung Keshia. Vokalis Seventy Six yang kehidupannya morat-marit.

Diana → Mama kandung Keshia yang tidak pernah memedulikannya, menganggap adanya Keshia adalah sebuah kesalahan.

Citra → Sahabat Keshia.


Sudah banyak beredar mengenai ke-ngenes-an buku ini, mungkin itulah yang jadi daya tarikku buat beli. Dan setelah baca dan kelar, aku ngerasa nggak rugi buang duit hampir cepek buat adopsi buku ini.

Kayak yang udah ditulis di blurb-nya, buku ini menceritakan mengenai Keshia, anak usia 16 tahun dengan serenceng penderitaannya. Baru aja omanya meninggal, mamanya ngejual rumah dan menikah lagi, udah gitu si Keshia ditelantarin gitu aja di sebuah tempat asing alias rumah ayah kandungnya, Sadewa.

Tapi berhubung Keshia kuat, dia tetap tegak dalam menjalani hari-hari beratnya. Di sekolah dia di-bully sama Alena, si anak pemilik yayasan, di rumah dia harus berhadapan dengan Sadewa yang ngeselin banget. Belum lagi dia harus cari duit buat mencukupi kebutuhannya sendiri. Bagi anak seusianya, hidup macam itu bukan lagi berat namanya, tapi keterlaluan beratnya.

Di sisi lain ada River, cowok yang lebih tua dua tahun darinya. Bersekolah di sekolah lain tapi diam-diam selalu memperhatikan Keshia. River ini sahabatan dekat sama kakak kelasnya Keshia, so dia bisa tahu update apa aja tentang Keshia. Keluarga River bobrok banget, bikin dia kabur dari rumah. River ini juga merupakan gitaris andalannya Seventy Six, band-nya Sadewa. Terus bisa dibilang, River ini juga 'anak' bagi Sadewa.

Keshia dengan kehidupannya, River dengan kehidupannya.
Mereka nyaris nggak bersentuhan sih, seperti memiliki cerita masing-masing. Akan tetapi dalam buku ini lebih menitikberatkan cerita Keshia dan Sadewa. Tinggal di tempat orang asing tentu aja nggak nyaman, belum lagi sifat Sadewa yang ngeselin banget. Keshia dan Sadewa bisa dibilang nggak pernah akur, cara manggilnya aja elo-gue. Tapi seiring berjalannya waktu mereka saling peduli meski caranya dengan sinis atau sindir-sindiran.

Buku ini terasa cukup dekat di aku, jadi feelnya ngena banget.
Mungkin pendekatan batin antara Keshia dan Sadewa terasa terlalu cepat, karena bagiku nggak mungkin dua orang yang sama sekali nggak pernah ketemu selama 16 tahun bisa dengan mudah tinggal bersama, terlebih mereka itu sebenarnya nggak nyaman satu dengan yang lain. 

Yang bikin aku mewek sampai nangis kejer di sini adalah perasaan Keshia mengenai jalan hidupnya, lalu mengenai Sadewa yang mati-matian berusaha jadi ayah yang 'layak' untuk Keshia, juga mengenai River yang diperlakukan seperti itu sama ayah kandungnya. Lebih-lebih di akhir cerita apa yang dilakukan Sadewa itu menohok banget, bikin ngilu hati sumpah. Coba deh kalian baca, pasti berasa ngilu. 

Sedikit banyak buku ini mengingatkanku pada banyak hal: orangtua, penyesalan, kesempatan, dan maaf. Kalau kalian cari cerita romance yang unyu-unyu, JANGAN baca buku ini, nggak bakalan ketemu kisah unyu-unyunya. Cocok dibaca buat penikmat buku dengan cerita yang stabby.

Selain mengandung cerita yang penuh makna, buku ini didukung dengan cara bercerita yang luwes, tulisan rapi, juga diksi yang jleb. Pas aja gitu antara show dan tell-nya. Twist yang ditawarkan juga bikin aku sempat speechless, ada unsur fantasinya dikit gitu.

Dua kata buat buku ini: JAHAT dan KEREN!
Duh, pokoknya buku ini benar-benar jahadddddd! Percaya deh, nyeseknya udah berasa di awal, terus kamu bakalan dibuat ketawa dikit, cengar-cengir, terus dibikin nangis sampe mata bengkak!

Oh ya, percayalah, takdir kadang memang sekejam itu!



Q u o t e s :

Puncak dari segala rasa sakit yang benar-benar sakit justru saat kita tidak bisa merasakan apa pun. Lumpuh. - h. 10

Mengandalkan diri sendiri adalah satu-satunya caranya untuk bertahan hidup. - h. 47

"Lo nggak akan bisa cari orang yang nggak mau ditemuin. Percuma." [Keshia] - h. 118

"Ya, awalnya gue berasa mirip Wonder Woman sih, tapi kalau dilaluin setiap hari kan capek juga...." [Keshia] - h. 204

Doa itu mungkin didengar Tuhan. Tapi, doa itu tidak menyembuhkan sakit di dada Saegal. Tidak menutup satu pun luka dalam dadanya. Sama sekali. - h. 317

"Lo terlalu keras sama diri lo sendiri! Itu yang buat semuanya jadi susah!" [Citra] - h. 358

Luka Keshia bukannya tidak akan sembuh, melainkan jiwanyalah yang tidak kembali. - h.431