September 13, 2019

[Book Review] Song for Alice - Windry Ramadhina

Judul: Song for Alice
Penulis: Windry Ramadhina
Genre: Romance (13+)
Rilis: 29 Juni, 2018
Tebal: 328 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Roro Raya Sejahtera
ISBN: 9786025129070
Harga: IDR. 85.000
Rate: ★★★½


B l u r b :

SEPERTI APA CINTA MENINGGALKANMU
ADALAH SESUATU YANG TERAMAT SULIT KAU LUPAKAN.

Bagi Arsen, pulang berarti kembali pada Alice—perempuan pertama yang mencuri hatinya dua belas tahun lalu. Sore itu adalah pertemuan pertama mereka setelah lama tak bertemu. Arsen menarik Alice ke dalam pelukannya, berusaha mengingatkan perempuan itu pada sejarah mereka dulu. Namun yang membersit di benak Alice hanya sakit hati... ditinggal pergi Arsen di saat dia benar-benar jatuh cinta.

Memang benar, Alice selalu merindukan Arsen. Ketertarikan di antara mereka masih memercik api seperti dulu. Namun masa lalu adalah pelajaran yang teramat berharga bagi perempuan itu. Arsen adalah orang yang membuat Alice merasa paling bahagia di muka bumi, juga yang bertanggung jawab membuatnya menangis tersedu-sedu.

Sekuat tenaga Alice mencoba menerima kembali kehadiran Arsen dalam hidupnya. Membiasakan diri dengan senyumnya, tawanya, gerak-gerik saat berada di ruang tengah; bahkan harus meredam gejolak perasaan atas kecupan hangat Arsen di suatu malam. Terlepas dari kenyataan Arsen membuat Alice jatuh cinta sekali lagi, ada pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: pantaskah laki-laki itu diberi kesempatan kedua?

*

Wow, akhirnya keturutan juga baca buku ini. Dah, wow, aku suka sama ceritanya. Beautiful sadness. Dari awal aja auranya sendu banget, bikin aku tahu ke mana arah ceritanya. Meski begitu aku tetap berharap ada keajaiban yang bisa bikin aku senyum di akhir. Tapi harapan cuma harapan, garis takdir Alice dan Arsen tidak seberuntung Elena dan Damon. LOL.

Bisa dibilang aku suka dengan apa yang disuguhkan oleh buku ini. Gaya menulisnya enak untuk dibaca, mengalir, terutama di bagian narasinya, aku suka banget. Sayangnya percakapan di sini agak-agak gimana gitu. Bayangin aja, di Jakarta masak kita masih pakai sebutan aku-kau? Mungkin karena gaya bahasanya mengadopsi novel terjemahan, jadi terbawa. Cuma yah, di Jakarta gitu loh, sounds weird aja kalau pakai aku-kau, apalagi Arsen ini seorang musisi rock yang doyan pesta, terus kerjaannya juga keluar masuk pub. Selain itu, 'suasananya' seperti bukan di Jakarta. Semua itu tercermin dari kebiasaan para tokohnya, misal pilihan makanannya. Di sini aku nggak nemu tuh Alice jajar es potong atau ketoprak. Pokoknya western banget, misal: spageti, sup krim, roti bawang (hal. 90). Baca buku ini berasa bukan di Indonesia—sumpah, Indonesianya maksa banget. Malahan kalau setting tempatnya di luar negeri, aku malah bisa terima.

Kalau dari segi ceritanya sendiri, aku sangat menikmatinya—walau harus pura-pura lupa kalau setting-nya di Jakarta. Aku tersentuh banget sama sosok Arsen. Dia pergi untuk menggapai mimpinya. Lalu saat dia sudah menggapainya, dia seperti kehilangan dirinya sendiri. Sampai sebuah kecelakaan membuatnya sadar, bila hidup bisa berakhir kapan saja, bila ternyata selama ini dia hanya membuang-buang waktu yang dimilikinya. Akhirnya, Arsen memutuskan untuk pulang, memohon kesempatan kedua pada gadis yang dicintainya.

Konfliknya juga cuma konflik internal antara Arsen dan Alice. Arsen yang merasa bersalah dan Alice yang terluka. Sempat aku mikir kalau buku ini pasti tambah seru kalau misalnya Arsen ada afair dengan Mar, hehe. *jahad ya aku*
Nggak. Nggak. Aku tahu kok penulis ingin menyuguhkan cerita yang seperti apa.

Kisah Alice dan Arsen di sini indah. Dalam artian apa yang dilakukan Arsen itu tulus. Malahan aku nggak terlalu respek sama Alice yang kesannya sok jual mahal karena masih terluka karena kepergian Arsen. Tapi kalau aku di posisi Alice, pasti juga akan merasa sulit untuk kembali percaya pada sosok Arsen.

Tapi aku terlanjur cinta sama Arsen, huweee....

Apa buku ini bikin aku mewek?
Ya, bentar doang tapi. Hehe....
Jadi di awal-awal aku sempat membatin, Oh, ini ceritanya tentang ini terus pasti ujung-ujungnya begini. Baru setelah sepertiga bagian terakhir, aku bener-bener tahu ke mana arah ceritanya. Awalnya memang terkesan flat and ordinary, ditambah lagi feel-nya juga belum begitu dapet—mungkin karena percakapan aku-kau itu tadi kali ya?
Tapi saat berhasil menyelami sosok Arsen, aku langsung jatuh cinta.

Jadi kalau kalian suka romance ringan yang nggak kebanyakan drama, tapi ada nyesek-nyeseknya, buku ini adalah pilihan yang tepat. Pertama mungkin terasa biasa aja, terus kalian akan jatuh cinta sama Arsen, memihak Arsen dan sebel sama Alice. Kemudian kalian akan melunak sama Alice, lalu ikut bahagia melihat Arsen dan Alice. Tapi ujung-ujungnya kalian bakalan nangis bersama Alice.

