July 30, 2018

[Book Review] Mengalahkan Hati - Yusuf Hamdani (@perkataka)

Judul: Mengalahkan Hati
Penulis: Yusuf Hamdani (@perkataka)
Halaman: 180 halaman
Genre: Kumpulan Cerita
Penerbit: Gagas Media
Tahun: 2018
ISBN: 9789797809195
Harga: IDR 66.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★☆☆




Buku ini berisi 9 cerita pendek yang semuanya memiliki kesamaan, yaitu tentang bagaimana kita mengalahkan keinginan hati dan menerima kenyataan. Berikut aku bakalan bagikan kisahnya....


Cerita 1 - Memeluk Udara

"Lupi. Untuk merindukan seseorang, kita tak perlu bertemu sebelumnya. Kita hanya perlu mengenalnya dan jatuh cinta." - h. 18

Tentang Sukma yang mencintai Lupi, seorang yang sama sekali belum pernah ditemuinya. Saling bertukar puisi serta telepon membuat sebuah rasa tumbuh di hati mereka. Namun apa daya, jarak yang terbentang membuat Sukma merasa seperti memeluk udara setiap kali merindukan Lupi.

Cerita 2 - Aku Mencintai Angin

"Kamu perlu mengetahui, bahwa air mata takkan pernah bisa bersandiwara." - h. 32

Erya mencintai sahabatnya, Hendri. Sayangnya Hendri sudah memiliki Siska sebagai kekasihnya. Hendri adalah alasan bagi Erya menulis puisi. Bagi Erya mencintai Hendri itu seperti mencintai angin, karena cinta itu datang dari sesuatu yang tak terlihat, tetapi dari rasa nyaman yang dirasakan.

Cerita 3 - Mengalahkan Hati

Tak ada hati yang inginkan berbagi. - h.  45

Menjadi kekasih kedua memang tak pernah terasa mudah. Itulah yang dirasakan Dirli. Sebagai kekasih kedua Fina, Dirli harus merelakan hatinya remuk setiap kali nama Fadil terlontar dari bibir Fina. Bahkan, Dirli tetap datang ke pernikahan Fina dan Fadil dengan tegar meski hatinya berduka. Namun siapa yang menduga, bila ada seseorang yang mencintainya diam-diam. Orang itu adalah Nila.

Cerita 4 - Jalan Hidup yang Kita Pilih

Setiap orang punya masa lalu, jika kita memang mencintainya, cintai juga masa lalunya. - h. 70

Delisa dan Atma sama-sama pernah tersakiti oleh orang yang mereka pernah cintai di masa lalu. Namun sebuah keputusan yang mereka ambil untuk menerima dan mencintai masa lalu, membuat mereka akhirnya berlabuh dalam sebuah hubungan yang bahagia.




Cerita 5 - Aku dan Bintang

Menurutku cinta itu sederhana, menjatuhkan hati tanpa perlu diketahui dan menyimpan rasa takut kehilangan diam-diam. - h. 88

Sudah sejak lama Ardan memendam rasa pada Diana, sahabatnya. Sayangnya pada saat itu Diana masih bersama Lukman, sementara Ardan hanya bisa menjadi tempat Diana berbagi cerita dan keluh-kesah. Ardan mengibaratkan dirinya sebagai bintang. Bukankah matahari dan bintang tidak bisa bersama? Namun mereka lupa, jika mereka berpijak pada satu bumi, yang artinya ... mereka masih bisa bersama.

Cerita 6 - Monkey Doll

"Lalu, untuk apa kita lebih dari sahabat jika akhirnya kita hanya belajar tentang saling melepaskan." - h. 104

Persahabatan Dewi dan Sandi bermutasi menjadi rasa yang lain. Rasa yang terus ingin saling memiliki tanpa pernah ingin merasa kehilangan. Dewi pernah membuang monkey doll pemberian Sandi karena tidak bisa menerima perasaan Sandi. Bukan karena tidak memiliki rasa yang sama, namun karena Dewi takut kehilagan Sandi. Tapi Sandi kembali dengan mokey doll itu dan membuat Dewi kembali tersenyum.

Cerita 7 - Ayah, Dia Pilihanku

Bahagia itu tidak boleh mengorbankan dirinya sendiri. - h. 117

Memiliki ayah yang keras kepala serta selalu memaksakan kehendak membuat Luki merasa terjepit. Ayahnya memilihkan jodoh untuk Luki, namun Luki telah memiliki pilihannya sendiri. Dengan nasihat ibunya, serta kata hatinya, Luki akhirnya memilih pilihan yang tepat. Yang pada akhirnya membuat sang ayah luluh.




Cerita 8 - Berjuang, Berujung

"Setiap kali seorang jatuh hati, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, dia akhirnya memiliki. Kedua, dia akhirnya patah hati sebelum memiliki." - h. 139

Riza diam-diam mencintai Raisa alias Chacha. Dimulai dari mengamati sembunyi-sembunyi hingga berhasil berkenalan. Sama-sama menyukai buku membuat mereka menjadi teman dekat. Namun sayang, ketika Riza hendak mengutarakan perasaannya, datang seorang laki-laki lain yang menrupakan kekasih Chacha.