*

Q u o t e s :

Tetapi, aneh. Ada kalanya kebebasan terasa begitu hambar dan tidak memuaskan. [Arsen] - h. 37
"Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh 'maaf' adalah membuatmu merasa lebih baik." [Alice] - h. 94

September 08, 2019

[Book Review] Precious Lady - Acariba

Judul: Precious Lady
Penulis: Acariba
Genre: Romance
Rilis: 6 Mei, 2015
Tebal: 320 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020264004
Harga: IDR. -
Rate: ★★★☆☆


B l u r b :

Cinta yang tulus dan juga jujur adalah harapan setiap wanita. Begitu juga dengan dokter Diva yang perkasa. Dia begitu mendambakan pria yang bisa mencintai dirinya dengan tulus dan apa adanya di usia ke-25.

Sayangnya, setiap pria yang dijodohkan dengannya lebih menginginkan kekayaan keluarganya dan pria lainnya memilih mundur karena ketakutan dengan kemampuan membela diri yang Diva miliki. Hingga akhirnya ada dua pria yang bersedia memberi Diva cinta seperti yang dia inginkan—dua pria ini jugalah yang sukses membuat hatinya jungkir balik kebingungan. Bima yang seorang duda berusia 34 tahun dan Ino—yang masih SMA—berusia 17 tahun.

Siapa yang menyangka, Diva dihadapkan pada pilihan yang sulit. Sangat tidak mungkin memilih salah satu dari keduanya,karena ternyata mereka adalah ayah dan anak. Pilihan Diva jelas akan menghancurkan hubungan keluarga itu.

*

Buku ini sudah terbit empat tahun yang lalu ya?
Iya. Baru beli sekitar dua bulan lalu waktu sale di gudang Gramedia, terus baru kelar baca subuh tadi.

Seperti yang sudah dijabarkan di blurb-nya, karakter ceweknya nyeremin beud. Nyeremin dalam artian dia jago bela diri, jadi ada apa-apa langsung dibanting. Sebenernya unik juga sih karakter seperti ini, hanya saja aku sering terganggu sama sikapnya yang cenderung impulsif, dikit-dikit banting, dikit-dikit tendang. Kesannya terlalu dilebih-lebihkan gitu.

Sedangkan dari segi ceritanya sendiri lumayan lucu dan aku cukup menikmatinya. Hubungan Bima-Diva-Ino memang agak bikin aku geregetan, bukan karena aku gemes, tapi karena sebel. Bima yang kelewat 'husband and dad material' banget, Diva yang galak-galak tapi benernya mau, juga Ino yang ngebet banget sama Diva. 

Latar belakang cerita ini adalah seputar bisnis dan perjodohan, hal yang sangat sering aku temui dalam novel roman. Diva yang berprofesi sebagai seorang dokter berasal dari sebuah keluarga kaya, sayangnya dia tidak berminat untuk meneruskan bisnis keluarganya. Bima juga sama aja, berasal dari keluarga kaya, tapi dia memilih untuk membangun bisnisnya sendiri. 

Gaya menulisnya oke, enak dibaca meski beberapa scene bikin aku garuk-garuk kepala. Ada yang kelewat lebay, ada juga yang nggak sinkron. Cuma memang untuk bacaan, buku ini sudah cukup menghibur kok, dengan catatan mengabaikan detail-detail kecil yang mungkin kurang bisa diterima. Typo juga masih banyak.

Misalnya saja usia Bima. Sumpah deh, aku bingung sebenernya Bima itu umur berapa. Di blurb 34 tahun, terus di halaman berapa gitu 36 tahun, ada juga yang 37 tahun, di halaman 198 38 tahun. Lha, ini yang bener yang mane, Kakak?
Lalu ada juga nama tokohnya yang mungkin salah tulis ya. Itu, cewek yang naksir Ino di halaman 88 namanya Widya, tapi di halaman 89 namanya Winda. *waduh*

Oh ya, aku sarankan pembaca buku ini adalah mereka yang sudah cukup usia. Soalnya obrolan serta adegannya kurang cocok dibaca sama mereka yang masih di bawah umur. Nggak vulgar kok. Nggak. Bagiku nggak vulgar. Terus terlalu banyak umpatan. Jadi bagi yang nggak terbiasa mungkin bakalan ngerasa nggak nyaman.

Singkatnya, novel ini perpaduan antara lucu dan lebay!

Q u o t e s :

"Aku takut kalau cuma aku yang merasa jatuh cinta di dalam hubungan ini." [Bima] - h. 121
Sama seperti saat kita bermaksud meninggalkan orang yang kita cintai, menerima cinta seseorang yang tidak kita cintai itu juga sama sulitnya. - h. 157
Ditinggalkan itu menyakitkan. Tapi dipermainkan itu lebih menyakitkan. - h. 187
Dia selalu mengatakan bahwa setiap langkah yang dipilih haruslah tanpa penyesalan. Walaupun langkah itu berakhir dengan buruk, tapi paling tidak ada pelajaran yang bisa diambil di sana. - h. 260
"Jangan harapkan keadilan di dunia, Di. Kadang kala sesuatu yang kita anggap tidak adil adalah kejadian paling adil bagi kita." [Rima] - h. 289 

September 07, 2019

[Book Review] Mencari Simetri - Annisa Ihsani

Judul: Mencari Simetri
Penulis: Annisa Ihsani
Genre: Metropop (17+)
Bahasa: Indonesia
Tebal: 240 halaman
Rilis: 19 Agustus, 2019
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020629360, 9786020629353 (Digital)
Harga: IDR. 75.000 (P. Jawa)
Rate: ★★★½


B l u r b :

Menjelang usia kepala tiga, April merasa gamang dan kehilangan arah. Ia memiliki karier yang nyaman, tapi tidak bisa dibanggakan. Punya banyak teman, tapi mereka sibuk dengan keluarga masing-masing. Dekat dengan Armin, tapi tak pernah ada kejelasan. Belum lagi menghadapi keanehan Papa yang terus menerus melupakan hal sepele.

Enam tahun April terjebak dalam hubungan yang rumit dengan Armin. Entah salah satu dari mereka punya pacar, atau memang sudah terlalu nyaman berteman. April tetap tak mampu melepaskan Armin sebagai sosok pria ideal.

Saat menemani Papa melalui serangkaian tes medis, Lukman hadir. Pria itu menawarkan kehidupan yang mapan dan hubungan serius.

April berusaha mencari cara untuk menyeimbangkan hidupnya kembali. Dan cara untuk menemukan simetri hatinya. Memilih hidup bersama Lukman, atau menunggu Armin entah sampai kapan.

*

Awalnya aku pikir novel ini akan sama saja dengan novel-novel Metropop pada umumnya, yang menceritakan tentang kehidupan cinta dengan bumbu-bumbu pekerjaan layaknya kaum urban. Ya memang seperti itu sih, tapi cuma 'bungkusnya' aja. Padahal setelah membaca dan menikmati ceritanya, aku cukup tersentil. Haha.

April, wanita berusia 29 tahun dengan hidup yang serba mengambang. Tidak punya tujuan, juga tidak punya arah. Kehidupannya hanya berkutat pada sebuah pekerjaan yang menurut orangtuanya tidak cukup membanggakan, plus perasaannya pada Armin yang tanpa kejelasan. Mereka berdua teman, dekat, tapi hanya seperti itu. April naksir Armin, sedangkan Armin sama sekali tidak peka. Namun begitu April berniat move on, Armin malah terkesan seperti memberi harapan. Yah, gitu aja terus sampai lebaran kebo! Sumpah, kisah April dan Armin di sini bikin aku eneg. Ke-tijel-annya kelamaan, bertahun-tahun. Aku sampai bertanya-tanya, "Nggak capek gitu nge-bucin selama itu? Sementara dunia terus berputar?" *Kalo aku sih ogah. Ogah banget!

Kehadiran Lukman sedikit meredakan rasa eneg-ku. Cuma ujung-ujungnya aku eneg lagi karena April jelas-jelas tidak menyukai Lukman. Sama sekali nggak welcome terhadap eksistensi Lukman. Jujur sebel banget sih, kenapa April malah milih si Armin yang nggak jelas itu?!

Oke deh, cukup bicara soal kisah cintanya April yang menurutku nggak banget. Sisi lain buku ini menyuguhkan sesuatu yang realistis. April merasa eneg dengan hidupnya yang terkesan B aja. Pekerjaan yang gitu-gitu aja, tanpa pencapaian yang bisa dibanggakan. Lalu ada hubungannya dengan Sita, sahabatnya, yang merenggang karena Sita memiliki anak. Tak lupa juga hubungan April dengan keluarganya, terutama ayah kandungnya.

Semua itu membuat April jengkel dengan kehidupan yang dia miliki. Sewaktu melihat instagram Sita yang tengah berkumpul dengan sesama ibu muda, plus anak-anak mereka, April merasa jika dirinya sudah tertinggal jauh. Semua teman-temannya sudah berlari, sementara dia masih diam di tempat dengan kehidupan yang itu-itu saja. Tapi lama-lama April menyadari kalau hubungannya dengan Sita merenggang karena masing-masing dari mereka punya kehidupan. April dengan kehidupannya, Sita dengan kehidupannya. Yah, seperti inilah hidup. Semakin dewasa, akan semakin sibuk dengan hidup kita sendiri, sampai rasanya nggak punya waktu buat say hi sama sahabat kita sendiri. Jadi hubungan yang mulanya dekat jadi merenggang dengan sendirinya, padahal kita tidak bermaksud seperti itu.

Lanjut dengan posisi April sebagai anak bungsu yang mau tak mau harus mengurus ayahnya yang mulai pikun. Ibunya tidak di rumah karena harus mengurus Eyang Uti di luar kota, sementara Kak Laras sudah berkeluarga.
Kebayang nggak betapa repotnya merawat orangtua yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri?
Di satu sisi kita punya kehidupan sendiri, juga pekerjaan yang mungkin menjadi prioritas. Tapi di sisi lain kita juga tidak bisa mengabaikan jika orangtua membutuhkan kita. Keadaan yang sangat sulit memang. Selain direpotkan dengan orangtua yang harus diladeni, kita juga pontang-panting membagi waktu. Biasanya di titik ini, kita ribut dengan saudara sendiri. Meributkan siapa yang harus merawat, dlsb. 

Itulah kenapa aku bilang apa yang dialami April ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Sebagian besar dari kita mengalaminya, kan?
Dan sesuatu yang bisa aku ambil dari cerita ini adalah: Kadang-kadang kita menganggap masalah kita adalah yang paling berat, padahal tanpa kita ketahui, masalah orang-orang yang ada di sekitar kita mungkin saja lebih berat. Mereka hanya tidak mengeluh dan menunjukkannya.