Cerita 9 - Dasa, Hasna, Wana

Karena sahabat, adalah mereka yang selalu ada dan tak pernah membiarkan sahabatnya sendiri dalam kesedihan. - h. 178

Dasa, Hasna, dan Wana adalah sahabat. Bahkan ketika mereka bertiga sama-sama patah hati, mereka bisa tetap tertawa karena mereka ada satu sama lain untuk saling menghibur dan menyemangati.




Dari ke-9 cerita yang disuguhkan, aku paling suka dengan cerita yang paling akhir: Dasa, Hasna, Wana. Suka aja gitu dengan persahabatan mereka yang kadang dibumbui percakapan lebay, tapi mereka selalu ada satu sama lain.

Dari segi penulisan sudah cukup rapi meski ada beberapa plot yang 'ewh~'. Beberapa typo masih aku temukan, juga ada beberapa format yang rada kacau, terutama di bagian-bagian belakang.

Buku ini diksinya cukup puitis, bagi penggemar buku yang sarat akan quotes, buku ini cocok untuk kalian. Selipan puisi-puisinya juga oke. Jangan harap kalian ketawa saat baca buku ini, karena hampir keseluruhan berisi tentang patah hati. Namun kisah-kisah dalam buku ini cukup sayang untuk dilewatkan. Meski didominasi oleh patah hati, tapi banyak kata-kata yang memotivasi juga. So, yang sedang patah hati atau sedang berusaha merelakan si dia pergi, boleh merapat๐Ÿ˜Š

July 21, 2018

[Book Review] All Your Perfects - Colleen Hoover

Title: All Your Perfects
Author: Colleen Hoover
Page: 308 pages
Genre: Contemporary romance, Adult
Year: July 17th, 2018
Publisher: Atria Books
ISBN: 9781501193323
Rate: ★★★★½


"If you only shine light on your flaws, all your perfects will dim." 

All Your Perfects is such of emotional-sad-beauty story. Honestly marriage issues, in this case included cheating is not my favorite [I usually don't read them]. But as always, CoHo almost never fail to made me spill my tears.

"When you associate yourself with another person so long, it's difficult becoming your own person again."

Miscommunication, misunderstanding, ifertile issue, even cheating [although Graham is 'not really' cheating on his wife] ruins their household. Quinn and Graham still in love each other, but the marital problem they have spread the distance. They live together, but feel so far. They looks like okay, but they weren't.

From Quinn point of view, she explain how she meet Graham and fell in love (then) and how she feel broken and hopeless with her marriage life (now). Actually my heart got shattered in million pieces in 'NOW' part. I finished this book two days ago and last night I reread just 'NOW' part with skipping 'THEN' part. And you know what happened to me? I got shattered more than the first time I read.

"When you meet someone who is good for you, they won't fill you with insecurities by focusing on your flaws. They'll fill you with inspiration, because they'll focus on all the best parts of you."

So, if you like the story with emotional true feeling, read this one! I love this one, but my favorite is still November 9.

July 10, 2018

[Book Review] Midnight Prince - Titi Sanaria

Judul: Midnight Prince
Penulis: Titi Sanaria
Halaman: 267 halaman
Genre: Novel Dewasa (18+)
Tahun: 2018
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020457833, 9786020457834 (Digital)
Rate: ★★★☆☆


Bicara tentang hati adalah bicara tentang ketidakpastian, keraguan, pengandaian, dan harapan. Semua yang kepalamu bisa jelaskan secara logis per poin, akan dibantah hati dengan jawaban yang jauh lebih panjang. - h. 240

Sebetulnya buku ini nggak ada di reading list-ku. Cuma karena buku ini kapan hari hype banget di IG, terus ada beberapa teman yang ngerekomendasiin, jadilah aku akhirnya baca [via GD].

Oke, Midnight Prince ini menceritakan tentang Mika yang berprofesi sebagai seorang dokter. Sebagai seorang dokter, Mika bisa dibilang cukup sibuk. Yep, dia bekerja di dua tempat sekaligus [masing-masing di klinik dan rumah sakit] demi menutup kebutuhan sehari-hari dan mengejar pendidikan spesialisnya. Nah, tempat favorit Mika nongkrong ini adalah di atap rumah sakit tempat dia bekerja. Suatu hari seorang pria bernama Rajata menyapanya di atap itu, yang menjadi awal mula terkuaknya masa lalu dan menjadi jalan penentu masa depan Mika.

"Setiap pasangan punya kisahnya sendiri. Dan nggak seharusnya kisah pasangan lain menjadi batu sandungan untuk kisahku dengan perempuan itu." - Rajata [- h. 244]

Well, aku hampir nggak nemuin 'minus' dalam buku ini [bukan berarti aku cari-cari minusnya doang lho!]. Memang di bab pertama, beberapa paragraf sarat akan kata 'Aku' sebagai POV pertama, alias kurang kata sambung. Sumpah, banyak banget 'Aku'-nya. Tapi syukurnya itu cuma di awal aja, selanjutnya enggak. Latar belakang rumah sakit maupun pengetahuan medis dalam buku ini nggak usah diragukan karena yang aku tahu Kak Titi sendiri adalah seorang dokter, jadi semua yang berhubungan dengan semua itu terasa gamblang banget dalam buku ini.

"Tapi ada hal yang nggak bisa diubah dan hanya perlu diterima. Masa lalu salah satu di antaranya." - Rajata [- h. 259]

Kalau soal alur ceritanya, aku suka meski nggak suka banget. Hehe.... Alurnya cepet dan fokus, nggak bertele-tele. Ide ceritanya menarik, konflik di masa lalu yang menyangkut-nyangkut keluarga. Terus bahasa yang dipakai cocok banget dengan profesi para tokohnya. Karena terakhir aku baca novel dengan profesi dokter, aku tepok jidat berkali-kali karena bahasanya kasar banget dan terkesan nggak berpendidikan. Tapi Mika, Rajata, dkk ini bisa menunjukkan 'siapa mereka' dengan cara bicaranya. Tokoh-tokohnya juga oke walau aku nggak punya tokoh favorit di sini. Mika menurutku over-reacted waktu tahu identitas Rajata yang sebenarnya. Banyak yang jatuh cinta sama Rajata, tapi aku enggak, hehe.... He's not my type :) [sorry]

Oh ya, aku nemu nama Mita nyempil di - h. 124 dan - h. 158. Mita ini siapa sih? -_-

Buku ini adalah buku kedua dari Kak Titi Sanaria yang aku baca. Sebelumnya aku pernah baca bukunya Kak Titi yang judulnya Janji Yang Retak. Tbh, bukannya jelek, sekali lagi aku tegaskan ya, BUKANNYA JELEK, tapi sorry gaya nulisnya Kak Titi is not my cup of milkshake. Kalau yang ini nggak bisa dipaksain ya, karena ini selera.

Covernya? Aku suka bangettttt!๐Ÿ’•

So, kalau kalian tanya apa aku bakal baca buku Kak Titi yang lain? Maybe someday๐Ÿ˜Š

July 03, 2018

[Book Review] Unspoken Words - Alicia Lidwina

Judul: Unspoken Words
Penulis: Alicia Lidwina
Halaman: 312 halaman
Penerbit: GPU
Tahun: 2018
ISBN: 9786020379173
Rate: ★★★★☆



"Dan meski hidup nggak akan berjalan sesuai dengan kemauanmu, ingatlah bahwa kamu sudah berhasil hidup sejauh ini dengan kekuatanmu sendiri. Jangan lupakan semua yang sudah kamu lalui untuk mencapai titik ini." - h. 287

Jujur waktu baca buku ini aku udah punya persiapan segepok tisu, karena menurut yang udah pernah baca, buku ini menyentuh banget. Meski tergolong cengengesan, aku ini kadang-kadang juga bisa baper juga lho! Hehe.... Awal-awal aku baca buku ini, aku nggak ngerasa tersentuh. Semakin ke belakang, aku semakin tersentuh. Dan mendekati ending, aku nggak kuat. Yep! I spilled my tears :( Hiks.

Buku ini menceritakan tentang Kemuning dan Bundanya yang telah meninggal. Banyak kata dan penyesalan di antara mereka yang belum sempat tersampaikan. Untungnya, setelah beberapa tahun berlalu mereka kembali dipertemukan dalam mimpi. Pertemuan-pertemuan itu memberi mereka kesempatan untuk mengungkapkan banyak kata maaf dan penyesalan. Sekalipun dalam mimpi, semua itu terasa begitu nyata.

Seperti yang aku bilang tadi, awal-awal aku baca aku nggak merasa tersentuh. Mungkin karena aku udah punya ekspetasi, jadi aku bisa siap-siap. Tapi waktu part 'Yang Sudah Pergi' aku nyerah. Part ini begitu menyentuh bagiku. And maybe because it was related to mine, when my gram gone.... Feels similar.

Tokoh favorit?
Samudra.
Yep! Samudra ini memang bukan laki-laki perfect, tapi dia itu suami yang baik.

Buku ini menurutku bagus. Dengan cerita yang sederhana, semua makna dan pelajaran hidup sudah tersampaikan dengan baik. Setelah membaca buku ini, untuk aku secara pribadi bisa lebih mengoreksi sikap kita terhadap orangtua, terutama ibu. Buku ini sempat bikin aku merenung selama beberapa saat, mengingat-ingat apakah aku sudah bisa membahagiakan orangtuaku?

Soal penulisan, dll aku nggak bakal bahas karena menurutku nggak ada yang perlu dikoreksi. Alur cerita yang nggak 'bolong' dan para tokohnya yang realistis. Meski di sini aku mengabaikan plot inti, yaitu bertemu dengan orang yang sudah meninggal dalam mimpi itu rasanya nggak mungkin, apalagi sampe bercakap-cakap dan mengungkapkan segalanya. Wah, bakal beruntung banget kalau aku bisa seperti Kemuning. I miss my gram, hiks :(
Aku juga suka dengan kovernya yang sedikit-banyak menggambarkan isi bukunya. Perpaduan warna pink pastel dan abu-abu cukup menegaskan aura buku ini. Duka, penyesalan, dan kasih sayang.