Perasaanku bisa dibilang campur aduk saat membaca buku ini. Antara jengkel dengan April yang selalu mengeluh dengan kehidupannya, termasuk jadi bucin-nya Armin, serta banyaknya kejadian dalam buku ini yang secara pribadi menegurku. Awalnya aku nggak yakin bakal ngasih rate 3*, karena keburu eneg duluan sama April yang terus mengharapkan Armin. Tapi semakin ke belakang, aku semakin menikmati cerita ini. Intinya cerita ini membuat hatiku menjerit: AKU NGGAK MAU KAYAK APRIL!
Kebanyakan mengeluh bikin capek hati sendiri.

Oh ya, terlepas dari isi ceritanya, aku merasa kurang nyaman dengan gaya bahasanya.
Baku. Penggunaan aku-kau di sini berasa nggak match sama keadaan sekarang ini. Yakali di zaman Tinder ngobrolnya masih pakai aku-kau? Lagian ini lokasinya di Jakarta, kan?

Q u o t e s:

"Karena hubungan ini bahkan tidak pernah dimulai. Kau tidak bisa mengakhirinya karena tidak ada yang bisa diakhiri." [Sita] - h. 11
"Ketika orang-orang menaruh ekspetasi mereka terhadapmu dan kau tidak mau memenuhinya, itu bukan masalahmu. Kau tidak bisa memenuhi ekspetasi semua orang." [Armin] - h. 52
"Tahu tidak, hanya karena kau menyukai seseorang, bukan berarti kau tidak boleh pergi dengan orang lain. Tidak ada istilah monogami dalam dunia taksir-menaksir." [Tantri] - h. 56
"Aku mulai bertanya-tanya seberapa realistis mengharapkan seseorang untuk setia padamu seumur hidup." [Kak Laras] - h. 108
"Percayalah, kau tidak ingin berumah tangga dengan cowok yang terus-terusan membuatmu merasa tidak cukup baik." [Sita] - h. 124
Kurasa kebanyakan pertemanan berakhir bukan karena perselisihan dan pertengkaran, melainkan karena salah satu atau keduanya sudah larut dalam kehidupan mereka masing-masing. [April] - h. 141
Namun, dalam hati aku menyadari, entah umurmu 14 atau 29, cinta yang tak berbalas tetap sama menyakitkannya. [April] - h. 194
"Cinta bisa datang dan pergi. Komitmenlah yang membuatmu tetap bertahan saat kau bangun pada pagi hari dan tidak lagi kasmaran dengan orang yang tidur di sebelahmu." [Mama April] - h. 210

August 31, 2019

[Book Review] Penyap - Sayyidatul Imamah (Versi ARC)

Judul: Penyap
Penulis: Sayyidatul Imamah
Genre: Teenlit
Perkiraan rilis: Oktober, 2019
Tebal: 319 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Storial Publishing
ISBN: -
Harga: IDR. -
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Bagi Leo Sebastian, hidup adalah lorong-lorong gelap berliku. Di dalamnya, ia tersaruk-saruk sendirian. Leo keliru. Di dalam kegelapan itu, ia bertemu Anasera. Gadis itu mengisi kekosongan yang selama ini menguasai Leo.

Bagi Anasera, hari esok adalah sebuah dinding tebal. Ia tidak bisa melihat apa pun di balik tembok itu. Namun, berkat Leo, Anasera mulai berani mengirimkan mimpi-mimpinya ke masa depan.

Sejak pertemuan mereka di rel kereta api saat itu, pelan-pelan cahaya mulai terkuak. Leo tersenyum dengan keyakinan bahwa hidup tidaklah sekosong itu dan bersama Leo, Anasera merasa hidupnya berharga. Namun, ketika mereka pikir semuanya akan baik-baik saja, sesuatu terjadi.

*

Pertama, aku ngerasa beruntung banget karena terpilih menjadi salah satu dari 20 bookstagram yang berkesempatan membaca dan mengulas novel ini versi ARC. Bangga banget loh bisa baca duluan sebelum bukunya resmi terbit, hehe.... Bulan lalu aku baca novel dengan tema yang sejenis dengan ini, judulnya Represi, di mana tokoh utamanya juga memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Tapi jika dipandang dari sudut pandang emosional, Penyap ini jauh lebih emosional.

Dari blurb-nya saja kita sudah bisa merasakan kalau aura buku ini dark. Kelam. Kenyataannya, memang begitu adanya. Seringnya novel teenlit mengusung tema percintaan remaja dan sejenisnya, berbeda dengan Penyap, novel ini mengusung tema mengenai mental illness—plus penderita leukimia limfosit akut. Leo yang seorang penderita mental illness bertemu dengan Anna yang menderita leukimia limfosit akut. Mulanya mereka merasa hidup mereka percuma, jadi bunuh diri adalah pilihan yang tepat untuk mengakhiri segalanya. Pertemuan Leo dan Anna di rel kereta menjadi awal mula kedekatan mereka. Yah, meski mereka itu sebenarnya satu sekolah, mereka berdua tidak pernah bertegur sapa. Leo terkenal sebagai murid bandel yang berada di ambang drop out, sementara Anna jarang masuk sekolah karena fokus dengan penyembuhan penyakitnya.

Dari tidak pernah, kini menjadi terbiasa.
Hubungan Leo dan Anna menjadi dekat. Leo merasa baru kali ini ada seseorang yang benar-benar 'memandangnya', tak peduli seperti apa keadaannya. Pun juga dengan Anna yang mendapatkan kembali semangatnya untuk melawan penyakitnya. Sederhananya, mereka berdua menemukan sebuah alasan untuk hidup. Jadi jangan bayangkan kalau buku ini berisi cerita tentang sepasang kekasih yang salah satunya berada di ambang maut, sementara yang satunya lagi selalu berada di sisinya, menikmati waktu bersama selagi mereka bisa. No! Big no! Novel ini lebih menyorot mengenai mental illness serta perjuangan untuk melawannya.

Ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama bergantian, Anna dan Leo, aku bisa dengan jelas memahami seperti apa jalan pikiran mereka, juga apa yang mereka rasakan. Terutama dengan Leo. Aku merasa related dengan Leo. Well, for some reason that I cannot tell, I'd ever try to kill my own self. Jadi aku tahu betul gimana sulitnya keluar dari kungkungan pikiran jelek. Aku juga tahu gimana rasanya merasa sendiri, seperti tak terlihat. Ada, tapi tidak ada. Jujur setiap kali baca POV-nya Leo, perutku mules. Family issue, mental issue. Ew, untuk anak remaja semua itu bukan hal sepele. Sedangkan untuk Anna, aku berusaha memahami posisinya yang terhimpit di antara ingin menyerah dan terus berjuang. Hanya saja feel-ku buat Anna tidak sedalam yang aku rasakan untuk Leo. Kebetulan belakangan ini aku berkutat dengan seorang pejuang kanker. Tahu nggak, sangat susah untuk membangkitkan semangat kalau kondisi sudah diambang kematian. Daripada Anna, aku lebih bisa merasakan emosi Nora, kakak perempuan Anna. Meski jarang muncul, tapi melalui beberapa selipan diary-nya sudah sangat jelas menunjukkan perasaannya. Nora punya keinginan, punya impian, sayangnya semua itu harus dia korbankan demi kesembuhan Anna. Padahal sejujurnya dia pun tidak tahu apakah Anna akan sembuh. Singkatnya, Nora sudah mengorbankan semua mimpinya untuk sesuatu yang belum pasti.



Gaya bahasa yang digunakan sangat-sangat enak untuk dibaca. Mengalir, walau terkesan agak kaku karena memakai bahasa baku, bukan lo-gue dan bahasa gaul lainnya. Diksi yang digunakan untuk narasinya juga jleb banget, nggak bertele-tele atau mbulet. Aku juga suka kutipan-kutipan yang diselipkan hampir di sepanjang cerita. Pergulatan batin para tokohnya tersampaikan dengan sangat baik, sampai-sampai membuat aku terhanyut. Karakter para tokoh utamanya juga terbagun dengan cukup kuat. Itu semua terbukti dengan sifat, latar belakang, serta cara tokoh tersebut menghadapi masalahnya. 

Karena ini novel teenlit, rasanya nggak afdol kalau nggak bahas soal percintaan. Ya, kan?
Tbh, aku sama sekali nggak ada feel dengan hubungan Leo dan Anna. Di mataku keduanya lebih cocok jadi sahabat/teman baik ketimbang dua orang yang saling jatuh cinta. Leo dan Anna sama-sama memiliki apa yang sahabat butuhkan, saling menerima dan saling mendukung. So, I can say I dislike their insta-love. Kesannya malah agak maksa.

Secara emosi buku ini memang emosional banget. Tapi di samping itu, aku menemukan beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya. Misalnya, profesi kedua orangtua Anna. Di situ diceritakan kalau mereka menjual rumah lama mereka yang besar dan pindah ke rumah yang kecil demi membiayai pengobatan Anna. Memang hal ini nggak terlalu penting sih, cuma entah kenapa terasa mengganjal—yah, mungkin aku aja yang terlalu ingin tahu. Lalu yang nggak kalah penting, bahkan menurutku sangat penting, adalah penyakit Leo. Dia menderita penyakit mental yang—menurutku—bersumber dari latar belakang keluarganya, tapi ayolah, aku butuh hal ini lebih digali lagi. Terus, aku juga masih kurang begitu ngeh kenapa dia dan Ryan jadi musuhan kayak gitu. Kilas balik-kilas balik yang diselipkan di situ belum sepenuhnya menjawab pertanyaanku.

Endingnya?
Tenang, nggak ada scene tangis-tangisan ala drakor Endless Love kok. Semua terjadi begitu wajar. Menyedihkan, tapi nggak drama.

Kalau ditanya apakah aku menikmati buku ini, jawabannya adalah ya, aku sangat menikmatinya. Terlepas dari poin-poin yang mengganjal buat aku tadi—serta beberapa tanda petik yang kurang dan huruf yang agak ngaco, buku ini menawarkan sebuah cerita kehidupan yang penuh makna. Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Terutama bagi kalian yang selalu merasa sendirian dan tidak berarti, percayalah kalau kalian tidak sendirian. Jangan pernah menganggap diri sendiri aneh, karena setiap manusia memiliki keanehan masing-masing yang disebut unik. Mungkin kalian tidak menderita penyakit mental seperti Leo atau leukimia seperti Anna, tapi perjuangan mereka cukup memotivasi. Believe me, this book is worth to read!

Oh ya, mungkin kalian penasaran dengan kata penyap.
penyap/pe·nyap/ kl a lenyap; hilang
Lalu, apa yang hilang?
Kalian akan mengerti sendiri setelah menyelami cerita dalam buku ini.