June 27, 2018

[Book Review] Petjah - Oda Sekar Ayu [Extended Version]

[re-share from Goodreads: Sandra Bianca]

Judul: Petjah
Penulis: Oda Sekar Ayu
Halaman: 336 halaman
Genre: Teenlit
Tahun: 2017
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020295954
Rate: ★★★★☆


"Cita-cita itu sesuatu hal yang abstrak. Dia itu bentuk paling nggak jelas dari sebuah kata benda yang manusia buat. Sebaliknya, tujuan hidup itu justru sesuatu yang real." - Dimas Baron [- h. 295]

Sebenernya aku lagi males ngetik panjang-panjang untuk bikin review. Tapi karena ada temen yang kepo banget soal buku ini, aku disuruh nulis full reviewnya.

First of all aku suka sama buku ini. Bukan semena-mena suka dari awal ya, di awal-awal butuh usaha keras untuk beradaptasi dengan penggunaan bahasa dan istilah-istilahnya yang bagiku asing, seperti: tubir, tubang, agit, aud, utas, dst. Baru setelah masuk ke problem Dimas-Nadhi-Biru, aku baru nggak bisa geletakin buku ini.

S t o r y l i n e :
Nadhira jatuh cinta pada sosok Dimas yang selama ini membencinya. Sampai suatu hari Dimas yang biasanya hanya menatapnya penuh kebencian tiba-tiba berubah perhatian. Mereka menjadi dekat, otomatis Nadhi berbunga-bunga, namun di saat yang bersamaan sosok Biru masuk dalam kehidupannya. Sosok Biru yang rupanya memiliki luka yang sama dengannya.

Kami berjalan santai dari parkiran ke gerbang sekolah. Bisu dan dingin banget, nggak bohong, tapi rasanya seperti meledak-ledak, kayak banyak kembang api mengiringi langkah kami berdua. - h. 27

Dari tadi kami berdua membisu. Sekarang ketika ingin bicara, ternyata kami malah jadi bicara bersamaan. Kenapa takdir kecil semacam ini aja bisa jadi lucu sekali. Duh. - h. 27

K a r a k t e r :
Nadhira Amira: Cewek galau.
Dimas Baron: Cowok dengan idealisme tinggi.
Ambrosius Biru: Cowok dengan puisinya yang menyentuh.

Scene yang bikin tepok jidat:
1. Diskriminasi angkatan [- h. 6]
Jadi di sini diceritakan anak kelas sepuluh alias utas itu harus tunduk sama kakak kelasnya kayak waktu MOS gitu.  Rambut di kuncir kuda dengan karet gelang, sepatu nggak boleh pakai yang lain selain sepatu putih bernama px-style, jalannya juga harus menunduk. Iya sih mereka dapat perlakuan seperti ini cuma setahun, tapi menurutku enggak banget deh. Kalau ada sekolahan model gini, sekalipun sekolah top, aku ogah masuk. Serius!

2. Nadhi dongkrak mobil sendiri untuk ganti ban [- h. 25]
Waktu baca scene ini aku langsung teriak: "Seriously?!" Ini benearan Nadhi dongkrak mobil sendirian? Cowok aja masih butuh tenaga ekstra lho, terlebih kalau nggak biasa dongkrak-mendongkrak. Apalagi di sini Nadhi didefinisikan sebagai cewek yang berbadan kecil. Hm.

3. Soal ngebul di dekat kantin [- h. 42-43]
Pertanyaanku: Ngebul di dalam area sekolah semudah itukah? Meski nggak ada guru piket apakah seenak jidat bisa ngebul di dekat kantin? Penjaga kantinnya diem aja gitu? Pengalamanku sih, waktu SMA dulu ada yang suka nyolong-nyolong ngebul di dalam area sekolah, biasanya yang dipilih itu pojokan deket gudang atau tempat tersembunyi lainnya. Dan ketika bau rokoknya nyebar, langsung diadain razia. Sekolahku dulu bukan sekolah top sih, biasa aja. Tapi beneran bau rokok itu tajem dan nggak bisa ngelak. Apalagi ini sekolahnya Nadhi bukan sekolah ecek-ecek. So?

4. Masih soal kantin [- h. 43]
Entah kok aku ngerasa kalau sekolah ini penuh diskriminasi, contohnya kantin yang dipisah menjadi tiga bagian. Bagian paling kecil adalah kantin kelas sepuluh, isi lapak makannya sedikit dan harganya mahal-mahal. What???๐Ÿ˜จ Terus kantin yang lebih besar itu kantinnya anak-anak kelas sebelas, isi lapaknya lumayan, harga makanannya juga masih wajar dibanding kantin kelas sepuluh. Dan kantin yang paling besar dengan makanan yang banyak variasinya adalah kantin kelas dua belas. Fix, aku muter-muterin mata di part ini.

P O V
Buku ini ditulis dengan pov campur. Ada pov 3 ada pov 1. So far oke, aku nggak terganggu karena perpindahannya bagus. Terus juga nggak ngasal pindah-pindah sesuka hati. Smooth lah.


Menurutku, buku ini gimana?
[Spoiler]
Aku suka dan terenyuh abis sama cerita dan diksinya, walau jujur masih agak berantakan sih. Bisa dibilang ini cerita teenlit yang cukup stabby. Dari awal aku udah jatuh cinta sama Dimas. Memang sih dia ngeselin abis, tapi semua idealismenya bikin aku kagum. Jujur, aku suka sama orang pintar, haha.... Oh ya, aku juga sempat stuck baca buku ini. Pertama gara-gara bahasa di awal buku susah buat aku cerna, kedua karena aku takut sama endingnya. Berhubung aku dari awal tim Dimas, sejak Nadhi mulai beralih perhatian ke Biru, aku jadi 'takut' menghadapi endingnya. Sumpah demi krabby paty, aku nggak siap kalau Nadhi end up sama Biru.

Nadhi memang sempat pacaran dengan Dimas, lalu putus. Scene terakhir memang dibikin seolah olah Nadhi end up sama Biru, inget scene pas di bandara itu, kan? Tapi ternyata punyaku ini Petjah yang versi extended, jadi masih ada kisah Dimas-Nadhi-Biru setelah mereka lulus. Nadhi memang pacaran dengan Biru waktu di Belanda, but they were not end up together. Yey! Bisa banyangin dong sorak-soraknya aku kek apa?! Memang endingnya bukan seperti yang aku pengin, tapi seenggaknya nggak mengecewakan. Masih ada kesempatan buat Dimas untuk ngedeketin Nadhi lagi. Soal Biru? Dia sudah punya kehidupan sendiri.

Ada hal-hal yang tidak perlu tersampaikan panjang lebar. Ini adalah salah satunya. Perasaan mereka. - h. 308
Karakter favorit?
Of course Dimas!
[Spoiler]
Biru memang ngebuat aku mengharu-biru dengan puisi-puisinya, tapi menurutku terlalu banyak drama jadi terkesan lebay. Sementara Dimas dengan idealisme dan perasaan tulusnya itu bikin aku nggak bisa berpaling. Di sini, dia itu paling 'kasihan'. Dia selalu perhatian ke Nadhi yang malah lebih perhatian ke Biru. Konyol-konyol gitu Dimas sebetulnya punya masalah pribadi yang nggak sepele. Dibandingkan dengan sang kakak dan dituntut untuk perfect, siapa yang nggak stress coba? Tapi sebisa mungkin Dimas nggak membaginya dengan Nadhi karena nggak mau bikin Nadhi semakin terbeban. Dia selalu mengerti Nadhi tanpa pernah Nadhi mengerti dia. Hiks....

June 17, 2018

[Book Review] Arka Candra - Sathya Nandini

Judul: Arka Candra
Penulis: Sathya Nandini
Halaman: 374 halaman
Genre: Teenlit (15+)
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2018
ISBN: 9786020453477
Rate: ★★★★★


"Rokok bisa jadi pintu untuk mengarahkan orang mencoba sesuatu yang lebih." - h. 362

B l u r b :

Dari pandangan pertama, aku langsung membencinya.

Ah ya, omong-omong mungkin kalian tah ata bahkan tidak tahu sama sekali. Tapi nama 'Arka' sendiri artinya 'matahari'. Sedangkan 'Candra' memiliki makna 'bulan'. Bukan berarti dia tambah aku sama dengan jodoh. Karena matahari dan bulan tidak akan pernah bisa bersatu.

Pertemuanku dengan Si Matahari tidak akan pernah berakhir tenang, kurasa. Sejak awal, aku dan dia sama-sama terjerat benang merah yang tak kunjung terurai. Semakin aku akrab dengannya, malah semakin banyak masalah yang muncul.

S t o r y l i n e :

Mulanya Candra sangat membenci Arka, namun sebuah artikel mengenai hilangnya sekelompok pasien rehabilitasi yang bersamaan dengan hilangnya mahasiswa berinisial RW membuat hubungan mereka mau-tak-mau menjadi dekat. Mahasiswa berinisial RW itu adalah kakak Candra, Rakasa Waruna yang digadang-gadang menjadi saksi sebuah transaksi narkoba kelas piranha. Sementara salah satu pasien rehabilitasi yang hilang itu, dicurigai salah satunya adalah kakak Arka, Wildan Adiguna.

Singkat cerita kemudian anak-anak ini terlibat dalam kelompok rahasia hasil kerja sama Bayu (ayah Candra), Danu (ayah Arka), dan Wadika (ayah Adika).

Wildan mengincar Candra, sementara Candra yang berusaha dilindungi mati-matian oleh teman-temannya malah bersikap sok pahlawan. Nggak nyalahin sih, karena pada dasarnya Candra ini pemberani banget, Arka mah nggak ada apa-apanya. Wonder Woman-nya Lawang aku nyebutnya, haha.

Eits, tapi Wildan ini bukan dalang dibalik semua ini, lho! Ada seseorang, dari masa lalu alias masih berkaitan dengan orangtua anak-anak ini yang sampai sekarang masih bebas berkeliaran. Wildan itu cuma salah satu bonekanya.

Lalu Safira, cewek yang mulanya hanya dikira sebagai cewek 'biasa' yang naksir berat sama Arka ini mulai menunjukkan keterlibatannya dalam kasus yang dialami Candra, dkk. Bukan sebagai kawan, melainkan lawan. Dari sinilah Arka menyadari, kenapa Safira sering berujar bila kedekatan Arka dengan Candra hanya akan membahayakan Candra.