Q u o t e s :

"Untuk apa menempuh perjalanan panjang kalau aku sudah yakin dengan tujuanku?" [Leo] - h. 14
Keluargaku selalu seperti ini. Mereka menyayangiku. Aku menyanyangi mereka. Namun, kami tidak bahagia. [Anna] - h. 21 
"Dunia tidak selalu membiarkan kita melawan." [Leo] - h. 31
 Aku selalu berusaha, aku berusaha untuk bertahan. Namun, tidak pernah ada yang memberiku alasan kenapa aku harus bertahan. [Leo] - h. 32 
Mati itu mudah, hidup yang susah. - h. 44
Bertahanlah kalau kamu ingin petualangan besar karena hidup lebih banyak petualangan megabesar yang tidak bisa kamu sangka-sangka. Salah satunya, mencintai dirimu sendiri. Itu adalah petualangan termegah yang bisa dialami siapa pun. [Anna as Mayfly] - h. 83 
"Tapi, berbohong tidak pada tempatnya itu berbahaya." [Leo] - h. 113
Selalu ada sesuatu yang tidak bisa dihentikan oleh manusia, seperti menghentikan hujan turun, menghentikan matahari bersinar, menghentikan bumi berputar, dan menghentikan seseorang untuk tidak pergi. - h. 157
"Seseorang yang berada di tempat terang dalam waktu lama tidak akan terbiasa ketika berpindah ke tempat yang lebih gelap. Dia melihat dengan cara yang berbeda karena tempatnya yang dahulu jauh lebih terang daripada tempatnya yang sekarang. Tapi, berlian tetap berlian meski berada dalam lumpur terkotor sekalipun." [Anna] - h. 173-174 
Seburuk apa pun seseorang, dia tetap bisa bahagia asalkan bersama orang yang tepat. [Leo] - h. 180
"Orang-orang yang melakukan bunuh diri seringkali tidak memikirkan orang-orang yang mencintai mereka." [Pak Ramdan] - h. 195
"Setiap masalah selalu punya solusi, dan solusi itu tidak selamanya berarti menyingkirkan masalah, tetapi terkadang juga menerima masalah yang mendatangi kita." [Pak Ramdan] - h. 195
"Saat kata-kata dikatakan terlalu sering, maknanya akan hilang." [Leo] - h. 216
"Luka yang terlihat tidak selalu yang paling sakit." [Leo] - h. 266
"Tapi hidup adalah hidup. Kita melanjutkan, dan hidup yang menentukan." [Anna] - h. 315

August 23, 2019

[Book Review] Resign - Almira Bastari

Judul: Resign
Penulis: Almira Bastari
Genre: Metropop
Rilis: 29 Januari, 2018
Tebal: 288 halaman
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020380711, 9786020380728 (Digital)
Harga: IDR 68.000 Paperback (P. Jawa)
Rate: ★★★★☆



B l u r b :

Kompetisi sengit terjadi di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Pesertanya adalah para cungpret, alias kacung kampret. Yang mereka incar bukanlah penghargaan pegawai terbaik, jabatan tertinggi, atau bonus terbesar, melainkan memenangkan taruhan untuk segera resign!

Cungpret #1: Alranita
Pegawai termuda yang tertekan akibat perlakuan sang bos yang semena-mena.

Cungpret #2: Carlo
Pegawai yang baru menikah dan ingin mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi.

Cungpret #3: Karenina
Pegawai senior yang selalu dianggap tidak becus tapi terus-menerus dijejali proyek baru.

Cungpret #4: Andre
Pegawai senior kesayangan si bos yang berniat resign demi dapat menikmati kehidupan keluarga yang lebih normal dan seimbang.

Sang Bos: Tigran
Pemimpin genius, misterius, dan arogan, tapi sukses dipercaya untuk memimpin timnya sendiri pada usianya yang masih cukup muda.

Resign sebenarnya tidak sulit dilakukan. Namun kalau kamu memiliki bos yang punya radar sangat kuat seperti Tigran, semua usahamu pasti akan terbaca olehnya. Pertanyaannya, siapakah yang akan menang?

*

Sebenernya aku udah lama pengin bahas soal buku ini, tapi baru sekarang mood nulis review-nya muncul setelah reread kedua, hehe.
Buku ini ada mirip-miripnya dengan DOMB-nya Titi Sanaria. Bukan dari segi ceritanya, melainkan dari suasana kantornya.

Secara garis besar menceritakan mengenai empat cungpret yang berlomba-lomba untuk resign. Loh, kenapa? Bukannya cari kerja itu susah, kok malah pengin resign?! Ya kalo bosnya model kayak Tigran siapa yang betah coba? Hampir nggak ada hari tanpa lembur! Iya sih bayaran gede, tapi kalo nggak punya waktu buat ngabisin ya percuma dong.

Salah satu poin menarik dalam buku ini adalah para cungprets itu sendiri. Tiada hari tanpa gosip. Terus dialognya fresh, humornya simpel tapi masuk, jadi nggak garing. Itu juga yang membuat buku ini page turner. Sementara untuk romance-nya aku nggak begitu klik, yah semacam cinlok sama bos sendiri, udah gitu kesannya maksa. Perasaan Rara berubahnya terlalu cepat, mengingat dia benci setengah mamvus sama Tigran. Harusnya lebih alot kan ya, nggak segampang itu dia dibikin luluh.

Yah, buku ini memang nggak offer sebuah cerita yang wow atau yang baper atau yang lucunya kebangetan. Tapi bagiku mengikuti kegiatan para cungprets itu cukup menghibur, apalagi kalo yang lagi suntuk kek aku, haha. Makanya aku sampe reread, butuh sesuatu yang ringan dan segar soalnya. 

Aku rekomen buku ini sebagai bacaan pelepas penat. Bisa juga buat selingan abis baca novel yang tebel-tebel dengan cerita yang berat.

August 12, 2019

[Book Review] Dark Love - Ken Terate

Judul: Dark Love
Penulis: Ken Terate
Genre: Teenlit
Bahasa: Indonesia
Tebal: 248 halaman
Rilis: 6 September, 2012
Penerbit: GPU
ISBN: 9789792287516
Harga: IDR -
Rate: ★★★★☆


B l u r b :

Usiaku 17 tahun, hampir 18. Kelas 12. Hampir lulus. Dan aku hamil...