Sementara itu Wildan yang sudah gelap mata oleh dendam kesumat, mendatangi asrama tempat anak-anak terpilih Bayu tinggal. Tujuannya siapa lagi kalau bukan Candra? Candra ini bandel sih, Mas Beha udah berusaha larang untuk nggak ikutan, masih belum pulih juga. Dendam Wildan sebetulnya itu ke Raka, tapi karena Candra ini adiknya Raka, jadilah cewek cablak ini pelampiasan. Tahu kan, Raka ini sayang banget sama adiknya, nggak pengin Candra kenapa-kenapa. Tapi yah ... Candra gitu loh! Sikap sok pahlawannya muncul di mana saja dan kapan saja, nggak peduli dia sedang berhadapan dengan siapa. Oh ya, rupanya ada cerita menarik loh, yang tersemat di antara hubungan Raka, Wildan, dan Ambika (pacar Raka sekaligus sahabat Wildan).

Arka yang bertugas menyusup ke sarang lawan akhirnya mengetahui siapa dalang yang selama ini mengendalikan kakaknya. Dan ternyata, orang itu lebih dari sekadar dalang narkoba, tapi juga orang yang berdiri di balik sebuah kejahatan besar nan keji yang kasusnya telah ditutup oleh polisi. Arka yang nggak bisa gelut terpaksa bertahan semampunya. Bocoran: Candra mencemaskan Arka loh๐Ÿ˜‚

Sahabat si Mak Lampir Candra alias Ratna ini juga turut berperan besar berkat indra penciuman dan pendengarannya yang tajam. Selama terlibat dalam kasus, Ratna paling sering bersama Adika. Ehem ehem....

Terus hubungan Candra sama Arka gimana? Hm, gimana, ya? Mereka itu ... sweet dengan caranya sendiri. Mas Beha juga kayaknya ada sesuatu ke Candra, tapi ah sudahlah, Mas Beha mau fokus sama pendidikan dulu katanya, doi kan mau kuliah. Haha XD

Intinya: dalam keadaan normal maupun tidak, aku ditambah Candra sama dengan bencana. - h. 226

K a r a k t e r :

Candra Agni: Siapa sih yang nggak kenal Candra Agni? Cewek pentolan 10 IPS 2 ini nggak ada 'cewek-ceweknya' sama sekali. Cara dia ngomong dan bersikap cenderung kasar. Cablak banget pokoknya. Meski begitu Candra sebenarnya baik kok, setia kawan, dan bukan siswa yang bodoh. Cewek ini juga penggemar berat anime.

Arka Dhanajaya: Nah, ini dia si Matahari idola cewek-cewek di sekolah, pentolan kelas 10 IPA. Terkenal playboy—ini yang jadi alasan Candra benci pake banget sama Arka. Arka diam-diam suka merhatiin Candra karena di matanya cewek itu sangat berbeda dibandingkan cewek-cewek lainnya, sekaligus penasaran kenapa Candra sangat membencinya.

Ratna Anatari: Sahabat Candra. Hobi nonton drakor. Ratna ini punya kemampuan nguping di atas rata-rata.

Samudra Adika: Kakak kelas sekaligus sahabat Candra sejak kecil.

Amarasafira Nur: Cewek ini naksir berat sama Arka sekaligus jadi cewek lebay yang suka jelek-jelekin Candra. Sukanya ngegosip di toilet.

Braja Bramasena: Mantan ketua OSIS yang musuhan sama Candra. Mendapat julukan 'Mas Beha' dari Candra karena namanya yang serba berawalan 'Bra'. Mulanya Beha eh Braja keki setengah mati, tapi lama-lama dia dekat sama Candra.


↠↠↠↠↠


Wuah, jujur aku nggak nyangka kalau buku ini bakal sebagus ini. Karena genre-nya teenlit, aku nggak mau berekspetasi yang muluk-muluk. Tapi rupanya aku malah suka banget sama buku ini.

Secara garis besar buku ini menceritakan tentang sekelompok anak-anak SMA yang sengaja dilibatkan dalam kelompok rahasia bentukan orangtua mereka untuk menangkap dalang di balik kasus-kasus yang sudah ditutup oleh polisi.

Ceritanya Candra ini benci setengah mampus sama Arka. Candra, si Mak Lampir pentolan 10 IPS 2 yang dikenal sebagai cewek paling badung di sekolah, sangat kontras dengan Arka yang pintar, tampan, dan merupakan penghuni kelas 10 IPA. Yang ngebuat Candra benci itu karena Arka seorang playboy yang suka tebar pesona. Namun mereka mau-tak-mau harus dekat karena sebuah kasus yang sama-sama menyeret kakak mereka.

Nah, sebetulnya alur kasusnya sendiri sudah sangat familier buat aku, karena mirip-mirip dengan yang biasa aku baca di komik Detective Conan atau serial detektif lainnya. Yang ngebuat aku ngasih apresiasi lebih adalah si penulis ini sendiri. Mengingat belakangan ini banyak penulis belia yang usianya masih belasan menulis cerita dewasa, aku seneng banget ternyata masih ada penulis belia yang menulis sesuai dengan usianya. So, bagiku ini perlu banget dapat apresiasi.



Balik ke bukunya. Porsi yang disuguhkan di sini bagiku pas. Jadi walau fokus ceritanya ala detektif-detektifan, keseharian para remaja yang masih duduk di bangku SMA ini tak lantas ditinggalkan. Banyak scene yang bikin tegang dan penasaran, tapi semua itu diimbangi dengan para karakternya yang gokil abis. Di awal-awal aja aku udah dibikin ngakak sama tingkahnya Candra ini. Lalu ada bagian yang membahas soal perbandingan antara kelas IPA dan IPS. Aku suka banget. Karena apa? Yang dijabarkan penulis itu benar adanya. Kenapa sih kok IPA selalu dipandang lebih tinggi daripada IPS? Yah, aku dulu penghuni kelas IPA dan merasakan banget bagaimana seisi sekolah mendewakan kelas itu. Padahal IPA atau IPS bukan soal pintar nggak pintar, tapi soal pilihan dan juga keahlian. So, stop bilang IPA lebih baik daripada IPS. Oke?

Setting lokasi berada di Lawang, Kab. Malang. Nggak usah diragukan kerasa banget Malangnya. Dari suasana hingga bahasa yang digunakan. Aku tahu soalnya pernah tinggal di Malang juga, hehe....

Karakter-karakternya kuat meski rata-rata gokil.

Oh ya, scene video boneka gajah buatan bokapnya Candra itu menurutku nggak perlu. Dihilangkan juga nggak ngaruh kayaknya. Aku masih nemu typo dalam level yang masih termaafkan.

June 16, 2018

[Book Review] Light in a Maze - Citra Novy

[re-share from Goodreads: Sandra Bianca]

Judul: Light in a Maze
Penulis: Citra Novy
Halaman: 246 halaman
Genre: Romance Dewasa (17+) tapi di depan label Young Adult
Tahun: Februari 2018
Penerbit: Grasindo
ISBN: 97860245280889
Rate: ★★★☆☆


"Mungkin, terkadang kita harus egois agar bisa bahagia." - h. 131

First of all, aku mau bilang kalau sebetulnya aku suka sama ceritanya. Tapi beberapa scene yang nggak masuk akal bikin buku ini jadi 'cacat'. Oke, mumpung aku lagi rajin ngetik, aku bakalan bahas satu per satu.

S t o r y l i n e :
Sanya Pratham, seorang wanita yang [menurutku] enggak banget. Hobinya cuma ngabisin duit bokapnya. Sampai suatu hari bokapnya meninggal dan Sanya bingung apa yang kelak akan dia lakukan dengan hidupnya. Secara, duit, dll, masih nodong bokapnya. Fyi: Sanya ini nggak mau kerja, pokoknya nodong, nodong, dan nodong.

Wasiat yang ditinggalkan bokap Sanya menyatakan kalau Sanya harus menikah dengan Alden Abhigyan, selaku tangan kanan bokap Sanya, untuk mendapat hak warisannya. Oh ya, pernikahan ini berlaku enam bulan ya, setelah enam bulan baru Sanya boleh menggugat cerai Alden. Sanya mulanya ogah lah, dia benci setengah mampus sama Alden karena Alden itu tersangka utama pembunuh ayahnya, namun dinyatakan tak bersalah. Selain itu, sebelumnya Sanya juga pada dasarnya udah nggak suka sama Alden. Tapi karena nggak punya pilihan, Sanya akhirnya setuju untuk menikah dengan Alden.

Sehari setelah pernikahannya, Sanya mengalami kecelakaan yang membuatnya menderita retrograde amnesia, yaitu melemahnya kemampuan untuk mengingat kejadian atau informasi yang sudah lalu. Jadi bukan sama sekali nggak ingat macem ToMingSe ya, orang yang menderita retrograde amnesia ini [biasanya] masih bisa mengingat namanya, dia juga masih bisa merasakan kalau ada yang luput/hilang dari ingatannya, cuma dia nggak mampu mengingat sesuatu yang hilang itu.

Nah, mulai dari sini cerita Sanya dan Alden dimulai. Alden yang statusnya sebagai suami Sanya memboyong Sanya untuk tinggal bersamanya, di apartemennya. Sanya yang nggak ingat soal pernikahan itu oke-oke aja, bahkan dia berusaha keras untuk menjadi seorang istri yang baik bagi Alden yang super duper cuek.

Cinta tumbuh karena terbiasa. Alden yang mulanya ogah-ogahan, hatinya mulai terjerat oleh sikap Sanya. Sanya yang sekarang, sangat kontras dengan Sanya yang dulu. Tak dapat dipungkiri Alden pun merasa bahagia, namun juga takut. Takut jika suatu hari nanti ingatan Sanya kembali, kebahagiaannya akan turut berakhir.

Dan memang itu yang terjadi. Saat Sanya mengingat segalanya, Sanya memutuskan untuk meninggalkan Alden. Bukan karena Sanya tidak mencintai Alden, namun Sanya masih menganggap bila Alden adalah orang yang ngebunuh bokapnya. Sementara Alden nggak bisa mencegah Sanya pergi karena Alden tidak memiliki alasan untuk menahan Sanya. Jadi intinya mereka saling cinta, tapi harus berpisah. Hiks.... :(

inikah akhir kisah mereka?
Enggak kok.... Sanya akhirnya kembali pada Alden setelah mengetahui jika memang bukan Alden yang ngebunuh bokapnya.