Kirana yang cerdas, cantik, dan ceria melihat semua impiannya luruh di depan mata. Hari-harinya mulai dipenuhi rahasia dan kecemasan. Ia nggak mungkin mampu melahirkan dan merawat bayi. Ia juga nggak mungkin mampu menghadapi celaan dari orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, guru-gurunya, terutama kekecewaan orangtuanya. Saat ini Kirana berada di ambang jurang keputusasaan. Hidup seolah tidak menawarkan solusi apa pun padanya.

Bagaimana dengan cowok yang menghamilinya? Oh, cowok itu harus tetap sekolah. Dia nggak boleh terlibat. Dia cowok paling tampan dan paling cerdas di sekolah. Masa depannya begitu gilang gemilang. Kirana tidak ingin merusaknya. Siapakah dia? Kirana takkan pernah mau mengakuinya.

*

Masih related sama Dua Garis Biru, novel ini juga mengusung tema kehamilan remaja di luar nikah. Bedanya, tokoh dalam novel ini sama-sama murid cerdas, andalan, kebanggaan sekolah—plus, novel ini udah terbit duluan ya.

Mengambil setting tahun 2009, aku bisa dengan baik merasakan situasinya saat itu. Mungkin karena tahun segitu aku juga SMA kelas 12. Waktu itu yang namanya sex education memang belum seterbuka sekarang. Pendidikan resmi cuma didapat dari pelajaran biologi bab reproduksi, sedangkan yang nggak resmi didapat dari nonton video bokep ato majalah porno. Tahun segitu akses internet masih tergolong seret, orang streaming YouTube di warnet aja nggak boleh—bisa bikin lag komputer lain soalnya.

Sedari awal baca aku udah dibikin penasaran setengah mampus sama si "My Prince" alias bapak biologis dari anak yang dikandung Kirana. Mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu Kirana, aku diajak bergalau-galau ria. Bingung, takut, malu. Rasanya campur aduk jadi satu. Sempat sebel juga sih kenapa dia nggak mau mengungkapkan siapa bapaknya. Alasannya sih mereka berdua sama-sama murid populer, dia nggak mau membuat semuanya tambah rumit, toh mereka melakukan 'itu' berdua, tanpa ada unsur paksaan. Padahal "My Prince" siap bertanggung jawab dan nggak meninggalkan Kirana. Speechless juga sih, anak usia segitu bisa mikir kek gini, bukannya saling menuntut dan lepas tanggung jawab.

Karakter favoritku adalah Bu Welas. Pemikirannya luas, nggak terpaku pada sebuah peraturan. Dipandang dari mana pun, hamil di luar nikah memang nggak ada bener-benernya. Tapi berhubung mau UN, harusnya dari pihak sekolah ada usaha untuk menyelamatkan masa depan anak didiknya. Cuma ini pandangan subyektif sih, orang lain mungkin nggak sependapat dengan Bu Welas. Yah, meski akhirnya Kirana dan "My Prince" tetap bisa ikut UN dengan cara lain.

Oh ya, meski cerita ini fokusnya pada kehamilan Kirana, unsur persahabatan masih melekat erat. Aku awal-awal nggak suka sama sifatnya Maria, tapi lama-lama aku nyadar kalo dia itu cuma remaja yang ingin mimpinya direstui kedua orangtuanya. Poin bagus juga sih buat orangtua yang seringnya memaksakan kehendak sama anak. Come on, anak itu bukan objek yang bisa dengan leluasa diatur-atur atau digunakan orangtua demi gengsi atau mendapat pujian.

Aura buku ini dark, tapi menyimpan sejuta pelajaran bagus untuk remaja. Terutama sex education. Seks memang masih tabu untuk dibahas terang-terangan, tapi semakin kita menyembunyikan, anak akan semakin penasaran. Terlebih akses internet zaman sekarang yang gampang banget. Seks itu penting dikenalkan pada anak, bukan untuk dilakukan, tapi agar anak itu tahu risiko yang ditanggung.

Ingat, love is not sex! Ada banyak cara mengekspresikan kasih sayang/cinta. Misalnya dengan kasih cokelat atau melakukan kegiatan positif bersama, misalnya belajar bareng, nonton bareng. Cowok yang mencintai kamu nggak bakal menyuruh kamu, apalagi memaksa kamu untuk melakukan seks. Sebaliknya, cowok itu bakal ngejaga kamu. Buat jaga-jaga kalo ada setan lewat, jangan pacaran di tempat sepi, juga buat batasan-batasan interaksi (sentuhan tubuh) biar nggak kebablasan.

Q u o t e s :

"Pendidikan adalah untuk semua orang. Siapa pun dia. Laki-laki dan perempuan. Miskin dan kaya. Hamil atau tidak. Bila Bapak tidak memberikan hak itu untuk Kirana, Bapak melanggar hukum. Melanggar amanat undang-undang." [Bu Welas] - h. 204
"Lucu ya, di abad dua puluh satu, keperawanan tetap penting. Dan mereka tak mau tahu penyebab kehilangannya." [Bu Welas] - h. 229
Love is not sex.

August 09, 2019

[Book Review] Cinta Akhir Pekan - Dadan Erlangga

Judul: Cinta Akhir Pekan
Penulis: Dadan Erlangga
Genre: Amore (17+)
Tebal: 344 halaman
Rilis: 23 November, 2015
Bahasa: Indonesia
Penerbit: GPU
ISBN: 9786020322988
Harga: IDR -
Rate:★★★★☆


B l u r b :

Arlin yakin ia telah diperkosa!

Setelah menginvestigasi dan menginterogasi keempat teman prianya yang menginap dan berpesta di suatu akhir pekan, semua punya alibi yang meyakinkan bahwa mereka bukan pelakunya. Lalu, siapa?

Dunia dan masa depan Arlin runtuh dalam semalam. Ia bahkan sempat memutuskan akan mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menanggung aib dan malu.