Scene yang bikin aku tepok jidat berkali-kali:
1. Sanya kabur waktu pesta pernikahannya.
Ini seriusan bisa kabur seenak udel?
Logikanya ~> Pesta pernikahan Sanya dan Alden itu mewah banget, yang datang berjibun, dan dalam bayanganku gaunnya mewah dong. Nah, apa iya dengan penampilan seperti itu Sanya bisa kabur, menyelinap di antara para tamu dengan mudah? Masak nggak ada yang nyegat gitu? Pengantin itu pusat perhatian lho, apalagi ini pengantin wanita.

2. Alden yang mengambil alih ruangan CCTV seenak udel.
Memang bisa? Andaikan dia itu bosnya sekalipun, nggak bisa gitu. Emang ruangannya nggak ada petugasnya?

3. Adegan gendong-gendongan Sanya dan bokapnya.
Ini bukannya nggak mungkin. CUMA, Sanya waktu itu udah SMA, dan meski diceritakan tubuh Sanya kecil, bukan berarti bisa digendong-gendong ala anak TK dong, mana habis gitu didudukin di tepian tempat tidur. Bisa bayangin gak ada bapak-bapak gendong anaknya yang udah SMA yang baru aja pulang les terus didudukin di tepian tempat tidur? Mana di sini [narasinya] Sanya disebut gadis kecil. Demi clarinet Squidward, Sanya udah SMA lho, masih disebut gadis kecil.

4. Ketika Sanya kecelakaan.
Di sini diceritakan kalau mobil yang Sanya kendarai memanjat pembatas jalan dan sempat terguling sekali, namun Sanya tidak kenapa-kenapa. Sanya nggak menderita patah tulang atau minimal dislokasi tulang atau keseleo, cuma kepalanya aja yang terbentur keras sampe mengakibatkan Sanya amnesia. Hmmm.... Is that possible? Maybe, if she is a Wonder Woman!
Soal ini aku sampai tanya ke beberapa orang lho. "Eh, mungkin gak kalau blaaaa.... blaaaa..." dan mereka semua jawabnya "Enggak mungkin lah, apalagi sampai terguling." Lagian badan cewek itu lebih gampang 'tergoncang' daripada cowok, badan cewek nggak sekuat cowok.

5. Ketika Sanya sadar dari komanya.
Sanya koma selama kurang lebih tiga minggu. Oke, bisa diterima. Tapi di hari yang sama setelah sadar, dia bisa langsung duduk? Ew *rolling eyes* Demi ubur-ubur, Sanya ini cuma berbaring di posisi yang sama selama tiga minggu, lho! Badan perlu menyesuaikan diri setelah sadar. Biasanya si pasien bakal disuruh kedip-kedip, gerakin jari dulu, ngangkat tangan, ngangguk, pokoknya gerakan yang ringan. Apalagi ini sama dokternya langsung ditanyain dan Sanya bisa jawab. Demi celana dalam Neptunus, tenggorokan nggak dipake selama tiga minggu itu kakunya kek apa coba? [Ini aku udah konfirm ke beberapa teman yang berprofesi sebagai dokter dan perawat ya] Mana habis gitu langsung boleh pulang pula. What the naniiii?

L a b e l :
Halo, ini sudah kesekian kalinya aku baca buku dari penerbit ini dengan label YA dan isinya adult. Hm, apalagi dalam buku ini dan buku-buku yang pernah aku baca sebelumnya ada adegan ehem-ehemnya. Sorry numpang tanya, apakah YA ini label tertinggi yang dimiliki penerbit ini? Bukannya membandingkan, kalau di penerbit lain, buku seperti ini udah dapat label amore atau adult.

P e n u l i s a n :
Beberapa kalimat bikin aku bertanya-tanya; ini editornya ngantuk?
Contohnya:
- h. 8
"Bibi merawatmu dari sebesar ini." ~> Ada yang bisa jelaskan maksudnya?
- h. 26
"Apa yang ada dalam kepala cantikmu sebenarnya?" ~> Kepala cantik? Hm, kok berasa nggak pas ya.
- h. 31 ....makhluk bernama Mama.... ~> Setahuku Mama itu panggilan/sebutan, bukan nama.


Anggap aja semua di atas itu kekurangannya, sekarang pindah ke kelebihannya.
Jadi seperti yang sudah aku bilang tadi, secara keseluruhan aku suka sama ceritanya. Scene pancing-pancingan Sanya dan Alden supaya mau ehem-ehem ngena banget feel-nya. Terus kisah mereka selama bersama juga berhasil bikin aku senyum-senyum sendiri. Sweet lho mereka berdua ini. Alden yang mulanya nggak peka jadi takut kehilangan. Aku juga suka dengan perubahan sifat Sanya dari yang enggak banget jadi oke banget, meski akhirnya Sanya ingat masa lalunya, dia tetap jadi dirinya yang sekarang. Pokoknya aku suka ceritanya setelah Sanya amnesia.

Pesan moral yang aku dapat dari buku ini adalah tentang memaafkan. Bagaimana Sanya akhirnya mencoba untuk maafin nyokapnya yang doyan bawa pria lain ke rumah, yang nggak peduli terhadap anak-anak dan suaminya.... Modya, adik Sanya, yang mulanya berkeras hati akhirnya mendatangi kediaman Alden dan Sanya sebagai wujud bila dirinya sudah memaafkan sifat-sifat jelek kakaknya di masa lalu.