Ketika akhirnya salah seorang mengaku sebagai pelakunya dan bersedia bertanggung jawab, Arlin tak serta-merta percaya. Arlin mengenal pria itu sejak di bangku SMP, dan dia terlalu baik untuk melakukan hal sebejat itu.

Ironisnya, Arlin harus menerima pernikahannya agar benih yang ia kandung tidak dicap sebagai anak haram. Arlin bertekad melampiaskan kemarahannya dan menjadikan pernikahan mereka sebagai neraka bagi pria itu. Hingga sebuah rahasia tersibak, membuat Arlin percaya bahwa cinta yang tulus benar-benar ada…

*

Suka! Aku suka sama novel ini!
Buatku novel ini unexpected. Soalnya kebanyakan novel Amore yang kubaca ceritanya cenderung manis-manis empuk, berbeda dengan Cinta Akhir Pekan yang menyuguhkan novel roman dengan twist oke serta penulisan yang nggak menye-menye.

Jadi ini adalah novel kedua dari Dadan yang aku baca, sebelumnya aku malah udah baca Sweetly Broken yang merupakan novel keduanya. Dan aku juga suka!

Oke, mari kita ulas secara singkat, padat, jelas, dan aku usahakan nggak spoiler mengenai novel ini.

Garis besar ceritanya sudah terangkum dengan jelas di blurb-nya. Arlin diperkosa. Pelakunya adalah satu di antara keempat laki-laki yang menghabiskan malam bersamanya di vila. Eits, Arlin bukannya satu-satunya perempuan loh, tapi ada Dita, sahabatnya. Akibatnya Arlin hamil, yang mau tak mau dia harus mencari siapa pemerkosanya. Eng-ing-eng!!! Chandra pun akhirnya mengaku dan mereka pun menikah. Selain pada dasarnya Arlin nggak suka sama Chandra (iya, Arlin suka sama Bisma, pacarnya Dita), ditambah dengan kenyataan kalo laki-laki itu yang memerkosanya, membuat kebencian Arlin menggunung. Tapi meski dibenci oleh Arlin, Chandra malah sayang banget sama Arlin.

Kehidupan pernikahan mereka ya begitu deh, apalagi mamanya Chandra nggak suka sama Arlin. Tipe-tipe mama mertua yang sewot gegara anak laki-lakinya menikahi perempuan yang nggak pas di hatinya. Untungnya Arlin lebih memilih cuek dan tidak pernah menjawab sekalipun mama mertuanya itu nyerocos nggak abis-abis, tapi dalem hati ngomel boleh lah.

Perlakuan sayang Chandra pada Arlin lama-kelamaan membuat perempuan itu luluh juga. Perempuan mana sih yang nggak luluh sama perlakuan Chandra? Aku aja yang cuma pembaca sempat termehek-mehek kok. Wkwkwk. Nah, tapi di sisi lain Arlin juga belum bisa memaafkan kelakuan Chandra padanya. Sampai suatu ketika Arlin menemukan sesuatu yang membuatnya percaya jika bukan Chandra pelakunya.

Ditulis dengan POV orang pertama, yaitu Arlin, novel ini menawarkan sebuah pemikiran dari seorang perempuan korban pemerkosaan. Di satu sisi aku emang pengin cubit ginjalnya Arlin karena nggak bisa menerima kebaikan Chandra, tapi di sisi lain aku juga nggak bisa menyalahkan kebenciannya pada Chandra. Belum lagi ngadepin mama mertuanya ituloh. 

Dua kali baca buku Dadan Erlangga, semuanya pake POV 1 dan dari sisi cewek. Wah, salut loh, penulis cowok bisa mendalami karakter cewek seperti ini. Keren pokoknya!

Alur ceritanya maju, tapi kadang-kadang flashback sewaktu si tokoh tengah mengingat-ingat sesuatu. Sayangnya perpindahan di sini kurang begitu kentara, sempat bikin aku bingung ini flashback ato bukan sih?
Lalu dari segi twist-nya sendiri oke punya untuk novel bergenre Amore. Tbh, aku sempat terkecoh dan menyangka memang beneran Chandra pelakunya. Padahal di awam tebakanku bukan Chandra, cuma karena ngikutin arus cerita, aku jadi terseret dan iya-iya aja pas dibilang si Chandra yang memerkosa.

Kalimat yang dipake sederhana, tapi feel-nya kena. Nggak menye-menye ato yang bertaburan quotes. Jadi latar belakang, isi cerita, konflik, twist, serta penyelesaiannya pun tersampaikan dengan sangat baik.

Oh ya, kita bahas soal ending. Apakah aku puas dengan endingnya?
YA! AKU PUAS!
Sesuai yang aku pengin. Apa adanya. Nggak dipaksakan. Pokoknya natural sekaleeee....

Am I recommending this book?
Yes, I am. Especially for you, who love romance story with reality. Not sweet as candy, but beautiful as it is.

Q u o t e s :

Selalu ada yang pertama untuk segala hal yang baik dan buruk. Untuk yang satu ini, aku menyesalinya seumur hidup. [Arlin] - h. 12
"Mati dalam perlarian rasa bersalah yang tak termaafkan itu jauh lebih menyedihkan daripada hidup dalam kesia-siaan." [Chandra] - h. 158
"Kamu boleh membenciku selama yang kamu mau, Ar. Tapi ketika kebencian itu malah semakin menyiksa dirimu, aku mohon berhentilah, demi dirimu sendiri." [Chandra] - h. 162
Jika suatu hari seseorang bertanya kepadaku, "Bagaimana cara membuat orang lain tersenyum." Maka akan kujawab, "Tersenyumlah terlebih dahulu kepadanya." [Arlin] - h. 259